Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
89. Kasih yang begitu besar.


Mohon maaf untuk yang tidak suka dari nama tokoh yang Nara buat, tapi Nara suka. Harap skip jika 'nama aneh dan tidak lazim untuk di mengerti' 😊🙏


🌹🌹🌹


Bang Huda terus saja gelisah memikirkan kandungan Ayu dan ulah Giras yang terus saja membuatnya cemas. Matanya sulit terpejam, ia mengingat masa lalunya dulu. Memang ada saja hal di luar nalar yang sering di lakukan Giras.


Ya Allah le, kalau mau nakal.. oke lah balas ke Papa saja, Papa ikhlas tapi jangan Mama ya. Kasihan Mama sampai pontang panting urus kamu.


Tangan Bang Huda terus membelai Ayu yang sedang tidur pulas.


"Sehat di perut Mama ya ndhuk, jangan usil seperti Abang" bisik Bang Huda.


***


"Mama kenapa muntah? Malas lihat Papa ya?" tanya Giras dengan polosnya pada Mamanya.


"Mama muntah karena kita mau punya adik perempuan" jawab Ghania.


"Giras nggak mau punya adik perempuan." tolak Giras kemudian berlari keluar rumah dan menabrak Opa Juan yang akan kembali ke daerahnya.


"Kenapa ini cucu Opa?" tanya Opa Juan.


"Giras nggak mau punya adik perempuan" jawab Giras meninggikan suaranya.


"Memangnya kenapa Giras nggak mau punya adik. Jadi Abang enak lho" bujuk Opa Juan.


"Kalau Giras jadi Abang, nanti kena marah terus sama Papa karena harus jaga adik. Abang Galar saja marah kalau Kak Ghania atau Giras jatuh"


"Oohh begitu masalahnya. Sini Opa jelaskan. Berarti itu tandanya Papa sayang sama anak-anaknya. Ya memang begitu tanggung jawab kakak, apalagi jadi laki-laki.. harus bisa jaga semuanya terutama perempuan. Nggak boleh buat nangis perempuan" kata Opa Juan.


"Tapi Papa saja jahat sama Mama"


"Oya???? Jahat apa?" Papa Juan mulai penasaran.


"Papa suka mau tinggalin kita malam-malam, ajak Mama keluar sama-sama terus. Papa juga suka naik Mama katanya gemas. Khan kasihan Mama ya Opa" jawab Giras polos.


"Apaaaa??? Masa Papa begitu sama Mama? Kamu lihat apa kalau malam?? Kenapa nggak tidur??"


"Nggak lihat apa-apa. Lampu kamar Papa mati. Giras nggak bisa tidur aja karena pernah lihat Papa gigit bahu Mama di dapur padahal Mama nggak mau" kata Giras.


"Ya Tuhanku.. benar-benar otak udang si Huda" gumam Papa Juan.


"Opa nanti bilang sama Papa ya, jangan jahat sama Mamaku.. kasihan Mamaku sudah capek, Mamaku khan cantik, jangan di buat nangis"


"Nanti Opa bilang sama Papa" janji Opa Juan.


...


"Nggak sengaja Pa"


"Nggak sengaja gundhulmu..!!! Giras jadi mengira kamu jahat sama Ayu, teledor sekali kamu..!!!" tegur keras Papa Juan.


"Iya Pa, aku salah"


"Kedepankan pikiranmu, bukan nafsumu. Umurmu sudah berapa Hudaaa.. sudah tiga puluh empat, masih saja ceroboh..!!"


Kali ini Bang Huda terdiam karena menyadari dirinya memang salah dan itu adalah hal yang fatal.


"Jangan sampai seperti ini lagi. Anak laki-laki atau perempuan rawan dalam penjagaan. Terutama perempuan."


"Iya Pa."


\=\=\=\=


Waktu semakin cepat berlalu. Ayu menangis histeris saat Giras masuk rumah sakit karena perutnya tertusuk besi pengait tali bendera di sekolah. Saat itu usia kandungan Ayu sudah sembilan bulan.


"Kamu tenang dulu dek. Giras saja masih sadar." kata Bang Huda menenangkan.


"Itu pasti sakit sekali Bang, biar Ayu yang mendonorkan darah"


"Nanti itu urusan Abang.. Abang juga bisa"


"Nggak bisa, kamu baru donor darah Minggu lalu" kata dokter senior.


"Ayu saja Bang, please..!!"


"Nggak bisa sayang, kamu lagi hamil..!!" tolak Bang Huda menenangkan Ayu.


"Tolong Bang, tolong anakku..!!" Ayu merasakan perutnya terasa sangat sakit sampai merosot memeluk kaki Bang Huda.


"Iya dek, pasti sayang..!!" Bang Huda membantu Ayu berdiri.


"Bang, sepertinya si dedek minta keluar" ucap Ayu sambil melihat kakinya yang basah.


