
Disampingnya, Noah mengamati wanita itu dengan sombongnya. Anneke sedang menjelaskan tentang desainnya kepada klien. Sesekali Noah mengamati paras cantik wanita itu dan mulut mungilnya yang terlihat begitu manis!
Cih! Siapa yang menyangka bahwa mulut mungil yang nampak begitu polos itu sangatlah berbahaya. Noah sendiri sampai terheran-heran dibuatnya.
Didalam hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa wanita cantik dengan mulut mungil itu bisa memiliki gigi setajam harimau betina! Memikirkan hal ini membuat Noah sedikit menggelengkan kepalanya seakan tak percaya pada apa yang baru saja terjadi padanya.
Tubuhnya yang selama ini tidak pernah tersentuh benda tajam akhirnya harus koyak ditangan istrinya sendiri.
Anneke menyikut pinggang Noah karena sejak tadi pria itu hanya diam saja tidak menghiraukan pertanyaan yang diajukan Anneke.
“Mengapa kau diam saja? Apa kau merasa kesakitan, hah?” tanya Anneke melirik Noah. Pria itu sangat licik, dengan cepat dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi meringis menahan sakit. Entah bagaimana bisa pria itu pandai berakting.
Dan Noah diam-diam menyunggingkan senyum karena melihat reaksi Anneke yang sepertinya peduli padanya. Noah merasa sedang memenangkan jackpot. Tentu saja sekarang keberuntungan sedang berpihak pada Noah Arsenio karena ia merasa sudah bisa melihat celah kelemahan wanita itu.
“Awwww!” Noah nampak mengaduh kesakitan seakan ingin menunjukkan betapa besar sakitnya.
Semua yang ada diruangan itu menatap kearah Noah. Dia seperti menahan rasa sakit yang dideritanya meskipun sebenarnya dia tidak merasakan sakit sedikitpun.
“Tuan, anda baik-baik saja?” tanya Levi.
“Maaf….maaf ya….” kata Anneke tanpa sadar tangannya terulur kearah kancing atas kemeja Noah.
Dia hanya ingin memastikan luka gigitannya tadi. Karena Noah mengenakan setelan dan memakai dasi, kemungkinan membuat lukanya tergesek pakaian. Ekspresi wajah Anneke terlihat sangat menyesal atas perbuatannya sampai-sampai ia melupakan alasan mengapa dia menggigit Noah. Anneke melepaskan dasi Noah dan pria itu hanya membiarkan saja.
Sedangkan diruangan itu hanya Abner dan Levi saja yang mengetahui hubungan keduanya. Sedangkan yang lainnya menatap kebingungan melihat reaksi Anneke yang sangat berani melepaskan dasi dan kancing kemeja Noah bagian atas. Begitu bagian atas kemeja Noah terbuka, mereka bisa melihat bekas berwarna merah dan luka gigitan.
Ketika dirinya masih mengamati Anneke yang sibuk memperhatikan luka dilehernya, tanpa sengaja Noah melihat kearah leher seputih salju Anneke. ‘Sialan!’ umpat Noah karena harus menahan gairahnya yang tiba-tiba muncul.
Ia tidak menyangka jika dirinya bisa bereaksi secepat itu pada seorang wanita! Dimanakah dirinya yang penuh pengendalian diri sebelumnya?
“Kenapa leher anda bisa terluka tuan?” tanya Ardian yang merupakan rekan kerja Noah yang menangani proyek hotel terbarunya.
“Oh, ini bekas gigitan harimau betina!” jawab Noah sekenanya membuat semua yang ada diruangan itu melotot tak percaya mendengar Noah yang bicara santai seperti itu. Mereka pun menatap Anneke yang sedang meniup leher Noah dan seketika mereka memikirkan hal yang sama.
“Apa kau sudah selesai? Lukanya tidak akan sembuh kalau hanya ditiup saja.” ujar Noah sarkasmes.
Anneke mendongakkan wajahnya dan tatapan mereka bertaut. Saat itulah Anneke menyadari keberadaan mereka dan dengan cepat dia menarik dirinya dan duduk dalam posisi sebelumnya.
“Ehem…..maaf! Kita lanjutkan saja meetingnya.” ucapnya dengan wajah memerah.
