MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 80. MENEMUKAN DALANGNYA


“Bagaimana? Sudah tahu siapa yang mengirim para bajingan itu?” tanya Noah pada detektif bayarannya yang baru saja menghubunginya.


“Sudah Tuan! Awalnya mereka tidak mau mengaku, terpaksa seorang rekanku menembak salah satunya. Hingga akhirnya mereka membuka mulut.” ujar pria kurus itu menjelaskan.


Kemudian dia menceritakan semua yang didengarnya dari para penguntit itu. Orang yang membayar mereka ternyata meminta penguntit itu untuk mengikuti Anneke dan mengambil fotonya.


Rencananya mereka akan menculik Anneke pada waktu yang tepat. Setelah itu menghancurkan nama baik wanita itu hingga dia terusir dan dipermalukan.


Pria kurus itu melanjutkan ceritanya yang membuat Noah semakin geram dan marah. Dia tidak akan membiarkan orang itu lolos begitu saja.


“Bos, apa yang harus kami lakukan sekarang? Apa kami perlu menangkap orang itu dan membawanya pada anda, bos?” tanya pria kurus itu dari seberang telepon.


“Tidak perlu! Kalian urus saja para penguntit itu. Pastikan mereka tidak pernah muncul lagi!”


“Urusan lainnya aku sendiri yang akan menangani!” ucap Noah menambahkan.


“Baiklah, bos. Akan segera kami laksanakan!” ucap pria itu.


“Hmmm! Singkirkan mereka segera tanpa jejak! Suruh orang-orangmu melakukannya dengan bersih.”


“Oke bos.” balas pria itu. Lalu Noah memutuskan panggilan teleponnya. Dia memasukkan ponsel kedalam saku celananya.


Noah mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Dia berjalan kearah jendela besar diruang kerjanya dan menghembuskan asap rokok. Pikirannya berkelana mengingat kembali semua yang disampaikan oleh detektif bayarannya.


“Shelly! Kau terlalu berani! Aku sudah mengirimmu ke luar negeri dan mencarikan agen yang akan mengikatmu dalam kontrak yang mengikatmu! Kau terlalu berani melanggar kontrak itu dan datang kesini untuk mencederai istriku!” Noah merasa sangat geram setelah tahu kalau para penguntit itu adalah orang-orang bayaran Shelly.


“Dia wanitaku! Jika ingin menyiksa, hanya aku yang berhak untuk menyiksanya! Kau mencari masalah denganku sekarang Shelly!’ Noah semakin geram mengingat apa yang direncanakan Shelly pada Anneke.


Noah menghisap rokoknya lalu mengambil ponselnya lagi dan menghubungi asisten Levi. Tak berapa lama panggilan pun tersambung.


“Ya Tuan Noah. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Levi.


“Beritahukan pada semua orang dan juga sekuriti di perusahaan agar melarang Shelly menginjakkan kaki di perusahaan! Siapapun yang berani memasukkan wanita itu ke perusahaanku, maka aku akan memberi pelajaran pada mereka!” ujar Noah dengan suara datar dan dingin. Mungkin ini adalah kesalahannya yang tidak bersikap tegas pada wanita itu.


“Baiklah Tuan! Lalu bagaimana dengan kontrak kerja Nona Shelly?” tanya Levi lagi.


“Batalkan kontrak kerjasama dengannya. Dan juga dengan perusahaan ayahnya! Jika mereka mempertanyakannya, cukup katakan saja ini perintahku!” ujar Noah yang membuat keputusan.


“Baik Tuan! Akan segera saya kerjakan sekarang juga.” ucap Levi. ‘Untung saja Tuan Noah membuat keputusan seperti ini! Nona Shelly sudah tersingkir, jadi nyonya tidak perlu khawatir lagi.


Beberapa jam kemudian, Noah nampak menunggu kepulangan istrinya. Setelah sekian lama menunggu, Anneke masih belum pulang juga. Sekilas dia teringat kejadian tadi siang dimana detektif sewaannya berhasil membuntuti beberapa orang yang memotret Anneke diam-diam. Awalnya dia kira mereka adalah orang-orang jalanan yang terpesona pada kecaantikan wanita itu.


Tetapi dugaannya ternyata salah! Mereka tidak hanya berandalan biasa, melainkan orang sewaan yang rela melakukan apapun demi uang. Mengetahui berita itu, rasa khawatir memenuhi hati Noah.


Namun dia berusaha menutupinya. Dia merasa sedikit lega karena sudah mengirimkan pengawal yang mengikuti Anneke secara diam-diam kemanapun wanita itu pergi.


