
Saat ini Noah sudah berangkat keluar kota untuk beberapa hari mengurus bisnisnya disana. Sementara Anneke mulai disibukkan dengan urusan pekerjaan di perusahaannya. Dia tampak fokus sedang menggambar desain perhiasan yang belum sempat diselesaikannya kemarin.
Rencananya desain perhiasan terbaru ini akan dia launching sebelum akhir bulan ini. Dan akan melakukan promosi besar-besaran karena perhiasan ini adalah limited design pertama dari perusahaan barunya. Dalam keheningan di ruang kerja Anneke, dia mengerucutkan bibir mungilnya dengan sangat bosan!
Untuk menghilangkan kebosanannya, dia meletakkan pensilnya dan menggeser kertas gambarnya. Entah menagap tiba-tiba saja dia kehilangan mood untuk melanjutkan menggambar desainnya. Dia meraih folder berisi gambar desain yang sudah dia kerjakan sejak lama.
Dulu dia suka menggambar desain dan menyusun semua gambar desainnya didalam folder itu. Dia membolak balikkan satu persatu, mencoba mencari inspirasi untuk digabungkan dengan desain yang baru saja dibuatnya.
Sambil melirik-lirik kearah setiap bagian lembaran gambar itu. ada rentetan tulisan pada lembaran-lembaran itu. Entah mengapa jiwa seni Anneke kembali terusik sehingga tanpa sadar ia pun mengambil sebuah pena dari dalam laci dan menggoreskan diatas kertas membuat guratan-guratan karakter yang lucu dan imut serta menggemaskan!
'Kenapa aku tiba-tiba ingin menggambar kartun lucu dan imut seperti ini? Ah.....apakah aku harus mendesain perhiasan untuk anak-anak juga? Aduh...ada apa denganku? kenapa malah berpikir kearah sana?' pikirnya.
Namun dia terus saja menggores hingga selembar kertas itu sudah berisikan gambar yang lucu dan imut. Merasa tak puas juga, Anneke membalikkan kertas berikutnya. Dia kembali menggoreskan penanya di halaman kertas kosong.
Dia bahkan sudah melupakan tentang desain perhiasan yang tadi dikerjakannya namun belum sepenuhnya selesai. Tak berapa lama, kertas kosong itu sudah terisi gambar desain lainnya. Melihat hasil coretan tangannya yang nampak manis, Anneke malah tersenyum sendiri dengan rasa bahagia dan kebosanannya seketika menguap begitu saja.
Benar....sudah lama sekali sejak dia menggambar terakhir kalinya! Bahkan dia pernah hampir lupa kapan terakhir kalinya dia menikmati hobinya yang satu ini. Dia terus menorehkan guratan demi guratan di kertas-kertas itu. Anneke yang awalnya hanya bermain-main saja pun akhirnya terbuai dengan dunianya sendiri dan hanyut didalamnya.
Dia bahkan tidak menyadari jika sedari tadi asistennya mengintip keruang kerjanya sambil memegang sebuah dokumen. Namun saat Abner melihat betaap fokusnya Anneke menggambar, dia pun mengurungkan niatnya untuk masuk. Dia beranjak dari sana dan akan kembali lagi nanti.
Tepat menjelang jam istirahat siang, Abner kembali dan mengetuk pintu ruang kerja Anneke.
"Masuk!" ucap Anneke mengangkat wajahnya dan melihat Abner membuka pintu dan masuk.
"Ada apa? Kamu bawa apa itu?" tanya Anneke saat melihat map ditangan Abner. Seingatnya mereka belum ada klien baru lagi. Mereka baru akan bertemu klien siang ini.
"Nona, saya cuma mau mengingatkan kalau kita akan berangkat sebentar lagi. Apa nona sudah selesai?"
"Oh iya. Untunglah kamu datang kesini. Hampir saja aku lupa!" ucap Anneke tersenyum. 'Fuuuhhh! Bisa-bisanya aku keasyikan menggambar sampai lupa aku ada janji temu dengan klien. Menurut Aliyah kalau klien ini adalah klien besar yang akan memesan perhiasan desainku.' bisik hatinya.
"Kalau nona sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang! Kita tidak boleh terlambat nona, ini klien penting dan saya yakin klien ini akan menjadi klien kita untuk jangka panjang."
"Oh ya? Kenapa kamu bisa seyakin itu? Apakah klien ini sangat kaya?" tanya Anneke penasaran dengan identitas klien yang akan ditemuinya.
