
Malam harinya di kota lain, langit yang begitu gelap tampak ditaburi dengan gemerlap bintang yang tampak begitu indah menawan. Tetapi sayangnya, kilau bintang-bintang itu tidak sanggup menembus mata hitam seorang pria tampan yang saat ini sedang menatap langit denngan sorot matanya yang suram. Dia berdiri didepan jendela kaca sebuah kamar presidential suite.
Pria itu memegangi ponselnya dengan aura membunuh yang menyeramkan! Terlihat pria itu sesekali melirik ke ponselnya, dia menyalakan layar ponsel hanya untuk melihat jika dia mendapatkan pesan ataupun panggilan telepon. Namun sejak tadi dia tidak mendapati satu panggilan maupun pesan pun dari wanita itu padahal dia sudah mengiriminya pesan.
‘Berani sekali wanita itu! Seseorang membantunya untuk menghapus semua informasi tentang dirinya! Tapi tidak ada yang tidak bisa kudapatkan! Anneke! Tak heran jika kau sangat ingin bercerai denganku! Dasar penipu! Kau menipuku selama ini, kau sengaja membuat wajahmu terlihat jelek! Kau menutupi jati dirimu yang sebenarnya dariku! Kalau aku tahu wajah aslimu, aku tidak akan menceraikanmu!’
Noah mengepalkan tangannya menahan emosi. Dia merasa frustasi kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kesebuah meja kerja yang berada disudut ruangan. Dia menyalakan laptopnya tetapi pandangan mata gelapnya itu masih fokus pada ponsel yang dia letakkan disampingnya.
‘Dasar bodoh! Kau menyamar dan membuat identitas baru tapi kau lupa kalau kau memberikan nomor telepon lamamu pada asistenku! Untung saja aku masih mempunyai nomor telepon lamamu di dalam daftar blokirku.’
Dia berusaha mengalihkan pikiran dan pandangannya, pria itu terlihat mengambil sapu tangan berwarna coklat keemasan dengan ukiran namanya disudut sapu tangan. Dia menutupi ponselnya menggunakan sapu tangan itu. Beberapa menit berlalu tapi pandangannya kembali teralihkan sedikit demi sedikit pada pekerjaannya yang menumpuk dihadapannya.
Namun itu tidak berlangsung lama, sudut matanya kembali menatap ponselnya dan mendadak secercah cahaya yang timbul dipermukaan sapu tangan membuatnya tersenyum.
Pasti itu adalah balasan pesan untuknya! Tanpa berpikir panjang lagi dia menyingkirkan sapu tangannya dan mengambil ponselnya. Dia merasa sangat senang dan merasa yakin bahwa itu adalah balasan pesan untuknya.
Tetapi, rasa senangnya berubah menjadi kekecewaan karena pesan yang diterimanya ternyata berasal dari rekan bisnisnya. Dia pun merasa jengkel lalu dia langsung memblokir nomor telepon rekan bisnisnya itu. Sikap Noah itu membuat asistennya yang berdiri tak jauh darinya menjadi ketakutan. Melihat bosnya bersikap seperti itu dia pun tak berani bergerak.
Levi tidak berani bergerak sedikitpun sampai kakinya sudah mulai terasa kesemutan. Dia merasa bingung dengan keanehan yang terjadi pada Noah sejak mereka tiba di kota itu. Setelah dua jam dia berdiri menemani atasannya itu, Levi pun merasakan kedua kakinya mulai mati rasa! Dia terlihat sangat menyedihkan bahkan seperti seorang murid yang sedang kena hukuman oleh gurunya.
“Tuan…….” Levi mencoba untuk berbicara pada Noah karena dia sudah tidak tahan lagi berdiri.
“Ada apa? Kenapa kau tidak bisa berdiri dan diam disana?”
“Maafkan saya Tuan! Tapi----bisakah saya duduk sebentar di sofa? Kakiku sudah mulai mati rasa!”
“Ck! Kau ini menyusahkan saja! Baru berdiri sebentar sudah tidak tahan!” ujar Noah dengan dingin.
“Tapi----saya sudah berdiri lebih dari dua jam Tuan.”
Noah menghentikan aktifitasnya lalu menoleh kearah Levi. Dia baru menyadari kalau sejak tadi asistennya itu memang berada disana tak bergeming sedikitpun. Noah kembali menatap dokumen didepannya dan berkata, “Duduklah! Lagipula aku tidak menyuruhmu berdiri selama dua jam! Kenapa semakin hari kau semakin tidak kompeten saja?”
“Terima kasih Tuan.” dengan perlahan Levi mencoba menggerakkan kakinya yang sudah mati rasa. Sambil berpegangan pada meja dan benda lain yang bisa dijangkaunya, dia melangkah menuju ke sofa. Setelah duduk di sofa dia menghela napas lega dan mulai memijit kakinya.
