MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 82. MENGHUKUMNYA


Dengan mata menyala-nyala, wanita itu melampiaskan semua amarahnya. Dengan gerakan amatiran dia mencoba mencari kancing baju Noah dan berusaha membukanya.


Namun dia agak kesulitan membuka kancing-kancing itu. Sambil mengeryitkan dahinya Noah merasa tidak sabar. Dia tidak sabar melihat jari lentik Anneke kesulitan melepas kancing kemejanya.


Noah ingin membantu namun dia menyadari kedua tangannya sudah diikat sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menyesali kenapa dia memakai setelah itu. Andai dia memakai baju kasual tadi pasti Anneke tidak akan kesulitan membukanya.


‘Tunggu…..tunggu…..kenapa dia mengikatku seperti ini? Jika dia menginginkannya bukankah lebih baik aku yang memimpin? Apa dia ingin memimpin permainan kali ini?’


Pikiran Noah sudah berselancar kemana-mana, sudut bibirnya terangkat. Dia merasa tertarik karena dia pikir istrinya berinisiatif kali ini untuk memimpin permainan.


“Ehemmmm….Anneke. Bukan begitu cara melepaskannya.” ucap Noah yang terlihat frustasi dengan cara Anneke itu berlama-lama membuka kancing kemejanya. Namun dengan tangan terikat dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Diam! Aku bilang diam! Hei Noah….dengarkan baik-baik ya. Tidak hanya kau saja yang bisa mengancamku dan berbuat hal tidak senonoh padaku. Camkan ini! Aku juga bisa berbuat mesum padamu dan memperkosamu saat ini juga! Apakah kau mengerti?” Anneke menggertakkan giginya. Noah tersenyum dan merasa wanita itu menggemaskan.


Tiba-tiba Anneke meremas pantat Noah dengan keras. ‘Apa-apaan ini? Apakah dia ingin membalas dendam padaku? Apa dia ingin membalasnya dengan memperkosaku?’ gumam hatinya.


Sebagai seorang pria, Noah sama sekali tidak keberatan diperkosa oleh wanita secantik Anneke apalagi wanita itu adalah istrinya sendiri. Baginya ini bahkan sangat menarik.


‘Lagipula aku tidak memaksanya untuk melakukan itu! Dia sendiri yang menyerahkan diri begitu saja. Hehehe…..sangat menarik wanita ini! Dia berani sekali ingin memperkosaku! Hahaha…..tidak masalah Anneke! Aku juga senang kalau kau perkosa!’ pikir Noah. Senyum mengembang dibibirnya yang sudah tidak tahan lagi dengan godaan dari Anneke.


Anneke semakin bersemangat, dengan sengaja dia menggoyang-goyangkan pinggulnya. Dia yang sedang duduk diatas Noah tahu kalau dia duduk tepat di daerah sensitif pria itu. Hal itu sontak membuat Noah pun bereaksi dan mendesah. Dia merasakan celananya semakin sesak dan Noah sudah tidak tahan lagi saat Anneke terus bergoyang.


“Anneke……bisakah kau membuka celanaku? Aku merasa sesak!” ucap Noah dengan tatapan mata yang sudah dipenuhi gairah. Melihat itu Anneke semakin bertindak berani, dia sudah berhasil membuka semua kancing kemeja Noah.


Dan langsung mengelus-elus dada bidang pria itu. Hal itu membuat Noah semakin tak tahan. Sentuhan tangan Anneke dan gerakan pinggulnya membuat kepala Noah rasanya ingin meledak.


“Oh…..kau mau dibukakan juga ya celananya? Baiklah…..tidak masalah.” Anneke turun dari atas tubuh Noah dan melepaskan celana pria itu dengan menjauhkan pandangannya.


Setelah celana panjang pria itu sudah lepas, Anneke kembali naik keatas tubuh Noah dan mengulangi perbuatannya. Dia bahkan dengan berani menciumi dada bidang Noah.


Setelah sekian lama Anneke melakukan itu, menggoda dan merangsang Noah setelah dia melihat gairah Noah sudah memuncak dengan ringannya dan tanpa rasa bersalah dia turun dari atas tubuh Noah.


Dengan senyum diwajahnya menatap Noah yang sudah berada dipuncak gairahnya. “Tunggu disini sebentar ya…..aku ambilkan makanan dulu. Kau pasti belum makan, iyakan?” ucap Anneke tanpa menunggu jawaban Noah, dia langsung keluar dari kamar. Noah merasakan sakit kepala, dia merasa sedikit kesal karena Anneke berhenti saat dia sedang menikmati sentuhan wanita itu.


