MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 27. MULAI RESAH


“Oh tidak nenek….tidak ada yang sedang kupikirkan.” kilahnya untuk mengelabui sang nenek yang dikiranya tidak berpengalaman itu.


“Ha..ha...ha...ha….Noah sudah pergi sejak tadi pagi, kalau kamu mencarinya.” sang nenek terus tertawa sembari mengajak Anneke untuk duduk disebelahnya. Dia ingin membicarakan rencana fantastisnya yang akan mereka lakukan.


Benar! Saat ini mereka berdua terlihat lebih cocok seperti pasangan ibu dan anak kecilnya yang sangat manis! Nenek tersenyum setelah menceritakan rencananya untuk mengerjai cucu nakalnya itu.


“Bagaimana Keke? Apa kau mau membantu nenek? Kembalilah pada dirimu yang sebenarnya dan buat Noah jatuh cinta dan mengejarmu seperti apa yang kau lakukan selama ini.”


“Nenek, tapi kami sudah menandatangani surat cerai! Aku tidak ingin bersamanya lagi nenek, ijinkan aku meraih kebahagiaanku sendiri. Jangan khawatir nenek akan tetap kuanggap sebagai nenekku dan aku akan selalu datang mengunjungimu. Bagaimana?” Anneke tidak ingin mengikuti kemauan nenek.


“Tapi Anneke! Aku mau Noah berubah, tidak masalah kalau kau tidak mencintainya lagi.”


Nenek berusaha keras membujuk Anneke agar tidak bercerai, dia tidak mau melepaskan wanita itu. Dia sangat menyayangi Anneke dan dia yakin jika Noah bisa berubah jika bersama Anneke. Tapi sepertinya Anneke sudah bertekad tapi dia juga merasa sedih. Setelah memikirkannya sesaat, Anneke pun ingin rasanya membalas dendam pada mantan suaminya itu.


Rasanya akan sangat menarik jika dia bisa membuat pria itu merasakan apa yang dirasakannya selama dua tahun ini. Akhirnya dia mengangguk, “Baiklah nenek. Aku terima penawaran nenek tapi nenek harus pastikan tidak ada yang buka mulut dan mengatakan pada Noah tentang identitasku.” ujar Anneke tersenyum menatap wanita itu.


“Oh Keke…..tenang saja! Aku akan menyuruh seseorang untuk menghapus semua foto-foto aslimu. Sehingga Noah tidak akan pernah tahu wajah aslimu. He he he.” nenek terkekeh membayangkan Anneke mempermainkan cucu nakalnya itu. Setelah selesai sarapan, mereka berdua bergandengan tangan menuju sebuah pusat perbelanjaan di kota X yang sangat terkenal.


Dengan erat sang nenek menggandeng cucu menantunya itu seakan ia sangat bergantung padanya untuk berjalan. Langkah demi langkah mereka lalui, perlahan namun pasti membawa mereka berdua memasuki gedung penuh warna yang telah menantikan kedatangan mereka. Benar, Nyonya Besar sangat menyukai Anneke.


Bahkan rasa sayangnya pada Anneke melebihi rasa sayangnya pada Noah cucu kandungnya sendiri! Tak ada seorang pun yang mengerti kenapa bisa seperti itu. Karena hal seperti itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang sudah pernah merasakan sebuah penyesalan dan rasa kehilangan seperti yang pernah dirasakan oleh Nyonya Besar.


Wanita tua yang telah menghabiskan separuh dari sisa hidupnya dalam sebuah rasa yang disebut dengan kesepian. “Ayo….Keke….coba baju-baju ini. Pasti terlihat sangat cantik kalau kau yang memakainya.” kata sang nenek sembari mengambil beraneka ragam baju cantik yang bergantung disana. Satu demi satu, semua baju telah ditunjuknya.


Dan tanpa persetujuan Anneke, sang nenek telah meminta para karyawan untuk membungkusnya. “Mulai sekarang kau harus memakai barang-barang terbaik!” ucap Nenek tersenyum.


“Iya Nek! Tapi tidak perlu sebanyak ini.” ucap Anneke. Tidak berhenti sampai disitu saja, setelah selesai dengan outlet pakaian yang sebelumnya telah menarik perhatiannya.


