Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )

Lorengku Vs Kamu ( BCMT 3 )
67. Hasil perbuatan.


Sudah berbagai posisi di lakukan sampai Ayu nyaris kehabisan tenaga.


"Biar posisi seperti ini saja Bu, istri saya lebih bebas melakukan apapun." kata Bang Huda dalam cemasnya.


:


Ayu membuka matanya perlahan setelah beberapa orang bidan menepuk pahanya kembali. "Ayo Bu Huda.. bayinya sudah terlihat. Kuat ya Bu, sedikit lagi..!!"


"Ayo cah ayu, sedikit lagi ndhuk..!!" suara Bang Huda sudah parau menahan tangisnya.


"Siap ya Bu Huda, tarik nafas dalam-dalam.. iyaaa.. bagus begitu Bu. Yang kuat..!!" kata Bu bidan.


Tenaga Ayu belum cukup kuat sampai ia kembali lemas. Tangan Bang Huda pun sudah luka akibat cakaran Ayu.


"Ayu nggak mau hamil lagi Bang, sakiiitt..!!"


"Iyaa.. iyaaa.. nggak lagi" Bang Huda mengecup puncak kepala Ayu.


"Biasanya kapok lombok Bu, jarak berapa lama.. eehh minta lagi" kata Bu bidan bertubuh subur.


Mama Sasti pun tersenyum karena memang benar adanya.


Ayu kembali gelisah merasakan ada dorongan dari dalam perut sampai tanpa sadar mengigit tangan Bang Huda. Suami Ayu itu hanya bisa merasakan sakit dan meringis tanpa bisa berkata apapun lagi karena sakit yang ia rasakan tidak seberapa daripada sakit yang di rasakan Ayu.


"Ayo Bu, mengejan kuat ya.. kuat sekali..!!" pinta Bu Bidan.


"Tekan pinggulnya..!!" dokter Alamsyah memberi arahan pada Bang Huda.


Ayu mengejan sekuat tenaganya. Hati Bang Huda ikut nyeri tak tertahan.


"Allahu Akbar.." rasanya nyawa Bang Huda tercabut begitu saja. Tubuhnya seketika lemas tak karuan melihat bayi kecil keluar dari 'pintu'. Tangis Bang Huda pecah, dadanya terasa sesak.


"Alhamdulillah.. laki-laki yo bro" kata dokter Alamsyah.


"Alhamdulillah Ya Allah." Bang Huda memeluk mencium wajah Ayu.


"Sakiiiiiiit.. sudaah Bang"


"Alhamdulillah.. Papaa.. cucu kita yang pertama laki-laki Pa" ucap Mama Sasti melihat bayi laki-laki terlahir.


Papa Juan bersujud syukur atas kelahiran cucu pertamanya tersebut.


Bang Huda tidak bisa mengatakan apapun selain mendekap erat tubuh Ayu dan menenangkan istrinya.


Perhatian Bang Huda sedikit teralihkan melihat bayi mungil yang ada bersama seorang bidan dan mamanya.


"Aaaaaaaaaah.." kaki Ayu menendang kesakitan sampai Bang Huda harus membantu menenangkan istrinya.


Dokter Alamsyah akhirnya ikut menenangkan Ayu sembari berunding dengan ibu bidan.


"Jalan lahir sudah sobek, jadi kamu tekan kuat pinggul Ayu karena pinggul ini juga sempit" kata dokter Alamsyah kemudian memasang selang oksigen pada hidung Ayu.


:


"Pintar.. sekali lagi yang kuat..!!!!" kata dokter Alamsyah. "Kerahkan tenagamu, istri pasukan harus tangguh nggak boleh lemah..!!


Bang Huda menggigit bibirnya tak sanggup melihat Ayu yang sedang berusaha keras.


Ayu menarik pakaian Bang Huda sekuat-kuatnya.


"Alhamdulillah.. sendang" kata dokter Alamsyah.


Terlepaslah cengkeraman kuat dari tangan Ayu.


"Matur sembah nuwun Gusti..!!" Bang Huda menangis sejadi-jadinya kemudian bersujud syukur atas kelahiran kedua buah hatinya.


Secepatnya Bang Huda memeluk Ayu. Peluk dan ciuman hangat menghujani wajah Ayu. "Terima kasih banyak dek. Hidup Abang terasa lengkap dan sempurna karena hadiahmu ini. Maaf.. Abang membuatmu susah seperti ini"


Baru kali ini Ayu melihat air mata Bang Huda. Air mata dari seorang pria berdarah dingin. Ia pun ikut terharu.


