
Anneke berada dikantornya saat Levi menghubunginya karena Noah memintanya segera datang ke kantornya. Setelah dua menit berlari menyeberangi jalan, Anneke akhirnya sampai di pintu lift dengan terengah-engah sampai keringat menetes didahinya. Dia bergegas menekan tombol lift mengarah ke ruang CEO dan tanpa menunggu lama pintu lift terbuka.
Sembari mengatur napas yang sedikit tersengal-sengal, ia mundur ke belakang memberi ruang pada karyawan pria yang masuk ke lift.
“Hei apa kalian sudah mendengar kegemparan hari ini?” ujar pria berdasi hitam menyenggol lengan kawannya.
“Memangnya apa yang sedang terjadi?” tanya pria satunya yang menoleh dengan tatapan penasaran.
“Hari ini CEO sedang mengadakan rapat dengan departemen desain. Dan CEO mengumumkan bahwa semua karyawan harus bertemu dengan sekretarisnya. Tidak bisa lagi langsung bertemu dengannya sesuka hati. Hanya jika ada hal penting atau urgent saja mereka boleh diizinkan memasuki ruang kerjanya dan bertemu dengannya.”
“Benarkah? Kenapa bisa begitu? Kalau kita ada masalah dengan pekerjaan atau ada dokumen yang harus diperiksa olehnya bagaimana?” tanya pria berdasi coklat.
“Harus menyerahkan kepada sekretarisnya. Jika dia menyetujui untuk bertemu maka baru boleh menemuinya di ruang kerjanya.” jawab rekannya.
“Kenapa tiba-tiba dia merubah peraturan? Lalu bagaimana dengan Manajer Jesica? Bukankah selama ini dia selalu makan siang bersama CEO? Dia bahkan pulang malam menunggu CEO menyelesaikan pekerjaannya.”
“Tidak terkecuali! Dan CEO bahkan memberi penegasan pada Jesica! Sepertinya dia marah padanya karena CEO bilang kalau Manajer Jesica sudah menyebarkan gosip dan tidak menghormati istrinya.”
“Ckckck! Sudah kuduga, pasti Manajer Jesica selama ini hanya pihak ketiga! Aihhhh pasti dia malu sekali tadi ya ditegur dihadapan semua orang!”
“Ya benar! Wajahnya memerah dan dia tidak banyak bicara. Atau jangan-jangan apa yang digosipkan selama ini tidak benar? Apa mungkin semua hanya cerita bohongan saja?”
“Mungkin juga! Tapi mana kita tahu siapa yang berbohong? Tidak mungkin manajer Jesica mengarang kebohongan seperti itu?”
“Kalau bukan dia lalu siapa? Oh iya, dengar-dengar katanya peraturan baru ini dibuat oleh Nyonya! Karena dia mendengar karyawan wanita sering mencari alasan untuk bisa masuk keruangan CEO!”
“Oh begitu ya? Wah, sepertinya seru ini!” ketiga karyawan pria itu menggosip tanpa menyadari keberadaan Anneke disana.
Ting!
Pintu lift terbuka dan ketiga pria itu bergegas keluar dari lift meninggalkan Anneke yang terdiak dipojokan dengan wajah penuh tanda tanya. Manajer Jesica dimarahi Noah didepan semua orang?
Lift karyawan terbuka didepan kantor Noah yang langsung memperlihatkan ruang kerja dibalik kaca itu kosong. Tidak ada siapapun disana! Apa Noah masih diruang meeting?
Saat pintu lift hendak tertutup kembali, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal pintunya. Anneke melihat sebuah telapak tangan besar memegang pintu itu hingga lift yang dinaikinya terbuka kembali dan menampilkan sosok Noah. Anneke mendengus dan tak mau melihat wajah pria itu. Dengan cepat dia menekan tombol lagi agar pintu segera tertutup.
Tapi Noah lebih cepat menahan dengan kakinya berada diantara lintu sehingga lift tidak merespon. Sedangkan tindakan Anneke yang berusaha menghindari tatapan matanya, membuat hati Noah merasa tidak nyaman. Dia langsung menarik Anneke dengan lengannya yang kuat.
