Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
56. Penyelesaian rasa.


"Tolong belikan saya beberapa mainan anak-anak yang biasa ada di taman kanak-kanak..!!"


"Ijin Dan.. buat apa?" tanya Pak Zafir.


"Istri saya minta di buatkan taman bermain untuk anak-anak. Saya minta double safety ya..!! Bagian bawah pakai alas, pegangan tangan pada mainan di usahakan tinggi" perintah Bang Huda.


"Siap laksanakan Dan"


"Yeeeaayy.. terima kasih Abang..!!" Ayu berjinjit mencium pipi Bang Huda.


"Itu saja??" tanya Bang Huda.


"Memangnya Abang mau apa?"


"Ya taman bermain juga" canda Bang Huda sembari menagih sesuatu yang menjadi hak nya.


"Ini masih jam sembilan pagi lho Bang, jangan punya pikiran sesat" tegur Ayu.


Bang Huda tertawa mendengarnya. "Kalau Abang pacarmu ya sesat, masa suami yang minta di bilang sesat" jawab Bang Huda tertawa kemudian berlalu meninggalkan Ayu.


...


Bang Huda memantau para anggota yang sedang membuat taman bermain.


"Ijin Dan.. ini isi labunya..!!" kata Om Edwin sambil menyerahkan sekantong kresek hitam.


"Isi labu??" Bang Huda mengambil kantong dari tangan Om Edwin dan ternyata benar. "Kamu tadi dengar saya bilang apa?"


"Siap.. Biji labu"


"Lalu kenapa yang datang seratnya labu??" tanya Bang Huda.


"Ya masa Ibu Ayu mau makan bijinya??" jawab Om Edwin kemudian tertawa terbahak dan langsung mendapat tatapan tajam dari Bang Huda.


"Kamu pikir saya main-main?? Mau makan kerikil sekalipun kalau bumil yang minta.. kamu bisa apa??" suara keras Bang Huda seketika mengunci rapat mulut Om Edwin.


"Siap salah..!!"


"Cari biji labunya sampai dapat..!!!!!"


"Ijin Dan, kenapa Ibu Ayu di kasih biji?? itu nggak ada gizinya" tanya Om Edwin.


"Lailaha Illallah.. yang minta Ayu sendiri..!!!! Kalau saya yang pilihkan juga saya nggak akan kasih biji labu, minimal saya cekoki keju" suara Bang Huda sampai meninggi. "Cepat cari biji labu..!! saya sudah migrain lihat kamu..!!"


"Siap Dan.."


Bang Huda memijat pelipisnya, apapun yang menyangkut tentang Ayu pasti membuatnya sakit kepala. Tapi khusus untuk Ayu, rasa cintanya yang begitu besar membuatnya melupakan sakit kepalanya.


Bang Huda pun mengambil ponselnya, ia menghubungi Om Madya.


"Selamat siang Dan.. ijin arahan..!!"


"Bantu saya cari biji labu..!!"


"Siap Dan, saya carikan sekarang juga" jawab Om Madya.


...


"Kamu tau bentuk biji labu nggak?" tanya Bang Huda kembali terpancing emosi melihat hasil bawaan Om Edwin.


"Siap tau"


"Kamu tau ini labu apa???" Bang Huda menyodorkan biji labu tersebut di hadapan Om Edwin.


"Siap.. kata pedagangnya biji labu siam" jawab Bang Huda.


"Saya bilang labu parang"


"Ijin Dan, saya nggak tega Ibu Ayu makan biji kecil".


"Allahu Akbar, Edwiiiiinn..!!!!!"


Tak lama Om Madya datang membawa biji labu yang sudah bersih. Ia melihat juniornya sudah berhadapan dengan Danki C. "Ijin Dan, ini labunya..!!"


Bang Huda memeriksanya dan ternyata sesuai dengan perintah tanpa harus ada banyak penjelasan mendetail. "Oke, terima kasih ya..!!"


"Siap Dan..!!"


Om Edwin melongok masih melihatnya, entah kenapa perasaannya masih kurang sreg dan tidak tega kalau Ayu harus memakan sesuatu yang menurut pandangannya tak bergizi.