‘Dia yang menyuruhku berdiri tadi! Kenapa dia malah menyalahkanku? Aneh!’ keluhnya dalam hati.
“Apa kau sudah menyiapkan penerbangan untuk besok pagi?” tanya Noah tanpa memandang Levi.
“Sudah Tuan! Sesuai permintaan Tuan, pesawat akan berangkat jam tujuh pagi!” jawab Levi.
“Apa menurutmu kita bisa tiba disana untuk menghadiri pembukaan galeri Nona Anne?”
“Pasti bisa Tuan! Perjalanan hanya dua jam! Dari bandara kita bisa langsung ke galeri! Pakaian anda untuk besok juga sudah disiapkan di pesawat.” Levi menjelaskan sambil memijat kakinya.
“Ehm, baguslah! Kau harus bekerja cepat dan efektif seperti ini setiap saat! Kau paham?”
“Ya, saya paham Tuan!” balas Levi tak berani membantah.
“Baik, tuan! Ehm-----”
“Apa lagi?” tanya Noah.
“Mengenai Nona Shelly! Apa dia akan ikut ke acara besok bersama Tuan? Dia juga mendapat undangan ke acara itu.” kata Levi yang mendapatkan informasi langsung dari Shelly.
Tadi wanita itu mencoba menghubungi Noah tapi pria itu mematikan ponselnya karena sedang meeting bersama klien pentingnya sehingga Shelly menghubungi Levi. Namun Levi belum sempat memberitahu Noah tentang itu.
Mendengar perkataan asistennya, Noah mengerutkan alisnya lalu menatap Levi, “Jika dia mendapat undangan, biarkan saja dia pergi sendiri!’
Levi pun terdiam, dia menghela napas panjang. Saat Noah memintanya untuk menyelidiki Anne Emanuella, dia pun mengetahui kalau identitas asli wanita itu. Membuat Levi berpikir jika Noah mungkin menyesali keputusannya menceraikan istrinya. Lebih tepatnya istrinya yang menceraikannya, dan kemungkinan saat ini pria itu ingin istrinya kembali.
‘Fuuuhhh! Siapa yang menyangka kalau Nona Anneke ternyata wanita yang sangat cantik! Shelly saja tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Nona Anneke!’ pikir Levi.
‘Tapi kenapa dulu dia berpenampilan jelek ya? Apa dia memang tidak pernah mencintai Tuan Noah makanya dia sengaja membuat wajahnya jelek? Tidak mungkin! Dia selalu mengejar Tuan Noah sejak dulu!’
“Apa yang kau pikirkan? Kalau kau tidak punya kerjaan lain, kau boleh makan malam dulu! Aku muak melihat wajahmu seperti itu.” ujar Noah yang membuat Levi kembali terkejut.
Sejak kapan atasannya itu merasa muak padanya? Apakah dia akan dipecat? Aduh, kenapa jadi begini sih? Pikiran Levi pun berkecamuk dan tanpa pikir panjang, dia bergegas meninggalkan kamar itu.
Sepeninggal Levi, kini hanya ada Noah di kamar itu. Dia meletakkan pena-nya lalu mengambil ponsel dan menghubungi pengacaranya. Begitu panggilan telepon tersambung, “Batalkan surat perceraian!”
“Hah? Maksudnya apa Tuan?” tanya Juan sang pengacara. Dia merasa bingung mendengar permintaan Noah. “Surat cerai yang mana Tuan?”
“Memangnya aku sudah berapa kali bercerai?”
“Oh maaf Tuan. Apa surat cerai anda dan Nyonya Anneke?”
“Ya! Batalkan segera surat cerai itu!”
“Tidak mungkin dibatalkan Tuan! Surat perceraian sudah keluar.”
“Aku tidak mau tahu! Kau adalah pengacaraku, kau pikirkan sendiri caranya membatalkan surat perceraian itu! Aku beri waktu satu jam!” Noah bicara tegas dan penuh penekanan.
“Satu jam?” Juan pun semakin bingung dan terkejut. “Ta----”
“Tidak ada tapi-tapian! Kalau kau tidak bisa membatalkan surat perceraian itu! Besok aku pastikan izinmu dicabut!”
“Ba---baik! Baiklah Tuan. Segera saya kerjakan!”
Noah langsung mematikan teleponnya dan senyum muncul diwajahnya.
“Anneke Lemuella? Atau haruskah aku memanggilmu Anne Emanuel? Kau pikir bisa lepas dariku? Dalam mimpimu pun kau tidak akan pernah bisa lepas dariku!”