Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 44 Mengemis Saja


"Jadi, apa alasanmu membawaku kemari?" tanya Jeffsa setelah mereka sampai di depan gedung Adhyaksa yang mewah.


Tapi pertanyaan itu tidak langsung terjawab karena Juwita sibuk merapikan rambutnya yang berkibar tertiup angin. Sebenarnya hanya pemandangan yang sederhana, tapi dimata Jeffsa itu sangat luar biasa.


Jeff melepaskan jas miliknya, lalu memakaikannya kepada Juwita agar tidak ada yang melihat betapa sempurnanya calon ibu dari anaknya ini. Pokoknya, Juwita hanya miliknya dan tidak boleh dilihat oleh siapapun.


"Kenapa memberikannya padaku?" tanya Juwita.


"Menyembunyikan dirimu dari tatapan pria nakal dan melindungi anakku agar tidak masuk angin," jawab Jeff.


"Dia kan di dalam perut. Mana mungkin masuk angin?" protes Juwita.


"Kalau begitu berarti melindungi ibunya agar tidak masuk angin," jawab Jeffsa.


Aksi manis Jeff masih terus berlanjut, karena saat ini dia tidak ragu untuk membantu Juwita memperbaiki tatanan rambutnya. Selain itu, Jeff juga mengeluarkan satu penjepit rambut yang lucu dari sakunya dan memasangnya di rambut Juwita yang hitam lebat.


"Sempurna!" puji Jeff sembari memakan pipi yang selalu merah jika dia disentuh.


"Apa aku cantik?" tanya Juwita.


"Tidak, kau sangat jelek!" jawab Jeff.


"Lalu kenapa kau mau menikah denganku?" tanya Juwita. Tatapan mata itu berubah sangat tajam, saking tajamnya seolah menembus jantung dan hati Jeffsa di dalam sana.


"Karena kau yang memintaku menikahimu. Kau tidak lupa kau yang membeliku hari itu kan?" tanya Jeffsa dengan melipat dua tangannya.


Juwita hanya tertawa. Lalu mengintip seperti apa rupa penjepit rambut itu dari kaca. "Darimana kau mendapatkan jepitan rambut yang lucu seperti ini?"


"Aku membelinya di pinggir jalan," jawab Jeff asal. Soal harga tidak perlu dibahas marena jika Juwita tahu berapa harganya, dia bisa menangis air mata darah.


Juwita yang terharu karena selalu diperlakukan seperti ini berinsiatif membalas perhatian Jeff dengan menciumnya. Tapi nyaris gagal karena orang yang akan dia cium enggan menundukkan wajahnya.


"Turunkan kepalamu!" pinta Juwita.


"Tidak mau!" tolak Jeffsa.


Tapi Juwita tidak kurang akal. Karena Jeff tidak mau menunduk, maka tarik saja dasinya.


CUP


Sebuah ciuman akhirnya mendarat sempurna di pipi Jeff. Jeff membasahi bibirnya lalu memainkan bibirnya sendiri karena ulah Juwita. Mereka ini di depan gedung loh, apa tidak bisa ciumannya ditunda saja sampai mereka sampai rumah. Atau setidaknya saat mereka di dalam mobil agar tidak ada angin yang mengintip?


"Kau ini. Dasiku jadi miring, Wi?" protes Jeffsa malu-malu.


"Hanya dasi saja aku juga bisa memperbaikinya," kata Juwita.


Juwita menarik Jeff ke pinggir, lalu naik ke taman agar dia bisa menjangkau leher Jeff untuk memperbaiki dasinya. Sementara Jeff hanya melirik ke bawah.


Disaat Jeff berusaha menyembunyikan kecantikan Juwita, kenapa Juwita malah memamerkan ketampanan Jeffsa. Juwita bahkan mengembalikan jas yang tadi diberikan untuknya demi penampilan Jeff yang sempurna . "Apa Juwita tidak takut aku diambil orang?" batin Jeffsa gemas.


"Wi, kenapa membawaku menemui Dante dengan dandanan seperti ini. Kalau dia insecure karena suami berandalanmu ini ternyata jauh lebih tampan darinya bagaimana?" tanya Jeff menyombongkan diri.


