
Noah sudah membuatnya tidak bekerja sedangkan banyak desain yang harus dikerjakannya.
“Noah, kau juga keterlaluan bukan? Kau memberiku kontrak kerjasama proyek hotelmu tapi nyatanya kau menjebakku? Kau memang memberi harga tinggi untuk desainku tapi itu semua tidak sesuai dengan apa yang kau tuntut dariku! Kau harus membayar lebih! Termasuk untuk hari ini.”
“Oh ya? Bukankah itu bagian dari pekerjaan dan perjanjian kerjasama? Kita bekerja bersama dan akan menghabiskan banyak waktu bersama. Daripada membuang waktu pergi keluar untuk makan, bukankah lebih efisien kita makan dikantorku? Harusnya kau sudah memikirkan itu dan mempertimbangkannya. Aku akan menyediakan bahan makanan untuk kau masak.”
“Tidak! Aku bukan tukang masakmu! Aku tidak akan melakukan itu, aku akan memesan katering! Atau aku pergi ke restoran untuk makan siang! Aku sibuk! Kalau kau mau makan masakan rumahan, kau suruh saja kokimu yang memasak!” Anneke tidak mau mengalah begitu saja.
“Ingat ya Noah! Mungkin kita belum bercerai! Tapi hubungan kita tidak sedekat itu!”
“Begitu ya? Tapi kau masih tetap istri sahku! Kalau aku meminta hak ku sebagai suami maka kau harus menjalankan kewajibanmu! Termasuk kalau aku mau ditemani tidur.” ucap Noah tersenyum.
“Tidak! Tidak bisa begitu! Kau panggil saja Shelly atau siapapun itu menemanimu tidur! Aku tidak mau! Kalau kau mau makan, beli saja sendiri!”
“Ckckck! Anneke…..Anneke…..istri seperti apa kau ini hah? Menyuruh suamimu dengan wanita lain? Apa kau yakin? Kau tidak lupa bukan bagaimana reaksimu setiap kali kau melihatku ditemani wanita lain? Atau jangan-jangan kau…..”
“Cukup! Aku tidak mau mendengar perkataanmu lagi! Aku tidak peduli kau mau bersama wanita mana!” ujar Anneke menatap tajam pada Noah.
Noah memandang wanita didepannya yang sedang memprotesnya dengan marah, dia hanya bisa tersenyum. Dia benar-benar tidak menyangka betapa bodohnya istrinya itu.
Kenapa dia harus merubah wajahnya jadi jelek sehingga dia tidak tahu rupa asli istrinya? Tidak mungkin dia membawa Anneke ke pertemuan sosial dengan penampilan jeleknya dulu.
“Baiklah! Kalau memang itu mau mu. Jangan salahkan aku dan jangan pernah memprotes karena itu permintaanmu! Soal ganti rugi, katakan berapa yang harus kubayar? Aku hanya memelukmu saja jadi tidak mungkin mahal bukan?”
“Brengsek kau Noah! Kau pikir aku ini wanita apa? Aku tidak butuh uangmu!”
“Loh, bukannya tadi kau yang minta ganti rugi untuk waktumu?” Noah tersenyum lagi.
“Bukan….bukan begitu maksudku!” Anneke pun tak tahu harus mengatakan apa. Dia terdiam, karena dia kembali terjebak. Tidak! Tidak! Dia tidak boleh masuk dalam jebakan Noah lagi.
“Noah, karena kau sudah membuang waktuku dan apa yang kau lakukan tadi, maka kau harus membayar ganti rugi atas waktuku! Karena ulahmu, pekerjaanku jadi terbengkalai!”
“Oh iya, kau memberiku tenggak waktu untuk menyelesaikan desainku! Aku juga punya pekerjaan lain yang deadline sudah ditentukan oleh klienku! Beberapa jam waktu hari ini terbuang sia-sia! Jika aku tidak bisa menyelesaikan desain itu sesuai deadline, maka klien ku dan pasti kau juga akan menuntutku! Ini bukan kesalahanku tapi salahmu! Jadi kau harus membayar ganti rugi!”
Noah diam mendengarkan penjelasan Anneke, dia pun berpikir bahwa apa yang dikatakan Anneke itu benar. Dia harus segera menyelesaikan proyek hotel barunya dan proyek lain. Baiklah, anggap saja kali ini dia membujuk istri nakalnya itu.