"Bang, Ayu lapar"


"Mau sambal goreng kentang" pinta Ayu.


"Iya.. sebentar lagi Abang cari. Mau adzanin anak-anak sebentar ya..!!" Bang Huda mengecup bibir Ayu lalu segera beranjak. "Walaah.. kancing bajunya sampai lepas dek" Bang Huda melihat kancing pakaian seragamnya menggelinding ke sela pintu.


...


Bang Huda usai mengadzani kedua buah hatinya. Air matanya masih menetes melihat kedua malaikat mungil hasil peperangan misi rahasia antara dirinya dan Ayu.


"Kenapa satu pun hasil perbuatanmu nggak ada yang mirip Ayu?" tanya Papa Juan ikut melirik cucunya.


"Ya mereka khan anakku Pa" jawab Bang Huda.


"Kalau mamanya ngamuk gimana? nggak kebagian. Dulu Papa di cemberutin sehari semalam sama Mama gara-gara kamu dan Saka mirip Papa" bisik Papa Juan.


"Mudah-mudahan nggak Pa."


"Ngomong-ngomong.. putri kecilmu ini Papa bawa ya" kata Papa Juan.


"Jangan donk Pa, enak saja main bawa. Ayu setengah mati begitu, aku stress banget Pa lihat Ayu" jawab Bang Huda.


"Yo wes kalau nggak boleh, Papa nggak paksa. Nanti Papa culik aja" ucap Papa Juan tak melepas pandangan dari kedua cucunya. "Siapa nih yang mau ikut Opa?? Nanti Opa belikan motor trail sama alat make up satu set.


"Pa.. nggak usah aneh-aneh ya. Baru setengah jam lahir nih. Jangan di ajak onar..!!"


Papa Juan tertawa terbahak mendengar putranya mulai posesif pada kedua buah hatinya.


:


"Galar Sabda Luhur dan Ghania Sabda Madayasa ya Bang?" tanya Bang Leo yang sudah hadir melihat keponakan kecilnya.


"Hmm.. gampang diingat khan?"


"Lumayan" jawab Bang Saka. "Ini Om Leo, cepat besar ya.. nanti kita main petasan"


"Kurang ajar betul kau ya, tadi Opanya ajak main motor trail, sekarang kau datang ajak main petasan" gerutu Bang Huda tapi sesaat kemudian matanya melihat Bang Saka dengan wajah sendu. "Kau kenapa?"


"Nggak kebayang bagaimana sakitnya Ayu tadi, aku dengar dia menjerit kencang. Satu saja sudah hampir merebut nyawa. Ini malah dua" kata Bang Saka sambil mengusap pipi baby Galar. "Kamu nggak boleh nakal sama Mama, cukup Papa mu saja yang kurang ajar. Papa Saka pasti ikut marah kalau ada laki-laki yang nggak punya rasa sayang dan hormat sama perempuan."


Bang Huda menepuk bahu saudara kembarnya.


Tak lama ponsel Bang Huda berdering, ada panggilan telepon dari Bang Langsang.


"J****k kowe yo. Ngomong apa kamu sampai anakmu lahir lebih cepat??????" bentak Bang Langsang.


Bang Huda menjauhkan ponselnya dari telinga. "Ya Allah, bukannya salam malah misuh"


"Kamu memang pantas di maki..!! Berani kau poligami, aku berangkat sekarang kesana.. ku buat kau jadi dodol..!!" bentak Bang Langsang lagi.


"Nggak Lang, aku hanya bercanda. Adikmu itu sudah sejak awal suka mengerjaiku, aku hanya membalasnya sedikit. Siapa sangka anak-anak ku malah demonstrasi" jawab Bang Huda.


"Rasakan.. makan tuh ulahmu. Dasar nggak ada otak kau ya..!!" ucap Bang Langsang masih dengan emosinya.


"Eehh.. sebentar.. darimana kamu tau Ayu melahirkan?" tanya Bang Huda.


"Aku lah.." jawab Bang Leo enteng.


Mata Bang Huda melirik tajam ke arah Bang Leo. "Kau itu memang bermulut besar, keluargaku jadi salah paham dan mengira aku mau kawin lagi..!!!" suara Bang Huda meninggi sampai kedua bayinya menangis ketakutan.


Bang Huda mematikan sambungan teleponnya. "Uusshh sayang, jangan nangis donk, nanti Papa bisa di kasih SP lagi sama Mama..!!" ucap Bang Huda cemas.


.


.


.


.