MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 48. NOAH YANG ANEH


Malam itu suasana hati Noah semakin tidak senang. Hatinya gusar untuk alasan yang tidak jelas. Mungkin ia merasa terlalu khawatir karena tidak ada balasan dari pesan yang dikirimkannya. Noah tidak percaya jika Anneke benar-benar mengacuhkannya. ‘Bukankah wanita itu sangat mencintainya selama ini dan tergila-gila padanya?’


‘Bukankah seharusnya wanita itu merasa bahagia menerima pesan darinya? Selama dua tahun aku mengacuhkannya dan memblokir serta menghapus nomor teleponnya?’ beribu pertanyaan berkecamuk di benak Noah yang merasa diabaikan. Dia sudah terbiasa dikejar oleh Anneke selama dua tahun ini. Dan ini adalah pengalaman pertamanya mengirimkan pesan pada wanita itu.


Noah merasa kebingungan tidak tahu harus melakukan apa. “Levi!” teriak Noah memanggil asistennya. Teriakannya memecahkan keheningan disana.


Mendengar suara teriakan atasannya, Levi yang tadi baru saja membaringkan tubuhnya di sofa pun langsung sontak bangkit. ‘Ada apa lagi sih? Dari tadi sikapnya aneh sekali?’ keluh Levi.


Dengan memasang senyum diwajahnya Levi pun berkata, “Iya Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”


“Coba kau kirimkan pesan ke ponselku sekarang! Aku mau mengecek apakah ponselku rusak atau sinyal ditempat ini jelek!” perintah Noah sembari membolak balikkan ponsel mewah ditangannya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


Sebenarnya Noah merasa penasaran mengapa pesannya belum juga dibalas wanita itu. Apa mungkin wanita itu sedang sibuk dengan persiapan pembukaan galerinya besok? Setahunya semuanya sudah ditangani dan dari laporan anak buahnya, Anneke juga selama tiga hari ini tidak terlihat di lokasi itu. Lalu kemana wanita itu? Apakah dia bersama pria lain?


Noah ingin memastikan kalau ponselnya tidak ada masalah atau mungkin ponselnya rusak sehingga pesan wanita itu tidak bisa masuk. Atau sinyal di kamar itu tidak bagus makanya dia tidak bisa menerima pesan? Noah melirik asistennya yang sedang mengetik di ponselnya.


“Kenapa belum kamu kirimkan juga pesannya?” tanya Noah dengan gusar.


“Sudah saya kirimkan Tuan.” Levi pun berharap-harap cemas menunggu respon dari atasannya itu.


Ting! Terdengar bunyi notifikasi di ponsel Noah yang membuat pria itu mengerutkan keningnya. Dia baru tahu kalau ponselnya tidak rusak ataupun sinyal tidak jelek. Semuanya baik-baik saja, itu berarti kalau wanita itu memang tidak mempedulikan pesan yang dikirimkannya.


“Pesankan buket mawar untuk acara pembukaan galeri besok! Sekarang kamu keluar!” teriak Noah marah. Dengan kaki gemeteran Levi pin segera keluar dari ruangan itu. Dia tidak mau menjadi amukan atasannya yang aneh itu.


‘Awas saja kamu Anneke! Berani sekali kamu menipuku selama ini dan sekarang kamu juga berani tidak membalas pesanku?’ Noah berdiri dan membuka jasnya lalu melemparkannya ke lantai.


...*****...


Keesokan paginya, di tempat berlangsungnya acara, tampak kesibukan beberapa petugas. Para pengawal sudah berdiri di sekitar lokasi acara. Sedangkan Kakek Liam dan Alfred Runako sudah tiba disana tepat jam setengah delapan pagi.


Acara akan dimulai pukul sembilan pagi, sedangkan Anneke masih berada di ruang kerjanya di lantai tiga. Dia sudah selesai berpakaian dan dirias, Anneke tampak cantik sekali dengan gaunnya. Di temani asistennya Abner, mereka turun ke lantai bawah.


“Papa, Kakek!” pekik Anneke menghampiri kedua pria yang disayanginya itu. Disaat bersamaan Mariam Arsenio juga baru tiba dan langsung masuk mencari Anneke.


“Keke……wah cucu mantuku cantik sekali.” seru wanita tua itu memeluk Anneke. Lalu dia menyapa Liam dan Alfred. Tampak ketiganya duduk dan berbincang bersama. Anneke menuju keluar untuk menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Tampak beberapa karyawan wanita yang berdiri berjejer di pintu masuk menyambut para tamu.