“Ditunda saja dulu! Istriku harus mengobati luka dileherku, rasanya sangat sakit dan aku tidak bisa fokus membahas masalah proyek hotel ini. Sebaiknya atur ulang pertemuan selanjutnya di kantorku saja.” ujar Noah. Membuat Ardian dan kedua rekannya membelalakkan mata mendengar perkataan Noah.
‘Istri? Kapan mereka menikah? Kenapa tidak ada pemberitahuan?’ pikir mereka.
“Oh iya, Anneke adalah istriku! Dan dia akan menangani masalah desain interior hotel baru itu! Ayo kita pergi!” ujar Noah langsung menarik tangan Anneke yang sama terkejutnya.
“Eh, Noah! Mau kemana?” Anneke ingin melepaskan tangan Noah namun pria itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat. “Abner tolong lanjutkan saja meetingnya.”
“Eh, tapi----” belum sempat Abner selesai bicara sudah terpotong oleh Noah.
Ternyata Noah menggendongnya, karena takut jatuh tangan Anneke pun langsung melingkar di leher Noah. “Turunkan aku, Noah! Apa yang kamu lakukan?”
“Awww…apa kau mau membunuhku?” ucap Noah karena tangan Anneke yang melingkar dilehernya menyentuh lukanya. Anneke pun langsung tersadar dan hendak melepaskan rangkulannya.
“Pegangan di pundakku saja. Aku tidak akan menjatuhkanmu!”
Noah tersenyum didalam hatinya, baru kali ini dia menggendong Anneke. Pria itu langsung membawa Anneke ke kamar lain yang berada tak jauh dari tempat mereka meeting.
“Ambil kartu kamarnya di saku celanaku! Aku menggendongmu, tidak bisa meraih kartunya.”
“Hah?” Anneke menatap pria itu dengan ragu. Namun saat menyadari di berada dalam gendongan Noah, dia pun melepaskan satu tangannya dan merogoh saku celana Noah.
Saku celana itu agak dalam sehingga Anneke terpaksa memasukkan seluruh tangannya untuk mendapatkan dompet Noah dimana dia menyimpan kartu kamarnya.
Saat dia hendak menarik keluar dompet itu tanpa sengaja jemari Anneke menyentuh sesuatu yang terasa keras. Tangannya terhenti tak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah dia harus menggerakkan tangannya atau diam saja.
Wajah Anneke merona sedangkan Noah menggertakkan rahangnya menahan reaksi yang timbul akibat sentuhan tangan Anneke.
“Kenapa diam saja disitu? Apa kau sengaja menggodaku? Hem?”
“Eh, ti--tidak! Bukan begitu.” dengan cepat dia menarik tangannya dan dia masih merasakan sesuatu yang mengeras itu. Dengan menahan rasa malu, Anneke mengeluarkan kartu dari dompet lalu meletakkannya di scan untuk membuka pintu kamar.
Begitu mereka masuk, Noah menutup pintu dengan kakinya. Tanpa membuang kesempatan dia melemparkan Anneke keatas tempat tidur hingga tubuhnya terpental. “Aduh! Noah! Pelan-pelan dong!”
“Aku masih banyak pekerjaan, cepat obati lukaku!” ujarnya menahan segala rasa yang muncul.
“Tapi….apa disini ada P3K?” sambil bertanya dia membuka tasnya.
Biasanya dia suka membawa medical kit kecil didalam tasnya. Dia mengeluarkannya lalu membuka tutup botol betadin dan plester. “Apa kau mau mengoleskan itu dilukaku?” tanya Noah.
“Nanti kemejaku jadi kotor berwarna merah! Aku tidak mau!” protesnya.
“Ya sudah kalau begitu aku oleskan antibiotik krim saja. Lalu dipasang plester.” ucap Anneke.
Saat dia sudah selesai mengoleskan krim antibiotik dan ingin membubuhkan plester, Noah justru menolaknya. Sesuatu muncul dibenaknya,
“Tidak usah pakai plester! Nanti kulitku rusak?”
‘Heh? Apa-apaan sih dia ini? Kalau tidak dibubuh plester nanti lukanya bergesekan dengan baju jadi tambah sakit! Ah, sudahlah biarkan saja! Biar dia rasain!’ keluh Anneke.
“Apa kau lapar? Mau makan apa? Biar aku pesankan layanan kamar.”
“Terserah! Yang penting enak!” jawab Anneke seadanya, dia memang sudah lapar.
“Ehm…..” Noah pun memesan layanan kamar dan tidak lupa dia memesan wine.