Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 72 Mati!


Seharusnya Jeff melihat ruangan usang dengan perabotan rusak sama seperti kamar utama ini. Tapi yang dia lihat bukan itu, melainkan kamar yang bersih dan ada Juwita di dalamnya. Ini bukan kenyataan, tentu saja kamar itu sama rusaknya. Hanya saja Jeff sudah mendapatkan kembali ingatannya dan yang baru Jeff lihat adalah adegan beberapa tahun lalu. Hari dimana Jeff menyelinap lewat pintu rahasia karena Juwita mengunci pintu kamarnya.


Jeff ingat betul, saat itu masuk lewat pintu ini untuk memastikan Juwita ada di dalam. Dan Jeff sempat memberikan sebuah ciuman dan meninggalkan bekasnya di ceruk leher Juwita sebelum pergi.


"Aku ingat sekarang!" gumam Jeff.


Pria itu masih menunduk. Lalu memijit dahinya untuk meredakan sakitnya. Senyum sinis muncul, sebelum Jeff meninju tembok sebagai ungkapan kebenciannya Benci dengan kecelakaan itu, benci dengan orangtua dan nenek yang menipunya dan membuang semua orang uang dia kenal. Dan yang paling Jeff benci, adalah kelakuan mereka atas Juwita yang melewati batas. Apa nyawa istrinya sama sekali tidak berharga di mata mereka? Sungguh, Jeff tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi selamanya.


Sudah cukup. Cukup menenangkan diri di tempat ini. Jeff segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Juwita. Sayangnya tidak ada jaringan di tempat terbengkalai ini. Tidak ada pilihan lain bagi Jeff selain pulang dan menghubunginya lagi nanti. Yah, Jeff memutuskan untuk pulang. Ingin segera pulang untuk memeluk Juwita dan mengatakan dia sudah ingat semuanya. Meminta maaf atas semua yang terjadi dan penderitaan yang dia alami. Itulah rencana Jeff. Tapi setengah jam kemudian saat Jeff sudah mendapatkan jaringan, giliran ponsel Juwita yang tidak bisa dihubungi. Begitu juga dengan ponsel Anita, wanita yang Jeff pekerjakan di rumahnya.


"Ada apa dengan mereka?" batin Jeffsa.


Jeff tidak berhenti sampai disitu. Karena Juwita dan Anita tidak mengangkat panggilannya maka Jeff memencet nomor yang lain. Kali ini adalah telepon rumahnya sendiri dan salah satu pengasuh Rayyan yang mengangkatnya.


"Dimana Juwi?" tanya Jeffsa setelah panggilannya diangkat. Tapi jawaban dari pengasuh itu membuat jantung Jeff nyaris copot.


"T-tuan Jeff, Anda baik-baik saja? Bukannya Anda kecelakaan?" tanya pengasuh di seberang sana.


"Kecelakaan?" tanya Jeffsa dengan dahi mengkerut.


Pengasuh itu menjelaskan secara singkat kronologinya. Bahwa beberapa saat setelah Jeff pergi, seseorang menghubungi Juwita dan mengatakan bahwa Jeff kecelakaan. Tentu saja tidak ada yang percaya dengan omong kosong itu. Tapi nomor Jeff dan bodyguard yang mengikutinya tidak bisa dihubungi. Dan tidak lama setelah itu, berita tentang kecelakaan muncul di TV dan Jeff adalah nama salah satu korbannya.


Meskipun enggan mempercayainya tapi Juwita pergi untuk memastikannya ditemani oleh Anita dan beberapa bodyguard. Tanpa tahu bahwa semua itu hanyalah jebakan yang dibuat oleh Mama Eliza semalam. Sebuah jebakan yang telah direncanakan dengan matang karena mereka tahu Jeff tidak ada di rumah hari ini. Rencana itu semakin mulus karena ponsel Jeff yang tidak bisa dihubungi.


"Dengar, apapun yang terjadi jangan pernah membiarkan siapapun masuk ke rumah dan jangan pernah keluar dari rumah!" pesan Jeffsa.


"B-baik, Pak!" jawab pengasuh. Antara senang, cemas dan gugup itulah yang dia rasakan sekarang.


