
"Jeffsa, apa yang kamu lakukan di dalam?" tanya Juwita.
"Cuma ngemil kok," jawab Jeff.
"Bohong, terus itu suara apa?" tanya Juwita.
"Kamu tidur sama siapa Jeff. Jelas-jelas sudah punya istri. Kalian itu masih pengantin baru, masih anget-angetnya, masih manja-manjanya. Kok masih jajan aja yang di gedein. Mana jajannya dibawa pulang lagi. Kamu mikirin perasaannya Juwi nggak sih. Katanya lama pacaran, katanya cinta mati sampe kebelet nikah. Kayak gini ini yang kamu bilang cinta? Keterlaluan kamu Jeff!" berondong Natalie.
Berbeda dengan Juwita yang sedikit takut dan menahan kalimatnya, Natalie langsung ceplas-ceplos tanpa merasa sungkan sedikitpun.
"Mbak, kalau bicara satu-satu. Jeff pusing!" jawab Jeff.
Disaat ketiga orang itu ribut, suara perempuan di dalam sana semakin menjadi-jadi. Entah volumenya yang terlalu kencang atau rumahnya yang terlalu kecil sehingga suara panas itu terdengar sangat jelas sampai di depan pintu.
"Itu perempuan ya, kurang ajar sekali. Jelas-jelas Jeff sudah berdiri disini kok masih ah uh ah uh terus. Suaranya itu lo, apa nggak malu kalau ada yang lewat. Punya aib kok diumbar!" protes Natalie lagi.
"Mbak, jangan salah paham. Itu bukan yang seperti Mbak pikir!" kata Jeff menjelaskan. Tapi penjelasannya di tolak mentah-mentah oleh dua wanita itu.
"Jeff, minggir!" teriak Juwi.
Jeff minggir, membiarkan Juwita masuk. Tapi menghalangi ketika Natalie mencoba. masuk.
"Jeffsa!" bentak Natalie marah. Semakin marah campur gemes gimana gitu. Seperti pengen mencubit tapi pasti nggak mempan. Pengen nonjok tapi tidak bisa. Alhasil hanya mulutnya saja yang tidak berhenti ngomel sejak tadi.
"Mbak, tidak masalah kalau Juwita yang lihat, dia kan istrinya Jeff. Kalau Mbak Natalie mau lihat juga, pulang sana. Bicara sama Mas Tirta biar bisa nonton bareng trus di praktekkan sekalian," kata Jeff dengan menahan Natalie di pintu.
"Ah, J-Jeffsa!" teriak Juwita.
Teriakannya bahkan sampai mengundang perhatian Azzam dan Ayunda yang merupakan tetangganya. Tetangga yang rumahnya hanya berjarak sepuluh langkah saja. Sepasang suami istri itu baru saja kembali dari rumah orangtuanya yang sedang kenduri. Mereka pun batal pulang kerumahnya, tapi pulang ke rumah Jeff.
"Kalian kenapa teriak-teriak malam-malam begini?" tanya Ayunda.
"Mbak, nggak apa-apa. Ini loh, Mbak Natalie maksa masuk rumah orang sembarangan," jawab Jeff.
"Tapi barusan Mas Azzam dengar Juwita teriak-teriak kenapa?" tanya Azzam.
"Itu, anu,-"
"Juwita nyamperin pelakor di dalam," jawab Natalie. Mewakili Jeff menjawab pertanyaan Azzam.
"Jeffsa?" kata Azzam dan Ayunda bersamaan.
"Mas, Mbak, bukan gitu. Sumpah!" kata Jeff membela diri.
"Bukan apanya, trus itu suara apa?" tanya Ayunda.
"Kalau begitu biarkan kita masuk dan lihat!" pinta Natalie.
"Eh, jangan!" larang Jeff.
Tapi larangannya tidak digubris oleh ketiga tetangganya. Dengan bantuan Azzam, akhirnya dua wanita berusia sekitar tiga puluh tahunan itu bisa masuk dan menyusul Juwita.
"M-mbak!" kata Juwita sambil menggigit jarinya. Ekspresinya itu sangat tidak menggambarkan wajah seorang istri yang menangkap wanita yang merebut suaminya.
"Mana pelakornya?" tanya Natalie dan Ayunda bersamaan.
"I-itu b-bukan pelakor. Nggak ada pelakor," jawab Juwita.
"Terus itu suaranya siapa?" tanya Ayunda.
"Suaranya dia," jawab Juwita dengan menunjukkan layar kaca yang sedang memutar blue film. Wajah gadis suci yang belum ternoda itu merah padam. Bahkan nyaris menjadi hitam sangking malunya melihat adegan tanpa benang itu.
"J-Jeff, ini ... ini kamu ngapain?" tanya Natalie panik. Itu kan film yang biasanya dia lihat bareng suaminya kalau lagi kurang kerjaan.
"Nat, kita pulang yuk. Tidak ada pelakor. Jeff, maaf ya! Tadi itu hanya salah paham," kata Ayunda dengan wajah malu sembari menarik Natalie keluar.
"Sudah ketemu pelakornya?" tanya Jeff yang saat ini sudah menyusul ketiga wanita itu dan berdiri di samping Juwita.
