
Marisa yang memang sudah kesal pada putrinya itu pun memelototi Kaylee dan berbisik, “Andai kau bisa bersabar sedikit saja, dan tidak bertingkah bodoh! Kau juga bisa punya perusahaan seperti Anneke! Dasar anak bodoh! Harusnya kau menggunakan uang Anneke untuk mengembangkan bisnis bukannya foya-foya! Dan sekarang kau kehilangan semua peluangmu.”
“Bu, jangan memarahiku! Ini juga kesalahan ibu! Kenapa ibu tidak bisa menggunakan uang kakek dan mendirikan perusahaan sendiri sejak dulu? Ibu juga anaknya kakek, ibu berhak mendapatkan sebagian kekayaan Keluarga Runako!” balas Kaylee yang tak terima di marahi ibunya.
“Apa kau lupa kalau ibumu ini hanya anak angkat? Kau bahkan tidak membantuku membuat kakek dan pamanmu menyayangimu serta mempercayaimu!”
“Lihatlah sekarang Anneke punya perusahaan sendiri! Apalagi Noah ada bersamanya! Apa kau pikir Noah tidak akan membantunya, hah? Aihhhh entah apa dosaku sehingga aku punya anak bodoh sepertimu.” keluh Marisa lagi. Sebenarnya didalam hatinya dia sangat marah, dia mendapat informasi dari orang bayarannya kalau Liam dan Alfred menginvestasikan dana di perusahaan baru Anneke.
Bukankah itu berarti Marisa tidak akan bisa mendapatkan banyak kekayaan lagi? Seandainya dia tetap menjalankan rencananya? Bahkan Kaylee sudah hampir merusak semuanya, bagaimana dia bisa membuat Liam dan Alfred mempercayainya? Selama bertahun-tahun Marisa bekerja keras membangun kepercayaan Keluarga Runako namun ulah Kaylee membuat semuanya kacau.
Marisa sudah tidak bisa duduk tenang disana namun dia berusaha bersikap seperti biasa dan menunggu sampai acara selesai. Dia bahkan sudah tidak mendengarkan lagi apa yang dikatakan Noah didepan. Sedangkan Kaylee terbakar cemburu dan iri hati melihat Noah berdiri sambil memeluk pinggang Anneke. ‘Seharusnya aku yang berada disisi Noah, bukan Anneke!’ geramnya.
Acara peresmian sudah selesai dan dilanjutkan dengan acara selanjutnya. Para tamu undangan memasuki galeri seni yang memajang beberapa lukisan dan karya seni pahat buatan Anneke. Sedangkan Noah sudah menarik Anneke, namun dia dihentikan Kakek Liam dan Nenek Mariam.
“Mau kemana kau bawa cucuku?” tanya Liam menatap tajam Noah.
“Kakek, aku ingin bicara sebentar dengan istriku! Ada hal penting!” jawab Noah.
“Istri katamu? Apa kau lupa kalau kalian sudah bercerai?” ujar Liam lagi.
“Noah, pergilah dari sini! Jangan mempermalukan keluarga Arsenio! Kau sendiri yang menceraikan Anneke, apa kau lupa?” kata Mariam Arsenio pada cucunya. Meskipun didalam hatinya dia masih berharap cucunya dan Anneke masih bisa mempertahankan pernikahan mereka.
“Kakek, Nenek, maafkan aku. Mungkin kalian salah paham, aku tidak pernah menceraikan Anneke!”
“Apa?” Liam dan Mariam terkejut dan saling pandang tak percaya. “Aku yang menerima surat perceraian itu dirumah dan pengacaramu sendiri yang mengurus semuanya.” ujar Mariam lagi.
“Ya memang pengacara yang mengurusnya tapi aku tidak pernah menandatanganinya. Anneke masih istri sahku, terserah kalian suka atau tidak!”
Begitu selesai bicara Noah langsung menarik Anneke menuju ke lift. Meninggalkan Liam dan Mariam yang berdiri terpelongo. “Ada apa? Kenapa kalian berdua disini? Mana Noah dan Anneke?” tanya Alfred yang tadi mencari keberadaan putrinya.
“Alfred! Sebaiknya kita duduk saja dulu. Nanti kita bicarakan masalah ini.” kata Liam pada putranya.
“Ayah, ada apa sebenarnya? Para tamu menanyakan Anneke, kemana dia pergi?”
“Noah bersamanya.” jawab Mariam tersenyum senang didalam hatinya.
“Apa maksud Noah berkata seperti itu didepan semua tamu tadi? Dia tidak bisa bersikap sesuka hatinya mempermainkan putriku! Dia menceraikannya dan sekarang dia mengumumkan kalau Anneke itu istrinya? Aku akan mencarinya dan meminta penjelasan darinya.” Alfred hendak melangkah tapi---
“Noah bilang mereka belum bercerai.” ujar Liam.
