
Kakek Firman memang kakek Jeff dari pihak ayah. Tapi Jeff juga punya kakek dari pihak ibu. Sebut saja namanya Kakek Abraham. Jika Kakek Firman punya tiga anak dan lima cucu. Kakek Abraham ini hanya punya satu anak dan satu cucu. Meskipun orang tua itu tidak memiliki kekayaan sebanyak Kakek Firman, tapi tetap saja hartanya banyak. Dia kan orang kaya nomor tiga di belakang Kakek Firman.
"Kek, minta uang!" kata Jeff saat panggilannya diterima Kakek Firman.
Kakek Firman yang saat ini sedang istirahat setelah main golf hanya bisa mengernyitkan dahinya. Tumben sekali Jeff minta uang. Biasanya dia tidak seperti ini. Jangankan minta uang, diberi uang saja dia gengsi. "Kenapa. Apa kau sudah miskin sekarang?" tanya Kakek Firman.
Selagi berbicara dengan Jeffsa, Kakek Firman melirik pria tua yang sedari tadi menjadi partner main golfnya. Pria itu membuang muka kemudian meminum tehnya. Sepertinya dia cemburu karena Jeff selalu menghubungi Kakek Firman, bukan dirinya.
"Iya, Jeff sudah miskin sekarang. Bisakah memberi Jeff sedikit uang jajan?" jawab Jeffsa.
Sumpah, seandainya dua kartu yang Jeff simpan di dalam dompet bisa berbicara mereka pasti mengumpat Jeff habis-habisan. Dua kartu itu sendiri bahkan memiliki banyak nol dibelakang. Apa ini yang Jeff sebut dengan tidak punya uang?
Sementara di seberang sana Kakek Firman hanya tersenyum. Omong kosong macam apa yang Jeff bicarakan. Selama ini dia selalu memantau perkembangan team milik Jeffsa. Semua sangat lancar dan lumayan menghasilkan. Jeff memang tidak bisa dibilang kaya raya. Tapi terlalu merendah juga jika disebut miskin.
Tapi ya sudahlah. Dari kelima cucunya, hanya Jeff yang tidak neko-neko dan tidak pernah meminta apa-apa. Jeff hanya meminta sekali ini saja, jadi mana mungkin Kakek Firman menolaknya. "Kau mau uang jajan berapa?" tanya Kakek Firman.
"Satu triliun," jawab Jeff tanpa berpikir.
"Uhuk! Uhuk!"
Teh yang Kakek Firman minum langsung menyembur keluar begitu mendengar berapa nominal yang Jeff sebut. Kakek Firman segera bangkit, siap mengomeli Jeff meskipun tanpa bertatapan mata.
"Dasar cucu berandalan! Tidak pernah pulang, tidak pernah mengunjungi kakek, tidak mau membantu mengurus perusahaan. Menikah tanpa memberi kabar dan kabur-kaburan seenak jidatmu. Lalu sekalinya minta uang jajan langsung satu triliun. Memangnya jajan apa yang ingin kau beli sampai membutuhkan uang sebanyak itu. Kau pikir uang kakek bisa kau keruk sesuka hatimu? Kalau mau uang, sini pulang dan urus perusahaan!" omel Kakek Firman.
"Kek, Jeff hanya minta. Kalau Kakek tidak mau memberi ya sudah," jawab Jeff santai.
Mendengar jawaban itu membuat Kakek Firman gedek juga. Tidak diberi kok kasihan, tapi diberi kok cucunya itu kurang ajarnya kebangetan. Sementara itu, disaat Kakek Firman masih gondok dengan kelakuan cucunya, pria lain yang sejak tadi hanya diam akhirnya mulai bereaksi.
Pria itu merebut ponsel milik Kakek Firman. Lalu tanpa berpikir panjang langsung meminta nomor rekening Jeffsa untuk memberikan uang jajan kepada cucu tunggalnya. "Cepat beritahu kakek berapa nomor rekening milikmu. Kalau cuma satu triliun, tidak usah minta sama kakekmu yang pelit ini. Minta saja padaku, kakek akan segera mentransfernya hari ini juga!" kata Kakek Abraham.
"K-Kakek Ham, kapan kakek pulang?" tanya Jeffsa setelah tahu siapa yang berbicara.
"Sejak kau kabur dari rumah!" jawab Kakek Abraham.
