Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 37 Tsundere


Dan disinilah Juwita dan Melodi sekarang. Sudah kembali ke meja makan dan duduk di tempatnya semula. Sayangnya sudah tidak ada lagi makanan yang tersisa karena Jeff dan Sadewa sudah menghabiskan semuanya.


Kali ini Juwita melihat Sadewa sementara Melodi melihat Jeffsa. Jeff dan Sadewa tidak tahu apa yang akan terjadi tapi keringat dingin sudah mulai membanjir di tubuh bagian belakang mereka. Mungkinkah mereka berdua salah lagi? Tapi mereka kan tidak melakukan apa-apa?


"Ada apa?" tanya Jeff dan Sadewa bersamaan.


"Jeff, istrimu belum makan. Kenapa kau menghabiskan semua makanannya? Lihatlah, badannya sangat kurus. Aku bahkan hanya membutuhkan satu tangan untuk menolongnya agar tidak jatuh. Lalu lihatlah tangannya, kenapa ada goresan disana. Kau tahu tidak, kucing di rumahku bahkan tidak memiliki luka seperti itu. Apa begini caramu menghidupi dan memperlakukan adik iparku yang berharga?" tanya Melodi.


Jeff langsung bisu dan kaku untuk beberapa saat. Jika ada yang dia lakukan, itu hanyalah menelan makanan terakhir yang sudah ada di mulutnya saat Juwita dan Melodi datang. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Apa yang harus dia katakan agar terbebas dari omelan wanita yang tiba-tiba menyebut Juwita sebagai adik iparnya yang berharga?


"Ehm! Kakak ipar, maafkan aku! Makanan tadi sudah dingin, itu tidak bagus untuk lambung Juwita. Tapi jangan marah, aku akan segera memesan yang baru untuk adik ipar kesayanganmu. Lalu untuk goresan kecil itu, aku tahu aku salah. Kedepannya aku akan menjaganya lebih baik dan sering-sering mengantarnya pergi untuk malakukan perawatan."


Setelah mengatakan itu sesopan mungkin Jeff segera bangkit. Meninggalkan kursi panas itu untuk memesan makanan Juwita sebelum Melodi mengomelinya lagi.


Jeff memang sudah bebas, tapi tidak dengan Sadewa. Karena omelan Juwita baru dimulai saat Jeff sudah pergi menyelamatkan nyawanya.


"Kak, kakak iparku ini sedang hamil anakmu. Dia butuh makanan yang sehat dan bergizi. Lalu apa yang kakak lakukan disini? Hanya menikmati makanan enak bersama Jeffsa lalu membiarkan ibu hamil berkeliaran sendirian. Apa kakak tahu, dia hampir jatuh karena seseorang tidak sengaja mendorongnya. Bagaimana kalau calon keponakanku terluka? Lain kali kakak harus menemaninya kemanapun dia pergi. Sekarang cepat pesan makanan kesukaannya. Yang paling mahal, yang paling enak dan yang paling bergizi!" omel Juwita.


Rentetan omelan itu jujur saja membuat Sadewa bengong ditempatnya. "Sejak kapan Melodi dan Juwita baikan?" batin Sadewa.


Sementara itu Juwita yang melihat Sadewa belum berdiri juga langsung mengomelinya lagi. "Kak, sampai kapan kakak akan duduk disitu? Kalau Kak Sadewa tidak segera pergi jangan berpikir untuk bisa jadi kakakku lagi karena Juwi sudah punya kakak laki-laki yang lain," ancam Juwita.


"Maaf. Kakak hanya kaget tadi. Baiklah, kakak akan segera memesan makanan terbaik dan yang bergizi untuk kakak iparmu. Selain itu, lain kali kakak pasti akan menjaganya dengan baik. Titip kakak iparmu sebentar ya, kakak akan segera kembali!" pamit Sadewa.


Sadewa langsung bangkit tanpa protes dan tanpa mengeluh. Segera memesan makanan untuk Melodi selagi istri dan adiknya berbaikan atau posisinya sebagai kakak akan tergantikan oleh Anggara.


Siang itu Melodi dan Juwita makan dengan lahap. Tidak ada lagi perdebatan atau omelan dari mereka karena perut yang sudah sangat keroncongan. Tapi meskipun begitu, mereka masih sempat saling memberikan sepotong makanan milik mereka untuk dinikmati bersama. Yah, walaupun tanpa kata-kata saat melakukannya tapi setidaknya Jeff dan Sadewa tahu perjuangan mereka membuat mereka akur sepertinya tidak sia-sia.


Selanjutnya, tidak ada yang Jeff dan Sadewa katakan lagi setelah itu selain melayani istri mereka dengan baik agar mereka tidak kembali bertengkar.


.


.


.


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Jeffsa.


"Membaca," jawab Juwita.


Jeff yang baru keluar dari kamar mandi akhirnya mendekat. Melihat apa yang menarik perhatian Juwita saat duduk di sofa sampai mengabaikannya.


"Sayang, kau hamil kan?" tanya Jeff lagi setelah melihat Juwita membaca artikel seputar kehamilan.


