
Pria tampan itu tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pada Noah. Saat pembawa acara membacakan pemenang lukisan itu, pria itupun langsung berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Sementara Shelly yang kesal pun hanya bisa menahan dirinya. Dia merasa marah dan cemburu karena Noah berhasil memenangkan lukisan itu.
Dan itu berarti, Noah akan makan malam bersama wanita itu. Lalu bagaimana dengannya? Shelly tidak akan membiarkan wanita manapun mendekati Noah! Obsesinya hanya dialah satu-satunya wanita yang akan berada disisi Noah selamanya. Sedangkan Anneke berada dalam suasana hati yang sangat baik. Dia berhasil memancing perhatian Noah.
Pria saingan Noah tadi tampak berjalan meninggalkan ruangan sambil memainkan ponselnya. Dia mengirimkan pesan kepada Anneke, ‘Selamat nona! Nikmati makan malammu dengan Noah! Aku sudah membantumu malam ini! Kau berhutang padaku! Kutunggu traktiranmu!’
Saat Anneke menerima pesan dari pria itu, dia pun tersenyum. Nenek mertuanya benar-benar bisa diandalkan.
Entah dimana dia menemukan pria setampan dan sekaya itu untuk membantu Anneke. ‘Sepertinya Noah tidak mengenal pria itu? Darimana nenek mengenal pria itu ya? Aku harus bertanya pada nenek nanti. Menurut informasi Abner, kalau pria itu adalah salah satu pengusaha sukses di negara ini.
Tapi kenapa Noah tampak tidak mengenalnya?’ pikir Anneke yang juga merasa penasaran dengan sosok pria yang sudah membantunya malam ini.
Acara lelang kembali dilanjutkan, barang yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua tamu pun segera ditampilkan. Sebuah kalung dinamai The Heart of Love tampak sangat indah dengan desain yang unik.
Anneke merasa tertarik pada kalung itu, tidak biasanya dia menyukai perhiasan mahal. Tapi saat dia melihat kalung itu, Anneke pun ingin mendapatkannya.
“Abner, berapak banyak uang yang bisa kuhabiskan di acara lelang seperti ini?” tanya Anneke.
“Nyonya Besar tidak memberikan batasan Nona! Jadi silahkan lakukan penawaran jika anda merasa tertarik pada kalung itu!” kata Abner.
“Menurutmu berapa harga yang pantas untuk kalung itu?” Anneke masih berbicara pada Abner saat penawaran sudah dibuka dan beberapa orang sudah mengajukan penawaran.
Anneke bisa mendengar suara Noah yang juga memberikan penawaran pada kalung itu.
‘Hmmm……sepertinya Shelly terobsesi sekali pada kalung itu! Dan Noah pasti ingin mendapatkan kalung itu untuk Shelly!’ pikir Anneke yang tersenyum sinis.
Dia pun segera mengangkat nomornya dan mengajukan penawaran. Setelah dia menyebutkan nominal tawarannya, dia menoleh ke belakang dan melemparkan senyuman pada Noah.
“Dua puluh milyar!” teriak Noah.
“Dua puluh lima milyar!” balas Anneke.
“Tiga puluh milyar!” seseorang meneriakkan penawarannya.
Noah merasa tertantang karena dia memang menginginkan kalung itu. Dia pun segera mengangkat nomornya lagi dan berkata, “Empat puluh milyar!”
“Lima puluh milyar!” Anneker tak mau kalah. ‘Hahaha……aku akan segera menggandakan penawaranku Noah! Mari kita lihat, apakah kamu sangat menginginkan kalung itu sebagai hadiah untuk wanitamu itu?’ dengus Anneke kesal. Selama dia menikah dengan Noah, tak pernah sekalipun dia menerima hadiah dari suaminya itu.
Dan kini Anneke merasa kesal membayangkan Noah bahkan seolah tak peduli dengan uang milyaran hanya untuk mendapatkan sebuah kalung yang disukai Shelly.
“Lima puluh lima milyar!” Noah kembali bersuara. Kini jumlah penawaran semakin tinggi sehingga tidak ada seorangpun lagi yang berani memberikan penawaran. Hanya ada Noah dan Anneke saja yang bersaing untuk mendapatkan kalung itu.
“Enam puluh lima milya!” Anneke menaikkan tawarannya karena kesal. ‘Aku tidak akan membiarkanmu memenangkan kalung itu! Cih! Demi wanita murahan itu, kau bahkan rela menghamburkan uang sebanyak itu? Heh! Lihat saja Noah!’ geram Anneke dihatinya.