"Aaaaahh.. Abaaaanngg..!!" pekik Ayu tak karuan.


"Iyaa.. iyaaa.." Bang Huda segera membawa Ayu menemui Bang Pratama.


...


Opa Ranggi dan Oma Hana menemani Giras yang sedang di tangani dokter dan Opa Ranggi pula yang memberikan darah untuk cucunya yang luar biasa itu sedangkan Bang Huda menemani persalinan Ayu.


//


"Sekali lagi dek.. tekan yang kuat..!!" Bang Huda mengintip ke bagian bawah Ayu.


Ayu membuang nafas pelan. "Nggak kuat Bang"


"Jangan begitu, kamu pasti bisa.." kata Bang Huda menyemangati Ayu.


"Aaaaaaa.. sakiiittnya Bang..!!!" tak hentinya tangan Ayu menarik kaos Bang Huda.


"Iya sayang..!! Maaf ya..!!" Bang Huda mencium kening Ayu, rasa tak tega Bang Huda semakin menjadi. Perjuangan sang istri membuat batinnya trenyuh sekaligus teriris perih.


Ayu berusaha mengejan sekuatnya dan kini Bang Huda yang merasa tidak kuat melihat perjuangan Ayu. Bang Huda memejamkan mata, menggigit kuat bibirnya saat Ayu berjuang keras. Tangis Bang Huda pecah, air matanya tumpah ruah beriringan dengan tangis bayi kecil yang baru saja meluncur.


"Alhamdulillah.. perempuan ya Da" kata Bang Pratama.


"Siap Bang. Alhamdulillah..!!" ucap syukur Bang Huda.


...


Malam itu Bang Huda menjaga Giras sekaligus Ayu salam satu ruangan atas permintaan istri tercintanya.


"Berhenti main game nya sekarang juga..!! Adik tidur..!!!" tegur Bang Huda karena Giras terus bermain ponsel dan sedang adu ketangkasan dengan Abangnya yang sedang berada di rumah bersama Papa Juan dan Mama Sasti.


"Sabar Pa, ini mau menang lawan Bang Galar"


"Kamu ini sebenarnya sakit atau tidak??"


"Sakit Pa" jawab Giras.


"Kalau sakit ya tidur, jangan urus ponselmu saja..!!"


"Tidur nak, biar cepat sehat" kata Ayu.


Saat itu juga tanpa menunggu waktu lama, Giras segera menghentikan permainannya dan meletakan ponsel itu di nakas. Bang Huda sampai melotot melihat segampang itu Ayu berbicara pada putranya.


~


"Giras menurut sekali apa katamu, kamu kasih apa dia??"


"Nggak ada Bang, Abang memang keras sama anak.. Ayu khan nggak" jawab Ayu.


"Abang keras untuk kebaikan anak-anak. Dia khan laki-laki, harus punya pribadi yang terbentuk. Kamu tau sendiri, Galar dan Giras sikap dan kelakuannya berbeda. Galar juga banyak tingkah, tapi dia lebih kalem. Kalau Giras jelas, PR buat Abang.. tingkahnya luar biasa. Lihat saja dia, manjat tiang bendera sampai terpeleset dan perutnya sobek.. setelah sadar masih sanggup teriak dan main game seakan tidak terjadi apapun setelah membuat keributan sebesar ini. Kamu sampai harus melahirkan segala" jelas Bang Huda panjang lebar.


"Iyaa.. nggak usah emosi lagi Bang" kata Ayu, ia tersenyum melihat Bang Huda terus menciumi wajah putri kecilnya. "Abang belum kasih dia nama"


"Oiya" Bang Huda berpikir sejenak sambil mondar-mandir menggendong gadis cilik yang sudah membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Wajah yang sendu dan tenang, kali ini lebih mengarah pada cantiknya Mama Hana. "Bagaimana kalau Gallini Ken Sabda Paksi karena Abangnya Giras Sabda Tinular"


"Baby Gallini ya Bang?"


"Nggak.. Abang maunya Niken"


"Laahh.. kok jauh sekali Bang. Ambil Ni dan Ken saja"


"Apa itu cocok? nama anak kita semua berawalan huruf G"


"Setelah Ghania, kamu si boneka cantik kesayangan Papa" Bang Huda menghela nafas panjang. "Niken itu adalah anak perempuanku, kehormatan yang ku jaga sebaik mungkin hingga nanti ada yang mengambilnya dariku dan menyayanginya seperti diriku. Abang sayang dia dek. Putri kecilku.." Bang Huda mengecup wajah mungil itu hingga kembali berurai air mata.


Ayu tersenyum melihat sayang dan lembutnya Bang Huda pada kedua putrinya dan sangat keras mendidik kedua putranya.


"Sayangmu tidak akan sia-sia Bang"


Bang Huda membalas senyuman Ayu. "Aamiin..!!"


.


.


.


.