
Keesokan harinya Anneke mulai rencananya yang baru, membuka galeri dan perusahaan baru. Saat ini dia sedang berada disebuah bangunan yang akan dia gunakan sebagai kantor barunya.
“Berapa lama waktu dibutuhkan untuk mendekorasi bangunan ini menjadi kantor? Aku mau bangunan disebelah menjadi galeri yang terhubung langsung ke kantor ku.” kata Anneke.
“Saya akan kerahkan tim untuk memulai pekerjaan besok, secepatnya bisa segera dibuka.” jawab Abner penuh keyakinan. Hanya butuh beberapa hari saja untuk mengubah bangunan kosong itu menjadi sebuah galeri dan kantor. Apalagi Mariam Arsenio memang sudah mempersiapkan semuanya untuk membantu Anneke.
“Aku butuh kepastian, berapa hari bisa selesai? Aku mau secepatnya bisa mulai bekerja dan membuka galeriku! Banyak hal yang harus ku urus dan aku tidak mau menundanya lagi.” kata Anneke.
“Tiga hari nona!” jawab Abner dengan cepat.
“Berikan saya waktu tiga hari!”
“Apa kau yakin bisa menyelesaikannya dalam tiga hari?” tanya Anneke memastikan lagi.
“Yakin! Saya akan kerahkan banyak orang untuk mengerjakannya! Kalau perlu tim akan saya bagi dua untuk bekerja disiang hari dan malam hari. Sehingga semuanya bisa rampung dalam tiga hari.”
“Baiklah! Aku percayakan semuanya padamu! Dan bagaimana dengan orang-orang yang akan bekerja untuk di kantor?” Anneke tak ingin sembarangan merekrut karyawan baru.
“Nona Anne, Nyonya besar sudah mempersiapkan semuanya untuk anda. Dia sudah memilih beberapa karyawan terbaiknya untuk bekerja pada nona. Jadi, tidak perlu mencemaskan hal itu lagi.”
“Oh begitu? Baiklah. Bisakah kalian mulai mengerjakan renovasi dan interior hari ini? Aku akan mengurus hal lainnya.” kata Anneke yang berencana hendak menemui ayah dan kakeknya.
“Bisa nona! Lihatlah itu para pekerja sudah datang!” Abner menunjuk keluar, disana terlihat beberapa truk sudah datang membawa perlengkapan.
Anneke tersenyum puas, sepertinya nenek mertuanya itu benar-benar serius ingin membantunya membalaskan dendamnya pada Noah dan orang-orang yang menyakitinya. Dan ini baru permulaan, dia harus segera menemui ayahnya untuk membicarakan beberapa hal.
“Aku harus pergi sekarang! Tolong kau atur semuanya disini!” kata Anneke.
“Nona, supir akan mengantarmu! “ asistennya itu mengingatkan.
“Aku tahu! Katakan pada pengawal untuk tidak terlalu menonjol, aku mau terlihat seperti orang biasa saja dan tidak terlalu menarik perhatian!” ujar Anneke seraya berjalan menuju ke pintu.
Saat dia sudah berada di luar, dia memperhatikan gedung tinggi menjulang yang berada di seberang jalan tidak jauh dari tempat dimana dia akan membuka galeri dan kantornya. Anneke tersenyum puas, karena dia akan semakin sering bertemu dengan Noah. Lebih tepatnya Noah akan semakin sering melihatnya! Jika dulu dia yang mengejar Noah namun sekarang kebalikannya.
Anneke akan membuat Noah menjadi orang yang mengejarnya dan mengorbankan segalanya untuk mendapatkannya. Sama seperti apa yang dulu dilakukan Anneke untuk mendapatkan cinta dan perhatian Noah! Anneke pun berjalan menuju mobilnya, dimana supir sudah menyambut dengan membukakan pintu untuknya.
“Kita mau kemana sekarang nona?” tanya supir saat Anneke sudah berada didalam mobil.
“Ke Runako Group.” jawabnya singkat sambil mengenakan kacamata hitamnya.
Saat mobil mereka melewati gedung perkantoran milik Noah, tak sengaja dia melihat mobil Noah yang baru saja hendak keluar dari perusahaan itu. Anneke tidak bisa tidak memperhatikan mobil mantan suaminya itu.
‘Ah, ternyata dia sendiri saja didalam mobil itu.’ pikirnya. ‘Aku harus mencari tahu tentang Shelly dan semua tentangnya! Dengan begitu akan mudah bagiku untuk menyingkirkannya!’
