Menikahi Berandal Tampan

Menikahi Berandal Tampan
Bab 69 Dejavu


"Apa katamu? A-aku m-mesum?" tanya Juwita dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Eum, kau benar-benar mesum!" jawab Jeff dengan menyentil dahi Juwita yang masih cukup lebar meskipun sudah melakukan operasi. Sepertinya Juwita hanya memperbaiki wajah yang rusak tanpa meminta dokter mempercantik bagian yang tidak rusak saat operasi dulu.


"Tunggu, lalu apa arti dari kalimat melayanimu sebagai istri barusan?" tanya Juwita dengan mata membesar.


"Maksudnya adalah menemaniku minum teh atau makan malam misalnya," jawab Jeffrey santai.


Juwita merasa tertimpa beban seberat ribuan ton mendengar jawaban itu. Sekarang mau di taruh mana wajahnya yang hampir berubah warna seperti tomat busuk. Karena jujur saja Juwita mengira Jeff akan memintanya berhubungan intim barusan. Jadi untuk menutupi rasa malunya itu Juwita memilih menyalahkan Jeff lagi. Lagipula wanita kan selalu benar. Pria bisa apa saat wanita sedang marah?


"Menemani minum teh katamu?" tanya Juwita.


"Ya, kurang lebih seperti itu!" jawab Jeffrey dengan seulas senyum yang dia tahan.


Yah, minum teh bersama adalah hal yang paling sederhana. Tapi kalau Juwita mau lebih dari sekedar minum teh malah lebih baik. Berendam di jacuzzi bersama dan hal intim lainnya misalnya.


"Kita bisa minum teh dirumah. Kenapa kau sangat suka menghamburkan begitu banyak uang hanya untuk minum teh disini?" tanya Juwita.


"Aku tidak kekurangan uang. Jadi kenapa harus perhitungan untuk mengeluarkan uang yang tidak seberapa ini? Lagipula aku selalu mendapatkan diskon!" jawab Jeffrey.


"Diskon? Berapa yang kau keluarkan setelah mendapatkan diskon?" tanya Juwita.


Juwita melirik kamar besar itu sekali lagi. Di kamar itu bahkan ada ruang keluarga yang tembus dapur mini dan bar. Masih ada kursi pijat, ruangan olahraga, tempat sauna dan fasilitas mewah lainnya. Jadi bagaimana mungkin itu murah.


"Hanya 150 juta semalam," jawab Jeffrey.


Tuhan, nyawa Juwita hampir lepas sekarang. Menikah dengan pria kaya yang tampan sepertinya semakin memperpendek umurnya.


"Jeff!" teriak Juwita sebagai ekspresi tidak tahu harus marah seperti apa.


"Sudahlah, bukankah sudah terlanjur?" kata Jeffrey sembari membuka jas miliknya di depan Juwita. Lalu tanpa sungkan melonggarkan dasi dan melepaskan beberapa kancing baju bagian atas kemudian melihat Juwita dalam jarak terdekat.


"Jeff, apa yang kau lakukan. Ini terlihat kau mau memperkosaku tahu?" protes Juwita.


"Hanya karena aku membawamu ke ranjang dan melihatmu, apa itu berarti aku akan memperkosamu?" tanya Jeff tak mau kalah.


"B-bukan seperti itu maksudku. Tapi yang kau lakukan barusan itu bisa membuat orang salah paham tahu?" omel Juwita.


"Oh, sepertinya kau berharap diperkosa olehku. Iya kan, Juwita?" tanya Jeffrey dengan senyum tipis menawannya.


"Apa sih yang kau pikirkan? Siapa juga yang mau. Aku tidak suka itu kok!" jawab Juwita dengan memalingkan wajahnya.


"Jangan bohong. Aku ini bukan anak-anak. Sini, kalau kau mau aku tidak keberatan kok," lanjut Jeffrey dengan memelintir rambut Juwita.


"Jeff, hentikan! Aku sungguh tidak mau!" tolak Juwita.


Juwita segera mendorong Jeff sebelum pertahanannya patah. Lalu merapikan bajunya yang sedikit berantakan dan duduk dengan tegak. Tapi hanya dengan sekali tarik, Jeff bisa membuat Juwita melihatnya lagi.


"Juwita, jangan bertingkah seperti gadis perawan. Bukankah kau bilang kita sudah punya anak. Jadi kenapa kau harus malu mengakuinya?" tanya Jeffrey.


"Berhenti membahas itu, Jeffsa!" kata Juwita.


