
Noah mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu memeriksa, dia terdiam sejenak entah apa yang ada didalam pikirannya. Sedangkan Shelly baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan lingeri berwarna merah memperlihatka lekukan tubuhnya yang seksi. Dia berjalan menghampiri Noah lalu memeluknya dari belakang. Noah mengerutkan dahinya tampak eksrepsi wajahnya tak senang.
“Ada apa Noah? Kenapa melihatku seperti itu?”
“Baju apa yang kamu pakai?” tanya Noah dengan dingin.
“Memangnya kenapa? Apa kamu tidak suka melihatku memakai ini?” suara seksi dan manja Shelly terdengar mendayu di telinga Noah. Dari sekian banyak wanita yang mendekatinya selama ini, Shelly adalah yang paling dekat dengannya.
“Tidurlah! Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” ucap Noah lalu melepaskan tangan Shelly yang melingkar dipinggangnya. “Sebaiknya kau beristirahat, sore nanti kita ke acara itu.”
“Ada apa denganmu Noah? Sejak kita tiba disini sikapmu berubah? Apa kamu sedang memikirkan mantan istrimu itu?” Shelly terdengar tak senang saat membicarakan Anneke.
“Jangan pernah menyinggung wanita itu didepanku.” ujar Noah merasa frustasi kemudian melangkah ke sebuah meja kerja di sudut ruangan lalu menyalakan laptopnya.
Meskipun saat ini layar laptop telah menyala namun pandangan matanya masih saja fokus pada ponsel yang diletakkannya diatas meja. Saat dia berangkat, dia diberitahu pengacaranya kalau surat cerainya sudah keluar.
Hal itu membuatnya terkejut karena awalnya dia ingin mengulur waktu dulu dan memberi hukuman pada Anneke yang sudah berani menceraikannya lebih dulu. Namun yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah kenyataan kalau neneknya sendiri yang mengurus surat cerai itu. Dan saat ini dia masih merasa dilema, alasan neneknya melakukan itu.
‘Apakah nenek ingin menjodohkan wanita jelek itu dengan pria lain? Sialan! Harusnya aku bergerak lebih cepat dan menceraikan wanita itu! Kalau sampai orang diluar sana tahu kalau wanita itu yang menceraikanku? Betapa memalukannya! Seorang Noah Killian Arseio diceraikan? Tidak……tidak…..semua ini tidak benar! Ada yang tidak beres!’
Noah berusaha mengalihkan pandangannya, lalu dia memasukkan ponselnya kedalam laci. Beberapa menit kemudian perhatiannya mulai teralihkan dengan pekerjaan yang menumpuk dihadapannya. Melihat sikap Noah yang seperti itu membuat Shelly yang mencuri pandang saat dia hendak masuk ke kamar tidurpun menjadi tidak senang. ‘Apa yang menggangg pikiran Noah?’ pikirnya.
Jika Noah uring-uringan dengan suasana hatinya yang sangat buruk. Berbeda dengan Anneke, dia terlihat begitu segar setela memanjakan dirinya dengan berendam air hangat yang dipenuhi busa aroma bunga-bungaan kesukaannya. Ya Anneke memang sangat menyukai aroma bunga terutama bunga mawar. Dia merasa tubuhnya sangat ringan dan nyaman.
Seakan-akan tidak ada beban apapun dibenaknya. Sambil tersenyum dia keluar dari kamar mandi dan berjalan kedepan meja rias. Kemudian dia mengeluarkan kotak berwarna keemasan dari tasnya yang berisi rangkaian perawatan kulit yang kemarin dibelinya. Dia tersenyum menatap wajahnya di cermin, dikehidupan sebelumnya dia tidak terlalu mempedulikan untuk merawat wajahnya.
Dia terlalu sibuk mengejar cinta Noah dan selalu berpenampilan aneh. Tapi dikehidupannya yang sekarang dia ingin lebih memperhatikan dirinya dan mempercantik diri.
“Aku tidak akan menyia-yiakan waktuku melakukan hal bodoh! Meskipun aku tidak menyukai acara sosial seperti pelelangan tapi tidak ada salahnya aku mulai belajar.”
Dia mulai mengaplikasikan satu prsatu rangkaian cream itu ke wajahnya sambil memijat-mijatnya dengan lembut. Sampai dia merasakan setiap aliran nutrisi yang merambat ke kulitnya itu terasa menyegarkan. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menikmati waktu yang indah seperti ini. Anneke melakukan perawatan wajahnya sambil mendengarkan alunan musik klasik yang indah.
Dia tenggelam dalam kesibukan perawatan kulitnya seingga melupakan segalanya termasuk melupakan Noah yang akan dia temui di acara lelang nanti. Setelah selesai dengan rutinitas perawatan wajahnya, waktu sudah menunjukkan waktu jam makan siang. Suara ketukan dipintu kamarnya menandakan kalau itu adalah asistennya yang datang.