Jeff menutup teleponnya, menghubungi semua orangnya saat itu juga untuk melacak keberadaan Juwita. Hanya dalam kurun waktu sepuluh menit saja cukup bagi Jeff untuk mendapatkan titik terakhir Juwita terdeteksi.


"Cari mati!" umpat Jeffsa.


Jeff meminta sopirnya berhenti. Meminta semua orang turun dan pindah ke mobil lain. Sementara dia sendiri langsung mengambilnya alih kemudi dan mengendarai mobil secepat yang dia bisa.


.


.


.


"Siapa kalian?" tanya Anita.


"Diam!" Bentak orang yang menariknya dengan kasar.


"Bajingan! Lepaskan aku!" teriak Anita. Tapi ini adalah teriakan terakhirnya karena orang-orang suruhan Mama Eliza memukul kepalanya hingga pingsan.


Sementara itu di tempat yang lain keadaan Juwita tidak jauh lebih baik. Karena seorang pria hidung belang telah membawanya pergi ke tempat lain. Sebuah rumah yang di dalamnya hanya ada mereka berdua saja. Masih bagus kalau Juwita dalam keadaan normal. Sayangnya tidak, karena Juwita di bawah kendali obat yang disuntikkan padanya atas perintah Yasmine.


"Bersabarlah, cantik! Aku akan memuaskanmu sebentar lagi!" kata pria itu. Tidak hanya tertawa dengan wajah brengseknya. Dia juga sudah mendorong Juwita ke kasur.


Juwita memang sedang di bawah pengaruh obat. Tapi masih menyisakan kewarasan yang membuatnya meraih sebuah vas bunga yang ada di meja. Lalu sekuat tenaga memukul kepala pria itu hingga berdarah-darah.


"Mati sana!" ucap Juwita.


Bukannya takut tapi perlawanan Juwita membuat pria itu semakin tertarik untuk menidurinya. Pria itu memberikan tamparan kepada Juwita lalu mencekik lehernya hingga tersudut.


"Awalnya aku ingin melakukannya dengan lembut. Tapi karena kau bersikap kasar, maka aku pun akan melakukannya dengan kasar," kata pria itu.


Juwita memegangi tangan yang mencekiknya. Ini adalah kali kedua seorang pria akan memperkosanya dan Juwita tidak akan membiarkan itu terjadi. Tatapan kebencian mulai Juwita perlihatkan, diselingi sebuah senyum tipis yang terukir di satu sudut bibirnya.


"Ma-ti!" kata Juwita diujung kewarasannya yang mulai hilang.


"K-kau k-kau!" kata pria itu.


Jika tadi hanya kepalanya yang mengucurkan darah. Kini perutnya juga sama karena Juwita berhasil menusukkan sebuah pisau kecil disana. Tapi itu belum membuat pria itu lumpuh karena tidak mengenai titik vital sehingga membuatnya dalam bahaya. Pria itu mencabut pisaunya. Lalu membuangnya entah kemana.


"Setelah menikmati tubuhmu ini, aku benar-benar akan membunuhmu!" katanya lagi.


Pria itu segera membuka jaketnya. Mendekati Juwita yang sudah tidak mengenali lagi siapapun yang ada di hadapannya. Tapi Jeff datang di waktu yang tepat. Karena sebelum pria itu menyentuh Juwita, Jeff sudah mendobrak pintu. Dan selagi pria itu belum menyadari apa yang terjadi Jeff sudah mengarahkan moncong pistolnya ke kepala pria itu dan menarik pelatuknya. Hanya dengan satu tembakan saja pria itu roboh tanpa ada nyawa lagi yang ada di badannya.


"Wi?" panggil Jeffsa. Jeff menghampiri Juwita yang pingsan. Memastikan tidak ada luka sedikitpun kemudian mengangkatnya untuk membawanya pulang.


"Bos, semuanya sudah berhasil kami lumpuhkan!" lapor seorang bawahan kepada Jeffsa.


"Bagus," jawab Jeffsa.


"Selanjutnya, apa yang harus kami lakukan. Menyergap Tuan dan Nyonya Besar bersama Nona Yasmine?" tanya bawahan itu lagi.


"Tidak. Malam ini buat seolah-olah rencana mereka berhasil. Lalu kita akan memberikan pertunjukan yang lebih menarik nanti," jawab Jeffsa.


"Baik, Bos!" kata bawahan itu.


...***...