Kakek Abraham masih ingat betul bagaimana kejadian hari itu. Dia yang saat itu tinggal sementara di luar negeri langsung pulang saat mendengar kabar Jeff kabur dari rumah. Panik sudah pasti. Karena Jeff adalah satu-satunya cucu yang dia punya. Tak terhitung berapa banyak orang yang dia sebar untuk mencarinya. Tapi mereka tidak berhasil menemukan jejak Jeff sama sekali. Sampai akhirnya Kakek Firman memberitahu Kakek Abraham apa yang sebenarnya terjadi.
Kakek Firman mengakui bahwa dia ikut andil dalam menghapus jejak-jejak Jeffsa. Lalu setelah memahami situasinya, Kakek Abraham pun juga melakukan hal yang sama demi mewujudkan impian Jeff hidup bebas di luaran sana.
"Apa kakek baik-baik saja?" tanya Jeffsa.
"Tentu saja kakek baik-baik saja. Apa kau berharap kakek cepat mati sama seperti kau yang selalu menyumpahi Firman?" jawab Kakek Abraham.
"Maafkan Jeff, Kek! Jeff janji akan segera menemui kalian. Jadi jangan marah-marah lagi," janji Jeffsa.
Jawaban itu pun langsung membuat Kakek Abraham tenang. "Ngomong-ngomong, apa kau butuh sesuatu sampai minta uang jajan sebanyak itu?" tanya Kakek Abraham.
"Apa?" tanya dua kakek itu bersamaan.
Akhirnya Jef menceritakan secara singkat apa yang sedang terjadi. Dua pria sepuh itu pun mendengarkannya baik-baik layaknya anak kecil yang dibacakan dongeng sebelum tidur.
"Jadi begitu ceritanya," kata Jeff setelah menjelaskan semuanya.
Kakek Firman yang mendengar penjelasan itu langsung menyesal atas sikapnya tadi. Kasihan sekali nasib Jeffsa. Sudah hidup diluar sana sendirian, dihina-hina, istrinya akan di jual pula. Akhirnya Kakek Firman pun luluh juga.
"Kakek akan memberikan uangnya nanti," kata Kakek Firman.
Jeff langsung sumringah. Lalu bersorak meskipun hanya dalam hatinya. "Jadi, siapa yang akan memberiku uang jajan?" tanya Jeffsa.
"Biar aku saja!" jawab Kakek Firman.
"Kali ini biar aku saja. Jeff itu cucu tunggalku!" kata Kakek Abraham tidak mau mengalah.
Sementara Jeff yang tahu dua kakeknya sama-sama ingin memberinya uang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini lewat begitu saja. "Sudahlah, jangan bertengkar. Kenapa kalian sangat kekanakan sih. Daripada ribut begitu kenapa kalian tidak patungan saja?" pancing Jeffsa.
Jeff tahu dua kakeknya ini gengsinya tembus langit. Mana mungkin mereka patungan. Yang ada pasti masing-masing dari mereka akan memberikannya satu triliun per orang.
"Patungan kepalamu!" maki dua kakek itu bersamaan. Tapi yang dimaki hanya terkekeh mendengarnya.
"Jeff, meskipun begitu kakek tidak memberikan uang ini secara gratis," kata Kakek Firman.
"Apa yang kakek inginkan?" tanya Jeffsa.
"Kembalilah, Jeff! Sebelum orangtua dan nenekmu menemukan kalian. Bawa juga Juwita bersamamu. Kakek janji akan berpihak pada kalian," kata Kakek Firman.
Jeff diam sebentar. Lalu menarik nafas panjang sebelum memberikan sebuah jawaban yang menyejukkan. "Jeff akan memikirkannya."
Sementara itu, Kakek Abraham juga tidak mau kalah. Karena dia juga tidak memberikan uang sebanyak itu dengan cuma-cuma. "Jeff, kakek juga menginginkan sesuatu," pinta Kakek Abraham.
Jeff langsung memijit keningnya. Apa Kakek Abraham juga ingin dia kembali dan segera mewarisi gelar CEO seperti yang pria tua itu inginkan selama ini?
"Kakek mau Jeff bagaimana?" tanya Jeff pasrah.
"Jeff, Kakek hanya punya satu anak dan satu cucu. Jadi bisakah memberikan kakek cicit yang banyak untuk meramaikan rumah kakek yang luas?" pinta Kakek Abraham.
"Kek, jangan khawatir. Jeff pasti punya banyak anak nanti. Oh iya, Jeff lupa memberitahu. Cicit pertama kalian sudah beberapa minggu tidur di perut cucu menantu kalian," kata Jeffsa.
Pengakuan itu membuat dua pria itu bersorak. Mereka bahkan sudah berpelukan saking senangnya.
...***...