
“Nona Anne, barang yang akan dilelang berikutnya adalah sebuah kalung berlian merah dengan shade berbentuk hati yang sangat berharga dan langka. Kalung ini dulunya adalah milik ratu dari kerajaan X yang diberikan oleh suaminya sebagai hadiah. Kalung itu dinamai sebagai The Heart of Love.” Abner memberikan penjelasan pada Anneke.
“Berapa berharganya kalung itu? Dan apa kamu tahu siapa saja yang tertarik untuk mendapatkan kalung itu?’ tanya Anneke yang sama sekali buta mengenai barang-barang antik.
“Kalung ini bukan saja berharga tapi satu-satunya didunia dan bernilai sejarah! Kalung itu di identikkan sebagai lambang cinta sejati! Karena kalung itu adalah lambang cinta dari seorang raja kepada ratunya.” ujar Abner lagi menambahkan.
“Apa menurutmu Noah akan mencoba peruntungannya untuk mendapatkan kalung itu? Apa yang kamu ketahui tentang Noah? Apa dia sering menghadiri acara seperti ini?” Anneke mencecar Abner dengan banyak pertanyaan tentang Noah.
Dia menghadiri acara ini hanya untuk mengamati Noah dan mencoba bersosialisasi. Dia sebenarnya tidak tertarik dengan satupun barang yang lelang.
Apalagi setelah Abner menjelaskan tentang kalung itu. ‘Ah, cinta sejati? Apa masih ada di jaman sekarang ini cinta sejati? Aku sudah tidak percaya lagi dengan hal-hal bodoh seperti itu! Cinta hanya membuat orang menjadi bodoh!’ gumamnya dalam hati.
Anneke tiba-tiba terpikirkan sebuah ide, jika Noah melakukan penawaran untuk kalung itu maka dia pun akan membuka penawaran juga.
‘Aku akan memancing kemarahan Noah! Dengan begitu dia akan mulai memperhatikanku! Permainan ini harus segera dimulai, bagaimanapun caranya aku harus menemukan jalan untuk mendekati Noah dan mendapatkan sebanyak mungkin uang! Hahaha…..nenek! Jika kelak cucumu itu tahu kalau semua ini adalah rencanamu, entahlah apa yang akan terjadi!’
Pembawa acara sudah kembali keatas panggung. Acara puncak pun dimulai. “Para hadirin sekalian, di acara puncak ini ada sedikit perubahan. Salah satu donatur menyumbangkan sebuah lukisan yang dilukisnya sendiri! Jadi akan ada dua barang yang akan dilelang diacara puncak ini. Saya akan membuka lelang untuk lukisan berikut ini.”
Dua orang pria membawa sebuah lukisan berukuran besar dan meletakkan diatas panggung. Lalu mereka membuka penutupnya, itu adalah lukisan hamparan bunga mawar yang berwarna kontras perpaduan mawar merah dengan latar belakang hitam. Indah dan misterius! Itulah kesan yang digambarkan dari lukisan itu, goresan warnanya sangat unik!
Bisik-bisik para tamu pun terdengar, baru pertama kali ini mereka melihat lukisan seindah dan seunik itu. “Siapa nama pelukisnya? Caranya melukis dan memadukan warna sangat unik!”
“Ya, aku bukan seorang penggemar lukisan tapi lukisan itu terlihat berbeda dari lukisan biasanya.” ujar tamu yang duduk di barisan sebelah kiri Anneke.
Sedangkan wanita itu hanya diam memandang lukisan diatas panggung. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman, dia merasa puas melihat hasil karyanya mendapatkan tanggapan dari semua tamu undangan.
“Lukisan ini adalah sebuah maha karya dari seorang pelukis terkenal! Ini adalah lukisan yang bermakna cinta, pengorbanan dan kematian! Pelukis meluapkan seluruh perasaannya dalam goresan dikanvas untuk merefleksikan perjalanan antara impian dan kenyataan! Sebuah perjuangan dengan akhir yang hanya bisa ditentukan oleh sang pembawa takdir.” pembawa acara kembali memberikan penjelasan detail tentang lukisan itu.
“Baiklah para hadirin sekalian, ada pesan dari sang pelukis bahwa siapa yang menawar lukisan ini dengan harga tertinggi maka akan mendapatkan kesempatan makan malam ditemani oleh sang pelukis.” mendengar pengumuman dari pembawa acara, semua tamu undangan pun merasa tertarik. Ada juga yang bertanya-tanya siapa sebenarnya sang pelukis yang dimaksud.
“Apakah sang pelukis hadir di acara ini?” tanya seorang tamu undangan. “Saya pribadi ingin mengetahui dan mengenal sang pelukis!”
