MALAIKAT DALAM GAUN BARU

MALAIKAT DALAM GAUN BARU
BAB 23. BERTEMU


“Ya, nenek bosan menunggumu jadi nenek merajut dan menyelesaikan satu tas untukmu.” ucap Mariam Arsenio sambil tersenyum. Kedua wanita beda generasi itu duduk berdampingan di sofa. Mereka berbincang-bincang sejenak tentang banyak hal. Anneke terus memperhatikan eskpresi wajah nenek mertuanya yang tampak senang.


‘Apakah aku harus memberitahunya sekarang? Nenek tampak bahagia sekali. Bagaimana bisa aku menghancurkan suasana hatinya yang lagi senang dengan kabar perceraianku?’ bisik hati Anneke. ‘Tapi aku tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi. Nenek pasti mengerti kenapa aku bercerai dengan Noah.’


“Keke…..apa kamu baik-baik saja? Ayo cerita pada nenek kalau kamu ada masalah.” ucap Mariam Arsenio tiba-tiba saat dia melihat raut wajah Anneke yang tampak tegang.


“Heh…..nenek. Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.” ucap Anneke salah tingkah.


“Kenapa? Apa kamu butuh uang? Atau ada masalah?” tanya wanita tua itu beruntun.


Anneke hanya tersenyum menatap nenek mertuanya. “Ehem…..nek, seandainya aku melakukan sebuah kesalahan. Apakah nenek akan memaafkanku?” ekspresi wajahnya terlihat serius saat bicara.


“Keke…..kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja aku akan memaafkanmu. Memangnya apa yang sudah kamu lakukan, hem? Cerita saja sama nenek.”


“Bagaimana kalau kita makan dulu. Nenek belum makan kan? Setelah itu baru kita bicara lagi, rasanya lebih asyik kalau kita bicara setelah nenek makan.” ucap Anneke mengalihkan pembicaraan.


“Ah benar juga. Kita masih punya banyak waktu bersama hari ini. Ayo….ayo…..” Mariam bangkit dari duduknya lalu mengajak Anneke ke ruang makan.


“Keke….apakah kau suka asam manis?” nyonya besar nampak menunjuk kearah piring yang penuh dengan udang bersaus merah itu. “Ini khusus dimasak untukmu.”


“Tentu saja aku suka nenek.” jawab Anneke terus menyantap semua makanan yang diambilkan oleh nenek mertuanya itu. Dengan bersemangat dia memakannya karena semua itu adalah makanan kesukaannya.


Sudah lama dia tidak makan masakan kesukaannya, biasanya setiap kali dia datang kesana maka nenek akan mempersiapkan untuknya.


Sementara itu, Noah baru saja menerima laporan dari pengawal dirumah neneknya bahwa Anneke sedang berada disana sekarang. Selain itu dia juga baru mengetahui seberapa akrab hubungan neneknya dengan Anneke. Yang mengejutkannya adalah ternyata selama dua tahun ini Anneke sering mengunjungi neneknya. Apakah hanya dia saja yang tidak tahu apapun tentang Anneke selama dua tahun ini? Apakah Anneke hanya mempermainkan dirinya saja selama ini?


Apakah selama ini hubungan nenek dan Anneke memang sebaik itu? Apakah Anneke sangat tidak menyukai pernikahan hasil perjodohan itu? Apakah memang benar ada pria lain yang disukainya? Memikirkan kemungkinan Anneke menyukai pria lain, seketika membuat api panas menyembur didalam dadanya yang bidang itu.


Sangat panas! Ah….kenapa aku bisa merasa cemburu pada wanita jelek dan gila ini? Hanya karena dia memiliki mata yang indah? Seakan-akan Noah ingin meledak saat itu juga! Untuk menahan amarahnya,


Namun itu sudah cukup membuatnya cemburu! Apa sebenarnya yang salah dengannya? Noah merasa sangat cemburu! Cemburu pada wanita gila dan jelek itu? Cih! Sebenarnya tanpa Noah ketahui, Anneke memang selalu mengunjungi Nyonya Besar di sela-sela rutinitasnya bolak balik ke dua negara untuk mengejar suami dinginnya itu. Awalnya, Anneke bertandang ke kediaman Arsenio hanya ingin mengorek informasi sebanyak-banyaknya tentang sosok lelaki idamannya.


Tapi siapa yang menyangka jika Anneke dan Nyonya Besar memiliki kepribadian yang sama! Mereka gemar memasak, kadang mereka merajut bersama, berkebun menanam bunga mawar bersama, bahkan sama-sama suka menguntit Noah Arsenio! Bukankah nenek dan cucu menantunya itu benar-benar pasangan yang cocok? Jadi apapun yang dilakukan Anneke selalu didukung oleh nenek mertuanya.


