
“Halo Tuan Arsenio! Ayo kita berangkat,” sapa Anneke sembari melewati tubuh gagah Noah. Kemudian setelah beberapa langkah wanita itu berbalik dan mengatkan sesuatu yang membuat Noah tercengang. “Tuan Arsenio, satu hal lagi! Aku mau anda mengganti resepsionismu! Aku tidak suka mereka membicarakanku dibelakang!”
Setelah mengatakan apa yang ada dipikirannya, Anneke bergegas membuka pintu dan berlalu mendahului Noah yang tertegun dengan ucapannya.
“Anneke! Itu saja kan? Baiklah, akan kulakukan.” Noah menutup pintu dan menguncinya lalu menyusul Anneke. Dia tidak menyangka wanita itu sangat berani memerintahnya sekarang.
Dia mengakui kalau beberapa waktu ini Anneke sukses mempermainkan emosinya yang biasanya stabil. Noah merasa sikapnya juga sedikit mulai berubah pada istrinya itu.
Sementara itu di grup chat perusahaan Arsenio telah terjadi sebuah kehebohan yang sangat besar,
“Hei apakah ada yang bisa memberitahuku kehebohan apa yang terjadi di lobi barusan?”
“Bodoh! Apa kau tidak tahu kalau bos besar memecat kedua resepsionis? Bos besar bahkan datang bersama wanita cantik. Tapi wanita itu memakai kacamata hitam berukuran besar sehingga tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.” balas karyawan lainnya.
“Apa yang salah makanya mereka dipecat? Siapa wanita itu? Apakah karyawan baru atau saudara perempuan CEO?”
“Mungkin sekretaris barunya?”
“Bukan, aku dengar ada rekan kerja barunya seorang wanita. Mungkin saja wanita itu yang dimaksud.”
“Bukankah kabarnya CEO sudah menikah? Aku melihat beritanya di media sosial dia mengatakan dia sudah menikah dan memanggil seorang wanita dengan sebutan istri tercinta.”
“Ayolah teman-teman. Aku mati penasaran ini.”
“Berisik kalian semua! Aku ingin melempar kalian dengan sandal.” induk gajak membalas.
“Hei induk gajah tenanglah! Biarkan teman-temanmu menggosip dulu biar tidak stress karena kerjaan.”
“Wanita itu rekan bisnis CEO Noah.” tulis seorang karyawan. ‘Dia istrinya CEO.”
“Apa? Aku tidak percaya! Tolong cubit pipiku.”
“Ah benarkah? Apakah CEO membawa istrinya bekerja di perusahaan?”
“Terserah dia mau bawa istrinya atau tidak, bukan urusan kalian! Kembali bekerja.” tulis manajer departemen personalia membuat anggota grup chat itupun keluar satu persatu. Mereka takut mendapat surat peringatan atau bahkan dipecat oleh manajer personalia.
Sesampainya dilantai teratas perusahaan, Anneke mengarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Disana dia melihat dinding kaca besar yang memperlihatkan langit biru yang indah tanpa terhalang apapun. Benar-benar ruang kerja Noah ini menyuguhkan pemandangan yang mempesona. Didepan kaca itu ada meja kerja Noah yang mengkilap dengan beberapa dokumen diatasnya.
Anneke mengedarkan pandangannya lagi, ruangan ini benarbenar sesuai dengan kepribadian Noah Arsenio yang selalu tampil rapi dan bersih. Anneke juga melihat ada pintu dengan password sekaan-akan ada ruang rahasia disana. “Tunggu! Ruangan apa itu?” pikirnya. Dia melangkahkan kakinya perlahan dan melihat ke pintu itu.
Lalu dia menoleh kekanan disana ia melihat sebuah ruangan lain yang sepertinya kamar tidur. Dia terus berjalan kemudian membuka pintuk sebuah kamar berukuran besar. Saat dia menjulurkan kepalanya kedalam, dia dapat melihat keberadaaan sebuah kasur besar berwarna putih yang seakan-akan dapat mengapung diudara karena adanya magnet yang membuat ranjang itu mengapung.
“Kalau tidak salah ini adalah rancangan desainer Italia itu” gumam Anneke pelan. Lalu disudut ada ruang penyimpanan pakaian minimalis. Anneke membuka ruang pakaian itu dan dia dapat melihat seluruh pakaian kerjam piyama, handuk dan semua keperluan Noah yang tertata rapi. Yang menarik perhatiannya adalah disana hanya ada pakaian Noah saja.
