
Sementara itu, Noah yang sudah mendapatkan nomor ponsel wanita itu nampak ragu untuk menghubunginya. Gengsinya terlalu tinggi jika harus dia yang duluan menelepon. Karena selama ini dia selalu memperlakukan wanita itu sangat buruk. Tapi, melirik jam yang terus bergerak dan malam semakin larut, rasa khawatirnya membuatnya tak tenang.
Apa yang dilakukan wanita itu diluaran sana sampai selarut ini belum kembali? Berbagai pikiran pun mulai memenuhi benaknya yang sama sekali tidak membantunya untuk menenangkan diri. Wanita itu memiliki tubuh yang indah, apakah dia menemui pria lain diluar? Apakah itu alasannya mengapa dia sangat ingin segera bercerai? Pikirnya lagi.
Beberapa kali dia memeriksa nomor yang sudah disimpannya di ponselnya itu. Namun seakan enggan untuk menekan nomor itu. Dia khawatir kalau wanita itu akan menjadi besar kepala dan menjadi terlalu percaya diri setelah menerima telepon darinya.
Tidak! Noah tidak akan membiarkan itu terjadi! Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya dia menjadi sedikit lebih khawatir lagi dari sebelumnya.
Kemudian dia memegang ponselnya kembali dengan penuh keyakinan akhirnya dia pun memutuskan dan menghubungi sebuah nomor yang selalu tersimpan di ponselnya.
Tut….tut…..tut….
“Halo! Kediaman Arsenio!” seorang pelayan terdengar menyapa dari seberang sana.
“Ini aku. Apakah nenek dirumah?” tanya Noah dengan nada yang cukup tenang seakan ia ingin menutupi tujuan sebenarnya mengapa dia menelepon ketelepon rumah. Saat pelayan itu hendak menjawab pertanyaan tuan mudanya, tampak sebuah mobil telah terparkir didepan pintu masuk utama yang mengejutkan pelayan itu.
“Oh Nyonya Besar sepertinya baru saja pulang Tuan. Hari ini beliau menghabiskan waktu seharian bersama dengan nyonya muda. Tetapi sepertinya nyonya muda tidak ikut turun dari mobil. Apakah Tuan ingin bicara dengan beliau? Saya akan segera sambungkan.” kata pelayan itu hendak memanggil Nyonya Besar yang baru saja berpamitan dengan Anneke yang masih duduk didalam mobil.
“Tidak….tidak perlu.” kata Noah langsung menutup panggilan teleponnya karena dia telah mendapatkan jawabannya dari pertanyaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan saat ini Anneke telah berada tepat didepan pintu The Bright Condominium yang sangat dihindarinya, kedua matanya dengan nanar melihat kearah mesin kode password yang berada didepannya.
Tetapi jemari miliknya menggantung dekat mesin itu seolah enggan untuk memasuki tempat dimana iblis itu berada. Sebenarnya hari ini Anneke ingin pulang ke kediaman Runako tetapi supir Nyonya besar malah mengantarnya ke tempat terkutuk ini.
Bagaimanapun saat ini Anneke tidak sanggup untuk menolak perintah sang nenek mertua karena kondisi kesehatannya yang sedang tidak baik.
Meskipun demikian, Anneke tetap akan mengikuti alur permainan dari rencana nenek untuk mengerjai Noah. Padahal didalam hatinya Anneke sangat ingin menolak apalagi saat ini dia harus berhadapan dengan pria itu. Membayangkan berdua bersamanya didalam satu ruangan saja sudah membuat Anneke sesak napas. Pria itu terlalu mempesona sekaligus menakutkan!
Hanya saja ia harus sedikit lebih bersabar dari sebelumnya untuk menunggu waktu yang tepat. Dengan pemikiran yang sangat matang akhirnya Anneke memberanikan diri untuk menekan beberapa tombol untuk membuka akses masuk. Tidak bisa dipungkiri, bahwa saat ini dirinya merasa gugup jika harus berhadapan lagi dengan Noah.
Mengingat malam itu Noah mencuri ciuman pertamanya dan mencoba menyentuh bagian tubuhnya membuatnya marah. Sepertinya dia belum siap dengan semua hal yang terjadi diantara mereka sekarang. Banyak hal yang terjadi beberapa hari ini.
Tetapi pertemuan mereka tidak bisa dihindari lagi sehingga Anneke harus berani untuk menghadapinya seorang diri. Ceklek! Bagaimanapun hanya ini caranya untuk membalas Noah atas perlakuannya.