Lalu dia mengangguk, “Baiklah! Aku akan membayar ganti rugi! Aku akan mentransfernya ke rekeningmu nanti.”
‘Apa? Dia setuju? Tapi….tunggu dulu! Aku harus memberitahu harga yang harus dibayarnya!’
“Oke, baguslah kalau begitu! Dan ganti ruginya sebesar….”
Merasa terkejut dan tidak yakin dengan jumlah uang yang diterimanya, Anneke menghitung jumlah angka nol yang muncul dilayarnya dengan jarinya. Noah tersenyum melihat tingkah istrinya itu yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
‘Andai aku tahu dia sebegitu menggemaskan, mungkin kami sudah punya dua orang anak sekarang!’ pikirnya. ‘Tapi belum terlambat, satu anak juga oke.’
“Noah….?”
“Kenapa? Apa kurang? Berapa yang kau inginkan?” tanya Noah memandang ekspresi wajah Anneke.
“Ini serius? Kau baru saja mentransfer uang sebanyak ini padaku?” Anneke benar-benar kaget.
“Ya, anggap saja kelebihan uang itu sebagai uang saku dari suamimu.” ucap Noah mengedipkan sebelah matanya menggoda Anneke. “Apa ada yang salah?”
‘Sialan! Kenapa dia menggodaku terus? Uang saku katanya? Sebanyak ini? Padahal aku tadi ingin meminta ganti rugi sebesar dua ratus juta. Tapi dia malah mentransfer satu milyar?’
“Oh uang saku? Cih! Orang sekaya dirimu, hanya memberi delapan ratus juta untuk uang saku? Ternyata kau tidak sekaya itu! Yah, mungkin kau terlalu banyak menghamburkan uang untuk wanitamu diluar sana!” sindir Anneke.
‘Uang saku? Hanya delapan ratus juta? Cih! Uang segitu juga aku punya bahkan lebih! Kalau mau memberi uang saku itu jangan tanggung-tanggun!’ geramnya dalam hati.
Ting!
Ponselnya kembali berbunyi dan Anneke melihat ada transferan masuk ke rekeningnya lagi. Dia pun mengklik dan melihat kalau Noah baru saja mengiriminya uang sejumlah dua milyar.
Mendadak dia ingin tertawa senang namun dia tidak mau memperlihatkannya. Anneke malah mengerutkan kedua alisnya dan mendengus menatap sinis pada Noah.
“Ayahku bahkan memberiku uang saku lebih dari ini! Buat apa punya suami kaya raya kalau cuma bisa memberi uang saku sedikit!”
Perkataan Anneke entah mengapa tidak membuat Noah marah.
“Aku bahkan tidak pernah mendapat hadiah apapun darimu selama dua tahun ini! Tapi kau malah memberikan banyak hadiah pada Shelly! Kenapa tidak kau suruh saja Shelly yang melayani kebutuhanmu setiap hari? Kan dia sudah menerima bayaran? Enak ya dapat bayaran tanpa melakukan apa-apa! Sementara istri, tidak dapat apa-apa.”
Noah hanya mendengarkan sambil memandang Anneke, sedangkan tangannya terus memutar-mutar kunci dijarinya sambil bersandari di dinging. Dia memperhatikan istri kecilnya itu yang sedang marah-marah! Benar-benar sangat manis!
“Baiklah! Aku akan memberimu uang tambahan nanti. Aku juga akan memberimu banyak hadiah! Setelah itu kau bisa melakukan tugas utamamu sebagai istri!”
Noah tak mau kalah, dia kan menggunakan cara ini untuk bernegosiasi denga/n Anneke. Meskipun langit dan bumi tidak mengetahui rencananya, tapi dialah yang menentukan. Dia tidak akan bisa menjadi pebisnis nomor satu dan pria paling kaya kalau dia tidak pintar!
“Apa katamu? Tugas utama? Kau! Apa maksudmu tugas utama? Noah…..jangan macam-macam ya!”
Jari telunjuk Anneke kembali mengarah kewajah pria itu namun segera diturunkannya. Tak mau Noah menggigit jarinya lagi.