“Apa? Ayah, permainan apa lagi ini? Dua tahun, dia menyia-yiakan putriku dan dia yang selalu meminta cerai hingga akhirnya Anneke setuju. Sekarang dia bilang mereka belum bercerai?”
Alfred benar-benar kesal dan tak percaya apa yang didengarnya. Meskipun dia tahu betapa berkuasanya keluarga Arsenio. Sudah pasti Noah melakukan sesuatu atau mungkin membatalkan perceraian.
Sementara itu di ruang kerja Anneke, Noah menutup pintu dan menguncinya lalu mengukung Anneke dengan kedua tangannya di dinding. Anneke mendorong tubuh Noah tapi pria itu malah menekankan tubuhnya merapat hingga Anneke terjepit di dinding. Napasnya menderu menahan kekesalan atas tingkah Noah dihadapan para tamu undangan.
“Noah! Menyingkir dariku!” Anneke kembali mendorong tubuh kekar itu namun gagal.
“Kalau aku tidak mau? Apa yang akan kau lakukan, hem?”
“Kenapa kau menggangguku? Kita sudah bercerai dan sebaiknya kau berhenti!” kata Anneke.
“Ya, aku mengakui kalau aku pengganggu! Tapi itu dulu!” Anneke memelototi Noah dengan tajam.
“Sekarang pun masih pengganggu!” sahut Noah tersenyum memandang wajah cantik didepannya.
“Menyingkir!” Anneke kembali mendorong Noah!
“Bukankah kau selalu ingin dekat-dekat denganku, istriku?” goda Noah mengedipkan matanya.
“Istri? Heh! Kita sudah cerai!” dengus Anneke kesal.
“Dalam mimpimu! Kau masih istri sahku!”
“Aku sudah menceraikanmu----” Anneke belum menyelesaikan kalimatnya namun mulutnya sudah dibungkam oleh Noah. “Hmmmpppp…..”
Noah menciumnya dengan penuh gairah sama persis seperti waktu Anneke masih berwajah jelek. Dia memeluk Anneke erat dengan satu tangan dan tangan satunya memegangi bagian belakang kepala.
Setelah puas mencium bibir Anneke hingga bengkak barulah Noah melepaskan lalu menyentuh bibir merah itu dengan jemarinya. “Manis!” ucapnya.
“Noah! Brengsek! Beraninya------”
“Kau berani memakiku? Sepertinya aku harus membungkammu.”
“Ahhhhkkk……Noah hentikan! Aku akan berteriak!”
“Berteriaklah kalau kau tidak malu! Apa kau mau orang-orang dibawah sana datang kesini dan melihatmu tanpa pakaian, hem?” tangan Noah hendak menarik gaun Anneke untuk menakuti wanita itu.
Namun dia menghentikannya saat dia melihat kedua mata Anneke berair hendak menangis. Dia pun langsung panik dan memeluknya sambil mengelus rambutnya.
“Sssttt……jangan menangis! Aku hanya menggodamu saja! Sudah ya, aku tidak akan melakukan itu.”
Anneke yang mendengar Noah bicara dengan lembut pun tertegun dalam pelukan pria itu. Namun dia langsung tersadar saat tiba-tiba pintu terbuka dengan keras dan sosok Shelly berdiri disana menatap tajam pada Anneke.
“Noah! Apa-apaan ini?” Shelly bergegas menghampiri hendak menarik lengan Noah yang memeluk Anneke namun pria itu malah mendorongnya dengan kuat.
“Apa yang kau dilakukan disini?” tanya Noah dengan nada tak senang.
“Aku mencarimu! Lepaskan wanita itu Noah! Kenapa kau memeluknya?”
“Memangnya salah? Dia masih istriku! Pergilah! Jangan ganggu kami!” Noah menggerakkan tangannya mengusir Shelly.
“Ap---apa katamu? Kau sudah menceraikannya Noah! Hanya aku yang mencintaimu dengan tulus! Apa kau lupa hubungan kita selama ini?” ujar Shelly emosi dan menahan tangisnya.
“Hubungan? Hubungan apa memangnya yang kita punya? Tahu dimana tempatmu Shelly!” ujar Noah marah.
“Selama dua tahun ini kita bersama, aku selalu bersamamu! Aku menemanimu Noah!”
“Hubungan kita hanya sebatas bisnis! Kau Brand Ambassador perusahaanku dan ayahmu rekan bisnisku. Tidak lebih dari itu! Ingat ya Shelly! Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu! Kau yang selalu menggodaku dan menyerahkan dirimu padaku!” ujar Noah dengan kasar dan tatapan tajam. “Pergi! Jangan membuat istriku merasa tidak nyaman!”