MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 41. SAINGAN


‘Hahaha…..Noah…..Noah! Semakin menarik saja! Ternyata kau sangat ingin makan malam bersamaku! Lihatlah wajah wanitamu itu yang sudah cemberut sejak tadi.’ bisik hati Anneke saat dia melirik kearah belakang dan melihat sekilas kearah Shelly.


Saat ini tatapan keduanya bertautan, Shelly melotot pada Anneke merasa tidak senang karena Noah yang bersemangat menawar lukisan itu.


Lalu Anneke menoleh pada Abner, “Apakah aku boleh menawar lukisanku sendiri?” tanyanya.


“Tentu saja Nona! Memangnya kenapa?” tanya Abner. Lalu dia pun berpikir jika sebenarnya Anneke tidak sungguh-sungguh dengan tawaran menemani makan malam. “Nona bisa mengajukan penawaran, hal itu juga bisa menaikkan nilai dan minat orang untuk membeli lukisan nona.”


“Ehm, begitu ya? Baiklah, aku akan menawar lukisanku sendiri! Mari kita lihat siapa yang akan memberikan penawaran tertinggi setelah ini.” kata Anneke kembali bersemangat.


Abner tersenyum, “Saya tahu jika nona khawatir kalau Tuan Noah yang menang. Maka Nona harus memenuhi janji untuk menemaninya makan malam. Ini bisa juga sebagai pembuka jalan untuk rencana nona yang berikutnya.” Abner memberikan saran pada Anneke.


“Aku tidak berminat, Abner! Jika orang lain yang memenangkan lukisan itu, aku tidak keberatan.”


“Haha…..nona Anne! Lihatlah pria paruh baya itu dia menaikkan tawarannya melebihi Tuan Noah!”


Anneke pun mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Abner. Tampak seorang pria paruh baya yang terus menaikkan nomornya setiap kali Noah memberikan penawarannya.


“Sepuluh milyar!” suara seorang wanita memecahkan pertarungan sengit yang sedang berlangsung. Anneke mengangkat nomornya, dia bahkan berdiri dari duduknya sehingga menampakkan punggung mulusnya.


Bagian belakang gaunnya memiliki model terbuka sampai sebatas pinggang. Sehingga mengekspos punggung mulusnya dan disaat bersamaan mata Noah menatap punggung Anneke.


Dia menelan salivanya, entah mengapa tubuhnya justru bereaksi hanya melihat punggung putih mulus itu. Shelly yang berada disamping Noah langsung memegang lengan pria itu, dia melihat arah pandangan mata Noah. Ini membuatnya tidak senang! Selama ini hanya dia yang menjadi pusat perhatian Noah meskipun begitu banyak wanita yang menggoda pria itu.


‘Sialan! Darimana datangnya wanita itu? Kenapa dia cantik sekali? Sejak tadi Noah terus saja mencuri pandang pada wanita itu!’ Shelly mendegus kesal didalam hatinya.


Dia merasa cemburu pada Anneke yang memiliki kecantikan diatas rata-rata dan bisa dibilang sempurna. Apalagi didukung dengan bentuk tubuhnya yang ramping dan seksi.


“Noah, jangan menawar lagi! Bukankah kau ingin mendapatkan kalung itu? Kenapa kau malah menawar lukisan?” Shelly terdengar sedikit protes. Namun Noah mengacuhkannya dan bahkan tidak menatapnya, hal itu membuat Shelly semakin kesal dan marah. Namun Shelly tak berani untuk bertindak lebih atau dia akan membuat Noah marah.


“Sebelas milyar rupiah!” Noah kembali memberikan penawaran.


“Tiga belas milyar!” suara seorang pria membuat Noah mengerutkan dahinya. Dia pun mengalihkan pandangannya kearah datangnya suara. Dia melihat seorang pria yang seumuran dengannya, berwajah tampan dengan wajah yang terlihat ramah dan tersenyum. Noah kembali mengeryitkan dahinya berusaha mengingat-ingat siapa pria itu.


“Empat belas!” Noah kembali bersuara. Dia tidak akan membiarkan orang lain yang menang.


“Ahhhh! Sepertinya para pria sedang bersaing ketat!” ujar seorang tamu undangan.


“Mereka bukan menawar lukisannya tapi pelukisnya! Mereka benar-benar menghamburkan uang hanya untuk sebuah makan malam!” sahut yang lainnya.


“Acara lelang kali ini sungguh menarik! Siapa kira-kira yang akan menjadi pemenangnya.”


