
Saat Noah melihat paras wanita yang begitu dekat dengannya itu, jantungnya yang sebelumnya berdetak normal, tiba-tiba kembali berdetak sangat kencang. Ada apa dengannya? Memandang paras buruk rupa itu dengan kedua alisnya yang tebal dan mempesona, bulu matanya yang lentik dan panjang. Kenapa dia merasa ada yang salah dengan wanita itu?
Bola matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, pipi merona merah dan bibirnya yang mungil berisi membuat Noah benar-benar tergoda! Entah dorongan darimana. Seketika itu juga muncul sebuah inisiatif yang baru pertama kali dalam sejarah hidupnya. Mengapa dia bisa tergoda seperti ini? Padahal wanita didepannya itu seperti orang-orangan sawah! Apakah aku masih normal, pikirnya.
Noah sudah tidak bisa menahan lagi, sehingga tanpa menunggu lama, dia mencium bibir ranum itu begitu saja. “Sangat manis! Lembut!” pikirnya saat bibir mereka bersentuhan. Saat ini Noah merasakan dirinya dipenuhi oleh suatu gelora yang membara seakan seperti badai kecil yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Dia mencium bibir mungil itu dengan penuh gairah.
Rasanya begitu manis dan memabukkan seakan Noah tenggelam didalamnya. Entah mengapa, dia sama sekali tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri! Namun sayangnya setelah bibir mereka bersentuhan dengan paksa, sedetik kemudian Anneke menggigit bibir Noah! Ya, dia menggigit bibir Noah yang lancang itu dengan keras.
“Awwwh!: Noah meringis menahan sakit sambil melepaskan ciuman mereka dengan tergesa-gesa. Tanpa disadarinya darah segar telah mengalir membasahi sudut bibirnya itu! Sungguh! Noah tidak pernah menyangka reaksi Anneke akan seganas itni. Wanita ini benar-benar berubah. Bukan hanya cara dia memandang Noah saja yang berubah tetapi juga sikapnya berubah padanya.
Bukankah dulu wanita didepannya ini selalu saja mengejar-ngejarnya kemanapun? Meskipun selalu diusir tapi wanita itu tak pernah menyerah? Setelah melihat perubahan Anneke, didalam hatinya Noah merasa tertolak! Hatinya terasa sedikit sakit seolah diremas dan ditusuk jarum. Sesuatu yang belum pernah ia alami dalam dua puluh delapan tahu kehidupannya didunia ini.
Tentu saja, Noah tidak terbiasa dengan perasaan ini dan dia tidak menyukainya! Biasanya dia yang selalu menolak bukan ditolak! Dalam kejengkelannya Noah malah berbuat lebih jauh lagi, dia mengangkat tubuh Anneke lalu melemparkannya keatas ranjang. Gadis itu terkejut dan syok, semuanya terjadi begitu cepat.
Saat dia masih terbaring diranjang tiba-tiba dia merasakan sesak seperti ditindih batu besar. Betapa terkejutnya dia saat melihat orang yang menindihnya adalah Noah yang entah kapan sudah menindihnya dan memegang kedua tangannya diatas kepala. Noah menekan tubuhnya dengan kuat sehingga dia tidak bisa bergerak. Anneke meronta-ronta sambil memaki dan mengumpati lelaki itu.
Namun sepertinya Noah tak peduli, dia memainkan bagian dadanya. Marah! Anneke sangat marah dan merasa terhina diperlakukan seperti itu. Meskipun Noah adalah suaminya, tetapi mereka tidak pernah bersama setelah menikah. Dan sekarang disaat dia ingin melepaskan dirinya dan menuntut perceraian, pria itu malah mengejarnya.
“Brengsek! Bajingan!” teriaknya berusaha melepaskan diri dari Noah yang sudah dalam keadaan polos. Entah mengapa Noah tiba-tiba tertarik pada Anneke yang masih dalam tampilan buruk rupanya. Anneke terus meronta-ronta tanpa henti dan memaki saat sesuatu terasa seperti menyentuh bagian sensitifnya. Ya tangan Noah baru saja menyentuhnya dengan seringai diwajahnya.
