
Juwita sudah selesai dengan prosesi mandi dan serangkaiannya. Saat ini dia sudah duduk manis di kasur yang spreinya sudah diganti sembari menikmati sarapan buatan Jeff berupa dua lembar roti panggang dan telur mata sapi dengan bagian kuning yang bulat sempurna. Sementara Jeff sendiri sibuk dengan urusan rumah tangga yang biasanya dilakukan Juwita.
Sebenarnya Juwita tidak sesakit itu sampai harus duduk seperti orang lumpuh. Dia bisa berjalan pelan tapi Jeff bersikeras melarangnya. Tentu saja satu-satunya alasan adalah agar Juwita cepat pulih dan mereka bisa kembali bertarung di ranjang yang panas.
"Kenyang?" tanya Jeff. Pria itu sepertinya sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya.
Jeff duduk di pinggiran ranjang, melihat piring kosong kemudian melihat Juwita yang melahap buah terakhirnya dan dijawab dengan anggukan kepala.
"Capek tidak? Sini, aku bantu memijat kakimu!" tawar Juwita setelah Jeff menyingkirkan peralatan makannya.
"Tidak kok!" tolak Jeff.
Jeff naik ke ranjangnya yang nyaman. Memposisikan diri duduk bersandar kemudian menarik Juwita untuk dipeluknya dari belakang. Sudah sejauh ini, Jeff kira sudah waktunya untuk memberitahu Juwita sedikit rahasianya.
"Wi, ada yang ingin ku ceritakan padamu," kata Jeffsa. Jeff tidak hanya memeluk Juwita, tapi juga menyandarkan kepalanya di pundak Juwita.
"Apa?" tanya Juwita dengan memainkan dagu milik Jeffsa.
"Ini tentang keluargaku," jawab Jeffsa.
Juwita menoleh, melihat Jeff dari jarak dekat dengan tatapan tak biasa. Tidak ada yang tahu pasti mengenai keluarga Jeffsa. Bahkan Natalie, Bubu, Ayunda, dan Azzam yang merupakan orang terdekat Jeff. Mereka hanya tahu Jeff punya keluarga tapi tidak tahu lebih detail lagi soal itu.
"Kau benar punya keluarga, Jeff?" tanya Juwita.
"Punya," jawab Jeffsa.
"Siapa?" tanya Juwita dengan wajah datar. Bisa dikatakan rona wajahnya hampir memutih. Hatinya yang baru sembuh dari luka karena mencintai Sadewa tidak akan dipatahkan kembali oleh Jeff kan?
"Apa maksudmu, Wi?" tanya Jeffsa.
"Yang kau sebut dengan keluarga barusan itu, bukan istri atau anakmu kan? Aku satu-satunya istrimu kan? Kau tidak punya istri selain aku dan kau belum punya anak kan?" tanya Juwita.
Jeff tersenyum lebar mendengar rentetan pertanyaan Juwita. Kemudian mencium apapun milik Juwita yang bisa dijangkaunya. "Istriku hanya kau seorang, Wi. Lalu soal anakku seharusnya dia masih berenang di perutmu. Dia kan baru dibuat semalam, apa kau lupa?" jawab Jeffsa.
Juwita menghela nafas lega, syukurlah kalau begitu. Jujur saja, sebelumnya jantungnya hampir lepas karena takut seandainya Jeff ternyata sudah menikah dan punya anak. Tapi karena Jeff mengatakan bahwa dialah satu-satunya istrinya, Juwita menjadi tenang. Lalu memangnya kenapa kalau Jeff punya keluarga? Bukankah semuanya akan sama saja? Bukankah dia hanya perlu menganggap keluarga Jeff adalah keluarganya juga?
Seharusnya memang begitu. Tapi begitu melihat perubahan ekspresi di wajah Jeff saat menceritakan tentang keluarganya, Juwita paham pasti ada sesuatu yang salah.
"Jeff, ada apa?" tanya Juwita. Berharap Jeff bersedia membagi beban hidupnya tentang keluarga yang dia punya.
"Kau tidak marah, Wi?" tanya Jeffsa.
"Kenapa aku harus marah?" tanya Juwita.