“Lepaskan! Noah! Lepaskan aku dulu! Ada apa kau memanggilku kesini? Aku banyak pekerjaan dikantorku!”
Anneke berusaha melepaskan diri namun lengan itu tetap saja menariknya dan membawanya kedalam ruangannya. Dengan sedikit memberontak Anneke ingin melepaskan diri.
Namun lengan itu terus memaksanya hingga dia tidak bisa menolak lagi. Sesampainya diruangan itu, Anneke terus memalingkan wajahnya dan tak mau memandang Noah.
Panik setelah mendengar ucapan Levi tadi membuatnya terburu-buru segera datang kesana.
Dia meninggalkan pekerjaannya, saat Levi meneleponnya tadi dia sedang membuat desain perhiasan pesanan klien pertamanya. Itu adalah desain untuk set perhiasan yang akan dipakai untuk acara pernikahan.
Namun gara-gara ulah Noah, dia pun terpaksa meninggalkan kerjaan. Meskipun tempo hari Noah memberinya ganti rugi atas waktunya yang terbuang namun dia tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi.
Dia harus fokus pada perusahaan barunya. Ruangan itu sepi, Noah menutup tirai vertical blind sehingga tidak ada yang bisa melihat kedalam. Dia mendudukkan Anneke di sofa, dia tahu wanita itu sedang marah padanya.
Melihat ekspresi wajah Anneke itu entah mengapa mampu mengusik hatinya yang mulai menghangat! Dia merasakan kehangatan dari kemarahan seorang istri.
Dia mencoba membelai rambut Anneke, belaian lembut yang menenangkan sembari memutar-mutar untaian rambut panjang wanita itu hanya sekedar untuk bermain.
Dia merasa nyaman menyentuh rambut yang halus itu. Beberapa menit berlalu, Anneke masih diam tak bergeming sedikitpun. Didalam hatinya Noah merasa bingung.
Dia lebih menyukai Anneke yang marah-marah mengumpat dan memakinya ketimbang didiamkan seperti ini. Noah menyadari kalau dia memang salah sudah menyuruh Levi berbohong dengan mengatakan kalau dia tiba-tiba sakit.
“Hey, apa kau mau permen?” spontan Noah memikirkan hal itu.
Anneke seakan tak percaya apa yang baru didengarnya.
Apakah dia dianggap anak kecil yang bisa disogok dengan permen? Atau Noah memang menganggapnya seperti anak kecil? Makanya pria itu selalu mempermainkannya?
“Huuuuh!” Anneke mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya.
“Atau mau es krim? Mau yang coklat? Vanilla? Strawberry?” Noah kembali mendapat ide baru. Sepertinya ide ini lebih bagus karena semua wanita suka es krim.
Mendengar kata es krim, Anneke malah memikirkan hal lain. Dia salah mengartikan kata itu. ‘Oh rupanya pria ini suka melakukan itu? Pasti waktu dia bilang dia tidak pernah menyentuh wanita manapun, itu karena dia suka gaya es krim bukan? Pantas saja dikehidupan dulu Noah sangat menyukai es krim. Apakah pria itu menyukai gaya menjijikkan seperti itu? Cih!’
“Jadi bukan es krim? Hmmm…..coklat ya?” bujuk Noah lagi namun Anneke tetap saja diam.
“Kenapa kau tidak mau bicara? Aku salah apalagi padamu?”
“Oh jadi kau tidak sadar kesalahan apa yang sudah kau lakukan hari ini?” Anneke berdecak kesal.
“Aku tidak tahu! Coba katakan padaku, mungkin aku lupa atau---”
“Cih! Lupa? Apa orang bisa lupa hanya dalam hitungan menit?” desis Anneke lagi. “Noah! Aku tidak bisa meladeninmu setiap hari dengan semua permainan ini! Aku banyak pekerjaan.”
“Apa maksudmu? Aku bingung, aku tidak tahu sama sekali!”
“Levi meneleponku dan mengatakan kalau kau tiba-tiba sakit! Dia bilang kalau kau menyuruhnya meneleponku agar segera datang kesini. Tapi apa? Kau baik-baik saja! Aku dengar dari karyawanmu kalau kau baru selesai meeting! Lupa?” Anneke mendelikkan matanya.