
Mata Ayu menatap kesal wajah Bang Huda kemudian mengambil dan membawa masuk coklat yang tadi sempat di lempar Bang Huda.
"Kamu nggak tanya Abang mau kemana?" tanya Bang Huda karena sikap Ayu seakan tak peduli lagi dengannya.
"Terserah Abang, kalau Abang ingat anak istri pasti tidak akan punya niat macam-macam" jawab Ayu.
"Lalu kamu sendiri, kenapa kamu terima coklat itu? Coba kalau Abang yang begitu, pasti naluri herder mu keluar."
"Ya karena Ayu suka coklat" jawab Ayu singkat.
"Ya Tuhan, kenapa wanita selalu benar????" gerutu Bang Huda kemudian pergi meninggalkan tempat.
"Ijin Dan, apa malam ini jadi rapat sama Bu Siska?" celoteh Om Edwin.
Bang Huda sampai gugup karena Om Edwin mengatakan hal yang sebenarnya wajar, tapi masalahnya saat ini Ayu sangat tidak menyukai Siska karena masalah kemarin. Candaan Siska tidak bisa di terima hati dan jalan pikiran Ayu.
"Jadi" jawab Bang Huda hati-hati.
Ayu berjalan masuk ke dalam rumah masih bertahan dengan sikap tidak pedulinya, ia segera mengambil ponselnya kemudian terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Wa'alaikumsalam Bang, sepertinya nanti malam Bang Huda nggak bisa ikut makan malam. Bagaimana kalau kita berdua saja" kata Ayu.
"Waaahh.. yang benar nih?" tanya Bang Ardan.
"Iya, Bang Huda mengijinkan" jawab Ayu.
Mata Bang Huda membulat besar, hatinya panas mendidih.
Sebelum Bang Huda menegurnya, Ayu sudah mematikan panggilan teleponnya.
"Apa katamu?? Mengijinkan??? Siapa yang mengijinkan kamu bertemu dengan pria lain??" nada suara Bang Huda meninggi.
"Untuk apa Abang diam-diam bertemu dengan Siska?" tanya Ayu.
"Abang rapat, rapat juga nggak hanya berdua. Ada rekan yang lain. Bang Farid, Leo, Saja semua juga ada disana" jawab Bang Huda.
"Ayu juga nggak hanya berdua. Ayu bawa anak-anak sama ini.. yang masih ada di dalam perut" tunjuk Ayu.
"Astagfirullah hal adzim.. susah ya mengerti bahasa manusia??" emosi Bang Huda perlahan naik.
"Apa Abang juga sulit mengerti kalau Ayu nggak suka Siska..!!!" ucap keras Ayu. "Sudahlah Bang. Ayu mau dandan.. bersiap dinner sama Bang Ardan"
"Terserah kamu lah, pergilah kalau mau pergi..!!" bentak Bang Huda akhirnya benar-benar pergi.
...
Sepanjang acara rapat, Bang Huda sama sekali tidak bisa konsentrasi. Entah kenapa pikirannya melayang, tak bisa berpikir jernih dan terbayang kebersamaan Ayu dan Bang Ardan sedang tertawa bersama mengasuh si kembar dengan bahagianya. Hatinya terasa sakit bagai tertusuk pisau tajam.
"Sudah jelas Kapten Huda?" tegur Danyon yang juga adalah Bang Farid, kakak ipar Bang Huda.
"Siap salah..!!" jawab Bang Huda karena memang tidak mendengar arahan Abangnya sama sekali.
"Push up kamu, ini arahan untuk kegiatanmu besok. Kenapa tidak perhatikan? Sudah paham alurnya??" tanya Bang Farid tidak pandang status dalam hal apapun.
"Siap laksanakan push up komandan..!!" Bang Huda segera mengambil tempat dan push up.
:
"Kamu itu kenapa?" tegur Bang Farid melihat Bang Huda berwajah masam.
"Nggak apa-apa Bang, kepikiran Ayu saja." jawab Bang Farid.
"Memangnya Ayu kenapa? apa kehamilan kedua ini bermasalah?" tanya Bang Farid.