Juwita yang ditanyai seputar kehamilan langsung meletakkan ponselnya dan menoleh. "Jeff, aku membaca seperti ini bukan berarti aku hamil."


"Lalu kenapa membaca artikel seperti itu, hm?" tanya Jeff lagi.


Jeff berinsiatif mengambil ponsel istrinya. Lalu tersenyum sendiri setelah melihat riwayat pencariannya yang dipenuhi dengan artikel yang berkaitan dengan ibu hamil.


"Aku hanya ingin tahu lebih jelas apa yang dialami ibu hamil. Apa yang membuatnya nyaman dan apa yang harus dilakukan agar ibu dan bayinya sehat," jawab Juwita.


"Bukankah suatu hari nanti aku akan mengalaminya? Jadi apa salah kalau aku membacanya sekarang?" jawab Juwita.


"Tidak salah kok!" kata Jeff berpura-pura tidak tahu maksud Juwita. Jeff yakin Juwita pasti ingin melakukan sesuatu. Semacam membeli sesuatu untuk menyenangkan Melodi yang sedang hamil.


"Jeff, sebenarnya aku belum memberikan hadiah pernikahan untuk dua orang itu. Mereka sudah akan punya anak sekarang, jadi bukankah aku harus memberikan sesuatu sebelum anak itu lahir?" tanya Juwita.


Jeff melihat Juwita dengan senyum yang tidak bisa dia tahan. Juwita yang sadar sedang ditertawakan langsung memukul dada Jeff dan berpaling. "Aku hanya akan memberikan susu atau vitamin. Itu karena aku peduli dengan bayinya. Aku tidak peduli dengan ibunya."


Jeff semakin tertawa. Terlebih saat melihat perubahan sikap dan wajah Juwita yang dilakukan dalam sekejap mata. Sedetik sebelumnya Juwita sangat manis dan perhatian, lalu sedetik kemudian sudah berubah acuh dan kasar. Sungguh wanita, mereka sepertinya memang diciptakan Tuhan dengan sangat spesial.


"Iya, iya! Siapa yang mengatakan kau peduli dengan Melodi. Aku tidak mengatakan hal seperti itu. Kenapa kau langsung memukuliku sih?" protes Jeffsa.


Juwita yang sempat merajuk akhirnya menoleh. Tidak perlu gengsi untuk mengatakan apa yang dia inginkan saat ini. "Jadi kapan kita pergi membeli hadiahnya?" tanya Juwita.


"Besok saja," jawab Jeffsa.


"Besok?" tanya Juwita dengan nada satu oktaf lebih tinggi.


"Wi, sekarang sudah malam. Aku janji akan mengantarmu belanja seharian besok," janji Jeff dengan membelai rambut Juwita.


Sebenarnya hari belum terlalu malam. Jarum jam masih menunjukkan pukul tujuh. Tapi Jeff memilih untuk pergi besok saja. Tahu sendiri kan berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang wanita untuk belanja? Belum lagi mereka yang harus mengelilingi setiap sudut toko dan memasuki semua toko hanya untuk mencari barang yang sesuai dengan keinginan mereka.


"Aku akan menagihnya kalau kau lupa," kata Juwita.


"Aku tidak akan lupa. Ngomong-ngomong kau mau beli apa? Pikirkan dari sekarang agar besok tidak pusing mau beli apa," saran Jeffsa.


Juwita melihat keatas. Menghela nafas super panjang sebelum menyebutkan satu per satu barang apa yang ingin dia beli.


"Aku mau beli susu dan vitamin untuk ibu hamil. Baju bayi yang banyak dan lengkap, pampers, ayunan bayi, mainan bayi, susu bayi, gendongan bayi, ranjang tidur untuk bayi. Pokoknya semuanya aku ingin beli. Aku juga mau beli baju hamil, sendal yang nyaman. Tunggu, sepertinya ada yang kurang. Tapi apa yang kurang ya, Jeff?" kata Juwita sembari berpikir.


Juwita menoleh, melihat Jeff yang hanya membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar berapa banyak uang yang akan dia keluarkan. "Jeff, kau kenapa?" tanya Juwita.


"Kenapa banyak sekali. Kenapa aku harus beli ranjangnya juga? Wi, aku ini bukan bapaknya. Kalau semua perlengkapan bayi itu aku yang beli, lalu apa yang akan dibeli Sadewa nanti?" protes Jeffsa.


"Jeff, kenapa kau sangat pelit. Dia itu keponakanmu juga!" bantah Juwita.


"Baiklah, dia memang keponakanku tapi bukankah tadi kau bilang hanya akan membeli untuk anaknya. Kenapa untuk ibunya juga?" tanya Jeff.


Tentu saja bukan masalah uang. Jeff hanya ingin menggoda Juwita yang tiba-tiba menjadi plin-plan.


"Itu karena dia menolongku tadi. Jeffsa, dengarkan aku. Bisa saja Melodi operasi kan. Sadewa bisa menggunakan uangnya untuk biaya persalinan. Jadi jangan terlalu perhitungan soal uang!" jawab Juwita.


"Oh, jadi seperti itu?" tanya Jeffsa.


"Iya, hanya seperti itu!" jawab Juwita.


...***...