
“Papa, kakek! Sebenarnya aku berpikir membuka bisnis ini untuk mengembangkan bisnis kita namun terpisah dengan anggota keluarga yang lain.” kata Anneke memulai rencananya.
“Maksudmu?” tanya Alfred dan Liam bersamaan.
“Apakah kau memiliki masalah dengan anggota keluarga yang lain? Kita bisa mengeluarkan mereka dari perusahaan kalau memang itu maumu.”
“Begini, bukankah di perusahaan ini semuanya adalah keluarga Runako? Apakah papa dan kakek tidak pernah terpikir membuka perusahaan baru yang hanya ada kita saja? Tidak ada campur tangan anggota keluarga yang lainnya?” ucap Anneke lalu terdiam sejenak. “Menurutku lebih baik kita memisahkan keuangan pribadi kita dan menginvestasikannya ke perusahaan lain.
“Misalnya, aku membuka perusahaan baru dan dana papa dan kakek investasikan ke perusahaanku. Sehingga keuangan kita tidak bercampur aduk dengan anggota keluarga yang lain.”
Alfred dan Liam sama-sama terdiam, mereka bukan tidak memahami maksud Anneke. Sejak Alfred menceritakan pada ayahnya tentang Kaylee yang menyalahgunakan semua kartu milik Anneke membuat keduanya mulai berpikir.
“Apakah kau khawatir akan ada konflik keluarga kedepannya?” tanya Liam.
“Ya itu tidak menutup kemungkinan kan? Apalagi Tante Marisa bukanlah putri kandung kakek. Aku tahu dia bekerja keras di perusahaan ini, tapi bukan tidak mungkin dia merasa ketidak puasan dan mulai memikirkan cara untuk mengambil alih perusahaan? Dia dan Kaylee!” kata Anneke berusaha menggubah pikiran ayah dan kakeknya.
“Keke, kakek tahu kau sangat peduli pada perusahaan! Kakek juga paham tentang kekhawatiranmu, tapi selama bertahun-tahun Marisa belum pernah melakukan satu kesalahanpun di perusahaan.”
“Kakek, terkadang seseorang bisa menjadi orang kepercayaan kita sebelum orang itu menghancurkan segalanya! Bukan tidak menutup kemungkinan Tante Marisa sedang menyusun rencana.”
“Baiklah…..baiklah…..kita tidak perlu membahas hal ini lagi! Kakek dan ayahmu percaya padamu. Bagaimanapun kau adalah pewaris Runako Group satu-satunya. Jadi wajar jika kau merasa khawatir, tapi idemu itu juga bagus. Kita bisa membuka perusahaan baru tanpa sepengetahuan yang lainnya untuk menyelamatkan aset! Anneke….katakan saja berapa yang kau butuhkan.”
“Aku ingin membuka galeri! Dan juga perusahaan interior desain! Perusahaan ini bukan hanya menangani interior desain saja tapi juga aku ingin merancang busana dan perhiasan juga.” jawab Anneke.
“Bagaimana menurut kalian? Aku pandai melukis dan membuat desain, jadi aku yakin sekali perusahaan ini akan sukses! Selain itu aku sudah punya tim yang hebat!”
“Benarkah? Darimana kau mendapatkan orang-orang itu? Apakah mereka semua bisa dipercaya?” tanya Alfred yang mencemaskan putrinya. Setelah mengetahui jika Kaylee menipu Anneke selama ini membuat Alfred Runako sangat berhati-hati pada siapapun yang berada didekat putrinya.
“Mereka semua adalah orang-orang yang direkrut nenek untuk bekerja padaku!” jawab Anneke.
“Kakek dan papa tidak perlu khawatir, beberapa orang yang cukup kompeten dibidangnya akan menjadi tim ku! Kakek dan papa pasti mengenali mereka jika aku menyebutkan nama-nama mereka. Contohnya seperti Abner yang bekerja sebagai asistenku, ada Aliyah Cassady yang akan bekerja sebagai pimpinan tim desain.”
“Apa? Aliyah Cassady ada di tim mu? Dia bekerja untukmu? Bagaimana mungkin?” ujar Kakek Liam memelototkan matanya. “Dulu papa mu pernah memintanya untuk membuatkan desain untuk proyek hotel baru kita namun dia menolaknya dengan alasan jadwalnya sudah penuh!”
“Anneke, bagaimana kau bisa membuat wanita itu bekerja padamu?” tanya Alfred Runako.
“Hehe…..bukan hal yang sulit dengan mengandalkan nama keluarga Arsenio.” jawab Anneke.
“Ya ya…..kau ada benarnya juga! Tak ada seorangpun yang berani menolak jika Keluarga Arsenio terlibat! Ah, kakek jadi merasa lega! Kakek senang sekali akhirnya kau memikirkan untuk menjalankan bisnis sendiri! Begini saja, kakek akan menginvestasikan semua uang kakek di perusahaanmu!” ujar Liam Runako bersemangat dan merasa bangga pada cucu kesayangannya itu.
