
"Jeff, sakit!" keluh Juwita.
Juwita sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tidak sendirian karena Jeff siaga menemani sejak tadi. Jeff yang mendengar Juwita mengeluh hanya mengelus perut Juwita. Berharap anaknya segera lahir agar Juwita tidak terlalu lama kesakitan seperti ini.
"Jeff, aku bilang sakit. Kok kamu diam saja sih, Jeff?" protes Juwita ketika tidak ada apapun yang Jeff bicarakan.
"Terus aku harus bagaimana, Wi?" jawab Jeffsa.
"Hibur aku, dong!" kata Juwita.
Jeff yang awalnya hanya memegang perut Juwita akhirnya memeluk Juwita. Menarik nafasnya panjang-panjang dan menyentuh perut besar yang akan segera mengempis. Bagaimana cara Jeff menghibur, dia sendiri saja sebenarnya was-was dan butuh dihibur.
"Sayang, bikinnya sudah teriak-teriak. Melahirkannya jangan teriak-teriak lagi, ya?" kata Jeffsa.
Perut Juwita menjadi semakin mulas. Tapi kalimat itu tidak bisa membuat Juwita tidak tertawa. Dan saat Juwita tertawa, anaknya seolah di dorong dan ingin segera dilahirkan. Jeff memang benar. Saat anak itu dibuat, Juwita selalu berteriak. Masa melahirkannya juga masih berteriak. Tapi bisakah seandainya Jeff menghiburnya dengan kalimat yang lain?
"Jeffsa, bisakah menghiburku dengan kalimat yang lain?" tanya Juwita.
"Bisa," jawab Jeffsa.
Jeff diam sejenak. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Juwita. "Sayang, saat kau hamil anak kedua nanti, sebaiknya kau operasi saja."
"Kenapa?" tanya Juwita.
"Kalau dua kepala bayi lewat sana semua, bagaimana kalau terowongan milikku jadi tidak menggigit?" jawab Jeffsa.
Sumpah, Juwita sudah berakhir sekarang. Hiburan macam apa ini. Disaat Juwita merasakan bagaimana sakitnya mau melahirkan, kenapa Jeff masih sempat-sempatnya memikirkan jalan lahir yang hampir dirusak bayi mereka sih?
"Jeffsa, saat anakku keluar nanti. Aku benar-benar akan memukulmu. Menyuruhmu tidur diluar dan tidak ada jatah lagi untukmu!" ancam Juwita selagi menahan sakit.
Jeff yang mendengarnya hanya tertawa saja. Biar saja Juwita akan mengatakan apa. Asal Juwita tidak mengaduh lagi itu sudah membuat Jeff senang. Setidaknya rasa sakit yang Juwita rasakan sedikit teralihkan oleh jokesnya barusan.
"Auch!" rintih Juwita.
"Sayang, jangan bicara lagi!" kata Jeffsa.
Kali ini Juwita sudah tidak bisa tertawa lagi karena perut yang semakin mulas. Yang dia lakukan berikutnya hanyalah mengatur nafas sesuai saran dokter dsn terus memegangi Jeff sembari menyembunyikan wajahnya di pelukan suaminya.
"Sayang, kau pasti bisa!" bisik Jeffsa.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya seorang dokter dan beberapa suster masuk untuk membantu proses persalinan Juwita. Jeff semakin berkeringat dingin. Meskipun terlihat kuat, sebenarnya Jeff tidak sekuat itu. Tampang cool yang dia pasang selama ini hanyalah topeng untuk menyembunyikan rasa gugup yang sebenarnya.
Akhirnya dimulai juga. Dokter dan suster sudah mengelilingi Juwita yang sudah siap dengan posisinya. Jeff yang manusia awam hanya bisa menikmati saat-saat dirinya seolah bertransmigrasi ke neraka.
Melihat dengan matanya sendiri bagaimana perjuangan Juwita melahirkan. Mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana suara Juwita mengejan. Pasti sangat sakit bukan? Tapi sebenernya Juwita tidak kesakitan sendirian. Karena Jeff pun juga kesakitan meskipun yang membuatnya sakit bukan karena melahirkan.
Itu adalah ulah Juwita yang terus memegangi Jeff sehingga Jeff merasakan bagaimana perihnya kuku Juwita yang menancap di tangannya. Itu masih belum cukup. Karena terkadang Juwita juga menarik rambut Jeffsa. Tapi meskipun begitu, Jeff tidak marah. Malahan senang karena dirinya sedikit berguna.
