Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 11 Menangkap Pelakor


Setelah sukses melarikan diri dari Sadewa dan Melodi, Juwita dan Caca segera pergi mencari sesuatu yang bisa dimakan. Meskipun hari sudah cukup larut, nyatanya masih banyak penjual yang menjajakan dagangannya.


Dari sekian banyak pilihan, perhatian mereka tertuju pada seorang penjual bakso yang terlihat sangat ramai pengunjung meskipun hanya menjual dagangannya dengan memarkirkan gerobaknya di bawah pohon. Hanya dengan saling melihat, mereka sudah tahu bahwa masing-masing dari mereka ingin makan bakso pinggir jalan itu.


"Ju, minggu depan gimana?" tanya Caca setelah mereka memesan dan duduk di bangku panjang.


"Apanya?" jawab Juwita.


"Kalau Melodi cari gara-gara lagi gimana?" jelas Caca.


"Kenapa nunggu minggu depan?" tanya Juwita.


"Kan besok sama lusa libur Ju," kata Caca mengingatkan.


"Entahlah, aku kan hanya bawahan. Pasti tidak bisa melawan kalau di injak-injak sama dia kan?" jawab Juwita.


Setelah pembicaraan singkat itu, dua porsi pesanan mereka datang. Tidak ada lagi yang Juwita dan Caca katakan. Mereka terlalu lapar, terlalu menikmati sampai lupa mengatakan apapun juga selain kata enak.


Setelah perutnya kenyang dan membayar tagihannya, mereka pun segera meninggalkan tempat itu. Malam itu langit tampak berbintang meskipun sore harinya hujan cukup lebat.


Dua sahabat itu terus berjalan di trotoar dengan ocehan yang nyaris tidak ada habisnya.


"Ju, ngomong-ngomong Si Jeff gimana?" tanya Caca.


"Lumayan," jawab Juwita singkat.


"Lumayan gimana?" tanya Caca mulai kepo.


"Not bad lah," jelas Juwi.


"Jangan -jangan kamu mulai naksir sama dia?" tanya Caca.


"Enggak kok. Tapi dia memang lumayan baik," jawab Juwi.


"Bukannya dia berandalan?" tanya Caca.


"Iya sih. Tapi sepertinya dia berandalan yang ba,-" Juwita menggantung kalimat yang keluar dari mulutnya. Matanya semakin melebar selebar mulutnya yang saat ini menganga karena melihat adegan yang membuat Jeffsa kehilangan pujian dari Juwita.


Di jalan depan sana, Juwita melihat seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Jeff, suaminya. Dia sedang merampas tas seorang wanita dan berlari begitu saja di jalanan yang cukup sepi. Meninggalkan wanita itu yang kemudian juga lari entah kemana.


Pemandangan yang cukup ambigu. Tapi itu membuat Juwita dan Caca mulai berprasangka buruk. Selanjutnya mereka hanya saling berpandangan tanpa mengatakan apa-apa.


"Jeffsa, bukannya dia seharusnya sedang bekerja?" batin Juwita.


"Apa barusan ada pencopet?" tanya Caca setelah beberapa detik mereka saling diam.


Juwita nyengir kuda. Dia jadi ingat apa yang dikatakan Mbak Natalie tempo hari, dia mengatakan bahwa kerjaan Jeff bisa dilakukan siang dan malam hari sesuka hatinya. Apa itu maksudnya pekerjaan Jeff adalah pencuri? Ini seharusnya tidak benar kan?


"Ca, lupakan apa yang ku katakan barusan. Sepertinya Jeff memang seorang berandalan yang brengsek. Dia sangat tidak lumayan sama sekali. Hari itu saat dia bersikap manis, mungkin hanya kebetulan saja," kata Juwita meralat pujiannya.


"Ju, jujur saja aku tidak tahu harus berkomentar seperti apa. Tapi sebaiknya jangan sembarangan menuduh," kata Caca mengingatkan.


"Kalau begitu aku pulang duluan. Aku ingin menanyakan ini langsung pada Jeff!" pamit Juwita


.


.


.


"Suara apa itu ya?" tanya Natalie pada dirinya sendiri. Saat ini dia kebetulan melewati rumah milik Jeff dan mendengar teriakan seorang perempuan.


