Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 32 Finally Unboxing


Jeff mendorong Juwita berbaring di ranjang. Siap menyesap dua bukit yang mulai sekarang akan menjadi mainan favoritnya. Tapi Juwita menahan tangan Jeff yang sudah menyingkap bajunya hingga memperlihatkan pusarnya.


"Jeff, matikan lampunya!" pinta Juwi.


"Apa Juwi malu?" tanya Jeffsa yang dijawab dengan anggukan.


Jeff yang merasa dipermainkan karena selalu ditarik ulur menjadi semakin bersemangat untuk menggoda Juwita. Terlebih saat melihat wajah Juwita yang selalu merah padam saat mereka sedang bermesraan seperti ini. Jeff mendekatkan wajahnya ke telinga Juwita, meniupnya perlahan sembari berbisik pelan, "Wi, bagaimana kalau aku salah memasukkan juniorku karena gelap? Dia tidak punya mata hlo!"


"Aku akan memberitahumu dimana tempatnya," kata Juwita tak kalah pelan.


"Oh, Juwi mau memegangnya dan memasukkannya sendiri?" tanya Jeffsa. Lalu menggigit bibir Juwi sekali lagi.


"Bukan begitu, Jeff!" protes Juwi dengan memukul dada Jeffsa.


Jeff yang dipukul hanya tersenyum simpul, lalu meraih tangan Juwi agar berhenti memukulnya. Jeff akhirnya bangkit, menekan saklar lampu yang ada di sebelah ranjang dan menggantinya dengan lampu temaram. "Begini sudah boleh, Wi?" tanya Jeffsa.


"Eum," jawab Juwita malu-malu.


Sebenarnya Jeff tidak perlu turun dari ranjang hanya untuk menggapai saklar. Tapi ada sesuatu yang lupa dia lupakan sebelum dia memulai malam pertamanya, yaitu mengunci pintu kamarnya demi keamanan.


Di bawah cahaya lampu yang temaram itu, Juwita melihat Jeff mulai mempreteli baju serta celana dan membuangnya begitu saja. Lalu kembali naik ke ranjang dan membantu Juwita melakukan hal yang sama sebelum menindih Juwita untuk memakan buah kembarnya. Sementara mulutnya memanen buah diatas, tangannya yang lain mulai merayap untuk memainkan labirin yang ada di bawah yang membuat Juwita semakin berdebar.


"Jeff!" panggil Juwita


"Hm?" sahut Jeffsa disela-sela kesibukannya.


Tapi Juwita tidak mengatakan apa-apa lagi selain menutup mulutnya rapat-rapat. Menahan suara aneh yang akan keluar meskipun beberapa kali terus kelepasan.


"Wi, jangan ditahan. Kalau mau bersuara ya bersuara saja," kata Jeffsa setelah sukses membuat nafas Juwita memburu.


Jeff menyelipkan jarinya yang manis. Memeriksa jalan licin yang akan dilewati juniornya yang sudah kelewat tegang. Tapi langsung melakukan penetrasi tidak akan menarik karena Jeff belum mencicipi bagaimana rasa benda itu dengan mulutnya.


"J-Jeffsa, apa yang kau lakukan? Itu kotor!" kata Juwita ketika Jeff semakin turun dan turun sampai mendapatkan barang yang dia cari.


Juwita melarang Jeff melakukan itu tapi Jeff juga tidak membiarkan Juwita menghalanginya. Juwita baru menghentikan perlawanannya yang tak berarti ketika Jeff telah sepenuhnya menguasai benda keramat itu dan Juwita merasakan bagaimana permainan lidah dan mulut Jeffsa.


"Akh!" suara itu akhirnya muncul. Lebih tepatnya saat ada benda asing berukuran kecil yang menembus bagian pribadi Juwita.


Juwita tidak bisa menahannya lagi. Perpaduan rasa yang baru dia alami malam ini sungguh membuatnya lupa bagaimana caranya menutup mulut. Suara-suara itu terus menggema meskipun lirih, dibarengi dengan tangannya secara refleks memegangi kepala Jeffsa. Sesekali menyentuh satu tangan milik Jeff yang masih bernaung di dadanya seolah meminta lebih. Mendapatkan reaksi seperti itu membuat Jeff mempercepat gerakan tangannya, menghajar Juwita hanya dengan menggunakan jari dan lidahnya sampai batasnya.


"Jeff!" teriak Juwi. Tubuh itu akhirnya mengejang bersamaan dengan muntahnya ****** ***** sebelum terkulai lemas menikmati sisa puncak kenikmatan yang diberikan Jeff untuknya.


"Wi, selain seksi ternyata kau juga sangat nakal!" puji Jeffsa sembari membersikan semburan cairan yang mengenai wajah tampannya.


"Ayo, bukankah kau bilang akan memberitahuku dimana tempatnya?" tanya Jeff setelah memberikan jeda istirahat untuk Juwita.


Jeff sudah bersiap, sementara Juwita menuruti kata-kata Jeff tanpa protes meskipun tahu Jeff sedang berbohong. Mana mungkin Jeff tidak tahu tempatnya sementara dia sudah menjelajahinya kan?


