Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 26 Maafkan Aku, Wi!


"Juwita!" panggil Sadewa dan Anggara bersamaan.


Dua pria itu segera mencari celah lalu menghampiri Juwita yang memangku kepala Bubu.


Anggara sempat memeriksa Bubu, dia masih hidup hanya saja terlalu banyak mengeluarkan darah. Sementara Sadewa sempat memberikan sapu tangannya kepada Juwita.


Juwita mengunci mulutnya rapat-rapat. Melihat Sadewa dan Anggara bergiliran dengan ribuan pertanyaan yang tak tersampaikan. Satu pria yang dia benci dan satu pria asing ini kenapa bisa menolongnya. Jika Sadewa, Juwita masih bisa mengerti karena hubungan baik mereka di masa lalu. Tapi kenapa Anggara juga datang?


"Kau baik-baik saja kan, Wi?" tanya Sadewa yang dijawab anggukan oleh Juwita. Tidak bisa dipungkiri bagaimana khawatirnya Sadewa sampai secara refleks memeluk Juwita tanpa tahu pria lain yang berada di depannya terbakar api cemburu.


Untung saja Anggara masih waras. Daripada membahas kecemburuan, kenapa tidak membereskan bedebah sialan ini?


"Kalian siapa. Beraninya mengganggu kesenangan kami?" tanya salah satu penjahat dengan memainkan pentungan yang tadi sempat mereka buang.


Penjahat itu sudah mengelilingi Sadewa dan Anggara. Karena masih ada yang sukarela mengantarkan nyawa, maka bunuh saja agar tidak ada lagi yang mengganggu. Itulah yang penjahat itu pikirkan.


Menyadari sudah terkepung, Anggara dan Sadewa pun bersiap. Anggara bahkan menyembunyikan Juwita di belakangnya. Meskipun tahu kalah jumlah tapi mereka akan tetap melawannya. Semoga saja perlawanan mereka bisa sedikit mengulur waktu sampai Jeff datang.


Akhirnya perkelahian itupun dimulai. Tak terhitung berapa banyak pukulan dan tendangan yang dilemparkan oleh kedua belah pihak. Sadewa dan Anggara memang berhasil menjatuhkan beberapa penjahat itu. Tapi jumlah mereka semakin bertambah karena penjahat yang awalnya berpesta dengan Anggita dan Anggika ikut bergabung. Beberapa bogem mentah juga mendarat di beberapa bagian tubuh Anggara dan Sadewa.


Jauh di dalam hatinya, Anggara mengumpat habis-habisan karena dihajar oleh orang suruhan adiknya sendiri. Anggara sempat berhenti, lalu mundur dan adu punggung dengan Sadewa. Anggara menyeka darah di sudut bibirnya kemudian melihat sekeliling. "Tidak bisa terus begini," batin Anggara.


"Wa!" panggil Anggara.


"Apa?" tanya Sadewa.


"Kau pergilah. Bawa Juwi bersamamu," kata Anggara.


"Apa maksudmu?" tanya Sadewa.


"Aku akan menahan mereka untuk kalian," jawab Anggara.


Jawaban itu membuat Sadewa tersenyum sinis. Sadewa juga ingin, tapi apa Anggara kira Sadewa bersedia? Meskipun Sadewa membenci Anggara sebelumnya tapi disaat seperti ini mana mungkin Sadewa mengambil keuntungan seperti itu.


"Kau saja yang pergi. Bawa Juwi bersamamu. Karena dimasa lalu kau tidak memperlakukannya dengan layak sebagai adikmu, maka lakukan itu sekarang," tolak Sadewa dengan menyerahkan kunci mobilnya.


"Kau brengsek!" umpat Anggara.


Anggara mengembalikan kunci mobil itu dengan kasar. "Dia tidak akan pergi jika denganku. Karena dimasa lalu aku tidak pernah melindunginya. Maka biarkan aku melindunginya sekarang. Aku akan mengulur waktu sebanyak yang ku bisa jadi cepatlah pergi!" usir Anggara.


"Anggara!" kukuh Sadewa.


"Bukankah pria berandalan itu akan kemari. Jadi takut apa? Cepatlah!" desak Anggara.


"Cih!"


Meskipun berat, tapi Sadewa menurut juga. Jika sebelumnya dia sangat membenci keluarga Anggara, maka mulai sekarang dia harus menyimpan pengecualian untuk Anggara. Sadewa berpaling, menarik Juwita bersamanya dan berlari secepat yang mereka bisa. Juwita sempat melihat Anggara yang melihat kearahnya. Dengan darah yang mengucur dan luka memar yang menghiasi wajah tampan itu, Anggara masih sempat tersenyum melepaskan kepergian Juwita.