“Ya, bukankah lebih baik kalau sang pelukis naik keatas pentas memperkenalkan dirinya! Karyanya sangat bagus, mungkin kelak saya ataupun tamu lainnya berminat untuk mengoleksi karyanya.” sahut tamu undangan yang lainnya.
Pembawa acara tampak berbicara dengan rekannya diatas panggung, lalu dia pun kembali berdiri tegak dan berkata, “Kebetulan sekali sang pelukis memang hadir di acara malam ini! Saya akan tanyakan langsung apakah beliau bersedia naik keatas panggung?” lalu pembawa acara itu menatap kearah Anneke yang juga sedang memandang keatas pentas.
“Saya persilahkan kepada Nona Anne Emanuel untuk naik keatas pentas.”
Para tamu undangan pun saling melemparkan pandangan ingin melihat wajah si pelukis. Dan saat itu Anneke pun langsung berdiri dari duduknya sambil memperbaiki gaunnnya, dia memasang senyum dan sengaja membalikkan tubuhnya seolah ingin memperlihatkan wajahnya.
Kini mereka pun bersemangat untuk mendapatkan lukisan itu, siapa yang tidak mau ditemani makan malam oleh wanita secantik dan seseksi itu? Wanita itu sangat cantik, rasanya tidak pantas dia menjadi seorang pelukis. Dia lebih cocok menjadi model atau aktris.
Anneke melemparkan senyumnya lalu melirik Noah sekilas, dia mengacuhkan Shelly yang terkejut dan menatapnya dengan ekspresi cemburu. Anneke pun membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ke arah panggung. Dengan penuh percaya diri, dia mengambil mic dari pembawa acara dan mulai memperkenalkan dirinya.
“Perkenalkan nama saya Anne Emanuel! Ini pertama kalinya saya ikut serta di acara lelang dan saya menyumbangkan lukisan ini!”
Anne berjalan mendekati lukisannya, “Lukisan ini memiliki makna tersendiri bagi saya! Ini adalah gambaran dari apa yang saya alami! Ungkapan perasaan antara marah, benci, cinta, sayang dan emosi yang tergambar dari paduan warna hitam, merah, putih dan abu-abu! Ini adalah warna-warna kehidupan! Saya harap lukisan ini akan jatuh ketangan orang yang memahami seni!”
Setelah Anneke selesai bicara, dia menyerahkan mic kembali pada pembawa acara untuk memulai lelang, “Terima kasih kepada Nona Anne! Maka lelang dimulai! Untuk lukisan ini akan dibuka dengan harga dimulai di angka seratus juta!” pembawa acara memulai lelang dengan harga penawaran awal. Ini adalah acara lelang para kalangan atas sehingga semua barang dihargai tinggi.
“Seratus dua puluh lima juta!” terdengar seorang pria paruh baya mengangkat nomornya.
“Seratus lima puluh juta!” pria dibelakangnya membalas dengan mengangkat nomornya.
“Kenapa lukisan itu mahal sekali?” tanya Abner.
“Apakah itu lukisanmu yang sangat bermakna?”
“Tidak juga! Hanya saja lukisan itu aku kerjakan disaat aku akan bercerai dengan Noah!” jawab Anneke berbisik. Mendengar itu Abner pun merasa terkejut dan menoleh menatap Anneke. Dia sama sekali tidak tahu tentang hal itu.
“Apakah nona punya galeri sendiri?” tanyanya lagi.
“Tidak! Tepatnya belum ada untuk saat ini! Tapi aku sudah punya rencana membuka galeri sendiri.”
“Hem…..itu ide yang bagus nona! Saya akan persiapkan semuanya secepatnya.” ujar Abner bersemangat. Karena dia tahu kalau Anneke tidak tertarik dengan menjalankan perusahaan besar. Jika membuka galery pun akan bermanfaat untuk Anneke agar bisa masuk kekalangan atas.
‘Sepertinya harus segera ku bereskan! Aku akan laporkan pada Nyonya Besar nanti!’ bisik hati Abner.
Persaingan dalam tawar menawar lukisan itu semakin sengit apalagi Noah ikut serta dalam penawaran lukisan itu. Sepertinya para pria yang menawar lukisan itu sama sekali tidak peduli pada lukisannya tapi pada sang pelukis.
Setelah melihat si pelukis adalah seorang wanita cantik, para tamu undanganpun saling bersaing untuk memenangkan tawaran tertinggi.
Setelah Noah bergabung, yang lainnya semakin merasa tertantang! Suasana diacara lelang itu semakin memanas dengan para tamu yang berlomba-lomba memberikan penawaran.
Noah yang sejak tadi memperhatikan pun tak ingin membuang waktu terlalu lama, lalu dia mengangkat nomornya, “Tiga milyar rupiah!”
“Ahhhhh……….” hampir semua yang hadir terkejut.