Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 35 Telat Datang Bulan


"Wi, mau kemana?" tanya Natalie saat melihat Juwita mengunci pintu rumahnya.


Kebetulan tetangga Jeff yang seksi itu sedang berbincang dengan beberapa tetangga di teras rumah Ayunda. Entah apa yang mereka ghibahkan sebelumnya, tapi yang jelas mereka terus-terusan tertawa sampai suaranya bisa didengar dari dalam rumah Juwita.


"Pergi menemui Jeff, Mbak!" jawab Juwita.


Juwita sempat mampir sebentar, lalu menggendong anak Ayunda yang minta di gendong.


"Sendirian?" tanya Ayunda dengan memberikan satu suapan mangga muda untuk Juwita. Maklum, saat ini sekumpulan ibu-ibu itu sedang pesta rujak buah sekalian ngerumpi.


"Iya, Mbak!" jawab Juwita.


Juwita mengunyah mangga itu. Sangat masam, tapi Juwita tetap menelannya karena menghargai suapan kasih sayang dari Ayunda.


"Yun, bukannya Azzam mau pergi?" tanya Natalie.


Mendengar itu, Ayunda langsung ingat bahwa tujuan suaminya dan Juwita satu arah. Dia pun meminta Juwita untuk bareng saja. "Barengan sama Mas-mu saja biar aman," kata Ayunda.


Tawaran dari Ayunda itu langsung mendapat persetujuan dari sekumpulan ibu-ibu itu. Mereka masih ingat jelas bagaimana warga satu RT gempar atas musibah yang menimpa Juwita waktu itu. Sejak saat itu, entah ibu-ibu atau bapak-bapak mereka tidak pernah membiarkan Juwita pergi sendirian. Terlebih Natalie dan Ayunda yang langsung berubah menjadi bodyguard dadakan.


Bukannya memperlakukan Juwita berlebihan, tapi kebanyakan dari keluarga mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena bantuan Jeffsa. Selain itu Jeff juga suka membantu saat mereka kesusahan. Entah itu bantuan tenaga, pikiran, uang, atau yang lainnya. Makanya saat tahu Jeff mendapat musibah, mereka tidak perlu berpikir dua kali untuk membantu Jeff menjaga Juwita saat Jeff tidak ada.


"Memangnya Mas Azzam mau kemana?" tanya Juwita.


"Pesan barang di kota. Kebetulan masjid di desa akan dibangun ulang. Jadi Mas-mu sibuk ngurus itu," jawab Ayunda.


"Ngga usah, Mbak! Nanti ngerepotin," jawab Juwi.


"Kalau nggak mau bareng sama Mas Azzam nggak papa. Tapi kamu tunggu disini saja. Biar Mbak Ayun suruh Jeff jemput kamu," omel Ayunda.


"Mbak, nggak perlu!" tolak Juwi.


"Pokoknya kamu nggak boleh pergi sendirian, Wi! Udah nurut aja kamu!" omel Natalie yang sudah hampir emosi.


Juwita akhirnya duduk berbaur dengan ibu-ibu itu. Lalu mendapatkan suapan lain dari Natalie. Salah satu tetangganya yang melihat Juwita sudah luwes merawat anak Ayunda akhirnya ikut buka suara.


"Kapan mau punya anak sendiri, Wi?" tanya ibu-ibu itu.


"Sudah pantes hlo," timpal yang lainnya.


Natalie yang paling kepo diantara ibu-ibu itu segera melihat Juwita lebih jelas. Memperhatikan Juwita dengan teliti dan mencari perubahan yang tidak Juwita sadari. "Wi, apa hanya perasaanku saja. Tapi, sepertinya kamu sedikit gendutan," kata Natalie.


Ayunda yang mendengar penuturan Natalie langsung bangkit. Mengambil anaknya yang digendong Juwita dan memberikannya kepada tetangganya yang lain. Ayunda memutar-mutar badan Juwi, memeriksa berapa besar pergelangan tangannya dan menyentuh pipi Juwita.


"Iya loh. Kamu gendutan. Kamu isi ya, Wi?" tanya Ayunda setelah yakin Juwita tidak sekurus dulu. Dulu tangan Juwita tidak sebesar ini, pipinya juga tidak segembul ini.


Juwita yang mendapatkan tatapan dan pertanyaan dari sekumpulan ibu-ibu itu menjadi salah tingkah. Siapa yang hamil, Juwita tidak hamil. Soal gendutan, itu seharusnya karena dia terlalu menikmati hidupnya yang menyenangkan bersama Jeffsa. Mau bagaimana lagi, Jeff kan memperlakukan Juwi layaknya seorang ratu dengan pekerjaan rumah yang hampir tidak ada.


"Mbak, Juwi nggak hamil!" jawab Juwita.


"Kamu pasti hamil!" seru ibu-ibu barengan.


Jawaban serentak itu sukses membuat Juwita mengkerut. Kenapa mereka kompak sekali sih?


"Tapi Juwi beneran nggak hamil," kilah Juwi.


"Kamu pengen makan sesuatu nggak?" tanya Natalie.


"Enggak," jawab Juwi.


"Tapi kamu barusan makan mangga muda. Wi, kamu ngidam kan?" seru yang lain.


