Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 46 Ayo Kabur!


"Apa yang kau lakukan, Juwita?" tanya Dante.


Akhirnya pria itu mulai bersuara setelah selama beberapa menit terlewati tanpa kata-kata. Pria itu bangkit, lalu mengelilingi Juwita yang sejak tadi berdiri menunggunya. Dante memperhatikan Juwita dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum berhenti tepat di depan Juwita.


"Apa maksudmu?" tanya Juwita.


"Masih tidak mengerti apa maksudku?" tanya Dante.


Dante tersenyum sinis. Dia yakin Juwita tidak sebodoh itu untuk mengerti maksud dari ucapannya. Tapi karena Juwita bertanya, maka jawab saja.


"Aku membuka pintu lebar-lebar untukmu. Tapi kenapa kau malah masuk dengan membawa pria itu?" tanya Dante.


Tangan Dante melayang, siap menyentuh dagu milik Juwita. Tapi Juwita sudah lebih dulu menepisnya sebelum tangan Dante mendarat di dagunya.


"Jaga sikapmu. Aku ini bukan wanita yang bisa kau sentuh sesuka hatimu!" kata Juwita memperingatkan.


"Kenapa, kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?" tanya Dante dengan mencium tangannya sendiri yang sempat tersentuh Juwita.


"Dante, aku kemari untuk memperingatkanmu satu kali lagi. Aku ini sudah memiliki suami dan suamiku ada di depan sekarang. Jadi hentikan semua trik licik yang sedang kau mainkan!" jawab Juwita memperingatkan.


Suami ya? Dante tahu kok. Hanya saja Dante tidak suka pria yang disebut Juwita sebagai suami itu menginjakkan kaki di perusahaannya. Lalu, trik licik apa yang dia mainkan. Dia kan hanya memanfaatkan kesempatan saja. Lagipula apa-apaan. Kenapa Juwita masih saja keras kepala. Bukankah seharusnya menyerah saja dan menikah dengannya?


Dante yang mengira Jeff hanyalah pria miskin dan tidak punya apa-apa semakin jemawa. Lalu melirik Juwita sekali lagi. Bukankah dirinya lebih baik 1000 kali daripada Jeff yang miskin itu? Tapi kenapa Juwita masih bersikeras menolaknya hanya demi pria berandalan semacam itu?


"Katakan padaku. Apa yang bisa dia berikan untukmu?" tanya Dante.


"Itu privacy kami. Tapi yang pasti, dia bisa memberikan semua yang aku butuhkan," jawab Juwita mantap.


"Lalu, apa menurutmu aku tidak bisa memberikan semua yang kau butuhkan? Juwita, apa kurangnya aku sehingga kau lebih memilih pria miskin itu?" tanya Dante.


Dante mengitari Juwita sekali lagi. Apa sih yang sudah Jeff berikan selama ini. Bukankah mereka hanya tinggal di rumah sempit yang bahkan sebuah mobil tidak bisa masuk. Harga rumah itu sendiri juga tidak seberapa. Sedangkan dirinya, dia bisa memberikan semua hal yang jauh lebih layak.


Dante melihat Juwita lebih jelas lagi. Baju yang dikenakan Juwita hanyalah pakaian biasa. Tas yang Juwita bawa juga hanya tas seharga beberapa ratus ribu saja. Sedangkan untuk kalung dan cincin, itu memang emas asli tapi berapa sih harganya? Apa Juwita yakin masih tetap ingin bersama Jeff yang bahkan tidak sanggup membelikan tas, perhiasan atau baju yang lebih mahal dari ini?


Dante hanya bisa geleng-geleng kepala. Meremehkan semua barang pemberian Jeff untuk Juwita yang dia pikir tidak ada harganya sama sekali. Tapi sayang, sepertinya Dante sudah terlalu buta karena bencinya pada Jeffsa.


Dante hanya melihat pakaian dan tas yang dikenakan Juwita. Tapi tidak melihat lebih detail aksesoris yang menempel di badan Juwita. Dante memang melihat kalung dan cincin yang kecil. Tapi Dante tidak melihat apa yang tersemat di rambut Juwita.


Daripada disebut sebagai penjepit rambut, sebenarnya benda kecil itu lebih pantas disebut sebagai sisir stylish. Memang hanya sebuah sisir dengan ukuran yang mungil, tapi terbuat dari batu permata yang berasal dari Afrika, Israel, dan Rusia yang dianggap sebagai salah satu yang paling langka di dunia. Untuk harganya, itu tidak mahal. Jeff hanya perlu merogoh kocek senilai 14 miliar saja.