"Sudah biasa itu mah, bumil cari perkara. Mbak mu Hana saja setiap hari buat Abang pusing. Ada saja yang di minta, pengen minum setiap hari ganti warna air.. hari ini hijau, besok merah, lusa kuning.. sampai sirup satu toko Abang beli biar dia puas. Akhirnya waktu melahirkan dia kesulitan karena terlalu banyak minum manis" jawab Bang Farid yang juga ikut menghisap rokoknya.
:
Ayu pulang membuka pintu rumahnya kemudian mendorong kereta bayinya masuk ke dalam rumah.
"Sudah puas jalan-jalan sama Ardan????" tegur keras Bang Huda.
"Apa sih Bang" Ayu tak ingin menanggapi pertanyaan Bang Huda, tubuhnya sudah terlalu lelah.
"Darimana kamu?? nginap di hotel??"
"Kalau sudah tau jangan tanya lagi" jawab Ayu.
"Kamu kalau mau ngel***e jangan bawa anak-anak ku..!! Puaskan kelakuanmu di luar sana kalau belum puas menikmati masa muda mu..!!!" bentak Bang Huda kemudian mengambil Galar dan Ghania ke dalam gendongannya. "Kalau Abang mau, Abang juga bisa ajak Siska ngamar. Janda seperti Siska juga pasti mau kalau Abang ajak cari keringat berdua, sayangnya Siska itu perempuan yang lurus saja meskipun mulutnya tak karuan" Bang Huda masuk ke dalam kamar bermaksud membiarkan Ayu menyadari kesalahannya.
tok.. tok..tok..
Ayu menarik nafas panjang kemudian membuka pintu rumah.
"Ijin ibu, tas popok dedek kembar tertinggal" kata Bu Zafir mengembalikan tas milik Ayu.
"Oohh iya Bu Zafir, terima kasih banyak ya. Nggak apa-apa kok tertinggal.. besok pagi kita juga masih ada kegiatan lagi" jawab Ayu dengan senyum yang harus ia paksakan.
"Nggak apa-apa ibu. Saya pamit dulu ibu" kata Bu Zafir.
"Nggih Bu, Terima kasih banyak" ucap Ayu.
***
Semalam suntuk Bang Huda tidak bisa tidur. Hatinya kesal di landa cemburu buta. Bayangan Ayu bermanis manja pada Bang Ardan semakin meremukkan hatinya.
"Semalam kamu kemana dek?" gumamnya. Pikiran kotor tidak jelas tak hentinya melayang-layang. Sarapan pagi yang di siapkan Ayu masih utuh belum tersentuh olehnya. Teh yang tadinya panas sampai ikut menjadi dingin.
Ayu lewat di samping Bang Huda usai mandi, handuk masih terlilit sebatas dada. Aroma wangi tubuh Ayu begitu menggoda imannya. Bang Huda melirik ke arah Ayu, tangan itupun menyambar tangan Ayu kemudian mendudukkan di atas pangkuannya dan mengarah padanya.
"Apa yang kamu lakukan semalam sama dia??" gigi Bang Huda sampai bergemeretak jengkel. "Apa yang dia sentuh??" Bang Huda membuka kedua paha Ayu.
"Abang kenapa sih?? Dari kemarin Abang mikir aneh-aneh" kata Ayu.
"Bukannya semalam kamu bersenang-senang sama Ardan?? Bisa menyenangkan dia, kenapa ketus begini sama Abang?"
"Apa bedanya dengan Abang, semalam Abang juga bertemu Siska di kantor" jawab Ayu.
"Rapatnya hanya laki-laki, nggak ada perempuan" Bang Huda sudah semakin gemas saja. Bang Huda membongkar kembali seragamnya yang sudah terpasang rapi.
"Iihh Abang, Ayu harus bersiap berangkat" Ayu menyingkirkan tangan Bang Huda yang mulai nakal.
"Diam..!!!" tanpa perhitungan dan sayang, Bang Huda menembus tubuh Ayu. Rasa kesal yang penuh sesak dalam dada membuat emosinya tidak terarah. "Apa ini niatmu?? Hati Abang sangat sakit menahan cemburu, apa kamu puas???" ucap keras Bang Huda.
"Selama masih ada perempuan di sekitar Abang, Ayu nggak suka"
"Kamu egois sekali sayang, Abang kerja.. nggak main perempuan" Bang Huda kalap dan menyelesaikan Ayu saat itu juga. "Kamu berani mengerjai suami, berarti harus siap tanggung akibatnya..!!!!!"
.
.
.
.