
Apa ini? Batinnnya sembari menekan-nekan benda didepannya itu. Namun sebelum Anneke menyadari situasinya, kedua tangannya telah ditarik diiringi suara pintu yang tertutup dengan sangat keras. Seketika itu juga Anneke begitu panik dan berusaha melepaskan diri dari perangkap lengan itu. “Lepaskan! Lepaskan aku, brengsek!” makinya.
Tapi sayangnya kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan lengan kokoh yang saat ini menghimpitnya di dinding yang ada disana. Semakin dia berusaha meronta, lengan kokoh itu semakin menekannya dengan kuat sehingga dia pun kesulitan untuk bernapas. “Sssstttt…..diam! Percuma saja kau berteriak tidak akan ada yang mendengarmu!”
“Lepas!” teriak Anneke sekencang-kencangnya untuk melepaskan diri dari jeratan orang yang ada disana. Karena suasana ruangan itu gelap tanpa penerangan dia tidak bisa melihat siapa orang yang berada disana. Dengan sekuat tenaganya berusaha untuk melepaskan diri. Ada ketakutan diwajahnya jika orang itu adalah orang jahat.
“Lepaskan aku!” teriaknya mencoba untuk menghentakkan tangannya untuk melepaskan diri. Tapi----
“Tidak!” jawab pria itu dengan tegas seakan ingin menunjukkan dominasinya terhadap wanita yang saat ini sedang dihimpitnya. “Aku tidak akan melepaskanmu! Lalu kau mau apa sekarang? Hem? Berani menentangku?”
“No—Noah? Kau brengsek! Lepaskan aku! Lepas!” Anneke berteroak sambil memukul-mukulkan kedua kepalan tangan kecilnya kedada suaminya itu. ‘Dasar si brengsek ini! Apa yang dilakukannya didalam ruangan gelap seperti ini? Apa dia memang sengaja melakukannya?’ bisik hatinya. Situasi seperti ini entah mengapa membuat tubuh Noah bereaksi.
Pria itu tanpa sadar malah semakin tergoda dengan suara umpatan dan caci maki dari istrinya yang baginya terdengar sangat seksi dan menantang itu. Rasanya dia ingin mencoba sensasi dari mulut yang suka mengumpat itu. ‘Kenapa suaranya terdengar sangat seksi? Aku harus mencari tahu tentang wanita ini! Aku akan melakukan sesuatu!’ bisik hatinya.
“Brengsek!” suara umpatan itu terdengar kembali menggema memenuhi ruangan itu karena tangan Noah tak kunjung melepaskan wanita itu. Sekali lagi dia mendengarkan umpatan yang ditujukan pada dirinya, Noah kemudian menurunkan kepalanya dan tanpa aba-aba mencium mulut yang suka mengumpat dan mencaci makinya itu. Dia menciumnya dengan paksa!
Noah hanya ingin mengajari wanita itu supaya menggunakan mulutnya dengan sedikit lebih manis jika berbicara dengannya. Bukankah ia juga berhak untuk menghukum istrinya sendiri? Saat mencium gadis itu dengan liar, tiba-tiba Noah merasakan ada rasa asin yang mengalir dilidahnya. Apakah wanita ini menangis?
Seketika itu juga Noah melepaskan ciuman panasnya dan meraih remote control untuk menyalakan lampu kamarnya. Tepat seperti dugaannnya, gadis itu telah menangis dengan kedua matanya yang memerah dan kedua pipi yang basah. Dengan pemandangan yang ada didepannya, Noah benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Sungguh, Anneke adalah satu-satunya gadis yang pernah dia cium dan sekarang dia buat menangis. Bagaimana caranya untuk mempertanggung jawabkan tindakannya kalau sudah begini? Sambil meletakkan telapak tangannya dirambut Anneke dengan canggung, Noah mencoba untuk membelainya. “Ssssttttt…..kau menangis?”
Sayangnya hal tersebut tidak kunjung membuat wanita itu berhenti menangis. Kemudian dengan satu kali tarikan Noah menggendong wanita itu dan membaringkannya diatas ranjang untuk beristirahat.
Tapi wanita itu malah bersembunyi dibawah gulungan selimut dan tetap melanjutkan tangisannya. Anneke merasa sangat marah, seharusnya dia tidak mengiyakan permintaan nenek.
Sialan! Noah merasa kebingungan dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Rasanya lebih mudah untuk menghancurkan sebuah perusahaan pesaing daripada menenangkan seorang gadis yang sedang menangis. Apa yang salah? Kenapa wanita ini menangis menyedihkan seperti itu? Kemudian tanpa berpikir panjang, Noah mengirimkan pesan dan bertanya pada Levi.