Namun sayangnya, Nyonya Besar itu tidak pernah tahu jika Anneke mengejar Noah karena selama dua tahun pernikahan mereka tidak pernah bertemu! Saat pertama kali Nyonya Besar pernah memergoki Anneke mengendap-endap memakai kostum, make up dan wig yang aneh. Tapi saat itu ia berpikir mungkin Anneke hanya sedang menyamar saja!


Dia pun membiarkan saja apa yang dilakukan Anneke asalkan cucu menantunya itu senang. Sehingga Nyonya Besar itupun membiarkannya dan tak pernah bertanya. Bukankah dahulu semasa dengan suaminya, ia juga pernah melakukan hal yang sama seperti Anneke? Itulah yang terjadi jika memiliki suami tampan dan kaya raya.


Para istri akan menguntit suaminya diam-diam untuk mencari tahu apa yang dilakukan suami mereka! Melihat keakraban kedua sahabat karib beda generasi itu, Noah berdeham untuk menunjukkan kehadirannya disana. Tapi usahanya itu hanyalah sia-sia belaka. Saat ini Noah benar-benar diacuhkan oleh kedua wanita yang biasanya mengejar-ngejarnya itu!


Noah menundukkan wajah sambil berpikir, apa yang menarik dari Anneke sehingga nenek begitu menyayanginya? Sungguh, ia tidak tahu apakah ia harus senang ataukah bersedih dengan situasi seperti ini? Apalagi nenek dan kakeknya dulu sering sekali mengatakan betapa cantiknya Anneke. Tapi yang dia lihat sangat berbeda! Wanita itu tidak ada cantik-cantiknya dan menjijikkan dimata Noah.


Karena rasa penasarannya Noah pun memutuskan untuk pergi kerumah neneknya. Sesampainya disana dia mendengar suara tawa dari arah ruang makan saat Noah menjejakkan kaki dirumah itu. Dia pun melangkah menuju keruang makan dan melihat nenek dan istrinya sedang makan sambil tertawa. Noah pun menghampiri namun sepertinya kedua wanita itu tidak mempedulikannya.


Setelah beberapa waktu, kedua wanita itu berbincang akhirnya Nyonya Besar menyadari keberadaan seseorang disana. Dia pun menoleh dan menatap Noah yang duduk diseberangnya.


“Aihhh…..Noah! Kamu datang juga ya? Oh, nenek pikir tadi tidak ada orang lain.” Nyonya Besar itu hanya menoleh sekejap untuk menyapa cucu nakalnya itu lalu menyantap hidangan penutup.


Apa aku ini tidak dianggap oleh nenek ya? Nenek mengacuhkan aku begitu saja? Apa-apaan ini? Nenek benar-benar mengacuhkanku? Cih! Kesalnya Noah melihat wanita itu yang tidak mempedulikannya. Didalam ruang makan mewah itu terlihat diatas meja makan telah terhidang berbagai macam makanan yang menggiurkan. Aneka seafood, daging, sayuran segar, semuanya dimasakmenurut kesukaan Anneke!


Sejenak Noah mengeryitkan keningnya, semua makanan disana tidak ada yang dimasak sesuai seleranya! Apa lagi ini? Noah adalah salah satu orang dengan tipe pemilih makanan dengan diet ketat. Semua makanan yang dikonsumsinya harus dimasakan dengan tingkat kematangan tertentu. Harus beraroma ringan dan tentu saja tidak mengandung banyak minyak. Noah menghindari mengkonsumsi makanan berlemak.


Tapi saat ini semua makanan disana tampak berwarna merah menyala, terlihat sangat pedas! Dia bisa mencium aroma kuat dan sangat berminya. Dia mengeryitkan dahinya saat melihat sambal berminyak diantara berbagai masakan disana. Ada juga sayur lodeh dengan santan yang sangat disukai oleh Anneke!  Ada daging dendeng balado dan masakan seafood berwarna merah yang semuanya adalah makanan kesukaan Anneke.


Mariam Arsenio sengaja meminta pelayan untuk memasak semua makanan kesukaan Anneke untuk membalas cucunya itu. Semua makanan itu bukan makanan kesukaan Noah! Wanita tua itu juga tidak bicara seolah tidak ada orang lain lagi diruangan itu. Noah bahkan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh neneknya itu. Sejak tadi wanita tua itu tampak lebih diam dari biasanya dan itu membuat Noah cemas.


‘Apakah nenek sudah mengetahui sesuatu? Apa perempuan gila itu mengatakan sesuatu pada nenek?’ gumam hatinya.