MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 24. DIACUHKAN


“Keke…..ayo….ayo….makan yang banyak!” kata sang nenek terus mengambilkan makanan untuk Anneke.Wanita tua itu semangat melihat cucu menantunya melahap semua yang diambilkannya.


“Ah sudah nek. Sekarang giliran nenek yang makan. Nenek mau yang mana? Biar aku ambilkan.” ujar Anneke nampak menyodorkan sebuah mangkuk dan mengisi piringnya dengan nasi serta lauk yang ada disana.


Setelah mereka berdua selesai makan dengan kenyang, tiba-tiba kedua mata nyonya besar itu menangkap sebuah piring kosong didepannya. Sejenak dia berpikir, piring siapakah itu? Tidak berapa lama kemudian nenek itu baru menyadari keberadaan cucunya yang sedang duduk sendirian diujung meja dengan wajah sangat masam. ‘Ah aku sampai lupa kalau Noah sejak tadi ada disini.’


Benar, itu adalah Noah cucunya yang masih belum kunjung makan. Dengan terheran-heran, nenek itupun memandang cucu lelakinya yang nakal itu dan bertanya, “Noah! Mengapa kamu belum makan?”


“………..” Noah hanya terdiam. Entah dia tidak suka karena neneknya melupakannya ataukah karena ia tidak senang karena Anneke tidak kunjung memperhatikannya?


Setelah selesai bercengkerama dengan nyonya besar, Anneke terlihat berjalan menuju kearah kamar tidur yang sudah disiapkan untuknya. Pelayan mengatakan padanya letak kamarnya. Ceklek! Perlahan dia menarik gagang pintu didepannya dan mendorongnya. Sekilas kedua bola matanya mengedarkan pandangan kesana kemari untuk melihat apakah ada sosok lain dikamar itu.


Oh, rupanya tidak ada orang lain. Hal itu membuat hati Anneke merasa lega sehingga dengan langkah tenang, ia memasuki kamar tidur yang beraroma maskulin itu. Dia melangkah ke depan, Anneke kembali meneliti seisi ruangan disana. Ruangan besar itu terlihat sangat elegan dengan perpaduan warna abu-abu flint, porpoise dan anchor yang memancarkan aura dingin.


Sedangkan perabotan minimalis yang menonjolkan kesan bersih dan rapi. “Sangat persis dengan kepribadian Noah!” gumam Anneke sambil menggelengkan kepalanya dan terus melangkah masuk kedalam kamar besar itu setelah menutup pintu dibelakangnya. Dia memalingkan wajahnya keatas meja hitam carcoal yang pekat disudut ruangan.


Dia dapat melihat sebuah bingkai foto yang sepertinya tidak asing lagi baginya. Yakni sebuah foto tua yang menampilkan keakraban keluarga yang sangat bahagia. Didalam foto tua itu, Anneke dapat melihat seorang wanita yang sangat cantik sedang menyeduh teh untuk seorang pria tampan. Hmmm….foto keluarga yang manis sekali.


Kedua orang itu terlihat tertawa bahagia bersama seorang anak laki-laki mirip Noah yang nampak berusia delapan tahunan dan seorang balita dengan kuncir kuda yang sedang memanyunkan bibir imutnya kedepan. Di foto itu, Noah tampak begitu hangat dan bahagia. Anneke memperhatikan foto itu dengan insten seolah mencoba membayangkan kehidupan yang dimiliki keluarga itu.


Sangat jauh berbeda dengan Noah yang dia kenal selama dua tahun ini. “Kemana hilangnya semua senyuman manis itu?” gumam Anneke bertanya dengan suara lirih sambil mengusap permukaan bingkai kaca itu dengan lembut. Entah mengapa, hatinya seakan bisa merasakan kehangatan yang terpancar pada foto itu. Seolah-olah dia ada disana.


Tapi sekarang, semua itu tidak berarti lagi baginya, jika Anneke ingin lepas dari Noah, ia tidak boleh terhanyut dalam perasaan bodohnya itu lagi! Tidak...tidak akan lagi! Noah adalah robot berhati dingin yang telah menyakiti hatinya begitu lama! Aku harus mengatakan semuanya pada nenek secepatnya. Aku tidak mau terus membohonginya seperti di kehidupan sebelumnya.


Anneke tidak akan memaafkannya begitu saja! Mengingat semua itu, sepenggal memori di kehidupannya yang lalu tiba-tiba berputar dikepalanya. Saat itu di negara X, tepatnya disebuah hotel milik perusahaan Arsenio, Anneke diam-diam masuk ke kamar presidential suite milik Noah Arsenio. Keahliannya menyusup semakin meningkat setelah sering menguntit Noah.


