MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 36. KEMARAHAN MARISA


“Nona Kaylee. Bagaimana anda akan menjelaskan dan menyelesaikan permasalahan ini?” dengan tenang manajer itu tetap duduk dikursinya sambil memperhatikan ketiga wanita itu.


Dia memandang lurus pada Kaylee yang masih berdiri dengan sikap angkuhnya. Sungguh, Kaylee tidak menyangka bahwa dia tidak akan mampu membayar tagihannya, dia memang tidak akan mampu!


Rasanya sangat memalukan dan kalau bisa ingin rasanya dia menyembunyikan dirinya saat ini. Sementara kedua temannya pun tak kalah bingungnya dan ketakutan karena mereka tidak punya uang sama sekali. Andai mereka tahu kejadiannya akan seperti ini, mereka tidak akan mengikuti Kaylee dan memilih perawatan paling mahal.


...******...


Cuaca malam di kota itu terasa dingin disertai angin yang bertiup kencang merontokkan dedaunan kering dari pohon didepan rumah Kaylee. Didalam rumah besar itu terlihat tiga orang yang sedang duduk saling berhadapan di sofa panjang berwarna coklat dengan wajah masam karena kejadian yang dialami Kaylee siang tadi. Sangat memalukan bagi keluarga itu!


Sebenarnya setelah Kaylee dan kedua temannya digiring keruang manajer Spa tadi, dia bergegas menelepon ayahnya untuk meminta pertolongan. Namun sayangnya ayahnya tidak mengangkat teleponnya sehingga Kaylee pun dengan terpaksa menelepon ibunya. Ketika mendengar cerita Kaylee tentang apa yang terjadi di sapa, ibunya terlihat sangat marah dan bergegas datang ke spa itu.


Sesampainya disana, wanita itu langsung menuju ke kasir untuk membayar semua tagihan anaknya yang tidak tahu diri itu! Dan setelah semua urusan pembayarannya selesai tanpa banyak bicara dia bergegas masuk keruang manajer dan menggelandang Kaylee kembali kerumahnya begitu saja. Kejadian itu benar-benar memalukan bagi Kaylee dan Marisa ibunya.


Marisa yang selama ini sangat mengutamakan nama baik dan kehormatan! Sebagai anak angkat dari keluarga Runako yang dipungut di panti asuhan, dia selalu dianggap sebelah mata oleh semua orang. Tahun demi tahun, Marisa telah bekerja keras untuk mendapatkan penghormatan dari semua bawahannya dan juga dari keluarga Runako.


Namun Kaylee hampir saja menghancurkan nama baiknya begitu saja! Setelah keheningan yang panjang dirumah itu akhirnya Kaylee memberanikan diri bicara. “Bu….maafkan aku.”


Kaylee tahu bahwa ibunya sangat marah padanya. Namun dia harus berani untuk menenangkan ibunya. Dengan sorot mata yang berapi-api, Marisa yang sedari tadi menahan diri akhirnya berteriak.


Dengan suara lantang dia berteriak pada anaknya, “Dasar anak tidak tau diri! Berani-beraninya kau melakukan hal itu? Hah? Bagaimana kalau pamanmu dan kakekmu tahu semua yang kau lakukan pada kartu-kartu milik Anneke? Apa kau mau ditendang dari keluarga Runako tanpa mendapat sepeserpun?” Marisa terlihat sangat marah sampai otot lehernya menonjol keluar.


“Aku yakin mereka tidak akan tahu, bu! Anneke sangat percaya padaku jadi dia pasti tidak akan buka mulut! Dia tidak akan mengatakan apapun pada kakek dan paman!” kata Kaylee yang percaya diri.


Namun sebelum Kaylee melanjutkan kata-katanya, Marisa menggebrak meja didepannya dengan kuat sehingga Kaylee pun langsung terdiam dan keheningan kembali mencekam.


BRAAAAKKKKK!


Melihat istrinya yang meledak-ledak, Jose Akasha yang duduk disebelahnya pun langsung memegangi pundak istrinya yang galak itu. Dengan sangat lembut dia mengelus pundak Marisa berusaha untuk menenangkannya dan meredakan amarahnya. Sambil mengelus pundak istrinya Jose mencoba untuk menenangkan Marisa yang sedang memuncak emosinya.


“Istriku, tenanglah…..bukankah Kaylee sudah mengaku salah dan menyesal? Ini bukan sepenuhnya salah Kaylee. Cobalah pikirkan bukankah dia juga cucu Kakek Liam? Kaylee sebenarnya berhak untuk mendapatkan semua fasilitas yang sama seperti Anneke. Tapi sekarang lihatlah, Kakek Liam begitu pilih kasih! Bukankah itu tidak adil namanya? Tidak heran kalau Kaylee melakukan ini.”


Jose menggenggam tangan istrinya dan berusaha membela anak gadisnya yang curang.


