MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 72. DIMANA DIA?


Noah terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena memang dirinya menyadari alasan kemarahan Anneke. Tadi saat dia marah-marah diruang meeting, kepalanya sempat pusing. Levi mengira kalau dia sakit makanya segera bertanya pada Noah apakah dia harus menelepon Anneke. Tentu saja pria itu terbersit sebuah ide dan menyetujui usulan Levi.


Noah merenung beberapa saat dan memutar ulang apa yang tadi terjadi. ‘Apakah Anneke langsung berlari kesini begitu tahu dia sakit? Apakah wanita ini memang masih mencintainya seperti dulu?’


Sejenak Noah ingin menjelaskan semuanya pada Anneke agar wanita itu tidak lagi marah. Tapi entah mengapa mulutnya tercekat dan sedikit gengsi untuk mengatakannya.


“Sudahlah, jangan marah lagi! Katakan padaku, apa yang kau mau dariku? Apa kau mau kuajak shopping? Atau aku transfer saja?”


‘Apa-apaan ini? Jadi semuanya dia ukur dengan uang? Dia pikir kalau aku marah bisa dibayar dengan uang dan semuanya beres? Cih!’ geram Anneke dihatinya. Sejenak dia berpikir, dia sudah berlari-lari datang kesini. Dia meninggalkan pekerjaannya, ya…..dia harus mendapat kompensasi.


“Baiklah! Transfer saja biaya ganti rugi! Setiap detik waktuku berharga!” ujar Anneke lalu berdiri.


“Aku harus kembali ke kantorku sekarang! Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan!” ucapnya tanpa menunggu jawaban dari Noah dia sudah bergegas meninggalkan tempat itu.


Begitu kembali ke kantornya, Anneke mengambil kertas gambarnya dan melanjutkan menggambar desain.


Ting!


Sebuah notifikasi dari mobile banking. Dia tersenyum saat melihat sejumlah uang yang baru saja di transfer Noah ke rekeningnya.


“Terus saja menggangguku, aku akan membuatmu mengeluarkan uang banyak untukku!” dengusnya masih kesal. Dia tak lagi mempedulikan saat beberapa menit berikutnya notifikasi pesan masuk ke ponselnya.


Hanya melirik sekilas saja dia sudah tahu kalau itu pesan dari Noah. Anneke membalikkan ponselnya agar dia tidak bisa melihatnya lagi. Dia pun melanjutkan menggambar desain dengan fokus.


“Itu hukuman yang pantas untuk Noah! Apa gunanya jadi istrinya kalau aku tidak menghabiskan uangnya? Menikmati semua kemewahan dan fasilitas khusus sebagai Nyonya Arsenio?”


“Mana mungkin aku membiarkan ada wanita lain yang bisa menikmati semua kemewahan itu! Hahaha….ini masih awal lagi Noah! Kau akan mengeluarkan lebih banyak uang untukku.”


Malam harinya Noah nampak memarkirkan mobilnya di parkiran apartemennya dan bergegas menuju ke lift. Entah mengapa hari ini dia tidak suka lagi tinggal lebih lama dikantornya.


Ia memilih mulai hari ini dia akan tinggal ditempat yang dahulu sangat dihindarinya. Setelah sampai di lantai teratas, dia segera masuk kedalam apartemen dan mendapati ruangan kosong yang membuat hatinya merasa kecewa.


‘Kemana dia? Kenapa tidak ada disini? Apa dia tetap memilih tinggal di apartemennya itu?’


Perlahan dia melepaskan jas dan dasinya lalu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Seakan dia mencari sesuatu yang telah dinantikannya. Tetapi dia tidak mendapati sosok itu disana. “Dimana dia?”


Noah merasa lapar, dia menggulung lengan bajunya dan menuju ke dapur. Diatas meja dia melihat ada dua piring nasi goreng dan ayam bakar madu kesukaannya.


Makanan itu terlihat menggiurkan. Sampai-sampai dia menelan ludahnya beberapa kali hanya melihatnya saja. ‘Ada makanan disini! Itu berarti wanita itu benar-benar pulang kesini dan memasak makan malam untuknya. Ah……begini rasanya punya istri! Kenapa aku tidak menyadarinya sejak dulu kalau memiliki istri itu sangat menyenangkan begini?’ batinnya.


Karena tidak tahan lagi melihat makanan didepannya, Noah pun duduk dan langsung menyantap hidangan itu hingga makanan dipiringnya habis tak bersisa. Dia melirik piring satu lagi, dia tergoda untuk melahapnya juga. Tetapi mengingat wanita itu yang tadi siang marah, ia pasti akan tambah kebingungan lagi kalau Anneke semakin marah dan menjauhinya.


