Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
81. Trouble maker jilid 2.


Nikmati setiap cerita yang terkadang terjadi di sekitar kita, jangan anarkis karena membaca tidak pakai tenagaโ˜บ๏ธ๐Ÿ™.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Waaahh.. lucu Bang"


"Kamu suka burung??" tanya Bang Huda.


"Suka Bang, apalagi sejak menikah sama Abang, Ayu jadi suka" jawab Ayu sambil menyuapi anakan burung kakatua jambul kuning.


Pipi Bang Huda memerah, ia menggaruk kepalanya sedikit salah tingkah padahal Ayu memang membahas burung.


"Abang kenapa? ini kakatua lho Bang" kata Bang Arial.


Bang Huda tertawa sambil menepuk kepalanya sendiri. "Nggak tau Ar, pikiran Abang nggak bisa positif."


Bang Arial pun ikut tertawa karena sebenarnya pikiran keduanya memang satu jalur.


"Kalau begitu mana suratnya kedua gadis ini?" tanya Bang Huda.


"Siap, ini Dan" Om Edwin menyerahkan surat kepemilikan burung pada Bang Huda.


"Sekarang sit up kamu..!! Hampir saja saya ribut sama Ayu..!!" terlihat sekali masih ada dendam dalam hati Bang Huda.


...


Dua bulan lalu Bang Ardan masuk ke Markas batalyon karena perintah tugas Bang Ardan sampai kesana. Sebenarnya Bang Huda tidak terlalu peduli akan hal itu sebab Ayu sendiri tidak peduli pada seniornya itu.


"Istrimu mana Da?" tanya Bang Ardan menyapa Bang Huda.


"Istirahat Bang di camp bazar, sepertinya Ayu kecapekan."


"Gitu ya. Oiya, apa boleh Abang bertemu dia sebentar saja?"


Mengingat banyak orang di camp bazar, tidak mungkin jika Bang Ardan akan berbuat hal di luar batas kewajaran. "Silakan Bang, nanti saya menyusul. Masih ada rekan dan tamu disini"


"Oke.. terima kasih banyak ya ijinnya." ucap Bang Ardan penuh rasa terima kasih.


"Siap Abang.. sama-sama"


:


"Maaf Ayu, suamimu sudah mengijinkan Abang menemui mu disini"


"Memangnya ada perlu apa?" tanya Ayu tidak seberapa bersahabat.


"Abang punya bujangan untuk kamu sama anak-anak" jawab Bang Ardan.


"Maksud Abang apa???"


:


Bang Huda berniat menemui Ayu yang kata Edwin sedang mengikuti langkah Bang Ardan ke samping gudang senjata. Benar saja, ada Ayu dan Bang Ardan disana. Bang Huda menghentikan langkahnya.


"Bagus Bang, hitam begini.. gagah. Ayu suka." kata Ayu.


Hati Bang Huda sangat panas sampai mendekatkan telinganya terus berusaha berpikir positif yang tidak akan pernah menjadi positif.


"Iya donk, beda lah sama punya Huda. Ini burung sudah dewasa, sudah matang"


Emosi Bang Huda merangkak naik, ubun-ubun nya terasa memanas, hatinya cemburu dan terbakar. Ia menghampiri keduanya.


"B******n, j****k.. berani sekali bicara begitu di depan istri orang..!!!!!!" bentak Bang Huda sampai akhirnya melihat burung kakatua raja di tangan Bang Ardan. "Lho.. kok burung??" Bang Huda bingung di buatnya.


"Ya memang burung, memangnya kamu pikir burung yang mana Huda??" tanya Bang Ardan.


"Si_ap Bang" suara Bang Huda mendadak hilang bersamaan dengan rasa malu tak terkira.


:


"Abang ini bikin malu aja. Bisa-bisanya pikiran jalan kemana-mana"


"Abang mana tau kalau yang di bawa Bang Ardan ternyata burung kakatua raja. Abang kira Bang Ardan mau godain kamu"


"Di amplas tuh pikiran Abang, mesum aja..!!" protes Ayu.


"Ngaku deh Bang...!! Abang kesal karena kalah saing sama Bang Ardan khan? Hadiah dari Bang Ardan lebih bagus daripada kakatua jambul kuning punya Abang" ledek Ayu.