Azzam yang berdiri di belakang sana hanya bisa menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala. Kemudian segera mengajak istrinya pulang. "Ayo pulang!"
"Maafin Mbak ya, Jeff!" kata Ayunda sebelum melipir pergi.
"J-Jeffsa, Mbak Natalie pulang dulu ya. Maaf ya, jangan dimasukin ke hati," kata Natalie dengan wajah merah kemudian pergi dan menutup pintu rapat-rapat.
Saat ini hanya tersisa dua manusia di rumah kecil ini, Jeffsa dan Juwita si pemilik rumah. Jeff langsung meletakkan pantatnya ke sofa. Kemudian mengambil cemilan yang tadi ia tinggalkan dan menarik Juwita duduk bersamanya.
"J-Jeff, k-kamu k-kamu ngapain?" tanya Juwita gugup.
"Nonton bareng!" jawab Jeff dengan wajah tanpa dosa.
Juwita menoleh sebentar melihat layar itu sekilas kemudian mengalihkan pandangannya. "Aku tidak terbiasa lihat film ini, Jeff?" kata Juwita.
"Apanya yang menarik?" batin Juwita.
Sekali lagi Juwita bangkit. Tapi sekali lagi juga ditahan Jeff. "Sudah ku bilang ayo nonton bareng!"
"Tidak mau!" tolak Juwi mencoba melepaskan diri. Tapi masalahnya Jeff tidak membiarkan Juwita pergi dengan merangkul pinggangnya hingga kembali duduk di samping Jeff.
"Jeffsa?" kata Juwita panik.
"Tidak usah panik, aku hanya mau mengajarimumu bagaimana caranya ciuman," kata Jeff.
"Apa?"
"Seperti itu," kata Jeff sambil menunjuk layar kaca yang menampilkan adegan ciuman yang hot.
Wajah berandal tampan itu semakin mendekat. Harum parfumnya juga bisa Juwita rasakan. Membuatnya tidak tahu harus melakukan apa selain diam di tempatnya.
CUP
Ciuman kedua Jeff itu akhirnya mendarat di bibir Juwita. Jeff memainkan indera pengecapnya dengan leluasa tanpa ada perlawanan dari Juwita selain diam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi jantungnya berdetak semakin tak karuan.
"Kenapa wajahmu selalu merah. Aku akan mengajarimu yang lebih menyenangkan lagi. Apa kau siap?" tanya Jeff.
Ddrrtt
Ponsel milik Jeff berbunyi di tengah-tengah percakapan mereka. Juwita bahkan belum sempat menjawab dia tidak siap dengan pengajaran Jeff yang selanjutnya.
"Ini tidak penting," kata Jeff kemudian melemparkan ponselnya.
"Jeffsa, aku ingin mandi," tolak Juwita.
"Mandi?" tanya Jeff.
"Iya," jawab Juwita.
"Tapi aku mau anak," kata Jeff.
"A-apa, a-anak?" tanya Juwita dengan mata melebar sempurna.
Bukankah Jeff tidak ingin anak?
"Aku hanya bercanda," kata Jeff sambil tersenyum saat melihat Juwita cosplay jadi patung. Jeff mematikan televisi dan mengambil ponselnya.
"Bukannya ingin mandi?" tanya Jeff.
"Iya," jawab Juwita.
"Tunggu apa lagi. Pergi sana! Apa perlu aku membantumu?" usir Jeff.
"Jeff?" panggil Juwita.
"Apa?" sahut Jeff.
"Kamu ... kamu kerja apa?" tanya Juwita.
"Kenapa?"
"Maaf, tadi aku melihatmu merampas tas seorang wanita. Kamu bukan pencuri kan, Jeff?" tanya Juwita.
"Tentu saja bukan," jawab Jeff.
"Tapi kenapa,-"
"Juwita, kapan kau akan mandi. Sekarang sudah waktunya untuk tidur," potong Jeff dengan merubah ekspresinya.
"Ah, baiklah selamat malam!" pamit Juwita setelah melihat perubahan ekspresi Jeff.
Melihat Juwita yang masuk ke kamarnya, Jeff pun juga masuk ke kamarnya. Siapa yang pencuri. Tadi Jeff hanya merampas kembali tas yang wanita itu curi. Pemilik tas itu adalah wanita tua yang sedang berjalan-jalan dengan suami rentanya. Karena kebetulan Jeff melihatnya, dia hanya mencoba menolongnya.
"Apa aku benar-benar kau anggap sebagai berandalan?" batin Jeff.
Jeff segera naik ke ranjang, memegang bibirnya yang baru saja mencium bibir istrinya sebelum bergumam pelan. "Sepertinya tangkapanku kali ini sangat besar. Sia benar-benar masih tersegel. Ciuman saja tidak bisa."
Drrrttt.
Lagi-lagi ponsel itu berbunyi. Membuat Jeff mau tidak mau harus memeriksa siapa kali ini yang meneleponnya.
"Kenapa kakek meneleponku?" batin Jeff setelah melihat siapa yang menghubunginya malam-malam begini.
...***...