
Entah mengapa kini dia merasakan gelisah. Dia merasa marah dan tak terima karena Anneke sudah mengacuhkannya. Noah mengamati wajah wanita itu yang sedang serius mengobati luka Noah. Mata Noah turun menatap bibir merah ranum milik wanita itu. Dia menelan salivanya, dia masih ingat bagaimana rasanya bibir itu.
Pertama kali dia mencium wanita itu saat dia masih si buruk rupa. Dan saat itu gairah Noah memuncak hanya mencium bibir basah dan aroma tubuh Anneke! Dan kini aroma itu begitu menggoda, dan tanpa dia sadari tubuhnya sudah bereaksi sejak tadi. Napasnya mulai menderu, namun Anneke tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
Dia baru saja selesai mengobati luka Noah dan menutup kotak P3K lalu dia tersadar betapa dekatnya jarak antara dia dan Noah. Dia menyadari hembusan panas napas pria itu yang beraroma mint segar.
Anneke bergidik, tubuhnya meremang dan dia tidak melihat senyum menyeringai yang muncul diwajah Noah. Sepertinya pria itu pun mengetahui reaksi tubuh Anneke.
Noah sudah memajukan wajahnya dan jarak diantara mereka hanya beberapa satu centimeter saja. Napas keduanya menderu, Anneke tidak tahu kenapa tiba-tiba dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Matanya melotot saat tiba-tiba Noah sudah menciumnya. Namun kali ini berbeda, tidak seperti sebelumnya. Noah menciumnya dengan lembut, dengan refleks tangan Anneke mendorongnya saat kesadarannya pulih.
Wajahnya merona merah merasa malu karena saat itu Levi dan Abner ternyata sudah berdiri di depan pintu yang terbuka lebar. Anneke buru-buru mengambil kotak P3K lalu bangkit berdiri. Namun Noah malah menghentikannya. “Duduklah!”
Noah tahu Anneke merasa sangat malu saat ini, dia bisa mengetahui dari wajah wanita itu yang merona. Ada senyum diwajah Noah.
“Kenapa kalian kesini? Dia hanya mengobati lukaku saja!” ujar Noah kembali pada sikap dinginnya.
“Ehm, Tuan! Anda ada meeting satu jam lagi!” Levi mengingatkan.
“Nona Anne, kita harus berangkat sekarang! Kita ada janji bertemu klien.” ucap Abner.
“Baiklah! Aku ambil tasku dulu! Oh iya, minta dokumen yang diperlukan dari Sanita!” ucap Anneke.
Dia berjalan dengan cepat meninggalkan lounge dan kembali keruang kerjanya. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi kerja sambil memejamkan mata. Kenapa rasanya sulit sekali untuk melepaskan diri dari Noah? Apa perlu dia mencari pria lain dan berkencan untuk membuat Noah merasa jijik lalu menceraikannya? Pikiran itu kini memenuhi benak Anneke.
‘Ah, aku tidak bisa memikirkan hal itu sekarang! Aku harus mendapatkan proyek pertamaku hari ini! Aku tidak akan mengecewakan klienku. Ini adalah klien pertamaku!’ bisik hatinya.
Dia pun berjalan ke ruang pribadinya lalu mengganti setelan bajunya lalu merias kembali wajahnya agar tampak fresh. Rambutnya yang tadinya digerai, kini dia gulung keatas memperlihatkan leher jenjangnya.
Dalam perjalanan menuju ketempat yang sudah ditentukan oleh kliennya. Anneke nampak fokus membaca dokumen ditangannya. Sesekali dia bertanya pada Abner dan berdiskusi, ini klien pertama jadi dia harus tampil maksimal. Dan ini juga pengalaman pertamanya dalam berbisnis, dia tidak tahu apa-apa tentang bisnis tapi Anneke tak mudah menyerah.
Ini adalah kehidupan keduanya dan kesempatan ini tidak akan dia sia-siakan. Anneke yang sibuk dengan pikirannya pun tak sadar saat mereka sudah tiba ditempat tujuan.
“Nona, kita sudah sampai.” ucap Abner membuyarkan lamunan Anneke.
“Eeehh….sudah sampai ya?” dia langsung merapikan dokumen ditangannya dan memasukkan ke tas. Dia menatap gedung didepannya, Anneke tahu tempat ini adalah salah satu hotel termewah dan termahal di negeri ini.