"Nona akan tahu nanti. Siapa klien ini! Saya juga belum pernah bertemu dengannya sebelum ini tapi saya mengetahui sedikit tentangnya. Kalau soal kekayaan dan kekuasaan, bagaimana jika saya kategorikan dia setara dengan Tuan Noah?"
"Wah! Benarkah? Apa kita bisa mendapatkan kerjasama dengannya nanti?" Anneke menjadi bersemangat.
"Semuanya tergantung pada Nona! Selain itu menurut kabar yang saya dengar, dia juga masih muda, seumuran juga dengan Tuan Noah!" Abner tersenyum tipis melirik Anneke.
Tampak wanita itu terdiam sejenak, entah apa yang sedang dipikirkannya. Apakah dia memikirkan calon kliennya itu? Kira-kira klien itu tampan atau tidak? Sebuah ide pun terbersit dibenak Anneke. Lalu dia tersenyum dan merapikan semua dokumen dan kertas gambar di meja kerjanya. Dan memasukkan kedalam laci dan menguncinya.
"Aliyah sudah menunggu kita di lobi bersama supir dan pengawal semuanya sudah siap."
"Baiklah." mereka pun masuk kedalam lift. Saat tiba di lantai bawah mereka melihat Aliyah yang sedang berdiri didekat jendela sambil berbicara di telepon.
Aliyah menoleh lalu tersenyum, setelahnya dia mengakhiri pembicaraannya dan menghampiri Anneke. "Klien kita sudah dalam perjalanan menuju ke restoran itu. Sebaiknya kita bergegas kesana, jangan sampai terlambat."
Mereka bertiga keluar dari gedung itu dan memasuki mobil. Abner duduk di kursi penumpang disebelah supir. Aliyah dan Anneke duduk di kursi belakang.
Selama perjalanan, Aliyah menjelaskan pada Anneke beberapa informasi penting tentang klien baru ini.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba disana, saat mereka tiba di restoran dan seorang pelayan membawa mereka keruangan VIP yang berada dilantai atas. Anneke berjalan didepan saat pintu ruangan itu terbuka. Didalam ruangan duduk seorang pria yang sedang menundukkan wajahnya menatap layar ponselnya.
Anneke bisa merasakan aura yang kuat dari pria yang mengenakan setelan jas buatan desainer terkenal.
"Selamat siang Tuan Rexy." sapa Anneke dan Aliyah bersamaan membuat pria itu mengangkat wajahnya.
Tatapan matanya bertautan dengan mata Anneke. Kedua sama-sama saling menatap tak berkedip membuat Abner dan Aliyah saling melemparkan pandangan. Sedangkan Anneke yang terkejut saat melihat pria didepannya itu.
"Ehm....maaf kami terlambat." ucap Aliyah memecahkan keheningan.
"Saya kira seorang pebisnis itu harusnya menghargai waktu. Jangan khawatir, saya juga baru saja tiba. Apa kalian hanya akan berdiri saja disana?" ucapnya dengan senyum dibibirnya.
"Ehem....." Aliyah menyenggol lengan Anneke yang masih bergeming ditempatnya. "Jangan diam saja."
Anneke merasa malu karena dia masih menatap pria itu. 'Ya Tuhan! Tampan sekali pria ini? Kenapa aku sepertinya pernah melihat pria ini ya? Tapi dimana?' pikir Anneke mencoba mengingat-ingat.
Anneke duduk berhadapan dengan pria itu, sedangkan Abner duduk di sudut. Dan Aliyah bersebelahan dengan Anneke. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu, Aliyah pun tidak menyangka jika klien yang sejak minggu lalu berusaha menghubunginya itu ternyata seorang pria yang sangat tampan.
"Saya sudah memesan makanan. Silahkan pilih menu lain yang kalian sukai." ucap Rexy menyodorkan buku menu kehadapan Anneke.
'Apakah wanita ini yang dikatakan asistenku tempo hari? Dia terlihat masih muda, aku hanya melihat lukisannya saja yang dibeli asistenku, goresannya sangat halus. Aku tidak menyangka jika pelukis itu adalah gadis muda dan secantik ini.' bisik hatinya.
"Kalian tidak keberatan kalau kita makan dulu kan? Setelah itu baru kita akan membahas tentang bisnis."
"Oh tidak apa-apa Tuan Rexy!" jawab Anneke dengan sikap yang sopan dan senyum manisnya.
"Baguslah. Jangan terlalu tegang, santai saja saya tidak akan mempersulit kalian. Ini pertama kalinya saya kembali ke negara ini setelah sekian lama." ucapnya lagi membuka pembicaraan.