"Apa aku kualat dengan pria berandalan itu? Inikah rasanya dikeroyok puluhan orang? Kalau tidak salah, pria itu namanya Jeffsa kan? Mungkin, kalau aku masih hidup aku akan minta maaf padanya atas perlakuanku waktu itu," batin Anggara dan mengeluarkan semua ketrampilan berkelahinya.


.


.


.


"Sial!" kata Sadewa saat melihat beberapa penjahat sudah mengejar mereka.


"Kakak?" panggil Juwita.


Dua orang itu terus berlari. Tapi sama-sama terjerembab karena akar merambat yang menjerat kaki mereka. Sadewa segera melepaskan jeratan di kakinya, lalu membantu Juwita.


"Ayo cepat!" ajak Sadewa.


Juwita mengangguk dan bangkit, tapi kembali terjatuh karena tubuh Sadewa yang roboh kearahnya.


"Kakak?" panggil Juwita.


"Lari, Wi!" kata Sadewa dengan memegangi kepalanya yang berdarah akibat pukulan botol yang dilayangkan penjahat.


"Mau lari kemana kalian. Apa kalian pikir kalian bisa lari?" kata penjahat itu dengan tawa melengking.


Penjahat itu memisahkan Juwita dan Sadewa. Lalu menghajar Sadewa hingga babak belur tepat di mata Juwita. Juwita tidak berhenti berteriak memanggil nama Sadewa yang nyaris sekarat. Juwita juga sudah melawan sekuat yang dia bisa tapi apa yang bisa wanita lemah lakukan terhadap kungkungan pria-pria besar seperti mereka.


Setelah beberapa menit berlaku, akhirnya yang ditakutkan Juwita terjadi juga. Karena Sadewa pun pingsan setelah dihajar habis-habisan oleh penjahat itu.


"Kakak?" teriak Juwita histeris.


Teriakkan itu terdengar memilukan. Tapi tidak membuat penjahat itu merasa kasihan.


"Baiklah, karena sudah tidak ada penghalang lagi bukankah sekarang sudah waktunya berpesta?" kata salah satu penjahat.


Juwita di dorong dengan kasar di rerumputan. Lalu mulutnya dicengkeram agar tidak bunuh diri dengan menggigit lidahnya seperti tadi.


"Anak manis. Kita belum menikmati tubuhmu yang molek ini, jadi kenapa kau ingin sekali cepat mati. Lebih baik menurut dan layani kami dengan baik," kata seorang pria besar.


Juwita yang muak melihatnya pun menendang area itu dan meludah tepat di wajahnya. Tapi Juwita harus membayarnya dengan mahal karena dua buah tamparan keras mendarat di pipinya.


Plak


Plak


"Akh!" rintih Juwita.


"Kau berani melawanku!" hardik pria itu semakin marah.


Pria itu memegang tangan Juwita kuat-kuat. Lalu merobek kemeja Juwita dengan paksa sehingga terlihatlah baju atasan bagian dalam milik Juwita.


"Bajingan, lepaskan aku!" teriak Juwita.


Tapi teriakan itu diabaikan karena tangan penjahat itu sudah siap memegang dua benda yang bahkan tidak pernah Jeff sentuh dan lihat.


"Mencuri harta karun milikku, benar-benar cari mati!" kata Jeff dengan menangkap tangan dan menarik pria besar yang nyaris menggagahi istri kesayangannya.


"J-Jeff?" panggil Juwita. Ketakutan luar biasa itu hilang seketika saat melihat Jeff dan teman-temannya datang. Jumlah mereka sangat banyak. berkali-kali lebih banyak daripada komplotan penjahat itu. Mereka juga langsung menghajar penjahat dan menjadikannya bulan-bulanan.


"Ini hukuman karena kau merusak baju istriku!" kata Jeffsa kemudian mematahkan dua tangan penjahat itu.


Pria besar itu berteriak kesakitan. Tapi itu tidak membuat Jeff berhenti. Karena sekarang Jeff sudah siap melukai sepasang mata itu sampai menjadi buta untuk selamanya. "Ini karena kau berani melihat sesuatu yang seharusnya tidak kau lihat!" kata Jeffsa.


Pria itu menjerit keras. Lalu bergulung-gulung di tanah karena rasa sakit luar biasa yang mengenai matanya. Tapi Jeff masih belum puas dan terus memukul sampai beberapa temannya menghentikannya.


Jeff akhirnya berhenti. Setelah menguasai emosinya, dia pun menghampiri Juwita yang masih duduk diatas rerumputan.


"Maafkan aku datang terlambat, Wi!" kata Jeff sembari memeluk Juwita.


...***...