
Tiba-tiba alarm diatas nakas berbunyi saat Noah tenggelam dalam pikirannya. Dia melirik kearah jam berwarna putih itu dan melihat kalau sudah pukul enam pagi dan sudah waktunya untuk bersiap-siap.
“Anneke….ayolah….Anneke….bangun! Apa saja yang kau mimpikan? Cepat bangun! Ini sudah siang dan aku ada perjalanan bisnis keluar kota. Apa kau lupa?” Noah kembali berusaha membangunkan istrinya.
Namun suara Noah sama sekali tidak mempengaruhi Anneke yang tertidur sangat pulas. “Anneke! Kau dengar tidak?” sekali lagi Noah berusaha membangunkan wanita itu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya sendiri dengan keras agar Anneke yang berada disampingnya terbangun. Namun tetap saja wanita itu tak bergeming hanya suara kecil keluar dari bibirnya.
“Emmmm…..” akhirnya suara Anneke terdengar setelah Noah berusaha sekian lama. Anneke mngusap mulutnya dengan telapak tangan lalu kembali menutup matanya. Bahkan dia memeluk tubuh Noah dan mengaitkan kakinya keatas tubuh pria itu seperti bayi koala yang mencari kehangatan induknya.
“Anneke! Bangun!” dengan sisa tenaganya Noah berteriak kencang.
Seketika mata wanita itu terbuka lebar, “Berisik! Ada apa sih teriak-teriak pagi-pagi?” Anneke mengusap matanya sambil tetap memeluk Noah dengan tak berdosa.
“Kau masih bisa bertanya apa?” Noah jengkel mendengar perkataan Anneke yang merasa tidak bersalah sama sekali. Dia tidak mau berdebat dengan istrinya itu. “Cepat buka ikatanku!”
‘Ikatan? Ikatan apa?’ Anneke merasa kebingungan dengan perkataan Noah. Akhirnya dia bergeser dan melepaskan pelukannya. Lalu dia duduk dan menyadari kalau dia mengikat Noah semalaman. Dan bahkan ia membuka pakaian pria itu hingga hanya menyisakan ****** ******** saja.
“Oh….Noah! Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf ya. Aku tidak bermaksud begitu….”
Anneke terkekeh pelan, dia melihat Noah yang sudah kaku lalu dia mengambil selimut lalu menutup tubuh pria itu. Anneke turun dari tempat tidur dan membuka ikatan dikedua tangan pria itu yang memang dia ikatkan ke tempat tidur. Pergelangan tangan Noah tampak memerah akibat semalaman diikat dengan dasi.
Setelah ikatannya terlepas, Noah bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi. Namun saat tangannya menyentuh handle pintu, tiba-tiba saja Noah menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Anneke dengan sorot mata yang tajam.
“Anneke!” suara bariton Noah terdengar kuat dan menggema di seluruh kamar besar itu.
Noah menarik napas panjang beberapa kali saat melihat paras cantik istrinya dan berkata, “Lain kali….jika kau ingin menghukumku, pastikan kau menyelesaikannya dengan baik. Atau paling tidak biarkan aku membantumu melakukannya. Apa kau mengerti?” Anneke mengedipkan matanya berulang kali, dia tersenyum sekilas dengan ekspresi wajah penuh kemenangan.
Akhirnya dia berhasil mengerjai Noah dan dia sangat…..sangat puas. Dia memandang punggung Noah yang berlalu dibalik pintu kamar mandi sambil menahan semua rasa Anneke terkekeh.
“Rasakan kau Noah! Apa kau mengira aku sebodoh itu untuk menyerahkan diriku begitu saja sebagai santapanmu? Cih! Jangan bermimpi!” Dengan wajah penuh tawa, Anneke bergegas menuju ke kamar mandi dikamar sebelah. Dia pun bersiap-siap untuk pergi ke kantor pagi ini.
Pagi ini Anneke memasuki ruang kerjanya dengan perasaan senang. Dia meletakkan tasnya diatas meja lalu duduk dikursi keberasarannya. Abner masuk sambil membawa beberapa dokumen.
“Selamat pagi nona. Ini beberapa berkas dokumen penawaran kerjasama dari tiga perusahaan.” Abner meletakkan dokumen itu diatas meja dihadapan Anneke.