Ting!
‘Apa yang kau lakukan jika kau membuat wanita menangis?’
Ditempat lain, saat Levi membuka pesan itu tentu saja dia sudah langsung mengetahui wanita yang dimaksud adalah nyonya muda. Saat ini dia harus lebih pintar dari sebelumnya jika tidak ingin gajinya dipotong. Lalu apakah bos besarnya baru saja membuat istrinya menangis?
Dia tidak tahu apakah bosnya itu menyukai istrinya atau tidak? Bukankah ini seperti jebakan batman baginya bukan? Ia tidak mau salah menjawab dan gajinya berkurang lagi, sungguh-sungguh tidak adil.
Setelah mempertimbangkan sejenak, Levi menggunakan peruntungannya. ‘Ah semoga saja aku beruntung tidak kena marah.’ bisik hatinya.
Semoga saja langit dan bumi memberkatinya maka ia akan selamat! “Tuan Noah….jika seseorang membuat seorang wanita menangis, maka dia harus memeluknya. Sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.” jawabnya memberi saran yang dia juga tidak tahu apakah itu efektif atau tidak. Dia merasa sangat cemas setelah memberikan saran itu kepada Noah Arsenio.
“Baiklah! Gajimu bulan depan tidak jadi dipotong!” kata Noah membuat asistennya itu langsung melonjak kegirangan. Setelah mendapat jawaban dari asistennya, Noah langsung meletakkan ponselnya dan segera memeluk tubuh gemetar Anneke yang masih saja terus menangis. Sesekali terlihat ia mengusap-usap punggung wanita itu. Dia mencoba untuk menenangkannya.
Bahkan, terdengar pria itu sedikit bersenandung dengan menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang begitu lembut. Hingga beberapa saat kemudian, suara tangisan itu lambat-laun menghilang digantikan dengan suara napas yang terdengar sangat halus. Sungguh, Noah tidak menyangka jika Anneke akan tertidur dalam dekapannya.
Setelah melihat lebih dekat, wanita yang saat ini tertidur itu benar-benar terlihat seperti seorang bayi yang berlindung dalam naungannya. Tidak berapa lama kemudian, Noah pun merasa lelah dan ikut mengistirahatkan tubuhnya yang sudat penat itu didalam kamar yang terasa dingin dengan sepasang suami istri yang saling berpelukan dalam kedamian malam.
...******...
Di pagi hari yang agak dingin dia apartemen The Bright Condominium, burung-burung yang saat ini sedang hinggap di pinggiran balkon kamar untuk menebarkan pesonanya, mendadak dikejutkan oleh suara teriakan seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Wanita itu berteriak sekencang-kencangnya.
Sembari terbang menjauh dari sana, burung-burung itu seakan memanyunkan paruhnya karena mereka harus mencari tempat baru untuk mencari pasangannya.
“Tidaaakkkkkkk!” Anneke bergegas bangkit dari tidurnya setelah menyadari seluruh rangkaian kejadian yang terjadi padanya semalam.
“Brengsek! Brengsek kau Noah! Lihat saja ya akan kuberi pelajari kau!”
Benar! Lelaki itu, bagai seekor siluman rubah tiba-tiba saja datang mengagetkannya sekaligus mengambil keuntungan darinya. “Arrrggggg! Noah brengsek!!!!!!!” Anneke sekali lagi kembali berteriak untuk meluapkan seluruh kekesalan yang sudah beberapa hari ini dipendam. Dia terus saja berteriak marah sambil memukul-mukul sebuah bantal yang berada di pangkuannya.
Setelah puas dengan aksi konyolnya, Anneke kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan suami sialannya itu! Tapi didalam kamar tidur besar itu sama sekali tidak ada jejak keberadaan Noah, suami brengseknya! Kemana perginya laki-laki brengsek sialan itu? Aku akan mencekiknya kalau melihatnya!
Sambil menghela napas panjang, Anneke mencoba untuk menenangkan dirinya sembari melihat kearah balkon yang nampak sepi tak ada siapapun disana. Anneke mengeryitkan keningnya, bahkan seekor burung pun tidak ada disana pagi ini. Ada apa pagi ini? Kenapa hening sekali? Heh? Kemana semua makhluk hidup disana? Kenapa sepi sekali?
Biasanya dipagi hari seperti ini akan banyak burung yang bertengger di pinggiran. Tapi pagi ini rupanya tak ada satupun dari mereka disana. Kemana burung-burung yang penuh warna itu pergi? Berlalu dari sana Anneke mencoba mengarahkan pandangannya kearah lain yang seakan mencuri perhatiannya. Dengan mata mengerjap-ngerjap dia menatap ke sudut kamar itu.