"Jangan di kasih banyak ya Dan, kasihan Ayu.." kata Om Edwin.


Seketika itu juga Bang Huda berkacak pinggang. "Ayu istri saya atau istrimu?" bentak Bang Huda sudah panas hingga ke ubun-ubun kepala. "Sikapmu ini seolah-olah kamu yang paling paham tentang Ayu, kamu nggak memandang saya sebagai suami Ayu???"


"Sabar Dan.. nanti saya yang akan beri pengertian untuk Edwin" bujuk Om Madya.


"Terserah kamu..!!"


...


Sore hari saat semua anggota sedang persiapan untuk acara makan bersama, Bang Arnold terduduk lemas di samping gudang senjata, wajahnya pucat dan saat itu Bang Huda sendiri yang melihatnya.


"Arnold.. kamu sakit??" tanya Bang Huda.


"Saya baik-baik saja Bang" jawab Bang Arnold.


"Baik-baik saja matamu, ayo ke ruang kesehatan..!!" Bang Huda memapah Bang Arnold menuju ruang kesehatan.


~


"Ada apa Bang?" tanya Ayu saat Bang Huda memintanya datang ke ruang kesehatan.


Melihat ada Bang Arnold berbaring di ranjang, Ayu mundur dan menghindar dan tidak ingin melihat pria itu lagi.


"Sini dulu sayang, temani Abang disini..!!" pinta Bang Huda.


"Ayu nggak mau Bang" tolak Ayu.


Bang Huda menarik pinggang Ayu dan akhirnya Ayu bersandar di dada suaminya itu.


"Arnold.. saya tau hatimu masih ada beban. Saya ingin semua clear hari ini juga..!!" pinta Bang Huda.


"Ijin Bang.. saya nggak apa-apa" Bang Arnold tetap kukuh pada pendiriannya.


"Oohh begitu?? Kamu mau saya menghajarmu karena cemburu??"


"Abaang.. Ayu mau keluar, Ayu benar-benar nggak ada rasa sama Bang Arnold" Ayu kembali ketakutan.


Bang Huda mengeratkan pelukannya kemudian mengusap kepala Ayu. "Kalau nggak ada rasa ya sudah, kamu diam saja.. Abang sedang bicara sama Arnold. Ini urusan laki-laki..!!"


"Maaf Abang, saya mohon maaf..!!"


"Masih ada rasa tertinggal??" tanya Bang Huda menuju sasaran.


Bang Arnold terdiam. Kini Ayu yang semakin lemas, kaki Ayu terasa tak bertenaga.


"Maafkan saya Bang..!! Saya sedang proses menata hati.. terus terang sangat sulit Bang. Bukan rasa tertinggal yang saya rasakan, tapi lara yang menggores. Kalau boleh, saya minta dinas luar..!!" pinta Bang Arnold.


"Maaf Arnold.. kita sudah sama-sama dewasa dan mungkin sudah cukup tua untuk menyikapi segala keadaan. Saya tidak bisa mengijinkan kamu berangkat dinas, kita harus hadapi semua ini bersama dan membiasakan diri dengan kehidupan kita yang baru. Maaf kalau kata-kata saya menyakiti hatimu." jawab Bang Huda.


Mata Bang Arnold terpejam.


"Sejujurnya.. hati saya juga terasa sangat sakit. Bukan karena masa lalu kalian, tapi karena petaka yang timbul karena masa lalu kalian. Terima kasih banyak segala cintamu untuk Ayu, tapi sekarang saya yang akan melanjutkan perjuangan itu." ucap tegas Bang Huda. Ia tau bagaimana perasaan Bang Arnold saat ini, yang sampai berbuat nekad karena mencintai Ayu.


"Saya paham Bang, saya ikhlas" jawab Bang Arnold.


"Hmm.. berhubung kamu minta tugas, apa kamu bisa terima tugas dari saya?" tanya Bang Huda mengalihkan suasana.


"Siap..!!"


"Tolong jemput seseorang di bandara besok pagi. Syarin.. Syarin Hansa kaluna.. Itu namanya. Bisa kamu ingat??"


"Siap.. ingat Bang..!!"


.


.


.


.