“Bagaimana dengan papa?” tanya Anneke melirik ayahnya.
“Papa juga akan berinvestasi! Besok papa akan transfer dananya ke rekeningmu! Anneke, papa bangga sekali padamu! Akhirnya putriku mulai dewasa.” Alfred Runako menatap putrinya dengan mata berbinar.
‘Semoga Anneke bisa membangun sendiri perusahaan atas namanya! Aku paham apa yang dipikirkannya!’ bisik hati Alfred.
“Lalu, apakah kau mengerti bagaimana menjalankan sebuah perusahaan?” tanya Kakek Liam lagi.
“Jangan khawatir kakek! Ada banyak orang kepercayaan nenek yang akan membantuku! Ini adalah kesempatanku untuk belajar. Suatu hari nanti aku akan menjadi kebanggaan papa dan kakek! Jika aku mendapat kendala, aku kan bisa mengandalkan kakek dan papa, iyakan?”
‘Sepertinya putriku mencium ada yang tidak beres dengan perusahaan! Makanya dia berpikir untuk membuka perusahaan baru dan memindahkan semua dana pribadi kami ke perusahaan itu! Aku harus memeriksa perusahaan secepatnya, siapa kira-kira orang yang akan berkhianat.’ bisik hati Alfred Runako.
“Anneke, kenapa kau tidak belajar dari Noah? Bagaimanapun dia adalah seorang pebisnis kelaas satu! Kekuatan ekonomi ada ditangannya, dan dia yang mengendalikan semua bisnis!” saran Kakek Liam.
“Ehm, aku rasa tidak perlu kakek! Aku mau berdiri sendiri tanpa mengandalkan Noah! Kami tidak ada hubungan apapun lagi sekarang.” ujar Anneke.
...********...
“Apa aku sudah mendapatkan nomor telepon wanita itu?” tanya Noah pada asistennya.
“Ehm…..sudah Tuan! Ada berita lainnya juga. Apa Tuan tertarik untuk mendengarkan?”
“Katakan saja kalau berhubungan dengan wanita itu! Tapi kalau tidak, aku tidak mau dengar.”
“Ini mengenai Nona Anne!” ucap asistennya sehingga membuat Noah mengangkat wajahnya menatap tajam kearah asistennya. Dia lalu meletakkan pena yang sejak tadi dipegangnya.
“Cepat katakan!” Noah terdengar tidak sabaran. Dia benar-benar penasaran dengan wanita itu.
“Tuan tahu bangunan yang berada diseberang jalan? Tidak jauh dari sini?” kata asistennya.
“Ya memangnya kenapa dengan bangunan itu? Aku tidak tertarik!” Noah mendengus kesal.
“Nona Anne sudah membeli seluruh bangunan itu dan menjadikannya galeri!”
“Apa katamu? Kapan itu terjadi? Kenapa kau tidak segera memberitahuku?” Noah semakin tidak sabaran begitu mendengar ucapan asistennya.
“Heh! Kemarin saya mau menyampaikan pada Tuan tapi Nona Shelly langsung menyela saya. Makanya saya tidak mengatakan apapun kemarin.” asisten itu memberikan alasan agar tak dimarahi.
“Dasar bodoh! Lain kali kau harus segera memberitahuku informasi apapun yang berhubungan dengan wanita itu. Apa kau paham?” ujar Noah sedikit emosi. Dia menatap tajam pada asistennya itu.
“Ya Tuan, saya mengerti! Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang?”
“Kau kirimkan bunga ke galeri itu! Kapan dia akan membuka galerinya?”
“Dalam waktu dekat Tuan! Menurut informasi yang saya dapatkan, gedung disebelahnya akan digunakan sebagai kantor, kabarnya Nona Anne akan membuka perusahaan dalam bidang interior desain. Bahkan dia berhasil menggaet Aliyah Cassady menjadi pimpinan tim desainnya.”
Noah tersenyum tipis mendengar kabar itu, “Lalu, bagaimana dengan latar belakang Anne? Apakah kau sudah memeriksa informasi tentang itu? Keluarganya, latar belakang pendidikan? Siapa kekasihnya?”
Asisten itupun meletakkan sebuah map diatas meja Noah, “Ini semua informasi tentang Nona Anne yang berhasil saya dapatkan Tuan! Mungkin ada beberapa hal disitu yang menarik perhatian Tuan.”
Noah pun langsung mengambil map itu dan langsung membukanya. Matanya fokus membaca informasi tentang Anne sambil mengerutkan keningnya.
“Kenapa nama belakangnya Runako? Apakah dia punya hubungan dengan keluarga Runako?” tanya Noah yang menjadi penasaran. “Darimana kamu dapatkan informasi ini? Apa ini valid?”
“Semua informasi itu valid, Tuan! Memang nama belakang Nona Anne adalah Runako. Sesuai data yang ada disana nama lengkapnya adalah Anna Emanuel Runako!” jawab sang asisten.