Benar sekali! Tak peduli seberapa laparnya dia saat ini, ia harus menahan diri. Lagipula makanan itu milik istrinya, dia tidak mungkin tidak memiliki hati nurani. Setelah menyelesaikan makanannya, Noah kembali menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Anneke.


Apakah dia harus membukanya?’ gumamnya dalam hati. Sejak mereka sudah membuat kesepakatan, Noah mulai bersikap lebih baik apalagi saat dia melihat Anneke marah padanya. Dia merasa semakin tidak nyaman dan tak ingin membuat wanita itu marah lagi.


Dan sekarang mereka memutuskan tinggal di apartemen yang sama dengan kesepakatan kalau mereka akan tidur dikamar terpisah. Memikirkan istrinya yang mungkin masih marah, Noah pun ragu mengetuk pintunya. Kemudian dia berbalik, dia mendengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok Anneke yang baru saja mandi.


Rambutnya masih setengah basah. Dia mengenakan piyama satin tipis yang memperlihatkan lekukan tubuhnya yang indah. Sontak mata Noah terpaku padanya, kulit istrinya itu sangat putih dan tampak merona akibat uap air hangat. Sedangkan aroma tubuhnya segar, sehingga langsung menyulut api didalam dirinya yang biasanya padam itu.


“Noah…..tolong minggir. Aku mau mengambil segelas air…..” Anneke memperhatikan wajah Noah yang membeku didepannya dengan tubuh besarnya menghalangi pintu.


“Tuan Arsenio, tolong minggir! Aku mau lewat!” Anneke kembali berkata dengan kesal karena Noah tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri. Bahkan pria itu tampak sangat aneh?


Saking kesalnya, Anneke tanpa sadar mengerucutkan bibir mungilnya. “Tuan No----emmmm….emmmm…..” seketika bibir Anneke yang merah ranum itu langsung dilumat habis tanpa aba-aba oleh Noah.


“No---Noah….emmmm…..” Anneke tidak mampu melanjutkan kalimatnya saat bibir pria itu mengakses kedalam mulutnya dan menjelajah didalamnya.


Anneke berusaha mendorong pria itu namun sia-sia saja. Dengan sisa tenaganya Anneke dapat merasakan tubuhnya terangkat dan dijatuhkan diatas kasur besar diikuti oleh sosok tubuh besar yang langsung menindihnya.


“Noah…..hentikan!” Anneke berusaha sadar dari serangan suami kejamnya itu yang semakin gencar ******* bibir dan lehernya. Meninggalkan bekas disana bahkan tangan dingin pria itu sudah bermain dipahanya yang lembut dan halus itu.


“Noah….jangan gila! Hentikan1” teriak Anneke seketika menyadarkan Noah dari kebringasannya.


Dengan napas menderu, Noah menghentikan serangannya dan menjatuhkan diri disamping Anneke dengan napas terengah-engah. Sungguh, Noah tidak menyangka jika harga dirinya akan jatuh begitu saja dihadapan wanita itu.


Selama ini dia selalu bisa mengendalikan dirinya. Namun sekarang ia tidak menyangka ia bisa dengan ganas menyerang wanita itu!


Sambil menutup kedua matanya Noah menulikan kedua telinganya yang terus menggelegar dari umpatan Anneke yang menggelegar sambil memukuli dada bidang itu dengan tangan kecilnya.


...****...


Sementara itu di perusahaan Ars Group, semua sekretaris Noah bekerja lembur untuk menyortir dokumen yang baru masuk. Mereka juga baru membuat jadwal perjalanan bisnis Noah yang akan berlangsung minggu depan.


“Jihan, apakah saat ini Tuan Noah memiliki binatang peliharaan atau semacamnya? Mungkin kucing?” sekretaris bernama Hendra memberanikan diri bertanya.


“Iya kita semua sebenarnya penasaran karena Tuan Noah sekarang rajin pulang kerumah. Dan aku melihat ada bekas cakaran dilehernya tempo hari.”


“Apakah itu bekas cakaran istrinya? Apakah anda mau menanyakan langsung pada Tuan Noah?” tanya sekretaris lainnya yang serius membuat rencana perjalanan CEO itu.


Beberapa detik kemudian, sepasang kaki perlahan melangkah memasuki kantor yang dihumi para sekretaris itu diikuti oleh suara seorang wanita.


“CEO memelihara kucing? Huh! Mana mungkin!” penampilan wanita itu elegan dan wangi parfum yang menggoda. Wanita itu terlihat membawa sekotak makan malam dan sebuah dokumen ditangannya.