
“Sudah….sudah! Sekarang datanglah kerestoran The Palace. Semua orang sudah menunggumu disini. Bukankah hari ini ulang tahunmu?” kata sang ibu tergesa-gesa karena dia sudah mengundang banyak orang tetapi putrinya itu belum datang juga karena terlena pada pesona seorang pria yang ditunggunya setiap hari hingga putrinya rela lembur.
Sejak bertahun-tahun Jesica memendam perasaannya pada Noah dan hanya bisa mengaguminya dari jauh. Dia tahu kalau Noah tidak menyukai wanita yang sederhana, semua wanita yang selalu berada disisi pria itu adalah wanita cantik, para model ataupun aktris terkenal.
Sedangkan dia tidak seglamor itu. Wajahnya cantik tapi tidak secantik para model dan aktris yang biasa mendampingi Noah. Ya, biasanya Noah membawa woman companion di acara sosial. Hal itu biasa dilakukan para pebisnis pada umumnya.
Dan itu menjadi salah satu alasan manajer Jesica Malory tidak berani menunjukkan perasaannya pada pria itu karena dia merasa minder dengan dirinya. Ia sungguh berharap suatu hari semua pengorbanan yang dilakukannya selama beberapa tahun ini membuahkan hasil.
Meskipun sekarang ternyata dia baru mengetahui kalau pria itu sudah menikah. Yang membuatnya sedikit menyesal karena lamban bertindak, tapi kali ini Jesica Malory tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Dia akan mendapatkan pria yang dicintainya bagaimanapun caranya. Jika perlu dia menyingkirkan istri pria itu dan wanita lainnya.
Jesica mengingat perjuangannya selama ini membangun citra dirinya dan karir hingga bisa mencapai posisi manajer departemen perencanaan.
Semua kerja kerasnya membuahkan hasilnya dan sekarang rencananya itu perlahan-lahan akan segera terwujud. Dia berpikir mungkin para model dan aktris itu memang lebih cantik dan seksinya daripada dia, tapi dia memiliki otak yang cerdas.
Bukankah pria sukses dan kaya selalu menyukai wanita cerdas? Memikirkan itu sebuah senyum terlukis diwajahnya yang lumayan cantik. Namun saat dia mengingat seorang wanita cantik yang memiliki perusahaan tak jauh dari perusahaan tempatnya kerja, dia kembali merasa resah. Tapi tidak masalah, tidak ada hambatan yang tidak bisa disingkirkan, bukan?
Jesica bergegas mengambil tasnya dan berjalan menuju ke lift. Saat dia sudah sampai di lantai dasar, dia melirik kearah lift khusu CEO yang dijaga beberapa sekurit termasuk Levi yang duduk dikursi dengan lemas.
‘Ada apa ya? Kenapa tiba-tiba lift dijaga begitu ketat?’ bisik hatinya sembari melangkah untuk mencari tahu apa yang terjadi disana. Tidak biasanya lift khusus dijaga seketat itu.
Dia mengingat sore tadi dia ke lantai atas untuk mengantarkan dokumen namun dicegah beberapa pengawal yang menutup akses kesana. Sehingga dia hanya bisa menyerahkan dokumen itu pada sekretarisnya saja.
Dengan rasa penasarannya, dia ingin bertanya namun segera mengurungkan niatnya karena tidak ingin ada yang salah paham padanya.
“Selamat sore, asisten Levi.” sapanya pada pria itu.
“Selamat sore juga Jesica.” Levi segera menegakkan tubuhnya setelah mendengar sapaan wanita itu. Dia mengerutkan dahinya menatap wanita itu dengan heran.
Sudah sekian lama dia melihat wanita itu selalu pulang malam dan terlihat sangat sibuk dikantornya. Padahal saat jam kerja usai, seluruh karyawan sudah pulang duluan.
Kenapa wanita itu selalu pulang malam dan lembur? Apalagi akhir-akhir ini, dia pernah melihat Jesica bahkan pulang jam sembilan malam. Memang perusahaan sedang menangani banyak proyek besar tapi tidak ada seorang karyawanpun yang lembur.
Tapi sejak siang tadi atasannya itu menyuruh menutup akses ke lantai atas tanpa memberitahukan apa-apa lagi. Apakah dia akan tinggal di kantor malam ini? Atau pulang ke apartemen?