Bang Arial yang sejak tadi terdiam dalam satu ruangan itu akhirnya angkat bicara. "Sebenarnya Abang juga punya hadiah untuk Mbak Ayu sebagai tanda sayang dari Abang karena sudah mau menjaga si kecil di perut Mbak Ayu, sayangnya kemarin surat kepemilikan si Sky belum selesai, jadi nanti sore hadiah imut untuk Mbak Ayu baru datang."


"Hadiah imut?? Apa itu Bang?"


"Ijin Abang..!!" Bang Fatih masih berdiri di samping ruang kecil, tidak berani menyapa kedua senior yang sedang berada di dalam ruang kecil bersama pasangan.


"Kenapa??" tanya Bang Huda.


"Ijin Bang, Sky sudah datang. Sedang di bawa Prada Edwin kesini..!!" jawab Bang Fatih.


"Bawa saja kesini. Istri saya mau lihat..!!"


:


"Mana Bang?" tanya Ayu berdiri di tengah lapangan dengan tidak sabar.


"Sabar lah, dia sudah tau wajah dan aroma tubuhmu juga Abang. Nanti dia akan mencarimu. Kalau ini benar-benar bujangan. Rupanya sangar, tapi dia kalem-kalem gesit" jawab Bang Huda. "Lha itu dia si Sky" kata Bang Huda tapi di luar dugaan ternyata Sky terbang tinggi dan menerjang Ayu.


"Ya Allah Bang, Astagfirullah.. Hwaaaa.. besar sekali burungnyaaaa..!!!!!" teriak Ayu.


Bang Huda tau maksud perkataan Ayu tapi pikiran kotornya tidak bisa hilang dari kontaminasi akut saat Ayu memekik kata-kata yang membuatnya tercengang. "Lhoo.. Heehh Edwin..!!! Kenapa di lepas, Sky masih garang..!!!"bentak Bang Huda mulai menyadari keadaan gawat di sekitarnya.


Benar saja, Sky si burung Elang besar terbang menerjang Ayu.


"Abaaaanngg..!!!!" teriak kuat Ayu, Bang Huda memutar memasang badan melindungi sapaan Sky hingga Sky hanya bisa menyambar topi sang Danki bringas sama seperti peliharaan barunya.. si Sky. Tak hanya itu, Sky menyerang brutal tubuh Bang Huda hingga suami Ayu itu harus menampar Sky hingga menggelepar dan lebih tenang.


Saking kagetnya Ayu, nafasnya terasa sesak hingga tak sadarkan diri.


"Dek.. sayang..!!" Bang Huda menyangga tubuh Ayu dan mendekapnya. "Duuuuhh. malah marai molo iki piye to" gumam Bang Huda kemudian membawa Ayu ke tenda darurat.


~


"Kali ini aku nggak konspirasi ya Da, istrimu benar-benar syok di samping fisiknya kelelahan."


"Kandungannya bagaimana?" tanya Bang Huda cemas.


"Aman. Fisik Ayu saja yang drop" jawab dokter Alamsyah.


"Apa perlu rawat inap???"


"Kalau belum sadar juga dalam lima belas menit ya terpaksa rawat inap" saran dokter Alamsyah.


Bang Huda menepuk dahinya dengan gusar.


:


Bang Huda menepak topi Om Edwin sekuatnya karena begitu jengkel sudah membuat Ayu pingsan karena kaget.


"Saya sudah melaksanakan perintah Danki..!!"


"Kamu ingat perintah saya???????" bentak Danki.


"Siap.. Ijin Danki.. tadi Danki mengatakan 'kalau si Sky sudah datang, langsung saja di adu dengan burung saya biar istri saya lihat burung mana yang lebih hebat' " jawab Om Edwin menjawab dengan benar dan tepat.


"Kenapa otakmu nyangkut di pagar????? Kamu pasti berpikir yang tidak-tidak" bentak Bang Huda lagi.


"Bukan begitu Dan. Coba kalau Danki bilang mau di adu dengan Salsa dan Sanya, pasti saya paham. Kalau begitu khan saya pikir burung gereja." sanggah Om Edwin mencoba membela diri.


"Burung gereja matamu. Kau tau ini sudah foto copy nya Sky. Gagah, kuat tak terkalahkan. Memangnya punyamu.. pelatuk" emosi Bang Huda menanggapi Om Edwin.


.


.


.


.


.