Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 71 I Got It


Jeff tidak menolak saat Raihan memeluknya. Satu tahun ini tidak ada satupun yang memberikan pelukan dan menyambutnya sehangat orang-orang ini selain Juwita. Memang selalu ada orang-orang yang mengaku kenal dengan Jeff, tapi semua adalah orang-orang settingan yang diantar orangtuanya. Orangtua Jeff tidak hanya mengirimkan teman-teman palsu bahkan istri palsu. Tujuannya tentu saja untuk membuat Jeff percaya bahwa Yasmine benar-benar istrinya dan menjebak Jeff agar segera menikah ulang dengan pesta mewah.


Tanpa tahu kesalahan besar sudah mereka buat, bahwa mereka tidak memeriksa Rayyan dengan benar dan Jeff secara diam-diam melakukan tes DNA antara Rayyan dan dirinya. Sejak itulah Jeff memutuskan untuk tidak mempercayai siapapun, termasuk Kakek Ham sendiri yang sebenarnya menjadi satu-satunya yang memiliki kejujuran.


"Maaf, bisakah kau memberitahuku kau ini siapa?" tanya Jeffrey. Sedikit canggung memang, karena setelah berpelukan baru mengatakan ini.


Pertanyaan itu sangat pelan. Seharusnya hanya Raihan yang bisa mendengarnya. Dan itu membuat Raihan bertindak cepat. Pria itu segera mencari alasan yang tepat dan membawa Jeff ke ruangan lain.


Selama ini tidak ada yang tahu Jeff adalah orang dibalik berdirinya biro arsitek yang sudah semakin berkembang ini. Jadi karena Jeff sudah kemari disaat ingatannya belum pulih, apa itu berarti ada seseorang yang mengetahui rahasia mereka. Bagus kalau itu kawan, kalau musuh bagaimana. Itulah yang Raihan cemaskan sekarang.


"Brengsek, apa kau masih melupakan masa lalumu? Lalu bagaimana caramu tahu tempat ini?" tanya Raihan sesampainya di ruangan kerja milik Raihan.


"Aku tidak ingat. Aku tahu tempat ini dari kakekku," jawab Jeff jujur.


"Kakek?" tanya Raihan. Sejak kapan Jeff mempercayai kata orang lain. Lalu kakekmana yang tahu?


"Kakekku baru saja sadar dari komanya belum lama ini. Dia yang memberiku alamat ini. Jadi aku kemari, karena kakek bilang hanya tempat inilah satu-satunya yang menyisakan orang-orang yang ku kenal," jawab Jeffrey.


Raihan mencerna jawab Jeff dengan bijak. Benar, tidak ada lagi yang tersisa semenjak Jeff kecelakaan hari itu. Semuanya disingkirkan seolah-olah tidak pernah ada. Bahkan biro arsitek kecil milik Jeff yang lain juga ikut hilang beserta manusianya. Seandainya biro arsitek yang dia urus selama ini tidak merahasiakan Jeff sebagai pemiliknya mungkin nasibnya juga akan sama seperti biro arsitek yang hilang itu.


"Oh, jadi begitu rupanya!" kata Raihan.


Raihan manggut-manggut. Setelah mengerti situasinya, dia segera menjelaskan semuanya. Awal mereka bertemu, awal mereka membangun biro arsitek ini secara rahasia, sampai memberikan posisi Direktur kepada Raihan. Dua pria itu menghabiskan waktu cukup lama, sampai Raihan membawa Jeff masuk ke ruangan milik Jeff yang jarang dimasuki orang selain Raihan itu sendiri.


"Meskipun kau jarang kemari. Tapi kau suka menghabiskan waktu di ruangan ini," kata Raihan dengan membuka tirai.


Jeff melihat sekeliling. Tidak ada yang spesial di tempat yang sedikit familiar ini. Langkah kaki Jeff membawanya mendekat ke meja kerja. Jeff membuka satu persatu laci, memeriksa isinya berharap menemukan sesuatu. Tapi tidak ada apapun selain beberapa tulisan tangan miliknya yang isinya adalah ungkapan berapa besar dia mencintai Juwita.


"Tunggu, apa kau juga tidak ingat istri dan anakmu?" tanya Raihan ketika melihat Jeff tersenyum tipis melihat tulisan tangannya sendiri.


"Aku tidak ingat. Aku bahkan lupa bagaimana wajah mereka. Tapi belum lama ini seorang wanita muncul. Dia mengaku sebagai Juwita. Awalnya aku tidak percaya, sampai dia tahu sebuah rahasia bahwa anak yang selama ini bersamaku bukan anakku," jawab Jeffrey.


"Lalu, anak itu anak siapa. Lalu dimana anakmu?" tanya Raihan penasaran.


Raihan, meksipun dia teman dekat Jeff, dia tidak pernah melihat rupa Jouvis maupun Juwita. Seandainya Jeff tidak mengatakan ini barusan, pasti Raihan tidak tahu bahwa Jouvis yang asli telah tertukar dan Yasmine adalah istri palsu. Maklum, Jeff tidak pernah memberitahu bagaimana rupa anak dan istrinya kepada orang-orang yang ada di biro ini.