Levi mau tak mau pun harus menunggu disana. ‘Apa yang sedang dilakukan Tuan Noah sekarang? Apa dia dan nyonya….?’ batinnya menjerit. ‘Apakah Tuan Noah ingin membujuk nyonya? Ah, pantas saja sudah beberapa hari ini Shelly tidak nampak muncul dihadapannya.’ Model cantik itu sedang berada di luar negeri untuk pemotretan dalam rangka peluncuran produk baru perusahaan Arsenio.
Ya, Noah memang sudah mengatur semuanya. Dia sengaja mengirimkan Shelly ke luar negeri untuk pemotretan dan promosi produk terbaru perusahannya. Bukan cuma itu saja. Noah membuat Shelly terikat kontrak dengan perusahaannya di luar negeri sehingga wanita itu tidak akan bisa kembali untuk waktu yang cukup lama. Dia tidak mau Shelly mengganggu istrinya.
Sementara itu di kamar CEO, samar-samar terdengar suara napas yang mengalun lembut dan saling bersahutan dari atas kasur yang sangat besar dan nyaman disana. Pantulan cahaya lampu dari gedung-gedung dibawahnya menyinari ruangan itu dan memberikan nuansa temaram yang romantis. Tampak diatas tempat tidur dua insan tidak sengaja tertidur bersama disana.
Waktu telah berlalu dan malam semakin larut, perlahan-lahan Anneke yang sudah tertidur cukup lama membuka matanya dan mendapati suasana sekitarnya yang aneh. Sepertinya ini bukan kamar tidur di apartemennya, ini juga bukan apartemen Noah. Dimana dia berada sekarang? Dia merasakan paha dan perutnya terasa berat seolah ditindih batu besar.
Kesadarannya pun pulih sepenuhnya, kenapa tubuhnya terasa berat sekali? Mengapa dia merasakan ada yang menekannya? Dia pun bergerak dan mendapati satu tangan dan satu kaki yang menempel di tubuhnya.
Itu adalah tangan dan kaki seorang pria yang masih memakai setelan kerja. Dia mencium aroma maskulin yang familiar. Tunggu……tangan ini? Kaki ini?
Ya dia mengenali aroma itu karena bukan parfum sembarangan yang mudah didapatkan di luaran sana. Ini adalah parfum limited edition yang dipesan khusus oleh pria itu.
“Brengsek! Noah, bangun!” teriaknya menoleh kearah belakang dan melihat pria itu tertidur. Sama seperti kejadian lainnya, dia merasa tertipu sehingga dia mulai memukuli lengan dan menendang kaki besar itu.
Anneke terus meronta dan menendang kaki yang sangat kuat mengaitnnya itu. “Noah! Lepaskan! Aku tidak bisa bernapas, kaki dan tanganmu berat sekali! Singkirkan tanganmu dari perutku! Aku tidak mau kau menyentuhku! Apa kau bisa mendengarku Noah?” tangan kecilnya berusaha mendorong Noah. Sentuhan tangan Noah di perutnya membuatnya meremang dan dia tidak menyukai itu.
Mereka sekarang tidak berada dalam pernikahan yang bahagia dan seharusnya tidak berada dalam posisi seperti itu. Dia terus mencoba melepaskan diri, tenaganya tidak cukup kuat karena Noah malah semakin memeluknya erat.
‘Apa suaminya itu terbuat dari batu? Kenapa keras sekali? Tubuhnya juga berat!’ gumamnya dalam hati. Dia masih mengingat malam itu, malam dimana kesuciannya direnggut.
Noah benar-benar pria yang sangat kuat. Anneke masih mengingat bagaimana malam itu pria itu terus memacunya tanpa lelah. Dia bahkan sampai kelelahan dan tertidur, meskipun malam itu dia tertidur namun dia masih bisa merasakan pergerakan Noah diatas tubuhnya hingga menjelang pagi. Gila! Pria ini benar-benar berbahaya dan dia harus menjauhinya.
“Diamlah! Aku masih mengantuk.” Noah berkata lirih karena merasa terganggu tidurnya. Mendengar suara itu membuat Anneke mendengus kesal tapi dia tidak mau mendengarnya.
Memangnya Noah itu siapa? Berani-beraninya memerintahnya! Didalam hatinya Anneke merutuki kebodohannya yang menyetujui permintaan kakek dan ayahnya untuk mendapatkan proyek dengan perusahaan Noah.