“Selamat Keke, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu mau buka bisnis?” kata Kaylee.


“Ah, kamu kan selalu sibuk menikmati hidup jadi aku tidak mau mengganggumu! Lagipula semuanya dikerjakan para karyawanku.” jawab Anneke bersikap biasa saja. Dia bisa melihat ada kecemburuan terpancar dari mata Kaylee. Sepupu jahatnya itu pasti menginginkan apa yang dimilikinya sekarang.


“Kaylee, aku tinggal dulu ya. Acaranya akan segera dimulai.” kata Anneke tanpa menunggu respon Kaylee langsung meninggalkannya. Dia berjalan menuju kesamping panggung dan berbicara dengan asistennya. Lalu pembawa acara pun membuka acara dengan pidato singkat yang dilanjutkan dengan pengenalan sosok Anne.


“Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah hadir di acara peresmian perusahaan dan pembukaan galeri seni milik saya. Nama saya, Anneke Lemuella Runako. Saya adalah putri satu-satunya dari Alfred Runako dan cucu Liam Runako.” Anneke terus berbicara setelah memperkenalkan diri. Setelah pidato singkatnya akan dilanjutkan dengan acara gunting pita.


Namun saat Anneke masih berdiri dan bicara diatas pentas, tiba-tiba segerombolan pria berseragam hitam memasuki tempat itu sambil membawa buket mawar merah lalu meletakkan buket bunga berjejer di depan Anneke dan kembali berbaris.


Anneke pun terdiam sejenak kebingungan dengan apa yang terjadi. Disaat dia masih terpaku, muncul seorang pria berwajah tampan sambil memegang sebuah buket bunga yang lebih indah dari buket lainnya.


Pria itu berjalan dengan percaya diri menuju ketempat Anneke berdiri dan langsung merebut mic dari tangan wanita itu. Para tamu pun terkejut melihat kejadian itu. Tanpa ragu pria itu menarik pinggang Anneke dan memeluknya erat lalu menyerahkan buket bunga itu ketangan Anneke. “Ini untukmu!” pria itu tak menunggu Anneke merespon.


“Saya ucapkan selamat pada istriku atas peresmian Run’s Corp dan Galeri Seni Anne. Semoga sukses kedepannya dan saya juga ucapkan terima kasih kepada semuanya yang sudah hadir di acara ini. Mohon dukungannya untuk istri tercintaku!” kata Noah tersenyum. Satu tangan Anneke hendak mencubit pinggang Noah namun pria itu sudah lebih dulu menahan tangannya.


Lalu dia berbisik ditelinga Anneke, “Jangan rusak acaramu, istriku!” deru napas Noah menggelitik telinga Anneke dan membuat tubuhnya menegang.


Sementara orang yang melihat posisi mereka terlihat sangat mesra. Shelly yang melihat itupun terkejut saat mendengar Noah memanggil Anne dengan sebutan istri tercintanya.


Dia hendak berdiri untuk protes namun asistennya segera menahan tangan Shelly, “Jangan bertindak sembarangan! Lihatlah orang-orang yang hadir disini semuanya orang penting!”


“Apa maksud Noah bicara begitu? Kenapa dia memanggil wanita itu istrinya?” tanya Shelly.


“Apa kau tidak dengar tadi dia menyebut namanya Anneke Runako? Bukankah nama istri Tuan Noah juga sama?” kata asisten Shelly yang membuat wanita itu menganga.


“Tapi mereka sudah bercerai?” ujar Shelly dengan nada tak senang. Dia merasa tak nyaman dan ingin segera menemui Noah untuk meminta penjelasan. “Aku harus menemui Noah sekarang!”


“Nona Shelly, sebaiknya jangan gegabah! Didepan sana ada Nyonya Besar Arsenio! Wanita tua itu bisa menghancurkan karirmu dan perusahaan orangtuamu dalam sekejap. Meskipun dia sudah pensiun tapi dia masih berkuasa!”


Jika Shelly merasa panas dingin, tak jauh berbeda dengan Kaylee dan ibunya. Kedua wanita itu saling mengepalkan tangan namun Marisa masih bisa mengendalikan dirinya. Sedangkan Kayle sudah mengumpat. “Sialan! Kenapa tiba-tiba dia membuka bisnis?” keluhnya.