"Dante, aku tidak meragukan berapa banyak uang yang kau punya. Aku tahu kau bisa memberikan semuanya. Kau juga tidak memiliki kekurangan apapun. Tapi,-"


"Jadi tinggalkan dia dan menikah denganku. Aku akan memberikan semua kemewahan hanya untukmu. Juwita, katakan saja apa yang kau inginkan maka aku akan membelikannya untukmu. Hunian mewah dengan fasilitas yang lengkap. Baju, tas, sepatu, mobil, aku bisa memberikan semuanya dengan kualitas terbaik. Juga tidak perlu lagi menggunakan tanganmu untuk mengepel atau mencuci piring karena semua pekerjaan itu akan dikerjakan oleh maid. Juwita, saat menjadi istriku tugasmu hanya melayaniku. Jadi segera bercerai saja dan nikmati hidupmu denganku!" potong Dante.


"Aku belum selesai bicara. Kenapa kau memotongnya?" tanya Juwita.


Nada suara itu sedikit meninggi karena Juwita tidak suka seseorang memotong pembicaraannya. Sekarang, Juwita sudah mengepalkan tangannya. Kenapa selalu begini. Kenapa selalu saja ada orang yang merendahkan suaminya. Apa orang kaya selalu begini?


"Kalau begitu lanjutkan. Apa yang ingin kau katakan?" tantang Dante.


Juwita menghirup nafasnya dalam-dalam. Dia tidak kemari hanya untuk memberitahu Dante yang kedua kali bahwa dia sudah bersuami. Tapi untuk menjelaskan sekali lagi bahwa sampai kapanpun dia tidak akan pernah menikah dengan Dante apapun alasannya. Karena yang dicintai Juwita hanyalah Jeff dan selamanya hanya akan ada Jeff seorang.


"Kau memang tidak ada kurangnya. Tapi aku tidak mencintaimu. Jadi tolong buang jauh-jauh keinginanmu untuk menikah denganku," jawab Juwita dengan tegas.


"Kau tidak mencintaiku?" tanya Dante.


"Aku sama sekali tidak mencintaimu. Satu-satunya yang kucintai adalah Jeff, suamiku!" jawab Juwita.


"Memangnya kenapa kalau kau tidak mencintaiku? Juwita, orangtuamu memiliki hutang ratusan milyar. Kau tahu tidak, tidak ada orang yang mau meminjamkan uang untuk mereka. Perusahaan mereka sudah bangkrut. Apa kau tidak ingin jadi anak berbakti? Karena asalkan kau menikah denganku, aku bersedia membayar semua hutang itu. Juwita, patuh saja. Ceraikan suamimu dan menikah denganku," pinta Dante sekali lagi.


Tapi permintaan Dante ditanggapi Juwita dengan jawaban sinis. "Mereka punya hutang, itu tidak ada hubungannya denganku. Jadi jika kau berpikir dengan melunasi hutang-hutang mereka lalu kau bisa menikah denganku, maka kau salah besar!" jelas Juwita.


Kini Dante tersenyum. Benarkah tidak ada hubungannya? Tapi sayangnya tidak. Karena seperti yang Jeff pikirkan, secara hukum hubungan mereka sebagai anak dan orangtua masihlah ada.


"Apa kau pikir kau benar-benar tidak memiliki hubungan dengan mereka? Jangan munafik. Aku tahu kau tidak sebodoh itu. Juwita, ini hanya soal waktu. Tunggu sebentar lagi. Karena saat itu tiba ku pastikan kau tidak akan bisa lari. Aku akan membawa uang yang mereka butuhkan dan membawamu pergi bersamaku. Lalu lihat sampai kau tidur di bawahku. Apa saat itu kau masih bisa menolakku?" kata Dante.


Dante masih besar kepala seperti biasanya. Melupakan bahwa diatas langit masih ada langit. Sedikitpun tidak curiga bahwa Jeff sudah siap menghancurkan cita-citanya untuk memiliki Juwita.


"Dengarkan aku, Dante! Tentang aku yang tidur di bawahmu, itu tidak akan pernah terjadi meskipun hanya dalam mimpimu!" kata Juwita dengan mata yang lebar.


"Benarkah? Lalu, kita lihat saja nanti," tantang Dante.


Dante nyaris menyambar bibir Juwita saat mengatakan kata-kata terakhirnya. Tapi Juwita sudah lebih dulu menghindar. Juwita segera keluar dari ruangan Dante dengan amarah yang siap meledak kapan saja. Apa menjadi miskin selalu seperti ini. Hanya bisa menerima dan patuh saat yang berkuasa telah menghaturkan titahnya?


Juwita berpikir keras di depan pintu ruangan itu. Apa Juwita akan benar-benar berpisah dengan Jeff?