Sang nenek berjalan menuju ke shoes store dimana ia akan membeli dan memilihkan sepatu-seaptu manis untuk menantu kesayangannya itu.


“Nenek….aku rasa ini terlalu banyak.” Anneke merasa bingung dengan kelakuan sahabat tua-nya itu. Ia bahkan tidak tahu apakah ia harus senang ataukah sedih dengan semua perlakuan ini.


Saat melihat rona kebahagiaan diwajah Nyonya Besar yang begitu menyayanginya, tiba-tiba sekelebat memori dari kehidupan yang lalu kembali terngiang dikepala Anneke. Saat itu Nyonya besar selalu mendukungnya dalam mengejar Noah. Ia selalu yakin jika Noah pasti akan mencintai Anneke. Tapi tidak semua keinginan kita bisa kita dapatkan.


Pada waktu itu, Nyonya Besar merasa sangat terpukul dan hancur. Hingga ia terkena serangan jantung yang merenggut jiwanya. Mengingat kenangan pahit itu, hati Anneke seketika merasa seperti dicubit, ia begitu sedih.


Sekarang Anneke menyadari bahwa kematian Nyonya Besar di waktu lalu adalah karena dirinya! Dirinya yang selalu melibatkan sang nenek mertua kedalam ke egoisannya untuk mendapatkan Noah!


Kalau begitu, maka kali ini adalah giliran Anneke untuk membahagiakan Nyonya Besar dengan sepenuh hatinya. Meskipun dimasa depan dia tidak lagi menjadi menantu keluarga Arsenio.


Karena itu saat dia jujur menyampaikan soal perceraiannya, dia berusaha bicara dengan kata-kata yang lembut dan tepat agar nenek mertuanya tidak terkejut. untungnya nenek mengerti.


Hatinya senang karena nenek tidak berusaha menahannya tapi malah mengajukan sebuah permintaan gila yang sebenarnya ingin dia tolak namun akhirnya Anneke setuju karena ingin balas dendam.


“Keke...coba lihat! Bagaimana menurutmu?” tanya Nyonya Besar seketika membuyarkan lamunannya.


“Iya nek. Ini bagus sekali.” sahutnya sembari terus menopang pergelangan tangan sang nenek mertua yang terlihat rapuh itu.


Percakapan antara kedua wanita beda generasi itu begitu ringan dan ceria tidak ada kekauan sedikitpun. Hubungan mereka mengalir begitu alami seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir.


Seakan mereka berdua adalah pasangan sahabat yang telah ditakdirkan bersama. Tanpa mereka sadari, disudut lain ruangan itu ada sepasang mata yang terus mengamati interaksi keduanya.


Mata itu begitu kelam dan menyiratkan adanya kebencian yang sangat mendalam dan kecemburuan melihat betapa akrabnya kedua orang itu! Dia merasa marah dan tak suka, kedua tangannya mengepal erat. Ya, dia adalah Kaylee.


Wanita itu tidak menyukai kedekatan Anneke dengan Nyonya Besar. Dia selalu merasa bahwa seharusnya dialah yang dijodohkan dengan Noah.


Bukankah Kaylee lebih tua dari Anneke? Tetapi kakek Liam malah lebih memilih menjodohkan Anneke yang masih terlalu belia!


Bukankah itu tidak adil? Sambil menggeretakkan giginya, Kayle tampak terus memandangi kedua pasangan mertua menantu yang terlihat sangat bahagia itu. Sekilas muncul rasa iri didalam dadanya yang mulai tersulut oleh pemandangan didepannya.


Rasa iri yang hanya dirasakan oleh Kaylee atas semua keberuntungan yang diperolah Anneke didalam kehidupannya. Benar, sejak kecil Kaylee selalu menjadi nomor dua dan selalu hidup dalam bayang-bayang sepupu polosnya itu. Tetapi siapa yang menyangka jika ia akan mampu mengelabui Anneke dengan begitu  mudahnya?


Cih! Dia terus memandang tajam kearah Anneke berada. Otaknya seakan sedang berputar berusaha mencari cara untuk menghancurkan wanita itu dimasa yang akan datang.


Rasa iri dan dengki memenuhi hatinya, dia menginginkan semua yang dimiliki Anneke. Kaylee ingin hanya menjadi satu-satunya cucu keluarga Runako.