Disana dia juga melihat bingkai foto itu. Sama seperti saat ini, waktu itu dia juga terhanyut kedalam kehangatan Noah yang ada didalamnya! Dulu dia selalu berpikir untuk bisa mengembalikan kebahagiaan suami yang dicintainya itu kembali. Sehingga seburuk apapun perlakuan yang diterimanya, tidak bisa membuat dirinya menyerah!


“Dasar brengsek!” tiba-tiba api kekesalan kembali mengalir didada Anneka ketika dia mengingat kembali semua perlakuan buruk yang pernah didapatkannya dulu. “Aku tidak akan pernah tergoda olehmu! Brengsek!” tambahnya sembari memukul-mukul kepala si kecil Noah dalam bingkai foto tua itu dengan menggunakan jari telunjuknya yang manis.


Dia melakukan itu berulang-ulang seolah melampiaskan semua kekesalannya selama ini. Ingin rasanya dia menghancurkan sosok kecil yang ada didalam foto itu saat ini juga! Saat Anneke sedang sibuk memaki dan mengomeli bingkai foto itu dengan aksinya yang konyol, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok pria bertubuh tinggi besar dan terlihat begitu maskulin.


“Letakkan foto itu….” suaranya terdengar dingin membuyarkan lamunan Anneke.  “Jangan sentuh barang apapun dikamar ini!” ujar Noah dengan dingin tanpa menatap Anneke. Tanpa disuruhpun Anneke memang akan meletakkan bingkai foto itu ketempat semula. Sambil mendengus kesal, Anneke berbalik menghadap kearah mana suara itu berasal dan matanya membulat. 


Melihat penampilan Noah Arsenio sehabis mandi membuat Anneke tertegun sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan rampingnya yang indah. Sungguh, cobaan apa ini? Bukankah dia sudah berikrar untuk tidak akan pernah tergoda lagi? Ya Tuhan…..apalagi ini? Kenapa aku harus melihat pemandangan indah seperti ini?


Anneke menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyadarkan diri. Namun sayangnya tubuh Anneke mengkhianatinya. Wanita itu membulatkan kedua mata cantiknya dan tanpa berkedip terus memandang kearah suaminya itu! Ya suami yang sesaat lalu sudah dia maki-maki. Ini terlalu menggoda, dia tidak boleh masuk dalam perangkap pesona pria ini lagi.


Laki-laki itu terlihat sangat seksi memakai piyama tidur tak berkancing yang terbuat dari bahan silk satin yang lembut. Bagian dadanya sedikit terbuka sampai kebagian perut menampilkan otot-otot peerut sixpacknya. Sungguh sangat menggiurkan! Noah juga memperhatikan mata Anneke yang terus memandanginya.


‘Eh tunggu! Apa yang aku pikirkan?’ Anneke kembali menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membersihkan pikirannya yang kotor itu.


“Kenapa? Apa kamu mau mencobanya?” Noah tersenyum sinis penuh kemenangan sambil perlahan melangkah kedepan menghampiri Anneke. Cara berjalannya pun sangat menggoda, apa pria ini sengaja melakukannya? Gila! Ini benar-bemar gila! Kenapa dia begitu menggoda?


Kedua tangannya yang kekar terlihat menarik tali piyamanya sedikit demi sedikit untuk menggertak Anneke. Istri gila yang sudah berani menceraikannya! Menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang pria. Bukankah istri ini sudah sepantasnya mendapat hukuman?


“Mun----mundur!” Anneke berteriak keras dengan terbata-bata sambil jari telunjuknya mengarah tepat kedada Noah.


“Bukankah kamu yang duluan bermain api denganku, hah?” Noah terus melangkah perlahan dan dia semakin mendekat dan tali piayamanya juga terlihat semakin longgar. Bahkan Anneke sudah bisa melihat otot berbentuk V disana. Noah tersenyum puas melihat wajah ketakutan Anneke, menyenangkan ini sangat menyenangkan mempermainkan wanita jelek ini!


“Ber—berhenti!!!” Anneke menunjuk kearah Noah dengan sangat panik dan terlihat marah. Seakan-akan tidak mendengar teriakan Anneke, Noah tetap melangkah maju dan kali ini telah memerangkap Anneke dengan kedua lengannya yang kokoh ke dinding yang dingin. Dengan sengaja dia mendekatkan wajahnya kedepan untuk menakut-nakuti Anneke.