Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 54 Aku Bukan Paijo, Papa!


Jeff menyandarkan kepalanya di perut Juwita. Sementara tangannya memeluk pinggang Juwita dengan hangat. Entah kenapa perut besar itu sangat menggemaskan sehingga membuat Jeff kecanduan dan ingin terus menciumnya.


"Bolehkah aku menebaknya?" tanya Juwita.


"Silahkan!" jawab Jeffsa.


Juwita berpikir sejenak. Memikirkan nama berawalan huruf 'J' yang mungkin akan dipakai Jeff untuk menamai anaknya nanti.


"Mungkinkah itu Joey?" tanya Juwita.


"Bukan!" jawab Jeffsa.


"Jeremy, Jayden, Jake, Jackson, Juan, Johnny?" tanya Juwita lagi.


"Itu juga bukan," jawab Jeffsa.


Juwita kembali berpikir keras. Nama ke barat-baratan yang aestetik sudah Juwita sebutkan, tapi Jeff mengatakan bukan. Apa itu berarti Jeff akan memberikan nama ke korea-koreaan?


"Oh, aku tahu sekarang!" seru Juwita.


"Siapa?" tanya Jeffsa.


Alis pria itu mengerut. Dari sekian banyak nama, tidak mungkin Juwita tahu satu nama yang sudah Jeff pilih kan? Karena kalau iya, Jeff mungkin tidak akan pernah lagi mengatai istrinya oon meskipun hanya dalam hatinya.


"Mungkinkah Jaehyun, Jungkook, Jaemin, Jimin?" tanya Juwita dengan wajah berbinar.


Jeff langsung cemberut ketika Juwita menyebut nama pria-pria itu. Lalu menyapu wajah Juwita menggunakan lima jarinya dari atas kebawah karena cemburu. Bagaimana tidak, pria yang Juwita sebut barusan kan duduk di podium nomor lima di urutan tahta hati Juwita.


Untuk nomor satu, sudah pasti Tuhan yang menciptakan mereka. Kedua adalah orangtua yang sudah pergi ke surga. Ketiga Jeff, lalu yang keempat adalah anak mereka.


"Jangan menyebut pria-pria itu lagi. Aku akan marah nanti," kata Jeff mulai kesal.


Juwita tertawa penuh kemenangan. Lalu segera mencari lain nama yang mungkin Jeff gunakan.


"Apa itu Jeffery?" tanya Juwita lagi.


Sudahlah, Jeff mulai lelah sekarang. Mana mungkin Jeff memberikan nama anaknya sama persis dengan nama panggilan miliknya saat dirumah? Tapi meskipun begitu Jeff tidak bisa tertawa ketika menyadari semua yang Juwita sebutkan adalah nama-nama indah berawalan huruf 'J'.


"Kenapa. Apa ada yang lucu?" protes Juwita.


"Sayang, aku hanya bilang anak kita memiliki unsur 'J'. Bukan berinisial 'J'," kata Jeffsa.


Dahi Juwita mengkerut. Benar juga Jeff memang hanya mengatakan nama anak mereka memiliki unsur 'J' bukannya inisial 'J'. Sekarang, Juwita kembali memikirkan nama lain yang memiliki unsur 'J' seperti yang Jeff katakan. Tapi otaknya terlalu buntu untuk memikirkan sehingga Juwita memilih menyerah saja.


"Sudahlah, aku tidak tahu. Jeff, katakan padaku sekarang. Nama apa yang akan kau berikan padanya nanti?" tanya Juwita.


"Kurasa Paijo," jawab Jeff asal.


"P-paijo?" tanya Juwita.


"Bukankah ada unsur 'J' di dalamnya?" jawab Jeffsa. Pria yang sejak tadi sibuk dengan perut Juwita akhirnya mendongak. Ingin melihat bagaimana ekspresi Juwita saat ini.


Juwita langsung cemberut. Tidak, bukan hanya cemberut. Tapi sudah mendorong Jeff sebagai bentuk protesnya. Melihat ekspresi Juwita yang cemberut itu, membuat Jeff semakin ingin mengerjainya. Tentu saja nama Paijo hanyalah asal-asalan. Siapa suruh Juwita membuatnya cemburu dengan menyebut nama pria tampan dari Korea barusan.


"Jeffsa, tahun berapa sekarang ini. Kenapa kau memberikan nama anak kita dengan nama itu?" protes Juwita.


"Sayang, bukankah hanya nama saja. Nanti kita bisa memanggilnya dengan panggilan Jojo. Bukankah itu sangat keren?" goda Jeffsa.


"Tapi,-"


"Sayang, cari nama yang mudah diingat saja agar kakek, nenek dan buyutnya bisa mengingat nama anak kita. Kau tahu sendiri kan, lidah orangtua seperti mereka bisa kesrimpet kalau menyebut nama anak kita yang susah," goda Jeff lagi.