Juwita mencari tangan Jeffsa untuk memberitahukan dimana bagian itu, tapi Jeff malah meraih tangan Juwita untuk membimbingnya menyentuh sesuatu yang lain. "Bukan tanganku yang akan masuk, tapi ini. Jadi bawa dia ke sarangnya. Ingat, jangan dilepas atau dia akan terbang."


Juwita tidak tahu harus bereaksi bagaimana setelah menyentuh benda asing itu, semakin tidak bisa bereaksi lagi setelah Jeff menekan saklar lampu sehingga semuanya terlihat sangat jelas. Jeff menyeringai melihat inci demi inci tubuh istrinya yang polos. Pandangannya beralih dari atas hingga bawah tanpa berkedip sedikitpun. Lalu sekali lagi menyentuh bagian yang terbuka lebar itu saking gemasnya.


Sementara Juwita, dia pun juga sama. dia terpaku untuk sejenak. Melihat dirinya dan Jeff yang sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Jujur saja Juwita sangat terpesona dengan tubuh Jeff yang seperti porselen. Juwita menyentuh kotak demi kotak perut Jeffsa dengan tangannya yang lain, lalu semakin turun ke bawah sebelum tersadar bagaimana situasinya saat ini.


Juwita malu setengah mati saat menyadari dia sedang membuka kakinya lebar-lebar dan melihat Jeff dengan posisi yang siap menindihnya dengan ekspresi meringis karena Juwita memegang milik Jeff terlalu keras.


Juwita beringsut mundur. Melepaskan apa yang dia pegang, menutup kakinya rapat-rapat dan menarik selimut untuk menutupi dirinya. Tapi Jeff tidak memberikan kesempatan kepada Juwita untuk melakukan itu semua karena dia sudah memeluk Juwita lengkap dengan serangan berikutnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku tidak akan menggodamu lagi. Sekarang aku akan melakukannya, apa kau siap?" tanya Jeffsa.


"Pelan-pelan, aku takut sakit!" jawab Juwita.


Juwita menggigit bibirnya, merasakan kehangatan dan menahan rasa sakit yang mulai menyeruak di bawah sana. Tapi Jeff memperlakukan Juwita dengan sangat baik. Dia melakukannya dengan sangat pelan, membiarkan Juwita terbiasa dengan ujungnya.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Jeffsa.


"Eum," jawab Juwita.


"Sayang, lihatlah! Dia akan masuk sepenuhnya!" kata Jeff sebelum benar-benar merenggut mahkota istri kesayangannya.


Juwita menuruti kata Jeffsa. Dia melihat milik suaminya semakin tenggelam. Mereka juga melihat darah segar yang membungkus milik Jeff saat Jeff menariknya sebelum kembali melesakkannya dalam-dalam.


"Jeff, sakit!" rengek Juwita.


"Maafkan aku, aku akan lebih pelan!" janji Jeffsa.


Jeff kembali membangkitkan gairah Juwita. Menggoda bagian-bagian yang lain agar Juwita kembali rileks dan melupakan rasa sakit di bagian intinya.


Begitulah malam itu. Jeff meminta haknya dan Juwita memenuhi kewajibannya untuk melayani suaminya. Bersama-sama mengejar sesuatu yang orang-orang sebut sebagai nikmatnya surga dunia. Malam itu akan menjadi malam yang panjang untuk mereka karena malam itu, malam pertama Jeffsa dan Juwita sukses besar.


"Wi, aku sangat mencintaimu!" bisik Jeffsa setelah mereka beristirahat.


"Aku tahu," jawab Juwita. Juwita memeluk Jeff dengan erat. Beberapa kali memegang dada bidang suaminya lalu melirik dadanya sendiri yang memiliki bekas merah yang tak seimbang.


"Jeff, apa kau tidur?" tanya Juwita.


"Tidak, aku tidak bisa tidur," jawab Jeffsa. Jeff meraih tangan istrinya, menciumnya beberapa kali dan berpindah mencium bibirnya yang seksi.


"Kalau begitu, bisakah aku minta tolong?" tanya Juwita.


"Apa?" tanya Jeffsa.


"Bisakah memberikan bekas yang seimbang disini?" tawar Juwita dengan menunjukkan dadanya yang besar.


Jeff tersenyum licik. Tapi juga sangat bersemangat atas tawaran nakal yang Juwita berikan. Apa begini cara Juwita meminta lagi? "Wi, apa kau masih sanggup?" tanya Jeffsa.


"Jeff, tapi kau sudah pipis tiga kali disini," jawab Juwita.


"Wi, aku hanya pipis tiga kali. Aku tidak lelah. Tapi bagaimana denganmu, bukankah kau sudah pipis berkali-kali? Apa kau tidak lelah?" tanya Jeffsa dengan menowel hidung Juwita.


"Aku sedikit lelah tapi aku suka melayanimu. Jadi menurutmu aku harus bagaimana?" tantang Juwita.


"Kalau begitu layani aku sampai pagi," jawab Jeffsa.


Lalu tanpa menunda lagi sudah mulai melakukan pemanasan untuk mengejar puncak kenikmatan mereka. Kebetulan Jeff masih menginginkannya, hanya saja takut Juwita kelelahan. Tapi karena Juwita sudah mempersilahkannya, maka lakukan saja sampai pagi.


...***...