Cepat-cepat Natalie meninggalkan rumah itu dengan wajah yang merah dan senyum malu-malu. "Dasar pengantin baru. Masih hot-hotnya," batin Natalie kemungkinan melanjutkan perjalanannya.


Natalie baru saja berbelok arah. Siap masuk ke pekarangan rumahnya. Tapi di ujung jalan melihat siluet wanita yang tidak asing.


"Eh, Juwita! Kamu baru pulang?" tanya Natalie setelah sosok itu semakin mendekat.


"Iya, Mbak!" jawab Juwita. Kemudian mencium tangan Natalie, "Mbak darimana malam-malam gini?" tanya Juwita.


"Biasa, ngerumpi sama tetangga. Wi, ngomong-ngomong kalau kamu masih disini. Terus yang teriak-teriak di rumah kalian itu siapa?" tanya Natalie kebingungan.


"Di rumah ada yang bertengkar, Mbak?" tanya Juwita penasaran.


"Bukan bertengkar biasa, tapi bertengkarnya orang dewasa lah," jawab Natalie.


Natalie celingak-celinguk sebentar. Setelah memastikan tidak ada orang, dia pun mendekati Juwita, "Wi, kamu punya masalah sama Jeff?"


"Tidak," jawab Juwita.


"Lalu apa kamu tidak memberi Jeff jatah. Atau kamu kurang ngasihnya?" tanya Natalie.


"Oh, itu,-" Juwita menjadi gagap.


Apa yang harus dia katakan. Ingin sekali mengatakan kalau sebenarnya mereka menikah secara mendadak dan tanpa cinta. Tapi Jeff sudah terlanjur ember dengan mengatakan bahwa mereka sudah lama pacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.


"Tidak bisa seperti ini, Wi. Kalian baru menikah sebulan dan Jeff udah selingkuh. Apalagi selingkuhannya di bawa ke rumah lagi. Ayo, Mbak temani kamu menangkap pelakor!" ajak Natalie.


"P-pelakor, Mbak?" tanya Juwi kaget.


Darah Juwi langsung mendidih. Bukan masalah pelakornya tapi kenapa hari ini dia sangat tidak beruntung?


Harus menghadapi kenyataan bahwa Melodi ternyata adalah atasannya. Masih harus lembur sampai malam karena ulah Melodi. Bertemu dengan Sadewa yang akhirnya bermesraan dengan Melodi dan sekarang mendengar cerita dari Natalie bahwa Jeff membawa pulang seorang wanita.


Juwita ingin sekali meluapkan amarahnya pada Jeff. Dia belum sempat bertanya apa yang Jeff lakukan tadi. Kenapa merebut tas seorang wanita lalu kabur begitu saja dan sekarang dia malah enak-enakan bercinta dengan wanita lain?


"Ayo, cepetan! Nanti kamu juga tahu sendiri," ajak Natalie.


Natalie menarik tangan Juwita. Dengan langkah cepat membawanya kembali kerumah untuk memeriksa apa yang Jeff lakukan.


Benar, baru saja Juwita berdiri di depan pintu. Tapi suara-suara aneh itu sudah bermunculan dan membuat Juwita merinding.


"Dengar tidak?" tanya Natalie.


"Sialan, apa dia sangat menikmatinya di rumah orang. Apa mereka melakukannya di ruang tamu sampai suaranya menembus dinding?" batin Juwita.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Juwita langsung mengetuk pintu dan memanggil Jeff. Sementara Jeff, di dalam sana dia hanya menoleh sebentar kemudian mengabaikan panggilan Juwita.


"Apa Juwi tidak bisa membuka pintu. Pintunya kan tidak di kunci," batin Jeff kemudian menjilat jarinya yang berbumbu.


Karena Juwita terus memanggilnya, mau tidak mau Jeff bangkit. Meletakkan cemilannya dan meninggalkan adegan film dewasa yang sedang hot-hotnya.


"Juwita, pintunya tidak di kunci. Lagian kalaupun dikunci, bukannya kamu punya kunci yang lain?" kata Jeff setelah membuka pintu.


Juwita dan Natalie melihat Jeff dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian saling berpandangan karena kebingungan.


Apa begini wajah-wajah pria yang sedang bercinta. Kenapa wajahnya biasa saja?


Setidaknya itulah yang dipikirkan Juwita dan Natalie.


...***...