Tidak, sampai matipun Juwita tidak akan pernah rela. Kenapa juga dia harus berpisah. Mereka saling mencintai, mereka juga akan segera punya anak. Lagipula pria seperti Jeff, dimana lagi Juwita bisa mendapatkannya?


"Sial, aku hanya perlu memberikan uang pada brengsek itu agar Dante tidak mengambilku kan? Tapi uang sebanyak itu, darimana aku mendapatkannya?" batin Juwita lemas.


Sementara itu, Jeff yang sejak tadi memperhatikan Juwita mulai mendekat. Lalu segera menopang tubuh Juwita sebelum Juwita terjatuh ke lantai. "Kenapa loyo begitu. Apa anakku sudah berat?" tanya Jeff setelah menolong Juwita yang hampir jatuh.


Melihat Juwita yang sedang tidak baik-baik saja, Jeff berinisiatif membawa Juwita keluar dan membawanya pulang. Tapi sebelum Jeff mengendarai mobilnya, Juwita sudah lebih dulu memanggilnya.


"Jeff?" panggil Juwita dengan menyentuh tangan Jeff.


"Hm, ada apa?" tanya Jeff.


"Ayo kabur saja!" ajak Juwita.


Jeff yang mendengar ajakan kabur tidak tahu harus berekspresi seperti apa selain nyengir begitu saja. Kenapa tiba-tiba Juwita mengajaknya kabur. Jeff kan sudah kabur selama bertahun-tahun.


"Kenapa harus kabur?" tanya Jeffsa.


"Karena aku tidak punya uang," jawab Juwita.


"Uang untuk apa?" tanya Jeffsa.


"Jeff?" rengek Juwita. Keadaannya sudah seperti ini kenapa Jeff masih bertanya sih? Bukankah biasanya Juwita yang oon?


"Wi, kita tidak akan pernah pergi kemana-mana!" kata Jeffsa.


"Tapi aku takut disini. Aku tidak ingin pisah darimu, Jeff!" kata Juwita.


"Wi, sudah berapa kali aku harus mengatakan ini. Jangan terus-terusan mengatakan pisah lagi. Dengarkan aku, selamanya kita tidak akan pisah, paham?" protes Jeffsa.


"Aku juga tidak ingin bicara begitu. Tapi bagaimana kalau mereka datang lalu membawaku pergi?" tanya Juwita.


"Jangan cemas begitu. Bukankah aku hanya perlu memberikan uang kepada nenek lampir yang mengaku jadi ibumu itu?" tanya Jeff.


"Tapi uang itu sangat banyak. Kita dapat uang darimana?" keluh Juwita.


"Wi, kau ini sedang hamil. Jangan memikirkan hal yang berat-berat. Bukankah hanya uang saja. Serahkan saja padaku!" kata Jeff meyakinkan.


Jangankan uang ratusan milyar, uang sebanyak dua triliun sebenarnya sudah dalam proses berpindah ke rekeningnya sekarang.


"Jeffsa?"


"Sstt! Jangan katakan apapun lagi. Aku janji semuanya akan baik-baik saja!" hibur Jeff.


"Sungguh?" tanya Juwita.


"Wi, apa kau mau bertaruh denganku?" tantang Jeffsa.


"Apa?" tanya Juwita.


"Kalau aku bisa mengatasi masalah ini. Kau harus setuju melahirkan lebih banyak anak untukku. Bagaimana?" kata Jeffsa.


"Tidak mau!" tolak Juwita.


"Kenapa?" tanya Jeffsa dengan ekspresi tidak terima.


Juwita yang merasa kasihan akhirnya mengalah. "Baiklah, dua anak saja," jawab Juwita.


"Tapi itu masih kurang, Wi?" protes Jeff dengan menopang dagunya.


Kakek Firman ingin cicit, Kakek Abraham juga ingin cicit. Kalau mereka hanya punya dua anak dan dua kakek itu membawanya, Jeff mau merawat anaknya siapa. Masa anak kucing?


"Melahirkan itu sakit, Jeffsa!" kata Juwita beralasan. Satu anak saja belum dijalani kenapa harus buru-buru merencanakan punya anak banyak?


Jeff menyeka wajahnya dengan kasar. Karena Juwita sudah bilang sakit, maka Jeff tidak bisa memaksa lagi. Toh Juwita yang merasakan. Jeff sebagai pihak penitip bisa apa selain menerima keputusan Juwita.


"Ya sudahlah! Dua anak saja. Tapi tolong beri aku makan!" kata Jeffsa kemudian mencuri ciuman dari Juwita.


...***...