“Tujuh puluh milyar rupiah!” kembali Noah bersuara.
Noah menyunggingkan senyumnya, karena dia melihat betapa besarnya keinginan wanita itu untuk mendapatkan kalung legendaris itu. Noah pun yang memiliki ego yang tinggi dan tak pernah dikalahkan oleh siapapun dibidang bisnis merasa semakin tertantang. Dia yakin jika wanita itu tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu untuk sebuah kalung.
“Dua ratus milyar!” sahut Noah dengan angkuhnya.
“Oh ya ampun! Persaingan mereka semakin memanas!” bisik para tamu undangan. Baru ini mereka melihat Noah bersaing dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah orang yang akan menemaninya makan malam. Ini menjadi tontonan yang sangat menarik bagi para kalangan atas yang hadir disana.
“Sepertinya Tuan Noah ingin menghadiahkan kalung itu pada wanitanya.” bisik tamu lainnya.
“Ya, dia sangat mencintai Nona Shelly! Lihatlah bagaimana dia menghamburkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan kalung itu demi wanitanya.” sahut yang lainnya.
Shelly yang mendengar bisik-bisik para tamu undangan pun merasa sangat bangga dan dia melupakan sejenak kekesalannya pada Anneke.
Abner pun mulai merasa khawatir pada Anneke, karena menurutnya harga dua ratus milyar terlalu mahal untuk sebuah kalung. Dia pun menarik tangan Anneke saat wanita itu ingin menaikkan tangannya. “Nona, sebaiknya tidak usah dilanjutkan lagi! Dua ratus milyar itu terlalu mahal!”
Anneke terdiam sejenak dan berpikir, ‘Kenapa aku harus peduli jika dia ingin memberikan kalung itu pada wanita selingkuhannya?’
‘Aihhhh aku tidak perlu mempedulikannya! Benar juga kata Abner, dua ratus milyar itu uang yang banyak! Baiklah……aku tidak akan menawar lagi! Tapi aku akan memikirkan cara lain untuk membalas Noah dan mendapatkan uang yang banyak darinya.’ pikir Anneke.
“Baiklah! Aku akan mendengarkan saranmu! Lagipula aku tidak punya uang sebanyak itu.”
“Dua ratus milyar, satu! Dua ratus milyar, dua! Dua ratus milyar, tiga!” ucap pembawa acara. “Maka kalung ini dimenangkan oleh Tuan Noah Arsenio! Selamat kepada Tuan Noah yang telah menyumbang untuk acara hari ini.”
“Noah, kamu menang! Kalung itu bagus sekali! Aku sangat suka, terima kasih ya.” ucap Shelly yang merasa sangat senang. Dia tak henti tersenyum dan memegang lengan Noah.
“Ehm…..kalung itu sangat spesial.” kata Noah tanpa memandang Shelly.
Acara lelang sudah selesai dan dilanjutkan dengan acara makan malam. Shelly kembali merasa dilema karena itu berarti Noah akan ditemani oleh Anne. Lalu dia pun memikirkan cara agar Noah membatalkan makan malamnya bersama wanita itu. Tiba-tiba dia memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.
Noah menatapnya dan bertanya, “Ada apa denganmu?”
“Hmm…..kepalaku sakit sekali! Noah, bisakah kau mengantarkanku pulang?” kata Shelly. Semakin mempererat genggamannya di lengan Noah.
“Aku akan meminta asistenku untuk mengantarkanmu pulang! Aku masih ada urusan disini!”
“Tapi Noah……tidak bisakah kamu saja yang mengantarku?”
“Kenapa kau tiba-tiba sakit kepala? Tadi kau baik-baik saja?” tanya Noah. “Apa kau takut aku pergi makan malam dengan Nona Anne?”
“Ha? Bukan! Kenapa kau malah berpikir seperti itu? Kepalaku benar-benar sakit Noah!” Shelly terlihat pucat dan keringat dingin mengucur didahinya. Noah menatap wajah pucat Shelly dan melihat kalau wanita itu sepertinya memang sedang tidak sehat.
“Baiklah! Kita segera pulang tapi kamu tunggu disini sebentar! Aku harus selesaikan urusanku sebentar dengan panitia lelang! Lukisan dan kalung itu kuurus dulu, bagaimana?”
“Baiklah, tapi jangan lama-lama ya Noah?” ucap Shelly yang tertawa didalam hatinya. Sepertinya usahanya untuk membatalkan Noah makan malam bersama Anne berhasil.