"Kata Juwita mungkin anakku ikut terbawa teman kami. Karena sebelum kecelakaan kami sempat memberikan mereka tumpangan dan sempat bertukar anak," jawab Jeffrey.


Raihan tersenyum acuh, bukannya tidak peduli dengan Jeff. Tapi tidak habis pikir dengan kelakuan orangtua Jeff yang keterlaluan.


"Eum, tapi aku belum menemukannya. Ini sedikit sulit karena aku tidak mengingat wajahnya dan kami tidak memiliki fotonya. Meksipun aku sudah memiliki sketsa wajahnya tapi itu belum cukup jelas," jawab Jeffrey.


"Jeff, tunggu! Seharusnya ada fotonya di suatu tempat di ruangan ini. Aku pernah melihatmu memegangnya," kata Raihan.


Yah, Raihan ingat betul bagaimana marahnya Jeff saat dia ingin mengintip bagaimana wajah keponakannya waktu itu. Raihan segera bergegas. Meskipun tidak tahu dimana Jeff menyimpannya, tapi foto itu pasti ada di suatu tempat di ruangan ini. Jeff juga tidak tinggal diam. Dia juga mencari di semua tempat. Dua orang itu mulai bekerjasama. Entah itu di laci, lemari, diantara buku-buku dan rak-rak lainnya. Mereka mencarinya di semua tempat.


Hasilnya nihil, sampai Raihan menemukan sebuah kotak kecil di sudut paling dalam di laci terbawah. "Jeff, mungkinkah ada di dalam sini?" tanya Raihan.


Jeff segera menyambar kotak itu. Tapi untuk membukanya Jeff harus memasukkan delapan digit angka di dalamnya. Jeff segera memasukkan tanggal lahirnya tapi kotak itu tidak terbuka. Jeff kemudian memasukkan tanggal lahir Jouvis tapi hasilnya masih sama. Terakhir, Jeff ingin memasukkan tanggal lahir Juwita tapi Jeff tidak tahu tanggal berapa Juwita lahir setelah amnesia.


Untungnya Jeff mengingat sesuatu. Jeff pun bergegas mengecek foto terkahir yang ada di ponselnya. Itu adalah foto berisikan data diri Juwita saat dia melamar kerja tempo hari. Jeff sengaja memotretnya untuk diselidiki. Tidak disangka foto itu akan sangat berguna sekarang.


KLIK


Kotak itu terbuka. Jantung Jeff berdetak lebih cepat. Jeff dan Raihan saling berpandangan. Lalu Raihan memberikan kode agar Jeff segera membukanya. Tangan Jeff semakin gemetaran, sampai dia mendapati banyak foto berukuran kecil yang baru pertama kali Raihan lihat. Kebanyakan adalah foto Jouvis dari lahir sampai berusia kurang lebih empat bulan. Lalu selebihnya adalah foto Jeff sendiri bersama Jouvis juga Juwita.


"Anakku sangat tampan," batin Jeffrey dengan menahan sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya.


"Hei, kau tak apa?" tanya Raihan ketika melihat Jeff sedikit terhuyung.


"Aku tidak apa-apa. Raihan, maaf aku belum mengingat siapa dirimu dan semua yang ada disini. Tapi terimakasih sudah memberitahuku dan membantuku menemukan foto ini. Aku harus pergi ke suatu tempat sekarang. Aku akan kemari lagi lain kali," pamit Jeffrey.


"Oh, baiklah! Datanglah kapanpun kau mau!" kata Raihan.


Raihan tahu Jeff pasti terburu-buru karena ingin mencari Jouvis. Jadi Raihan tidak menahannya lagi. Tapi tujuan Jeff saat ini bukan untuk mencari Jouvis, melainkan rumah terbakar yang sempat dia kunjungi beberapa hari yang lalu.


Kepala Jeff masih sakit. Semakin sakit lagi ketika dia melihat foto-foto itu. Tapi itu tidak membuatnya menyerah. Karena apapun yang terjadi dia harus pergi ke rumah itu sekarang. Jeff tidak tahu apa alasannya, tapi yang jelas firasatnya mengatakan dia harus pergi.


"Aku akan sedikit lama. Kalian tunggulah disini," kata Jeffrey pada bodyguardnya.


Sekali lagi Jeff memasuki rumah itu. Sesekali dia mencocokan foto itu dengan lokasi dimana dia mengambil gambar. Samar-samar Jeff mengingat sesuatu tapi itu masih acak sehingga membuat kepalanya semakin sakit. Sampai Jeff nyaris jatuh karena sakit luar biasa yang menyerang kepalanya. Jeff meraih apapun sebagai pegangan agar tidak jatuh ke lantai, tapi siapa yang mengira sentuhan tangannya membuat dinding kamar itu bergerak.


Dengan mata yang sedikit tertutup dan telinga mendengung, Jeff memberanikan diri untuk membuka dinding yang ternyata adalah pintu rahasia yang menghubungkan kamar Jeff dan kamar Juwita. Sebuah pintu yang keberadaannya tidak diketahui Juwita sampai detik ini sekalipun.


"Akh!" teriak Jeff ketika melihat sesuatu yang tidak seharusnya ketika pintu itu sepenuhnya terbuka.


...***...