Noah...dimana dia? Anneke melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan namun dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pria itu disana. Apakah pria itu tidak jadi datang kesini? Secercah senyuman nampak terlukis diwajahnya yang cantik. Beruntung sekali! Dia sangat beruntung karena tidak perlu bertemu dengan iblis itu malam ini.
Dia masih merasa kesal atas apa yang terjadi semalam. Si brengsek itu sudah mencuri ciuman pertamanya dengan alasan hak seorang suami! Hah! Sungguh memalukan! Sekarang saja dia menyebut dirinya ‘suami’ kemana saja dia selama dua tahun pernikahan mereka? Lagi-lagi Anneke tersenyum sinis mengingat dulu Noah selalu meminta cerai.
Dan berulang kali pengacaranya mendatangi Anneke untuk memberikan surat perceraian yang selalu ditolak Anneke untuk ditandatangani. Betapa bodohnya dia dulu, menyia-yiakan masa muda dan waktu dua tahun mengejar pria yang tidak pernah peduli padanya dan tidak mencintainya sama sekali! Tapi apa yang terjadi sekarang?
Bukan seperti ini seharusnya alur ceritanya? Harusnya, dia dan Noah sekarang sudah bercerai dan memulai hidup bebas tanpa beban. Persetan dengan cinta! Tapi, kenapa makin kesini Noah malah makin menempel padanya? Apa yang salah dengan pria brengsek itu? Apa dia kesambet? Atau otak Noah korslet? Cih! Anneke mendengus.
Sambil mencibir, Anneke meletakkan barang-barang yang sedari tadi dipegangnya diatas meja dan segera melompat kecil keatas sofa empuk itu untuk merebahkan semua anggota tubuhnya yang mulai terasa lelah. Hari ini Anneke begitu lelah!
Setelah semalaman emosinya sulit dikontrol mengakibatkan dia sulit tidur dan seharian ini dia berbelanja, pergi menonton bioskop dan makan malam bersama sang nenek mertua.
Sungguh kaki dan tangannya terasa sangat linu! Setelah Anneke sudah merasa cukup untuk beristirahat beberapa menit, kemudian dia duduk kembali dan melihat semua tas belanjaannya. Bukankah dia akan pindah? Mengapa sekarang dia malah membawa semua belanjaannya kesini? Anneke merasa dirinya benar-benar bodoh sambil satu tangannya memukul kepalanya sendiri.
Tetapi sudahlah, besok dia akan membawa semua belanjaannya kembali kerumah keluarganya. Besok pagi-pagi sekali dia akan kembali kerumahnya. Dengan perasaan yang lebih nyaman Anneke mencoba beranjak dari sana dan mengambil segelas air dari dalam lemari pendingan. Tetapi entah mengapa dirinya merasakan keganjilan diruangan itu, tetapi apa?
Dia berhenti sejenak dan mulai memikirkan apa yang telah berbeda disana? Dahinya mengeryit merasakan keanehan. Anneke mencoba memperhatikan letak semua barang-barang diruangan itu.
Sambil mengerjapkan matanya dia mengingat-ingat apa yang salah didalam tata letak barang-barang disana. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Dia menatap mulai dari sofa, meja, vas bunga dan semua perabotan disana masih berada ditempat yang sama. Lalu dia pun menyadari jika memang ada yang salah diruangan itu. Rak sepatu yang sedikit terbuka memperlihatkan ada deretan sepatu wanita didalamnya.
Dengan rasa penasaran, Anneke mendekati rak sepatu yang setengah tertutup itu dan membukanya. Matanya terbelalak, mengapa? Hah? Mengapa semua sepatu wanita ada disini?
Dia melihat sepatu dan sandal rumahannya sudah berderet rapi didalam rak sepatu itu. Milik siapa ini? Kenapa semua sepatu dan sandal wanita ada disini? Dia memijit pelipisnya mencoba untuk mengingat-ingat, apakah mungkin dia melupakan sesuatu saat dia membawa semua barang-barangnya keluar dari apartemen ini? Ini jelas bukan miliknya!
Tidak….tidak…..ini tidak mungkin. Dia menutup kembali rak sepatu itu dan dengan tergesa-gesa langsung berlari menaiki tangga dan menuju kedalam kamar utama yang berada dilantai dua itu. Kemudian dia bergegas masuk dan mendapati sebuah ruangan yang sangat gelap gulit. Kamarnya…kenapa kamar ini gelap sekali?
Mengapa sensor lampunya mati? Ia membatu dalam hati sembari mencari remote control yang biasanya terletak disamping kiri pintu itu. Dengan meraba-raba Anneke tidak mendapati adanya remote control disana. Malahan tangannya menyentuh sebuah permukaan keras yang sangat bidang. Dia meraba dan meremas.