Setelah sekian lama, Anneke kembali ke kamar sambil membawa makanan. Dia kembali naik ke atas tubuh Noah dan berkata, “Kau harus makan dulu, Noah! Nanti tenagamu tidak kuat melakukannya dengan perut kosong. Biar aku suapi ya.” ucap Anneke lalu mulai menyuapi Noah. Melihat itu, Noah berpikir kalau ini mungkin bagian dari cara istrinya itu menggodanya.


“Anneke! Kau mau kemana? Letakkan saja piringnya dimeja.” ucap Noah yang agak geram dengan tingkah istrinya itu.


“Oh Noah, bagaimana bisa aku konsentrasi kalau ada bau makanan dikamar ini! Biar aku letakkan dulu piringnya di dapur. Aku akan segera kembali.” ucapnya lalu menyodorkan gelas berisi air minum pada Noah.


Setelah itu dia keluar dari kamar membawa piring kosong. Dengan senyum lebar dan menahan tawanya Anneke membasuh piring itu. Setelahnya dia pun menuju ke kamar yang berada disebelah kamar utama.


Anneke melepaskan semua pakaiannya dan melangkah ke kamar mandi. Dia merasa sangat lelah setelah menghabiskan seharian diluar bersama Nesha. Dia mengisi bak mandi lalu meneteskan minyak aromatherapy. Dia merendam tubuhnya dan menikmati sesi mandinya tanpa memikirkan Noah yang terikat di tempat tidur di kamar utama.


“Hahahaahaha…….memangnya enak ya dikerjain? Hahahaha…..pasti dia akan marah besar besok! Aku tidak peduli….hahahaha…..dia sudah benar-benar terangsang dan aku meninggalkannya disana. Mampus kau Noah! Aku juga bisa membalasmu.” Anneke tertawa terbahak-bahak. Dia merasa puas karena bisa membalas Noah kali ini.


Keesokan harinya di kamar yang berukuran besar yang dipenuhi aroma lavender samar-samar terdengar suara orang merintih memelas belas kasihan. Bahkan sekilas suara itu terdengar begitu menyedihkan….!


“Anneke……kumohon bangunlah! Anneke…….tolong lepaskan aku!” samar-samar suara itu terdengar kembali, lirih….sangat lirih.


Namun sayangnya meskipun dia telah memohon berkali-kali tapi orang yang sejak semalam mengerjainya tak kunjung bangun dari mimpinya. Entah apa yang dipikirkan istrinya itu sampai-sampai dia tertidur begitu pulas dan tak mendengar panggilannya. Ini pertama kalinya Noah mengalami hal sekonyol ini sepanjang hidupnya.


Sambil menahan rasa kesemutan yang begitu menyiksa, sekilas Noah menertawakan dirinya sendiri saat dia teringat kejadian semalam. Sebenarnya semalam setelah kemeja dan celana panjangnya sudah dilucuti Anneke, Noah merasa sudah tidak sabar ingin cepat-cepat dinodai oleh istrinya itu. Namun dia menunggu dan terus menunggu namun Anneke tidak muncul.


Dia sampai bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan wanita itu didapur sampai begitu lama. Kemudian dia membuka matanya dan masih tidak melihat wanita itu kembali ke kamar utama.


Saat tengah malam barulah Anneke datang untuk memeriksa Noah dan kembali menggodanya. Anneke melakukan hal yang lebih ekstrem dari sebelumnya.


Membuat Noah memohon-mohon agar segera dinodai istrinya namun Anneke mengacuhkan dan terus saja menyiksa pria itu dengan sentuhan dan gerakannya diatas tubuh Noah sampai pria itu tidak tahan lagi merasakan sakit dikepalanya. Setiap kali dia hampir mencapai puncak, maka saat itu juga Anneke akan berhenti dan meninggalkan Noah begitu saja.


Hal itu terjadi berulang-ulang sampai membuat Noah lemas dan tak berdaya dengan siksaan itu. Dia bahkan melihat Anneke bahkan sudah tertidur disampingnya dengan suara dengkuran halus.


Tak mempedulikan betapa tersiksa dan menderitanya Noah menahan gairah itu semalaman. Frustasi? Ya Noah benar-benar merasa frustasi!


Anneke sudah dengan sengaja menyalakan api gairahnya namun tidak sanggup mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia pun memberi julukan baru pada istrinya itu, sebagai wanita terkejam di duia!


Noah tidak menyangka jika istrinya itu benar-benar sanggup menghukumnya sampai ke ubun-ubun. Dia sangat tersiksa!