Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 61 Yasmine Vs Juwita


Jeff melirik ke bawah. Mengangkat satu alisnya dan memegangi kepalanya yang sedikit sakit begitu memikirkan apa yang terjadi. Sejak kapan tubuhnya yang terjaga bisa dipeluk orang asing sebebas ini. Dan lagi, kenapa Jeff merasakan pelukan ini terasa hangat dan cukup menyenangkan. Apa iya wanita pendek ini benar-benar istrinya?


Tidak. Jeff tidak bisa terkecoh hanya karena rasa nyaman ini. Bahkan meskipun wanita yang sedang memeluknya ini tahu sebuah rahasia yang dia jaga, bukan berarti Jeff bisa memercayainya begitu saja. Baiklah, karena wanita ini sendiri yang mengantarkan nyawanya, maka terima saja. Menerimanya bekerja sebagai asisten lalu diam-diam menyelidikinya. Dan kalau ternyata Juwita yang pendek ini memiliki niat untuk menipunya, maka Jeff hanya perlu menyingkirkannya saja bukan?


"Baiklah, untuk sementara ini begitu saja," batin Jeffrey dengan menghirup nafas panjang.


"Minggir, aku tidak suka dipeluk olehmu!" usir Jeffrey.


Jeff menyingkirkan pelukan Juwita. Menatapnya dengan tatapan sinis nan tajam untuk membangun imagenya yang kejam. Tapi jangankan takut, Juwita malah membalas tatapan itu melebihi tajamnya tatapan Jeffrey. Lalu tiga detik kemudian, Juwita sudah siap untuk meninju perut Jeffrey. Tapi memangnya kenapa kalau Juwita memukul, hanya pukulan lemah dari wanita lemah saja Jeff bisa menghalanginya dengan mudah.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jeffrey. Jeff menangkap tangan Juwita, lalu tidak melepaskannya meskipun Juwita menariknya.


Kesabaran Juwita mulai habis juga. Baiklah, ada baiknya Jeff memiliki sifat seperti ini. Setidaknya dia tidak perlu repot-repot mengusir wanita yang ingin mengambil simpati Jeff. Tapi apa yang Jeff katakan barusan. Tidak suka dipeluk olehnya katanya? Baiklah, lidah memang tidak bertulang. Padahal dulu Jeff bahkan tidak akan pernah melepaskan pelukannya sedikitpun meskipun Juwita ingin melepaskan diri.


"Aku akan memberitahumu sesuatu. Dulu kau yang selalu mengemis pelukan dariku. Tapi karena sekarang kau sudah tidak menyukainya maka aku pun juga tidak akan memelukmu lagi. Bahkan meskipun kau bisa mengingatku lagi, aku tidak akan semudah itu memberikan pelukanku untukmu" kata Juwita.


Sepasang suami istri itu saling menatap meskipun tanpa mengatakan sepatah katapun. Jeff yang menunduk saat melihat Juwita yang pendek dan Juwita yang mendongakkan kepala saat melihat Jeff yang jangkung. Sampai akhirnya leher Juwita merasa lelah dan hampir patah barulah dia menyerah.


"Aku diterima, kan?" tanya Juwita mengalihkan pembicaraan.


Tapi Jeff sepertinya tidak memiliki kesempatan untuk menjawab pertanyaan itu karena seorang tamu wanita masuk ke ruangan Jeffrey tanpa permisi.


"Sayang, aku merindukanmu!" kata Yasmine.


Wanita itu segera mendekati Jeffrey tanpa menghiraukan keberadaan Juwita. Lalu berinisiatif memeluk Jeff lebih dulu meskipun berhasil di tepis Jeff sendiri.


"Sayang!" rengek Yasmine.


Sumpah, Juwita yang sejak tadi jadi penonton ingin sekali meremas wajah yang sengaja dibuat imut itu.


"Pergi!" usir Jeffrey sembari memperbaiki kemejanya yang sedikit berantakan akibat pelukan Juwita.


"Sayang, aku ini istrimu. Sampai kapan kau akan tetap seperti ini?" protes Yasmine.


"Malam ini adalah perayaan ulang tahun Nenek Mariam. Apa kau tidak ingin membawaku dan Jouvis membeli baju?" tanya Yasmine.


"Aku sudah mengurus semuanya untuk Jouvis," jawab Jeff acuh.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Yasmine.


"Berapa usiamu, Yasmine? Hanya membeli sebuah gaun saja apa aku perlu mengantarmu?" potong Jeffrey.


Yasmine yang selalu mendapatkan perlakuan seperti ini mulai kesal. Satu tahun ini dia sudah bersabar menghadapi Jeffrey. Tapi apa yang dia dapat. Jangankan dinikahi seperti harapannya selama ini, dia malah harus menanggung malu karena tak kunjung diakui sebagai istri.


"Tapi aku ingin pergi denganmu. Sekali ini saja. Aku juga sudah merindukan anak kita," kata Yasmine.


Jeffrey sudah benar-benar muak dengan sikap Yasmine yang semakin keterlaluan. Ingin sekali menendang wanita itu keluar sekarang juga tapi selama Jeff belum berhasil mengingat masa lalunya, dia tidak boleh gegabah. Karena jujur saja sampai saat ini dia masih belum yakin siapa kawan dan lawannya yang sebenarnya.


Ya, Jeff memang sangat ingin menendang Yasmine. Tapi di ruangan ini masih ada satu orang lagi yang sangat ingin melemparkan Yasmine ke kandang buaya. Siapa lagi kalau bukan Juwita. "Berani sekali kau menggoda suamiku di depanku. Aku pasti akan membuat perhitungan dan membuatmu tidak lagi dilihat oleh suamiku setelah ini," batin Juwita geram.


Juwita yang kesabarannya sudah habis akhirnya mendekati Jeffrey dan Yasmine. Berinisiatif untuk menyudahi percakapan keduanya sebelum Yasmine menikmati tampannya wajah suaminya lebih lama lagi.


"Presdir, setengah jam dari sekarang kita harus menemui klien penting. Jadi mari segera berangkat kalau tidak ingin terlambat!" kata Juwita.


Kata-kata itu memang Juwita rancang untuk Jeffrey. Tapi matanya melihat Yasmine dengan tatapan sinis yang merendahkan. Tentu saja itu membuat Yasmine tersinggung.


"Kau siapa. Berani sekali menyela pembicaraan saat aku belum selesai bicara dengan suamiku. Dimana sopan santunmu?" bentak Yasmine.


"Aku asisten Presdir Jeff yang baru. Tapi apa yang kau katakan dengan tidak sopan barusan. Aku hanya mengingatkan Presdir agar tidak lupa dengan janjinya siang ini. Apa ada yang salah dengan apa yang kulakukan?" jawab Juwita.


Dua wanita itu saling tatap-tatapan dengan api kecemburuan masing-masing. Mengabaikan Jeff yang saat ini tersenyum puas dengan kelakuan Juwita. "Bagus, dengan adanya Juwita aku tidak perlu repot-repot memusingkan cara untuk menghindar dari Yasmine lagi. Sepertinya aku tidak salah menerima asisten pribadi hari ini," batin Jeffrey.


"Kalian berdua, hentikan! Yasmine, ambil ini dan gunakan untuk membeli gaunmu sendiri. Dan kau asisten baru, cepat pergi sekarang. Kalau kerja sama kali ini batal aku akan memecatmu tanpa gaji dan pesangon!" ancam Jeffsa.


...***...