Lalu Anneke teringat kembali pada kejadian dia mengalami kecelakaan hingga dia tewas.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di gedung Runako Group. Saat Anneke berjalan menuju ke lobi, semua mata tertuju padanya. Meskipun dia memakai kacamata hitam namun tidak menutupi kecantikannya.
Apalagi saat ini dia mengenakan baju terusan formal yang membentuk lekuk tubuhnya. Rambutnya digulung keatas memperlihatkan leher jenjangnya.
“Selamat pagi Nona.” sapa resepsionis dengan ramah. Setelah kedatangan Anneke sebelumnya, kini resepsionis pun mengenali Anneke sebagai putri dan pewaris perusahaan itu.
“Selamat pagi!” sapa Anneke tak kalah ramah. Dia langsung berjalan menuju lift dan menuju ke lantai dua puluh dimana ruangan direktur berada.
Saat ini Alfred Runako sedang berada diruangannya bersama Liam Runako ayahnya.
Mereka tidak mengetahui jika Anneke datang kesana. Keduanya tampak sedang berbincang membahas bisnis. Saat mereka sedang asyik berbicara, terdengar suara ketukan di pintu.
“Masuk!” jawab Alfred Runako. Lalu dia menoleh kearah pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat yang datang adalah putri kesayangannya. Alfred dan Liam pun langsung berdiri dan tersenyum.
“Anneke!” sahut keduanya bersamaan. “Tumben kamu datang kesini? Ayo duduk! Papa dan kakekmu sedang membicarakan tentangmu barusan. Eh, kamu malah datang tepat waktu.”
“Papa, kakek! Apa yang kalian bicarakan?” Anneke duduk di sofa bersebelahan dengan kakeknya. Alfred pun terlihat tak senang karena putrinya malah memilih duduk didekat kakeknya.
Kedua pria itu saling pandang, namun Liam Runako menatap putranya dengan senyum sombong karena cucunya lebih memilih duduk bersamanya ketimbang dengan ayahnya.
“Ah, kami hanya bicara sekedarnya saja! Sudah beberapa hari ini kau tidak pulang kerumah.”
“Oh itu! Papa, kakek maafkan aku ya. Aku pergi ke luar negera selama dua hari untuk mengikuti acara lelang untuk pengumpulan dana!” jawab Anneke.
“Apa? Kau pergi ke acara itu? Kenapa tidak bilang pada kami?” ujar Liam Runako memasang wajah sedih. Sebenarnya dia ingin sekali pergi ke acara itu bersama cucunya.
“Iya! Aku bahkan menyumbangkan lukisanku di acara itu! Apa kalian tidak mendengar kabar tentang itu? Lukisanku laku dengan harga tinggi?” ujar Anneke dengan bangga.
“Benarkah? Aku tahu cucuku sangat berbakat!” Liam bicara dengan rasa bangganya.
“Papa, terima kasih sudah memberiku alat-alat melukis! Oh iya, aku mau memberitahu kalian kalau aku akan membuka galeri dan kantor baruku.” ujar Anneke lagi.
“Galeri? Kantor baru?” Alfred dan Liam saling berpandangan karena terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Anneke akan berinisiatif untuk memulai bisnis. Alfred tahu jika putrinya itu tidak terlalu pandai dalam hal bisnis dan dia merasa sedikit khawatir.
“Anneke! Apa kau yakin ingin memulai bisnis baru? Bagaimana kau akan menjalankannya sedangkan kau sendiri tidak tahu apa-apa tentang bisnis.” ujar Alfred.
“Papa, jangan khawatir! Nenek membantuku! Aku sudah punya orang-orang kepercayaan nenek yang akan bekerja untukku dan Abner juga akan mengajariku.” Anneke ingin kedua pria itu yakin padanya.
“Baiklah! Kalau butuh sesuatu jangan sungkan untuk mengatakannya pada papa dan kakekmu.”
“Hehe…..sepertinya papa tahu saja isi hatiku.” ujar Anneke. “Sebenarnya aku memang butuh bantuan papa.” katanya lagi menambahkan.
“Katakan Keke! Kakek akan membantumu, berapa uang yang kau butuhkan untuk memulai bisnismu? Bisnis apa yang akan kau jalankan? Kakek sendiri yang akan menuntunmu!” kata Liam.