"Karena aku tidak memberitahumu sejak awal," jawab Jeffsa.
Juwita tersenyum, lalu berbalik arah. Kini gantian dia yang memeluk Jeffsa dan menghujaninya dengan ciuman.
"Jangan terlalu banyak gerak!" omel Jeff ketika melihat Juwita meringis saat menciumnya. Tapi Juwita tidak mengindahkan larangan Jeff.
"Apa aku pantas marah? Aku yang mengajakmu menikah. Tanpa kenalan, tanpa persiapan dan tanpa mencari tahu siapa dirimu yang sebenarnya. Semua orang tahu kau punya keluarga, tapi semua juga mengerti pasti ada alasan yang membuatmu memilih tinggal disini dan pisah dengan mereka. Aku pun juga meyakini hal yang sama. Bagiku, asalkan keluarga yang kau sebut barusan bukan istri dan anakmu semuanya tidak jadi masalah," kata Juwita.
"Kau serius, Wi?" tanya Jeffsa.
"Serius," jawab Juwita.
"Wi, bisakah berjanji satu hal untukku?" tanya Jeffsa.
"Apa?" tanya Juwita.
"Bisakah berjanji padaku. Bahwa apapun yang terjadi nanti jangan pernah pergi dari sisiku?" tanya Jeffsa.
"Jeff, apa ada sesuatu yang membuatmu takut sampai mengatakan hal seperti ini?" tanya Juwita.
"Wi, memang ada hal yang membuatku takut. Tapi yang lebih membuatku takut adalah kau pergi meninggalkanku" jawab Jeffsa.
"Apa hanya satu janji itu yang aku inginkan, Jeff?" tanya Juwita.
"Eum," jawab Jeffsa.
"Tapi aku bisa memberikan lebih banyak janji untukmu," kata Juwita.
"Lebih banyak? Apa saja?" tanya Jeffsa.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Tidak akan selingkuh. Hanya mencintaimu seumur hidup dan menemanimu apapun yang terjadi. Tidak peduli apapun juga aku akan tetap memilih berada disampingmu," jawab Juwita.
"Karena aku mencintaimu," jawab Juwita.
Jeff tersenyum tipis, apa yang dikatakan Sadewa waktu itu sepertinya memang benar. Asalkan Jeff memiliki hati Juwita, maka Juwita pasti akan menyerahkan semuanya. Tapi hanya begini saja belum cukup. Karena yang Jeff takutkan adalah seandainya Jeff harus kembali kerumah. Lebih takut lagi jika Juwita tidak ingin lagi hidup bersamanya setelah tahu bagaimana rumit dan banyaknya tekanan dari keluarganya.
Jeff mungkin bisa memaksa Juwita untuk tetap tinggal bersamanya meskipun Juwita menolak. Tapi bukan rumah tangga penuh paksaan seperti itu yang Jeff inginkan. Jadi sebelum itu terjadi, sebelum orangtuanya menghalalkan seribu cara untuk memisahkan mereka, lebih baik menceritakan inti masalahnya pada Juwita agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka suatu hari nanti.
"Wi, sebenarnya aku kabur dari rumah karena menolak rencana perjodohan. Sudah bertahun-tahun sejak aku pergi dari rumah. Sebenarnya mereka masih mencariku sampai sekarang. Tapi ada kakekku yang selalu membantuku sehingga mereka tidak menemukanku. Tapi, Wi! Suatu hari nanti, bagaimana kalau mereka menemukan kita dan tidak merestui pernikahan kita?" tanya Jeff lagi.
Juwita mencermati kata-kata Jeffsa dengan baik. Lalu membalikkan pertanyaan itu untuk Jeffsa. "Apa hal ini yang membuatmu takut, Jeff?" tanya Juwita.
"Eum," jawab Jeffsa.
"Bagaimana denganmu, apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi? Apa kau akan meninggalkanku?" tanya Juwita.
"Tidak, aku akan tetap memilih hidup bersamamu. Jadi, bagaimana denganmu?" tanya Jeffsa.
"Semua yang akan kulakukan tergantung apa yang akan kau lakukan, Jeff. Selama kau masih mencintaiku dan ingin bersamaku, maka aku juga akan tetap hidup bersamamu," jawab Juwita.
