
Anneke sempat melirik namun dia tidak melihat nama, hanya sederetan nomor tidak dikenal. Sekilas Anneke teringat masa lalunya. Dulu, ia mati-matian menghubungi suaminya itu tetapi pria itu selalu menolak panggilan darinya. Lebih parahnya lagi, pria itu memblokir nomornya hingga Anneke selalu memakai nomor baru setiap kali mencoba menghubunginya.
Bertahun-tahun, bahkan sampai sepuluh tahun di kehidupannnya dulu dia berjuang. Rupanya pria itu memang tidak pernah menempatkan dirinya didalam hatinya. Sekarang Anneke tahu bahwa sikap Noah itu rupanya hanya berlaku baginya dan bukan bagi wanita lain. Pemikiran itu seketika membuat hatinya semakin diremas mengingat semua kejadian di kehidupan lalu.
Anneke memilih pergi setelah mendengar suara wanita yang berada dari arah telepon. Tapi saat dia baru saja beranjak, tangan besar itu menyambarnya hingga dia terjatuh ke pangkuan suaminya.
Setelah mendengar sesaat, Anneke seperti mengenali suara itu yang terdengar tak asing baginya. Tidak! Dia tidak akan membiarkan Noah bisa bicara dengan wanita-wanita itu. Jika Noah selalu mengacuhkannya dulu karena wanita lain.
Maka dikehidupan sekarang Anneke akan membuat Noah mengacuhkan wanita lain dan ini pembalasan yang setimpal! Dia bertekad tidak akan membiarkan siapapun membully dirinya lagi seperti dikehidupan lalu. Bahkan tidak para pelacur yang sedang menelepon sekarang.
Jika dia membiarkan para wanita itu bicara dan bermesraan dihadapannya dengan sengaja itu sama saja Anneke membiarkan dirinya diinjak-injak. Anneke tidak akan membiarkan itu terjadi dikehidupan ini.
Anneke pun mengubah ekspresi wajahnya dan langsung menghadap pria yang saat ini terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba itu.
“Sayang……siapa yang menelepon?” Anneke bicara tepat ditelinga Noah sehingga wanita yang menelepon diseberang sana bisa mendengar suara Anneke yang terdengar lembut dan manja itu.
Anneke memilih berperang dengan siapapun, jika dia memang tidak bisa bercerai. Setidaknya dia harus berjuang supaya pria itu turut menderita bersamanya.
Mungkin saja para wanita itu berani menghubungi Noah karena mereka tidak tahu Noah sudah menikah. Pantas saja, meskipun Anneke memang istri sah Noah Killian Arsenio, tapi dia tidak mendapat pengakuan dan publikasi dari pria itu dikehidupan lalu. Jadi tidak ada yang tahu kalau Noah sudah menikah, pantas saja tidak ada yang menghormatinya sebagai istri.
“Sayang, mengapa tadi kau tiba-tiba berhenti? Tanggung tau? Ayolah…..” Anneke kembali bicara setelah tidak ada tanggapan dari pria yang menatapnya tajam.
Anneke kembali mengganggunya bicara dengan wanita si penelepon. Anneke ingin wanita itu tahu kalau tadi mereka sedang melakukan aktifitas suami istri yang terganggu karena panggilan telepon.
Anneke meluapkan amarahnya dengan nada manja yang dibuat-buat yang menarik perhatian Noah. Tubuh wanita itu memeluknya dengan kedua tangan putihnya yang melingkar dilehernya.
“Suamiku, apa kau tidak mau lanjut bermain lagi? Kenapa tanggung sih? Tidak enak kalau nanggung.” Anneke semakin berani menggoda dengan suara lembut.
Sembari bibirnya menggigit telinga Noah yang sedang menempel ke ponsel. ‘Oh, pelacur itu pasti sudah mendengar semua perkataannya.’ batin Anneke tersenyum puas. Dia mengejek, Noah melihat ekspresi mengejek itu dan memperbesar volume suara di ponselnya.
“Oh, keke….apa kabarmu sayang?” suara wanita itu terdengar membuat Anneke menarik bibirnya.