Anneke membukakan pintu dan tersenyum pada Abner. “Masuk! Apa yang mau kamu laporkan padaku? Aku lapar sekali, sebaiknya kita pergi makan dulu baru setelah itu kita membahas tentang acara nanti sore.” Anneke mengenakan sepatunya lalu meraih tas kecil dari atas meja.
“Bagus kalau begitu kita makan disana juga.” kata Anneke tanpa pikir panjang. “Bisakah kamu membooking meja untuk kita?”Anneke pikir ini langka awalnya untuk muncul didepan Noah dengan wajah aslinya. Dia ingin melihat seperti apa pria itu saat melihatnya, apakah akan mengenalinya?
“Apa tidak terlalu awal bagi Nona untuk bertemu dengan Tuan Noah?” tanya Abner yang sepertinya kurang menyetujui ide Anneke itu.
“Aku hanya mau makan saja bukan? Aku tidak akan menyapanya! Aku hanya ingin memperlihatkan diriku padanya. Aku penasaran saja! Abner! Bukankah kamu itu asistenku? Booking meja untukku yang tidak terlalu jauh dari meja Noah.”
Pria itupun menganggukkan kepala lalu melakukan reservasi melalui teleponnya. Setelah itu Anneke keluar dari kamarnya diikuti Abner dan pengawal.
Sementara itu Noah dan Shelly sedang berada di restoran yang berada dilantai teratas hotel itu. Itu adalah restoran eksklusif yang menyajikan makanan yang dimasak langsung oleh chef kelas dunia. Untuk bisa makan disan harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Tampak Noah dan Shelly duduk di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang luar biasa.
Noah duduk dengan posisi menghadap pintu masuk. Keduanya menyantap hidangan, tatapan mata Shelly fokus pada Noah sambil mengunyah makanannya. Disaat keduanya sedang asyik makan, pintu restoran terbuka dan sosok seorang wanita cantik muncul. Dia mengenakan pakaian bermerek terkenal yang memperlihatkan tulang selangka dan lengannya yang putih mulus.
Ya, Anneke mengenakan baju terusan berwarna putih tanpa lengan dengan rambut yang digerai. Begitu dia memasuki restoran dia menyadari tatapan mata beberapa pengunjung restoran kearahnya.
Dia berjalan dengan anggun diikuti oleh asisten dan pengawalnya. Dia bersikap layaknya seorang wanita kaya yang anggun dan elegan. Saat bersamaan Noah mengangkat wajahnya dan menatap Anneke sekilas.
Melihat Noah yang menatap kedepan membuat Shelly pun menoleh dan mendapati Anneke yang kebetulan juga menatapnya. Wajah Anneke yang cantik tersenyum pada Shelly sekilas lalu dia berjalan menuju mejanya.
‘Fuuuhhh! Ada apa dengan tatapan mata Noah? Kenapa dia melihatku seperti itu? Hahaha……permainan baru saja dimulai Noah! Dan aku yang mengendalikan permainan ini!’
Noah menghentikan makannnya dan meminum anggurnya. Sejenak dia kehilangan fokus dan tanpa sadar dia menoleh kearah meja yang ditempati Anneke. Jarak antara meja mereka tidak jauh, Anneke menyadari jika Noah menatapnya namun dia bersikap acuh dan berpura-pura membaca menu dan berbicara dengan waiters yang berdiri disampingnya untuk mengambil pesanannya.
Abner duduk berhadapan dengan Anneke sedangkan dua pengawalnya duduk dimeja yang berbeda dibelakang mereka. ‘Noah……Noah…..apa kamu mengenaliku? Aku rasa tidak! Kenapa dia menoleh kesini? Aihhhh lihatlah wanita penggoda itu, dia tidak senang! Hahahaha……Shelly ya? Siapa lagi wanita-wanita yang sering mendekati Noah? Aku akan menyingkirkan mereka semua dan aku akan membuat Noah menghabiskan uangnya untukku.’
Noah kembali menyantap makanannya dibawah tatapan mata Shelly yang tidak senang dan merasa cemburu. “Noah, apa kamu mengenal wanita yang baru masuk itu?” tanyanya penasaran.
“Tidak!” jawab Noah singkat.
“Lalu kenapa kamu menatapnya seperti itu?”
“Memangnya kenapa? Aku tadi mengira dia adalah salah satu klien ku! Ternyata salah orang.” ucap Noah tanpa memandang Shelly. Mendengar ucapan Noah itu justru membuat Shelly semakin penasaran dan tidak percaya begitu saja. Dia sudah lama mengenal Noah dan dari sekian banyak model ataupun artis terkenal yang mendekatinya, Shelly lah yang paling sering menemani Noah.