“Tiga perusahaan?” tanya Anneke sedikit terkejut.
“Iya benar nona! Ini adalah tiga perusahaan yang ingin menggunakan jasa desain perusahaan kita setelah mereka melihat kalau perusahaan kita bekerjasama dengan Ars Group.” ujar Abner.
“Nona bisa melihat-lihat dulu penawaran mereka lalu saya akan aturkan jadwal meeting dengan mereka.”
“Baiklah. Aku akan membacanya dulu! Perusahaan ini masih baru dan aku harus mencari klien sebanyak mungkin supaya aku bisa membayar gaji kalian.’
“Aliyah? Ada apa? Pagi-pagi sekali kau terlihat gembira? Apa ada kabar bagus? Kau mau menikah ya?” Anneke mencoba menebak-nebak. Mendengar ucapannya Aliyah malah terkekeh.
“Ya kabar sangat bagus! Tapi bukan tentang aku menikah! Tapi aku membawakan kabar bagus untukmu.” ujar Aliyah.
“Oh ya? Cepat beritahu aku, kabar apa itu?”
“Seseorang akan datang siang ini. Dia bukan orang sembarangan! Dia ingin memesan perhiasan desainmu sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya.” ucap Aliyah mengerjapkan matanya.
“Wah itu berita bagus sekali.” balas Anneke. Dia memang sedang mengerjakan desain set perhiasan dan kebetulan akan ada pelanggan pertamanya yang akan memesan.
“Bukan itu saja. Tapi dia seorang pria tampan dan kaya. Hehe!”
“Ehm…..kalau bicara pria tampan dan kaya pasti kau selalu bersemangat. Terus, aku harus melakukan apa?” tanya Anneke yang tidak merasa tertarik. Sejak dia disakiti Noah dan gagal bercerai, Anneke malas untuk berurusan dengan makhluk berwujud pria.
“Dengarkan aku dulu! Mungkin ini yang namanya takdir, pria ini berasal dari keluarga kaya raya.”
Aliyah berhenti sejenak memperhatikan ekspresi wajah Anneke. “Kekayaan keluarganya setara dengan kekayaan keluarga Arsenio. Bisnis mereka lebih banyak diluar negeri. Tapi berdasarkan info yang kudapat, pria ini baru kembali ke negara ini untuk memperkuat bisnisnya disini. Dengan kata lain, dia akan menjadi saingan bisnis Noah Arsenio.” Aliyah semangat sekali berbicara.
Anneke mengeryitkan dahinya mendengar informasi dari rekan bisnisnya itu. ‘Setara dengan kekayaan Keluarga Arsenio? Setahuku hanya keluarga Arsenio yang paling kaya dan paling berkuasa dinegeri ini. Lalu siapa keluarga saingan keluarga Arsenio itu? Hmmm…..sepertinya ini menarik juga.’ bisik hati Anneke yang mulai penasaran.
“Apakah kau ada waktu siang ini? Kita akan bertemu dengannya di restoran untuk makan siang nanti.”
“Oke, aku tidak akan menolak klien yang mengantarkan uangnya padaku bukan?” ujar Anneke lagi.
“Ya benar! Klien ini bukan klien biasa, kebanyakan bisnisnya juga ada berhubungan dengan bisnis kita. Keluarganya menguasai pertambangan emas dan berlian! Coba kau pikirkan peluang ini.”
Mata Anneke membelalak mendengar ucapan Aliyah.
“Setahuku hanya ada satu keluarga yang sejak dulu memang tak tertandingi, mereka setara dengan keluarga Arsenio!” celetuk Abner yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka.
“Tapi keluarga itu sudah lama pindah ke luar negeri dan memperluas bisnisnya disana. Apakah nama---” Abner berpikir sejenak mengingat sebuah nama yang tak asing baginya.
“Pasti kau tahu siapa keluarga itu Abner!” ujar Aliyah mengedipkan satu matanya memberi kode pada Abner. Pria itupun melirik Anneke dan dia kembali menatap Aliyah. Keduanya saling melempar senyum seolah mereka sepemikiran.
“Siapa nama keluarga itu?” Anneke pun ikutan merasa penasaran ingin tahu.
“Ah….itu…..aduh siapa ya? Aku hampir saja mengingatnya.” ucap Abner berusaha berpura-pura lupa.