Dia terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa, karena suara wanita itu adalah suara Nyonya Besar Arsenio! Aduh…..Anneke menutup kedua matanya karena merasa sangat malu! Dengan sengaja dia mengganggu percakapan Noah dengan neneknya. Andai dia tahu dari awal pasti dia tidak akan sengaja menggoda suaminya itu.
Dengan wajah memerah, Anneke pun berkata, “Oh nene. Aku baik-baik saja! Bagaimana kabar nenek?”
Anneke mengira kalau makanan itu adalah pemberian manajer Jesica. Rupanya dia salah sangka! “Oh makanannya enak sekali nenek.” jawab Anneke dengan canggung karena matanya bertautan dengan mata Noah yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ya ya bagus sekali. Hahahaha sebenarnya nenek menelepon hanya mau menanyakan itu saja. Maaf ya….sepertinya nenek mengganggu waktu kalian?” Nyonya Besar Arsenio terdengar puas dengan jawaban Anneke dan kemudian hendak menutup telepon namun Noah langsung menyambung perkataannya.
“Tentu saja nenek. Tadi cucu menantumi ini sempat mengira kalau nenek adalah salah seorang wanita penggo---” seketika mulut Noah dibungkam oleh bibir mungil Anneke yang tiba-tiba menempel begitu saja sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Anneke tidak sadar apa yang dilakukannya saat ini sangat berbahaya baginya.
Noah pun mulai menyadari alasan Anneke cemburu dan ingin menguasainya. Dia sengaja meminta neneknya meneleponnya untuk menguji Anneke dan ternyata dugaannya benar. Jantung Noah berdetak kencang seakan mau copot setelah merasakan sengatan listrik yang baru saja menjalar dari bibirnya keseluruh tubuhnya. Dia pun menyesap bibir Anneke dan enggan melepaskan tautan mereka.
Namun dia mengingat kalau neneknya masih menunggunya melanjutnya kata-katanya. “Nek, sudah dulu ya Anneke mau mengajakku melanjutkan bermain.” Noah langsung menutup telepon dan membuang ponselnya ke lantai kemudian menindih istrinya yang tadi sempat menggodanya. Meskipun dia tahu kalau Anneke tidak bermaksud begitu.
”Anneke, jangan salahkan aku.” secepat kilat Noah menangkup bibir Anneke dan menulikan telinganya dari amukan dan umpatan istri yang dilahapnya.
Keesokan paginya, adalah akhir pekan dimana semua orang melakukan aktifitas mengisi waktu libur akhir pekan mereka untuk berjalan-jalan atau menikmati hari seperti halnya dengan Kaylee.
Dia sudah membuat janji dengan Anneke hari ini. Mereka akan bertemu disebiah cafe ice cream yang berada di pusat kota. Cafe itu sangat terkenal dengan home made ice creamnya.
Kaylee sengaja memilih tempat itu untuk mentraktir sepupunya sekaligus menyenangkan hati sepupunya itu. Setelah menunggu beberapa waktu Kaylee dan temannya merasa tidak tenang.
Anneke masih belum datang, Kaylee mulai merasa khawatir jika Anneke bangun kesiangan.
“Kaylee! Kenapa Anneke belum datang juga? Kau jangan menipuku ya?” ujar pria gendut menggebrak meja didepannya dengan keras. Dia mulai marah dan tak sabaran lagi.
“Tenanglah…..sebaiknya kita tunggu sebentar lagi. Dia pasti akan datang.”
“Bukankah aku sudah berjanji akan memperkenalkanmu pada sepupuku itu?” Kaylee terlihat santai menyantap ice cream yang sudah mulai mencair itu. Hatinya sudah mulai resah karena biasanya sepupunya itu selalu datang awal tapi kali ini sepertinya berbeda.
“Kau yakin sekali kalau dia akan datang? Kenapa kau tidak menghubunginya saja?” protes pria itu.
“Tentu saja aku yakin. Selama ini sepupuku tidak pernah menolak ajakanku dan tempat ini adalah tempat favoritnya. Dia tidak pernah menolak kalau diajak kesini.”
Kaylee bicara sambil menyilangkan kedua tangannya dengan bangga. Dia yakin Anneke akan datang setelah wanita bodoh itu terbangun dari tidurnya. Biasanya juga sepupunya itu memang malas bangun awal.