Selain itu, Jouvis masih belum ditemukan. Jadi bagaimana bisa Juwita bersenang-senang. Toh Juwita yakin Jeff pasti hanya mengetesnya barusan. Seandainya Juwita mengiyakan tawaran Jeff lalu Jeff ternyata menolaknya, mungkin Juwita akan kembali ke luar negeri lagi untuk merubah wajahnya saking malunya.


"Jeff, tunggulah sebentar. Aku akan membuat teh untukmu!" kata Juwita setelah berhasil menguasai dirinya. Wajah Juwita sepenuhnya telah berubah. Wajah manis itu bahkan sudah full senyum sekarang.


"Juwita?" panggil Jeffrey.


Jeff berusaha menahan Juwita. Tapi Juwita masih bisa meloloskan diri karena Jeff tidak sungguh-sungguh menahannya. Sedikit kecewa memang, tapi sebagai gantinya Juwita mencium kedua pipi Jeff sama seperti yang Juwita lakukan saat Jeff enggan ditinggal. Dan itu membuat Jeff merasakan dejavu.


"Sayang, aku hanya sebentar. Aku akan cepat selesai. Jangan lupa mencuci tanganmu!" pamit Juwita.


Tepat setelah Juwita berpaling, Jeff memegangi kepalanya yang sedikit sakit. Perasaan familiar itu terjadi lagi. Jeff ingat dia pernah menggendong seorang bayi dan berjalan mendekati wanita yang berdiri membelakanginya.


"Aku pernah mengalami ini," gumam Jeffrey.


Jeff melangkahkan kakinya sesuai kata hatinya. Jeff yakin dulu sering melakukan ini. Menggendong anaknya di tangan kirinya dan mencium rambut istrinya sebelum memeluknya dari belakang.


"Dia setinggi ini," batin Jeffrey.


Jeff tidak ragu lagi mengikuti kata hatinya. Mencium rambut Juwita dan memeluknya dari belakang. Bedanya kali ini tidak ada anak diantara mereka dan Jeff merasa aneh. Karena tiba-tiba Jeff merasa rindu dengan suasana seperti ini. Sementara itu, tingkah aneh Jeff membuat Juwita menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa, apa kau mengingat sesuatu?" tanya Juwita. Juwita memegang tangan Jeff yang berlabuh di perutnya. Lalu menyentuh pipi Jeff dengan lembut.


"Kurasa begitu," jawab Jeffrey tanpa melepaskan pelukannya.


Suasana sepenuhnya telah berubah. Beberapa menit yang lalu mereka masih beradu mulut. Dan sekarang sudah berpelukan. Jeff bahkan memeluk Juwita semakin erat. "Maaf, kurasa hanya ini yang kuingat!" lirih Jeffrey.


"Bukan masalah. Aku akan membantumu mengingatnya pelan-pelan," kata Juwita.


Juwita memegangi tangan Jeff kuat-kuat. Lalu berbalik arah untuk membalas pelukan suaminya. Pelukan Jeff seperti inilah yang selalu dia rindukan selama ini. "Sedikit lagi. Sedikit lagi kau pasti akan mengingat semuanya, Jeff!" batin Juwita.


"Apa kau menangis?" tanya Jeff ketika merasakan dadanya basah.


"Apa karena Jouvis? Kau pasti sangat merindukannya kan?" tanya Jeff lagi.


"Aku selalu merindukannya setiap waktu. Tapi kali ini bukan Jouvis yang membuatku menangis," jawab Juwita.


Jeff langsung diam. Membayangkan betapa sulitnya Juwita setahun terakhir. Dipisahkan dari anak dan suaminya. Dirusak wajahnya dan dibuang. Lalu orang-orang terdekatnya hilang bagaikan ditelan bumi. Juwita sendirian selama ini. Untung saja masih ada Kakek Ham yang selalu menemani Juwita dan mengisi kekosongan hatinya yang nyaris mati. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka fisiknya. Tapi butuh waktu yang lebih banyak lagi untuk menyembuhkan luka hatinya. Dan saat Juwita berhasil menemui Jeff dan mengatakan semuanya, Jeff bahkan tidak mempercayainya dan sempat mengusirnya. Sekarang Jeff merasa sangat bersalah untuk itu.


"Maafkan aku! Ini salahku!" kata Jeffrey.


"Tidak, ini bukan salahmu!" ucap Juwita.


"Aku pasti akan segera membawa Jouvis pulang untukmu!" janji Jeffrey.


"Eum," kata Juwita.


...***...