Tapi jawaban Jeff membuat Juwita semakin cemberut. "Aku tidak mau!" tolak Juwita.


"Sayang, kenapa. Apa yang tidak mau?" tanya Nindi.


"Bun, Jeff nakal!" jawab Juwita.


Juwita mulai mengadu. Melaporkan apa yang membuatnya marah kepada wanita yang sebenarnya lebih cocok Juwita panggil dengan sebutan kakak. Wanita itu tergopoh-gopoh. Langsung memeriksa Juwita dan memastikan anak perempuannya itu baik-baik saja.


"Kamu diapain sama Jeff?" tanya Bubu. Pria besar itu mengeluarkan otot-ototnya. Siap menjewer Jeffsa jika sampai membuat anak angkat kesayangannya mewek lagi.


"Dia mau kasih nama anakku Paijo, Yah!" adu Juwita.


"Paijo?" tanya Bubu dan Nindi bersamaan.


Jeff hanya tersenyum dengan menyangga dagunya. Lalu tangan yang satunya lagi menulis satu nama di perut Juwita dengan jarinya. Tentu saja gerakannya itu tidak disadari oleh mereka bertiga karena sudah terlanjur marah. Pria itu masih santai sampai sebuah cubitan berukuran besar mendarat di tangannya.


"Bunda tidak setuju kamu pakai nama itu ya, Jeff!" tolak Nindi sambil berkacak pinggang.


Sementara Bubu juga sudah menoyor kepala Jeff sebelum duduk di kursi yang tersedia di sebelah Juwita. "Namaku saja Bubu. Masa anakmu namanya Paijo. Jangan ngaco kamu, Jeff!"


"Ayahnya Jeffsa, ibunya Juwita, masa anaknya Paijo?" protes Nindi sambil memeluk dan mengelus pundak Juwita.


Disaat dua orangtua itu melayangkan protes mereka, Juwita hanya diam saja. Jujur saja setelah dia berbicara pakai otot tadi perutnya menjadi sedikit sakit.


"Kan manggilnya Jojo. Bukannya itu bagus?" tanya Jeffsa.


"Iya bagus nama panggilannya. Tapi mbok ya ngasih nama yang kekinian gitu lo, Jeff!" jawab Nindi gemas. Saking gemasnya, ingin rasanya melemparkan Jeff ke kandang buaya.


"Pakai itu saja. Lagipula Juwita sudah setuju kok!" kata Jeffsa tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Siapa yang setuju. Aku bilang tidak mau, Jeffsa! Berapa kali aku harus bilang tidak mau?" tanya Juwita.


Awalnya Juwita ingin diam saja karena perutnya semakin mulas. Tapi apa boleh buat. Dia harus berjuang untuk memberikan nama lain untuk anaknya kan? Sementara Jeff yang di protes habis-habisan oleh ketiga orang itu hanya menahan senyuman karena berhasil mengerjai mereka.


Jeff memegang tangan Juwita erat-erat. Menciumnya berkali-kali dan siap memberitahukan nama pilihannya. Tapi nama itu urung keluar karena Juwita sudah lebih dulu memegang tangan Jeff kuat-kuat.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Jeff panik saat menyadari tangannya diremas oleh Juwita.


Sekarang, bukan hanya Jeff yang panik. Bubu dan Nindi pun mulai panik saat melihat wajah Juwita yang sepertinya tidak baik-baik saja.


"Wi, mana yang sakit?" tanya Bubu.


"Wi, kok diam. Mana yang sakit?" ulang Nindi saat pertanyaan Bubu tidak dijawab Juwita.


Juwita hanya meringis sembari menggigit bibirnya sendiri. Sementara Jeff yang masih duduk melantai beralaskan kursi berkaki pendek merasakan sesuatu yang salah. Karena Jeff dengan mata kepalanya sendiri melihat Juwita pipis sembarangan di tempatnya saat ini.


"Sayang, kenapa pipis disini?" tanya Jeff polos.


"P-pipis?" tanya Bubu dan Nindi bersamaan.


"Perut Juwi mules," keluh Juwita.


Bubu dan Nindi melihat kebawah. Setelah melihat cairan keruh yang mengotori lantai itu, mereka langsung memukul Jeff sekuat tenaga yang mereka punya.


"Itu bukan pipis, Jeffsa! Istrimu ini sudah mau melahirkan sekarang!" kata Nindi setelah berhasil mendaratkan pukulan di pundak Jeffsa.


"Lihat! Anakmu sendiri saja marah karena akan diberi nama Paijo. Makanya dia langsung keluar!" kata Bubu dengan menjewer telinga Jeffsa.


"Oh, sepertinya anak nakal ini benar-benar akan menendangku nanti!" kata Jeffsa.


"Kenapa masih duduk disana. Cepat bawa ke rumah sakit!" teriak Bubu panik.


...***...