Paling tidak kalau wanita itu berada dalam bahaya, akan selalu ada pengawal yang membantunya. Kemudian Noah memandangi meja kosong dihadapannya. Biasanya ketika dia tinggal dihotel atau apartemen kantornya, jam segini chef pribadinya sudah menghidangkan makan malam untuknya. Tetapi sekarang setelah dia menghentikan pengiriman makanan dari restoran ternama yang sebelumnya mengurusi menunya.


Awalnya dia merasa bingung saat mengetahui kalau Anneke pandai memasak. Menurutnya cita rasa masakan wanita itu sesuai seleranya.


Cita rasa yang selama ini sangat jarang dipenuhi oleh para chef yang bekerja padany. Didalam hati dia berpikir, apakah mungkin memasak adalah salah satu talenta istrinya itu?


Jika memang begitu, maka itu hal yang sangat bagus! Karena mulai sekarang dirinya tidak perlu lagi memilah-milah makanan. Setelah menunggu beberapa saat dia mendengar panggilan masuk di ponselnya.


“Bos, Nyonya masih makan dan tertawa bersama teman wanitanya. Mereka berada di cafe D-Moon.” lapor detektif itu yang membuat Noah mengerutkan alis dan melemparkan ponselnya.


“Sialan! Bisa-bisanya wanita itu mengabaikanku! Sudah empat jam dia pergi berbelanja dan membuatku menunggu kelaparan dirumah? Dia masih bersama dengan temannya? Apakah temannya itu lebih berarti dari aku?”


“Apa saja yang mereka bicarakan? Sudah sekian lama masih belum selesai juga? Apa mereka tidak merasa bosan? Ck! Hah!” Noah menjerti karena tidak terima diabaikan oleh kucing nakalnya itu.


Dengan rasa jengkel, Noah menggebrak meja makan didepannya. Dia tidak terima! Dia tidak terima jika kucing nakalnya itu menghabiskan waktu bersama orang lain. Bahkan jika itu seorang wanita!


Dia mengambil ponselnya kembali dan ingin menghubungi wanita itu dan meneriakinya. Namun sebelum melakukannya dia berpikir sejenak karena tidak berani melihat foto profile Anneke yang sangat cantik.


Benar! Jantung Noah selalu berdetak kencang setiap kali dia melihat foto profile Anneke di whatsappnya, dia terlihat imut dengan memanyunkan bibir.


“Sialan!” Noah mengumpat lagi. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya. Bukankah terakhir kali dokter sampai harus memeriksa jantungnya karena itu? Dan sekarang dia tidak sanggup melihat foto itu lagi yang terlihat sangat imut…..dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.


“Tidak…..tidak! Aku tidak boleh terpengaruh pada wanita itu.”


‘Lain kali aku akan mengambil ponselnya dan mengganti foto profilenya yang imut itu.’ bisik hatinya. Saat Noah masih tenggelam dalam kekesalannya, Levi meneleponnya.


“Ya Levi! Ada apa?” ucap Noah menjawab panggilan teleponnya.


“Selamat malam Tuan Noah. Baru saja saya mendapat telepon darurat dari manajer Jesica.”


“Ada apa dengannya?” tanya Noah tak bersemangat.


“Manajer Jesica mengatakan ingin melakukan online meeting dengan anda. Apakah anda menyetujuinya Tuan?” tanya Levi dengna berhati-hati.


Noah mengeryitkan dahinya merasa heran, biasanya karyawannya meminta online meeting saat dirinya berada diluar negeri. Tetapi mengapa saat ini bawahannya meminta online meeting diakhir pekan saat dia ada di kota ini?


Seberapa pentingkah masalah yang dihadapi bawahannya sehingga tidak bisa menunggu sampai hari senin? Noah menggelengkan kepalanya keheranan.


“Meeting tentang apa?” Noah terlihat masih menimbang-nimbang seberapa penting permohonan meeting dari manajer wanita yang selalu menemuinya akhir-akhir ini.


“Tentang lomba pemilihan desain interior yang bekerjasama dengan perusahaan Runako. Bagaimana Tuan?” tanya Levi setelah menjelaskan.


Mendengar kalau itu berhubungan dengan perusahaan Runako, seketika mata Noah melebar. Kebetulan sekali! Sebenarnya beberapa waktu ini dia ingin mengetahui lebih banyak tentang kerjasama dengan perusahaan keluarga istrinya itu.


“Baiklah. Sambungkan dia denganku…..” jawab Noah sembari menelepon. Dia beranjak dari kursi dan melangkah menuju ke ruang kerjanya.