“Ini tempatnya?” tanya Anneke mengeryitkan dahinya.
“Iya benar Nona! Klien sudah memesan tempat VIP di hotel ini. Biasanya pebisnis kelas atas mendiskusikan bisnis mereka di tempat ini. Tidak sembarang orang bisa masuk kedalam hotel ini karena hanya member VIP saja yang bisa menikmati semua pelayanan di hotel ini.” kata Abner.
“Kenapa begitu? Sombong sekali yang punya hotel hanya mau membuka hotelnya hanya untuk kalangan atas saja!” keluh Anneke sambil mendengus.
“Mungkin nona bisa mengatakan itu pada Tuan Noah!”
“Huh! Apa? Ini hotel milik Noah?” tanya Anneke terkejut. Dia memang tahu betapa kayanya suaminya itu.
Namun dia tidak pernah tahu seberapa banyak hotel dan bisnis yang dimiliki keluarga Arsenio. Dan Noah adalah pewaris satu-satunya yang berarti pria itu memiliki kekayaan yang melimpah. Anneke hanya bisa menghela napas dan berkata,
“Tidak heran dia membangun hotel seperti ini! Sama persis seperti karakternya, sombong!”
Abner membawa Anneke menuju ke presidential suite. Disana sudah ada tiga orang yang menunggu.
“Selamat siang Tuan.” sapa Abner. Ketiga pria itupun memandang kearah Abner lalu Anneke.
“Selamat siang! Silahkan duduk.” ucap salah seorang pria. “Kita tunggu sebentar lagi. Atasan saya sedang menuju kemari.”
“Oh begitu. Saya kira anda yang akan berdiskusi tentang kerjasama antara perusahaan kita.”
“Tuan Abner, saya hanya perusahaan mitra kerja. Semua keputusan ada dipihak perusahaan utama yang merupakan investor proyek ini.” ujar pria itu.
Baru saja dia selesai bicara terdengar suara pintu dibuka dan suara langkah kaki memasuki presidential suite itu. Semua menoleh kearah datangnya suara, begitu juga dengan Anneke yang duduk membelakangi pintu pun segera menoleh.
Betapa kagetnya dia melihat orang yang datang. ‘Apa-apaan ini?’ pikirnya melotot pada dua pria yang baru masuk dan berdiri dengan tegap.
“Apa kami terlambat?” suara bariton itu membuat Anneke tersadar.
“Tidak sama sekali Tuan! Kami juga baru tiba disini.” jawab pria yang tadi bicara dengan Anneke.
“Baiklah! Sebaiknya kita mulai saja.” Noah yang sudah duduk disebelah Anneke pun langsung bicara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman saat dia melihat wajah Anneke yang memucat melihatnya.
“Mana desain yang saya minta?” tanya Noah. Tangannya terentang kebelakang seperti tidak sengaja, tangan itu berada tepat dibelakang Anneke sehingga tampak seperti Noah merangkulnya.
Anneke mengerutkan kedua alisnya saat menyadari tangan Noah menyentuh bahunya. Dia pun menoleh dan menatap tajam pria itu. “Tolong jaga sikapmu didepan orang lain!” ucap Anneke dengan suara pelan.
Namun Noah hanya menatapnya dan tak merespon membuat Anneke mendengus kesal. Namun dia tidak mengatakan apapun karena banyak orang disana.
“Ini adalah pertemuan pertama kita, saya sudah ada konsep desainnya. Ini saya kerjakan dengan buru-buru, silahkan dilihat dulu dan beri saya waktu beberapa hari saya akan menyerahkan konsep desain yang lengkap.” ujar Anneke.
Dia memang tidak sempat membuat desain lengkap karena pertemuan ini dilakukan tiba-tiba. Untungnya dia secara asal telah membuat desain sebelumnya.
Setidaknya desain itu tidak terlalu buruk dan masih bisa diperhitungkan. Noah hanya melirik desain yang dikeluarkan oleh Anneke. Matanya memicing saat melihat betapa halusnya sentuhan desain itu meskipun belum komplit sepenuhnya. Namun dia tidak mau memuji Anneke.
‘Not bad! Ternyata dia memang hebat menggambar denah.’ pikir Noah. Dia ingin melihat kemampuan Anneke dalam mendesain proyek hotel barunya.