“Apa yang kamu katakan barusan?” Marisa menaikkan nada suaranya menjadi semakin keras setelah mendengar ucapan suaminya.


Dia mengibaskan tangan pria itu dan semakin marah lalu berteriak, “Jose! Apa kau lupa siapa kau sebenarnya sebelum aku menikahimu? Hah? Kau hanya sales!”


“Apa kau lupa diri? Dan aku hanya seorang anak angkat! Dan sekarang kau bicara tentang keadilan bagi Kaylee? Aku beritahu padamu ya, aku tidak mau kau……ataupun Kaylee anakmu itu menghancurkan semua rencana yang sudah aku susun dengan sangat matang! Apa kalian paham?”


Setelah Marisa mengatakan semua isi hatinya dia pun berdiri dan meninggalkan ayah dan anak itu.


Anneke pasti sudah tahu dan meminta bagian keuangan yang memblokir semua kartu miliknya. Bagaimana kalau kakak angkatnya Alfred Runako mengetahui tingah Kaylee?


Bukankah itu berarti kepercayaan yang telah didapatkan oleh Marisa dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun akan hilang begitu saja? Apalagi Alfred Runako sangat menyayangi Anneke.


Gadis polos itu yang merupakan permata berharga keluarga Runako! Marisa pun berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan mulai sekarang dia harus lebih memperhatikan tingah laku suami dan putrinya.


Tingkah ayah dan anak itu selalu gegabah, hal itu bisa berakibat buruk bagi Marisa yang sudah berusaha dan menjalankan rencananya selama ini. Tidak! Marisa tidak bisa membiarkan semuanya terjadi dan menghancurkan segala kerja kerasnya. Setelah sampai dikamar, Marisa bergegas mengunci pintu dan berusaa menenangkan dirinya terlebih dahulu.


Kali ini dia memiliki pekerjaan tambahan sebelum mencapai rencananya karena ulah suami dan putrinya. Rencana yang disusunnya sudah sangat sempurna dan dia tidak mau semuanya hancur.


Bagaimana pun keluarga Runako tidak memiliki anak laki-laki, hanya Anneke satu-satunya pewaris kekayaan keluarga itu! Dan Marisa menargetkan untuk merebut semuanya.


Saat sore hari didalam pesawat pribadi yang menuju ke kota M, Noah terlihat sedikit tidak konsentrasi karena pikirannya teralihkan oleh sesuatu yang ada dipikirannya. Dia sudah menerima sertifikat cerai dengan Anneke dan bukan itu saja justru disaat dia sudah bercerai, disitulah dia menyimpan nomor telepon Anneke. Sesekali dia nampak melirik ponselnya.


Dia terus saja menatap layar ponsel yang berwarna hitam itu, ingin rasanya dia menghubungi seseorang yang sudah dia dapatkan nomornya semalam! Tapi untuk apa lagi menghubunginya?


Mereka sudah resmi bercerai dan pengacara neneknya yang bergerak cepat mendapatkan surat cerai mereka. Noah memutar-mutar ponselnya, dia tringat pada sosok wanita yang kini sudah jadi mantan istrinya.


Entah mengapa tiba-tiba dia tersenyum saat dia teringat kejadian di apartemen, disaat dia menggoda Anneke sampai ketakutan. Segera dia tepis bayangan itu, dan Noah berusaha menutup matanya namun bayangan wajah mantan istri buruk rupanya kembali hadir, Noah membuka matanya dan teringat lagi pada sosok wanita itu yng dibuatnya menagis semalam.


‘Ternyaa sebegitu menyenangkannya menggoda wanita jelek itu.’ pikirnya.


Saat Noah sibuk dengan pikirannya, Shelly berjalan keluar dari kamar di pesawat pribadi itu. Lalu dia menghampiri Noah dan menyandarkan dagunya di bahu pria itu sedangkan kedua lengannya melingkar memeluk pria itu. “Apa yang sedang kamu pikikan?” tanya Shelly.


“Tidak ada. Kenapa kamu tidak tidur?”


“Aku tidak bisa tidur! Saat aku membuka mataku aku tidak melihatmu disisiku.”


Noah tidak mempedulikan perkataan Shelly dan seolah ia pun tidak mendengarkan apa yang dikatakan wanita itu. Noah merasakan ketidaknyamanan dihatinya tapi dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.


“Apa kamu mau makan?” tanya Noah pada Shelly.


“Duduklah! Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku!” tangan Noah melepaskan pelukan Shelly dan mendorongnya menjauh.


Wanita itu mengeryitkan keningnya karena tidak biasanya Noah menolaknya setiap kali dia memeluknya. Meskipun sampai saat ini hubungan mereka cukup dekat tapi Noah tak pernah menyentuh Shelly.


Mereka memang selalu terliht mesra didepan publik dan selalu menjadi bahan pembicaraan. Dengan berat hati Shelly pun duduk di kursi berhadapan dengan Noah.