Jeff tersenyum kecil. Karena tidak lama lagi, tepatnya menjelang subuh ini akan menjadi kenangan indah lainnya untuk Jeffsa. Bukan hanya karena dia berani menunggui istrinya yang melahirkan, tapi karena dia akan resmi menyandang status sebagai ayah setelah anaknya lahir nanti.
Jeff melihat Juwita penuh cinta. Tidak bisa menyembunyikan perasaan harunya ketika melihat Juwita rela berdarah-darah untuk mengantar Jouvis kecil mereka melihat dunia.
Jouvis ya?
Iya, sebenarnya nama itulah yang sudah Jeff siapkan. Nama yang indah juga kekinian. Tentu saja tidak terlalu sulit juga untuk diucapkan oleh kakek dan neneknya yang sudah tua. Iya, malaikat kecil yang sekarang menangis keras di gendongan dokter itu sudah Jeff beri nama Jouvis.
"Lihatlah, jari-jarinya sangat kecil. Semuanya sangat kecil. Kenapa dia imut sekali?" tanya Jeff saat anaknya diberikan kepada Juwita.
"Eum, tapi dia tidak hanya imut. Tapi juga tampan sama sepertimu. Ah, aku sangat cemburu. Kenapa dia sangat mirip denganmu?" kata Juwita.
"Tentu saja mirip denganku. Aku kan ayahnya. Benarkan Jouvis?" tanya Jeff pada anaknya yang masih merah.
"Jouvis?" tanya Juwita.
"Iya, Jouvis. Aku memberi nama anak kita Jouvis Alfaredy Zane. Kau tidak protes lagi kan?" kata Jeffsa.
"Tidak, aku suka nama itu."
.
.
.
"Wake up, Baby Jouvis!"
Juwita membuka gorden kamarnya untuk membangunkan putra pertamanya yang kembali tidur setelah sempat Juwita mandikan. Sebenarnya Jouvis yang Juwita bangunkan, tapi Jeffsa yang membuka matanya. Pria itu belum sempat mengumpulkan kesadarannya, tapi sudah terperanjat karena anak yang semalam tidur di pelukannya hilang.
"Wi, anak kita mana?" tanya Jeffsa sembari mencarinya di bawah bantal.
Juwita hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah Jeffsa. Memangnya Jouvis sekecil apa sampai Jeff mencarinya di bawah bantal. "Jeff kecil tidur di belakangmu," jawab Juwita sembari melipat selimut.
Jeff segera menoleh, melihat Jouvis yang sudah berumur empat bulan tidur nyenyak di belakangnya.
"Kenapa dia bisa pindah kesini?" tanya Jeffsa. Anak itu masih belum bisa merangkak, bagaimana caranya lewat?
"Aku memindahkannya kesana setelah dia mandi. Bukannya dia yang menyeberang sendiri," jawab Juwita.
Jeff menggaruk kepalanya. Padahal dia sudah berjanji akan menjaga Jouvis. Tapi Jouvis dipindahkan saja Jeff tidak tahu. Untung saja bukan maling yang mengambilnya, melainkan ibunya sendiri.
"Sayang, maafkan aku! Aku ketiduran lagi," kata Jeffsa.
"Tidak perlu minta maaf. Kau itu sudah sibuk bekerja seharian. Lalu masih begadang menjaga Jouvis. Apa aku akan marah hanya karena kau tidak mendengar anak kita menangis, hm?" jawab Juwita.
Mana mungkin Juwita marah sementara Jeff sudah melakukan semua yang terbaik yang dia bisa selama ini. Jujur saja bahkan selama ini Jeff lah yang lebih sering begadang saat Jouvis baru lahir.
Jeff tersenyum mendengar kata istrinya yang sangat pengertian. Dia pun bangkit memeluk Juwita terlebih dulu. Selesai dengan ibunya, Jeff beralih ke anaknya untuk memberikan ciuman selamat pagi kepada Jouvis meskipun terlambat karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Setelah memberikan hujan ciuman untuk Jouvis, barulah Jeff ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Sementara itu, Juwita langsung menggendong Jouvis yang terbangun karena ulah usil ayahnya. Mengajaknya berbicara dan memberikan ASI untuk tumbuh kembang terbaiknya.
Setelah beberapa menit berlalu, Jeff akhirnya keluar dari kamar mandi. Juwita juga sudah selesai menyusui anaknya.
"Sayang, apa kau mau sarapan sekarang?" tanya Juwita.
Jeff yang membuka lemari langsung menoleh. Mengangkat satu alisnya karena bingung dengan sarapan yang Juwita tawarkan. "Sarapan apa?" tanya Jeffsa.
...***...