Tapi jawaban Juwita masih tidak memuaskan mereka. Mereka sudah berpengalaman soal perubahan bentuk pada ibu hamil. Jadi mana mungkin penglihatannya pada Juwita salah?


"Kamu mual-mual nggak?" tanya ibu-ibu yang lainnya lagi.


"Enggak," jawab Juwita.


"Kamu telat datang bulan nggak?" tanya Natalie.


Juwita mengingat-ingat sebentar perihal tanggal datang bulannya. Tapi sepertinya ingatannya terlalu payah karena jawaban yang keluar dari mulutnya membuat sekumpulan ibu-ibu itu serempak menepuk jidat setelah Juwita mengatakan, "Juwi lupa."


Tepat saat itu, Jeff yang sudah memberitahu apa pekerjaannya kepada Juwita terlihat berjalan di ujung jalan. Pria itu sangat tampan dengan balutan kemeja yang dipadukan dengan celana kain berwarna hitam dan sepatu hitam. Melihat tampilan Jeff saat ini, Juwita rasanya ingin menariknya untuk membawanya ke pak penghulu lagi.


"Jeff kalau dandan seperti itu seperti manusia betulan ya?" kata ibu-ibu mulai ghibah lagi.


"Iya, dulu boro-boro. Paling-paling cuma pakai kaos sama jeans doang!" seloroh yang lain.


Juwita yang mendengar suaminya dipuji-puji tetangganya hanya diam saja. Tapi langsung salim saat Jeff sudah berdiri di depannya.


"Ganteng, kamu bawa apa ini?" tanya Natalie saat Jeff menyerahkan beberapa bungkusan kepadanya.


"Makan siang buat kalian," jawab Jeffsa.


"Wah, makasih loh Jeff!" sahut ibu-ibu itu.


Selagi ibu-ibu itu sibuk membuka buah tangan dari Jeffsa, Jeffsa sudah kembali mendekati Juwita. "Ngerumpi lagi?" tanya Jeffsa sembari mencium dahi Juwita dihadapan ibu-ibu tetangga yang berakhir dengan sorakan.


"Enggak kok!" jawab Juwita.


"Bukannya aku bilang tunggu dirumah. Kenapa ngeyel pergi sendiri?" tanya Jeff lagi.


Juwita tidak lagi menjawab karena tahu apa kesalahannya. Tapi ibu-ibu mulai memberondong Jeff dengan pertanyaan seputar kehamilan Juwita. Jeff hanya tertawa. Bukan menertawakan tebakan ibu-ibu itu. Tapi lebih menertawakan Juwita. Jeff sudah hafal bagaimana Juwita. Jangankan tanggal datang bulan terakhirnya, tanggal berapa hari ini saja Juwita pasti lupa.


"Juwi masih belum hamil. Tapi seharusnya sebentar lagi akan hamil," jawab Jeff memberikan konfirmasi.


Jeff menggenggam tangan Juwita, lalu membawanya pergi setelah pamit kepada ibu-ibu yang melanjutkan pestanya dengan makan ayam goreng pemberian Jeffsa.


"Loh, kalian nggak sekalian makan?" tanya Ayunda.


"Jeff mau bawa Juwi makan diluar, Mbak!" jawab Jeffsa sebelum pergi.


Jeff tidak bisa menahan untuk tersenyum saat mengingat bagaimana antusiasme dari tetangganya. Jeff sebenarnya tidak tahu pasti karena dia bukan dokter. Tapi yang jelas anak mereka baru dibuat tiga minggu yang lalu dan Juwita memang sudah telat datang bulan selama satu minggu. Terlalu dini untuk menebak Juwita hamil atau tidak. Tapi Jeff sudah berencana membawanya ke dokter jika dalam waktu satu minggu lagi Juwita tidak kunjung datang bulan.


"Sayang, kau mau makan apa?" tanya Jeffsa saat mereka menuju mobil yang Jeff parkir di depan masjid depan gang. Maklum, gang itu terlalu sempit untuk dilewati mobil. Rencananya gang kecil itu akan sedikit dilebarkan saat masjid dibongkar nanti.


"Terserah kau saja," jawab Juwita.


"Kenapa mukamu ditekuk-tekuk begitu, Wi?" tanya Jeff lagi.


Juwita melihat Jeff dengan mata seperti anak kucing yang perlu dikasihani. Lalu mulai mengadu atas komentar tetangganya yang mengatakan dia mulai gendutan.


"Jeff, apa aku gendutan?" tanya Juwi.


Jeff yang ditanya seputar berat badan langsung grogi. Dia masih ingat bagaimana Juwita memarahi timbangan hanya karena angkanya naik lima kilo. Juwita juga langsung minta dibelikan yang baru karena menganggap timbangan itu rusak.


Entah kenapa masalah berat badan selalu menjadi hal yang sangat sensitif untuk perempuan. Jadi daripada Juwita ngambek karena Jeff mengakui kalau Juwita gendutan, lebih baik dia berbohong saja demi keamanan dunia.


"Enggak, mereka yang salah lihat. Kamu masih seperti yang dulu. Langsing dan seksi," jawab Jeffsa sembari membukakan pintu mobil untuk Juwita.


...***...