Sementara Anneke mulai tidak tenang, sebenarnya dia sengaja mengatakan ide gila itu untuk menarik perhatian Noah yang akan berjuang untuk mendapatkan lukisan itu agar bisa makan malam bersamanya.


Anneke sadar jika Noah mulai memperhatikannya sejak dia berada diatas panggung tadi. Dan inilah cara Anneke untuk menguras uang Noah!


‘Aihhhh kenapa Noah tidak mau menyerah juga? Sepertinya dia semakin ngotot ingin mendapatkan lukisan itu! Aduh! Kenapa jadi begini? Aku tidak mau makan malam dengannya atau dengan yang lainnya! Aku harus mendapatkan lukisanku kembali.’ pikir Anneke.


Membuat para tamu undangan kembali berbisik-bisik.


“Sepertinya si pelukis tidak rela melepaskan lukisannya untuk orang lain.”


“Bukan begitu, lebih tepatnya dia tidak mau menemani para pria itu untuk makan malam!”


“Hahahaha……ya ya kurasa juga begitu! Wanita itu pintar sekali! Pertama dia menawar lukisannya sendiri dengan harga tinggi dengan begitu yang lain akan menaikkan tawaran mereka! Mereka berpikir wanita itu benar-benar mau menemani mereka makan malam!” suara tawa seorang pria paruh baya terdengar.


“Ini pertunjukan yang sangat menarik!” seru pria lainnya. Sedangkan para wanita yang hadir disana mulai merasa cemburu pada Anneke yang kini menjadi pusat perhatian dan rebutan para pria.


“Abner! Lakukan sesuatu! Aku tidak mau ada yang menang!” bisik Anneke pada Abner.


“Tidak ada yang bisa kita lakukan kalau sudah di tahap ini nona! Anda tidak mungkin mengambil lukisan itu! Sebaiknya nona menawar kembali, itu saja yang bisa dilakukan.”


“Tapi lihatlah kedua pria itu menaikkan tawaran mereka! Bagaimana mungkin aku mengeluarkan uang sebanyak itu untuk menghentikan mereka?”


“Tidak ada cara lain lagi nona! Hanya anda sendiri yang bisa mengatasinya! Lagipula kenapa nona tadi tiba-tiba mendapat ide seperti itu? Kini nona malah jadi dilema!”


“Abner! Kenapa kau jadi banyak bicara? Kau itu asistenku seharusnya kau tahu apa yang harus dilakukan!”


“Begini saja nona. Biarkan saja kedua pria itu saling bersaing! Kalau pria itu yang menang, anggap saja nona sedang kencan buta untuk memancing Tuan Noah!” kata Abner lagi.


“Nah, bagaimana kalau justru Noah yang menang?” tanya Anneke kesal.


“Bukankah dia mantan suami anda? Pergilah makan malam bersamanya dan tetap bersikap normal.” Abner justru tidak memberikan solusi yang diinginkan Anneke.


“Apa kamu sedang mencari cara menjebakku?” tanya Anneke tiba-tiba.


“Hah? Apa?”


“Kamu berencana untuk menjebakku bukan? Apa ini ide nenek atau idemu?”


“Bukan…..bukan begitu nona! Saya hanya mau anda berpikir realistis! Keduanya sama sekali tidak buruk? Atau apa jangan-jangan nona ingin makan malam dengan pria paruh baya itu?”


Anneke pun melemparkan pandangannya kearah pria paruh baya yang dikatakan Abner barusan. Entah mengapa tiba-tiba Anneke tersenyum menahan tawa. Hal itu membuat Abner menatapnya serius karena cemas. “Apa ada yang lucu nona? Kenapa anda senyum-senyum sendiri?”


“Diam! Kau tidak kuberikan izin untuk bicara sekarang! Kau tidak memberiku solusi sama sekali! Huh! Tidak berguna!” umpatnya dengan kesal.


“Dua puluh milyar!” Noah kembali menaikkan tangannya. Namun pria yang menjadi saingannya tetap diam dan tak memberikan tawarannya.


Noah merasa puas karena dia yakin akan mendapatkan lukisan itu dan sepertinya pria yang menjadi saingannya itu tidak cukup kaya untuk mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah lukisan.


“Dua puluh milyar satu! Dua puluh milyar dua! Dua puluh milyar tiga!” teriak pembawa acara. “Lukisan ini dimenangkan oleh Tuan Noah Arsenio! Selamat untuk Tuan Noah dan terima kasih untuk kerendahan hati dan sumbangannya.”


Sedangkan Noah merasa bangga pada dirinya sendiri, dia menatap pria saingannya itu dengan sinis.4