‘Bukankah dia sering bersama Shelly? Tidak ada jejak pakaian wanita disini.’ pikirnya. ‘Ah mungkin saja si manusia batu itu tinggal disini kalau tidak pulang kerumah.’ entah mengapa ada perasaan lega dan bahagia muncul dihati Anneke yang cepat-cepat dihapuskannya. Ini pertama kalinya dia memasuki ruang kantor Noah dan mengeksplornya.
Dikehidupan sebelumnya, para sekuriti didepan sana selalu menghalangi langkahnya memasuki gedung ini. Jujur saja waktu itu Anneke selalu bertanya-tanya dimana Noah tinggal saat dia berada dikota ini?
Karena pria itu tidak pernah menginjakkan kakinya di apartemen mereka. Dulu pemikiran Anneke sempit sekali dia selalu berpikir pria itu berada ditempat wanita lain yang membuatnya menangis setiap malam.
Ternyata Noah tinggal dikantornya. Dan hanya seorang diri! Tanpa Anneke sadari seuntai senyuman muncul dibibir mungilnya. Tak ingin berlama-lama disana karena Noah akan kembali dari meeting sebentar lagi, dia pun bergegas menutup pintu ruangan itu dan kembali ke kantor CEO. Saat dia baru keluar dari apartemen itu, tiba-tiba pintu ruang kerja itu terbuka.
Tampak suami itu telah datang bersama asisten Levi yang sangat dibencinya itu. Dikehidupan sebelumnya selama sepuluh tahun pernikahannya asisten Levi lah yang selalu menghalanginya bertemu dengan Noah.
“Huh!” Anneke menggerutu didalam hatinya mengingat wajah asisten sialan dari suami brengseknya itu.
“Ehem…..” Noah berdehem seketika memecagkan aura membunuh yang menguar dari tubuh Anneke saat melihat kehadiran asistennya itu.
“Nyo----nyo---nyona. Selamat siang.” asisten Levi menyapa Anneke dengan suara terbata-bata. Sunggung asisten itu tidak menyangka jika bosnya akan membawa istrinya ke kantor. Dia mengira bos nya itu membenci Anneke tapi nyatanya bosna malah membawanya kesana.
Bukankah itu berarti bos besarnya itu sekarang menyukai istrinya? Ya, dia harus mengakui kalau ternyata istri bosnya itu cantik sekali! Berarti selama ini dia hanya berpura-pura jelek saja!
Levi seketika mengingat apa yang diucapkan dan dilakukannya pada Anneke selama ini. Dulu dia selalu memutuskan akses Anneke ke kantor dan kemanapun bosnya itu berada.
Mengingat semua perlakuan buruknya pada Nyonya Muda itu membuat Levi meringsutkan tubuhnya dibalik tubuh bosnya. Dia ingat dulu dia pernah membuang kotak makan buatan Anneke ke tong sampah.
Levi pun menundukkan kepalanya sambil merutuki kebodohannya karena merasa dia telah membunuh dirinya sendiri. Sekarang Nyonya Muda itu bahkan punya perusahaan sendiri yang merupakan rekan kerja mereka.
“Cih!” suara mencibir Anneke yang terdengar semakin mengiris hati Levi yang sedang ketakutan dan menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Maaf nyo--nyonya. Saya akan membantu anda mempersiapkan semuanya.” katanya sambil terbata-bata dengan keringat dingin yang sudah mengucur membasahi tubuhnya. ‘Kenapa Nyonya sekarang terlihat garang dan menakutkan? Berbeda dengan yang dulu?’ bisik hati Levi.
Sekarang Levi tidak hanya akan menghadapi bos besarnya yang seperti singa jantan melainkan juga istri bosnya yang seperti harimau betina! Dia berdoa didalam hatinya agar selamat dari situasi menegangkan itu. “Kenapa kau ketakutan begitu? Apa kau tidak mau memandangku, heh?”
“Bu---bukan begitu nyonya.”
“Ingat ya! Mulai sekarang kau harus mendengarkan perintahku juga. Karena aku bagian dari perusahaan ini.” ucap Anneke sedangkan Noah hanya diam saja.