Jeff sempat memperhatikan keadaan sekitarnya. Sebelum tersenyum tipis dan mulai melangkahkan kakinya dengan menggandeng tangan Juwita. Hanya perusahaan sekelas ini saja tidak akan membuat Jeff takut masuk. Karena orangtuanya tidak mungkin menginjakkan kakinya disini. Maklum, meskipun Adhyaksa Group ini sudah sangat mewah di mata Juwita. Tapi ini masih tidak bisa dibandingkan dengan Zane Group milik kakek Jeff yang merupakan pengusaha terkaya nomor 1 dalam negeri.


Kalau boleh menyombongkan diri, Adhyaksa Group dan Zane Group sejujurnya berada di level yang berbeda. Sayangnya Jeff keluar dari jalur dan tidak tertarik menjadi salah satu kandidat CEO penerus keluarga. Karena kalau iya, mungkin jutaan gadis rela mengantri untuk tidur dengannya meskipun tanpa ikatan pernikahan.


Tapi keluar dari jalur itu nyatanya tidak membuat Jeff menyesal sama sekali. Karena kalau Jeff tetap berada di jalur itu, dia tidak akan bertemu dengan gadis yang rela membayarnya 500 juta sebagai imbalan karena bersedia menikah dengannya.


"Kau terlihat senang," komentar Juwita saat melihat wajah Jeff berseri-seri.


"Berjalan sambil menggandeng tangan wanita secantik Juwi, siapa yang tidak senang?" goda Jeffsa.


.


.


.


Setelah melewati serangkaian tahapan. Akhirnya mereka sampai juga di ruang tunggu yang disediakan untuk mereka. Tamu yang tidak memiliki janji memang tidak diijinkan masuk. Tapi kali ini berbeda karena tamunya adalah Juwita.


"Maaf, Presdir hanya ingin bertemu dengan Nona Juwita saja," kata asisten yang baru saja keluar dari ruangan Dante.


"Tapi aku ingin membawa suamiku untuk menemuinya. Aku tidak akan masuk jika suamiku tidak masuk. Tolong sampaikan ini padanya!" pinta Juwita.


Asisten itu tersenyum canggung. Dia pasti akan mati kalau kembali dan menyampaikan hal semacam ini. Dante kan sedang cemburu karena Juwita datang dengan membawa suaminya. Untuk itulah dia tidak membiarkan Jeffsa masuk. Tapi kalau dia tidak pergi menyampaikan ini, bagaimana kalau Juwita pergi begitu saja dan Dante akan marah?


Untungnya Jeff mengerti situasi sulit yang dialami asisten itu. "Wi, masuk saja. Aku akan menunggumu disini!" kata Jeffsa.


"Tapi,-"


"Sudahlah, tidak apa-apa. Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Tidak perlu membawaku. Apa kau ingin dia mati karena cemburu?" potong Jeffsa.


Juwita berpikir sejenak. Masuk kesana sendirian? Nanti dia tidak di culik kan?


"Jangan takut. Dia tidak akan melukaimu. Lagipula bukankah ada aku disini. Bawa saja perempuan ini bersamamu agar suasananya sedikit rame," kata Jeff sembari melirik asisten Dante.


Setelah mendapat bujukan dari Jeffsa, akhirnya Juwita masuk juga. Meninggalkan Jeff diluar seorang diri yang akan memulai aksinya.


Jauh hari sebelumnya, Anggara sudah membagikan informasi bahwa pembatalan adopsi akan segera di proses. Tapi barusan Anggara mengatakan bahwa pengajuan itu urung diproses karena orangtuanya sibuk dengan masalah hutang yang menjeratnya. Jadi bisa dibilang Juwita masihlah anak mereka. Untuk itulah Mama Reta berani menjemput Juwita pulang pagi tadi.


Jeff berpikir sejenak. Menimang-nimang apa yang harus dia lakukan sekarang. Istrinya akan dijual oleh orangtua angkatnya, tidak mungkin Jeff akan diam saja kan?


Karena Juwita akan dijual, kenapa tidak membelinya dan memutuskan hubungan anak dan orangtua antara Juwita dengan keluarga angkat itu? Sepertinya itu ide yang bagus. Tapi masalahnya adalah Jeff tidak punya uang sebanyak itu.


Jeff menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu segera mengambil ponselnya dan berjalan ke sudut ruangan untuk menghubungi kakek kesayangannya.


"Situasinya sudah seperti ini. Lebih baik aku mengemis saja. Kalau dia menolak, aku bisa mengemis kepada kakekku yang satunya lagi," batin Jeffsa.


...***...