“Bajingan! Brengsek! Jauhkan tangan kotormua!” teriak Anneke penuh amarah. Tetapi pria itu tak peduli dan terus melakukan apa dia lakukan pada istrinya sejak awal. Ini adalah balasannya pada Anneke yang sudah menginjak-injak harga dirinya! Jika dia tahu jika wanita jelek dan gila itu ini ternyata menarik dan menggairahkan seperti ini, tidak mungkin dia akan menyia-yiakannya sejak awal.
Noah marah, dia merasa tubuhnya menginginkan wanita itu yang baru saja diceraikannya. Sejak dulu yang dia lihat hanyalah wajah jelek dengan makeup tebal dan wig yang aneh. Dia tak pernah merasa tertarik tapi kenapa sekarang berbeda? Tanpa mempedulikan caci maki istrinya yang perlahan terdengar lirih itu, dia terus mencium dan menyentuh tubuh Anneke.
Dia hanya menyentuh tubuh Anneke tak lebih, Noah bahkan tak sampai melakukan penyatuan. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada wanita itu. ‘Mana mungkin aku melakukan itu pada perempuan gila dan jelek itu!’ pikirnya. Saat dia keluar dari kamar mandi dia masih melihat Anneke terbaring diatas ranjang dengan mata terpejam dan keringat membasahi keningnya.
Dalam kejengkelan dan kepuasannya Noah memakai piayamanya kembali lalu menghampiri Anneke. “Bangunlah. Bersihkan dirimu. Tubuhmu bau! Makanya aku tidak tertarik pada tubuhmu!” perintah Noah dengan senyum menyeringai. Puas! Dia puas membuat wanita itu ketakuan!
“Pergi brengsek! Noah! Aku sudah menceraikanmu!” teriaknya kencang dengan napas terengah-engah.
“Dalam mimpimu!” ucap Noah dengan entengnya. “Tidak semudah itu!” cibirnya. “Kau pikir aku akan melepaskanmu semudah itu? Aku yang harusnya menceraikanmu! Bukan kau yang menceraikanku!” Dia langsung keluar dari kamar itu bahkan Noah membanting pintunya dengan keras! Noah sangat marah dan pembalasannya belum selesai.
Di atas kasur mewah dikediaman Arsenio, nampak Anneke tertidur dengan pulasnya sambil memeluk erat selimut tebal yang membungkusnya. Pagi ini cuaca terasa sedikit lebih dingin dari biasanya. Semilir angin yang masuk melalui jendela kaca besar yang terbuka itu membuat Anneke membenamkan tubuh indahnya semakin dalam masuk kedalam selimut yang sejak semalam menemaninya.
Anneke mengeryitkan kedua alisnya karena tidurnya terganggu oleh hembusan angin pagi yang semakin lama terasa semakin kencang. Ya, hari ini musim hujan telah berakhir di kota X dan mulai beralih ke cuaca yang hangat yang terasa lebih kering dan panas. Dia merasakan seluruh tubuhnya lemas dan tak bertenaga, matanya enggan untuk dibuka.
Perlahan-lahan Anneke mulai membuka matanya yang indah dan memabukkan itu. Mata bulatnya menyapu seluruh ruangan. Hingga dia menyadari bahwa dia telah tidur dikamar Noah. Tiba-tiba dia teringat apa yang telah terjadi semalam, hatinya kembali panas seiiring pandangan matanya yang menatap sepreinya yang kusut.
“Ahh!” Anneke bergegas memeriksa seluruh tubuhnya. Tampak tubuhnya dalam balutan piyama yang kusut dan seprai yang berantakan dan agak basah.
“Tidak! Tadi malam dia tidak memasukkannya kan? Aakkkhhhh……apa dia melakukannya saat aku sudah tertidur? Untuk memastikan, dia mencoba berdiri dan tidak merasakan apapun. Tidak ada rasa sakit dari bagian inti tubuhnya.
Anneke semakin marah, marah pada dirinya yang kembali jatuh dalam pesona suami brengseknya itu. Kenapa tadi malam dia malah menikmati sentuhannya? Sialan! Laki-laki brengsek itu sudah menyentuh tubuhnya! Kenapa jadi begini sih? Bukan ini yang diharapkannya! Ahhhh!!!! untung saja hanya menyentuh dan tidak lebih dari itu! Dia pun menghela napas lega.