Jeff kembali memeluk Juwita. Semakin dalam dan semakin erat. Jujur saja jawaban yang keluar dari mulut Juwita seolah memberikan ketenangan di hati Jeff yang terdalam. "Terimakasih, Wi!"
"Aku yang harus berterimakasih padamu, Jeff!" kata Juwita.
"Kenapa?" tanya Jeffsa.
"Karena kau memberiku banyak kebahagiaan," jawab Juwita.
"Benarkah?" tanya Jeffsa.
"Benar," jawab Juwita.
Dua anak manusia yang sedang dimabuk cinta itu tertawa. Saling menggoda saling memeluk dan tingkah mesra lainnya. Sampai Jeff kembali melanjutkan pembicaraan mereka.
"Wi, sebenarnya sangat banyak yang ingin ku ceritakan. Tapi sepertinya aku belum cukup siap untuk menceritakan semuanya. Jadi bisakah memberikan waktu lebih banyak untukku? Aku janji akan menceritakan semuanya suatu hari nanti," lanjut Jeffsa.
"Aku akan menunggumu sampai waktu itu tiba, Jeff!" sahut Juwita.
"Sayang, sepertinya aku semakin jatuh cinta padamu," kata Jeffsa.
Juwita menanggapi dengan senyuman. Lalu memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu yang masih mengganjal. Kesepakatan mereka tentang perceraian sebelum menikah itu sudah tidak berlaku kan?
"Jeff, kita tidak akan pernah bercerai kan?" tanya Juwita.
"Sayang, bukankah aku sudah bilang jangan membahas itu. Selamanya, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Semua yang kau janjikan untukku sebelumnya, aku juga menjanjikannya untukmu. Bukan hanya itu, aku juga janji hanya kaulah yang akan melahirkan anak-anak untukku. Bagaimana?" tanya Jeff sembari memberikan jari kelingkingnya.
"Aku akan mengingat janjimu ini, Jeff!" jawab Juwita dengan menyodorkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Jeffsa.
"Wi, karena sudah begini. Menurutmu bagaimana kalau kita segera memiliki anak?" tanya Jeffsa.
"Itu ide yang bagus," jawab Juwita.
"Jadi, menurutmu kapan kita bisa melakukannya lagi agar anak kita segera lahir?" tanya Jeffsa.
"Jeff, aku hanya bilang itu ide yang bagus. Tapi bukan berarti ingin segera punya anak. Lalu kenapa tanganmu sudah menyusup kemana-mana?" jawab Juwita.
"Karena mereka begitu menggoda. Wi, ngomong-ngomong apa kau tidak ingin melahirkan banyak anak untukku?" tanya Jeffsa mulai merajuk.
"Tidak mau," jawab Juwita.
"Kenapa?" tanya Jeffsa.
"Aku belum merasakan bagaimana rasanya punya satu anak. Jadi bagaimana mungkin sudah terpikir untuk memiliki lebih banyak anak?" jawab Juwita.
"Tapi aku ingin lebih banyak anak, Wi. Aku janji akan bekerja lebih keras. Mendapatkan uang lebih banyak dan membeli rumah yang lebih besar nanti. Aku juga akan begadang mengurus mereka agar kau bisa tidur nyenyak. Mengganti popoknya dan menyanyikan lagu sebelum tidur. Jadi bisakah setidaknya memiliki lebih dari satu anak?" tanya Jeffsa.
"Jeff, kita pikirkan itu nanti. Sama sepertimu yang memintaku untuk berhenti bekerja karena aku terlalu banyak lembur. Aku juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu. Jadi bisakah kita menikmati saja setiap waktu yang kita punya sekarang ini?" kata Juwita.
"Baiklah," kata Jeffsa.
"Tapi, ngomong-ngomong pekerjaanmu itu apa. Kenapa kau punya banyak uang. Lalu apa kau itu anak orang kaya, kenapa ada acara perjodohan semacam itu?" tanya Juwita.
"I-itu, saat kau sembuh nanti aku akan membawamu melihat pekerjaanku. Kalau keluargaku, mereka hanya memiliki uang lebih banyak dari kita," jawab Jeffsa.
...***...