
"Mulai sekarang.. kamu bukan anak Papa lagi..!!!!!!" ucap keras Papa Juan kemudian meninggalkan tempat.
"Pa.. Papaaa..!!!" Mama Sasti pun ikut mengejar langkah Papa Juan. Mama Sasti memandang putrinya penuh kekecewaan dan linangan air mata.
...
Bang Huda terduduk lemas mengurut keningnya. "Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah"
"Duduk kamu Ar..!!!!!!"
Bang Arial duduk di hadapan Bang Huda.
"Anak siapa itu?" tanya Bang Huda.
"Anak saya Bang"
"Anak siapa???????" bentak Bang Huda.
"Anak saya. Anak dari Lettu Arial Pranajaya..!! Ijinkan saya menikahi Syarin..!!" pinta Bang Arial.
"Tidak..!!!!!!"
Ayu mengusap lembut lengan Bang Huda. "Perut Syarin akan semakin besar Bang" Ayu membantu melunakan hati Bang Huda.
"Abang yang akan menanggungnya..!!!!!!!" ucap keras Bang Huda pada Ayu.
Hati Ayu sakit sekali mendengar bentakan Bang Huda, ia pun berlari masuk ke dalam kamar.
"Ya Allah dek.. sayang.. pelan-pelan..!!" Bang Huda mengingatkan Ayu tapi istrinya itu seakan tidak mau dengar.
Beberapa saat kemudian Bang Huda menyadari keadaan Ayu.
"Bang.. tolong, ijinkan saya menikahi Syarin..!!" pinta Bang Arial lagi.
"Jangan bahas ini sekarang, kepala saya sakit..!!" Bang Huda menyusul Ayu ke dalam kamar tapi Ayu mengunci rapat pintu kamarnya. Saking emosinya Bang Huda sampai menendang pintu kamar hingga engselnya miring, pecahlah tangis kencang Galar dan Ghania dan Ayu semakin histeris di buatnya.
Syarin setengah mati ketakutan hingga lemas bersandar di sofa. Bang Arial pun mengambil ponsel dari sakunya.
"Selamat malam, Ijin Abang.. tolong saya..!!"
...
"Sejak Arnold pergi, bukannya Syarin ada di rumah? Kenapa Bang Huda sampai kecolongan?????" suara Bang Saka tak kalah mengerikan dari Bang Huda. Usai Syahila melahirkan, terpaksa Bang Saka harus meluangkan waktu sejenak untuk melihat carut marut keluarganya.
Bang Huda masih diam seribu bahasa. Pikirannya buntu, hati cemas tak karuan. Ia terus menatap daun pintu yang rusak tapi Ayu tak kunjung membukanya.
"Kamu Arial?? Sungguhkah itu benihmu??" tanya Bang Saka menegaskan.
"Iya Bang"
"Nggak mungkin, pasti ada sesuatu" jawab Bang Saka. "Apa kamu jadi perempuan liar di luar sana Syarin????????" tuduh Bang Saka ikut naik darah.
"Ini anak........."
"Anak saya Bang..!!" sambar Bang Arial.
"Kau benar-benar tidak mau mengaku???" Bang Saka menghampiri Syarin lalu mengangkat kerah kaosnya setinggi dirinya. "Selama ini Abang memang tidak banyak bersuara, tapi bukan berarti Abang tidak mengawasimu Syarin. Sekarang Abang dan Bang Huda kecolongan kelakuanmu. Kau tau bagaimana sakitnya perasaan Abangmu ini???" Bang Saka sampai menghempaskan Syarin dengan kasar.
Bang Arial bisa menopangnya, tapi pijakan kaki Syarin tetap membuat goncangan.
"Apa-apaan kau Saka?? Mau tampar ya tampar saja, tapi jangan lempar dia. Ada nyawa di perutnya..!!" bentak Bang Huda.
Bang Arial sampai berlutut di hadapan kedua Abang kandung Syarin. "Bang Huda dan Bang Saka. Saya tau kesalahan ini tidak dapat mengubah apapun. Kurang kontrol saat itu membuat 'dia' hadir tanpa sengaja. Janin ini akan tumbuh semakin besar, 'dia' juga mamanya butuh di sayangi. Saya tau Bang Huda dan Bang Saka mampu memberikan segala yang terbaik untuk calon anak ini. Tapi.. 'dia' butuh sosok ayahnya"
Hati Bang Saka dan Bang Huda bergejolak hebat, mereka bukannya mau menutup mata akan hal itu tapi segalanya terasa sangat berat.
Syarin ikut berlutut dan merangkak di kaki kedua Abangnya. Bang Saka tak sanggup memijakkan kakinya. Ia terduduk lemas bahkan sampai meneteskan air mata.
"Syarin minta maaf Bang..!! Syarin sudah buat Abang malu."
"Kenapa kamu lakukan hal bodoh ini Syarin??? Apa Abang kurang memberimu pengertian dan perhatian??" tanya Bang Saka.
Syarin beralih menyentuh kaki Bang Huda. "Abang.. Syarin minta maaf..!!"
Syarin semakin histeris. Tangisnya terdengar begitu pilu. Bang Arial merangkak mendekap Syarin dan menenangkannya.
"Arial, kamu pria yang baik. Jangan korbankan dirimu demi sampah di hadapanmu. Kamu berhak bahagia. Banyak wanita yang lebih baik di luar sana" kata Bang Huda. "Saya tidak mau noda dan cela ini akan menjadi tinta merah dalam garis hidup kalian..!! Syarin masih kecil dan labil."
"Ijin Bang Huda.. Bang Saka. Saya Arial Pranajaya tidak sedang berkorban untuk hal apapun. Saya tau di luar sana banyak wanita baik, tapi saya tau wanita mana yang terbaik bagi diri saya. Tidak ada cela dan noda yang saya rasakan. Saya pahami Syarin masih sangat muda. Ijinkan saya menjadi imam bagi dirinya dan berusaha membimbing dia. Saya juga bukan laki-laki yang baik, tapi untuk kedepannya.. saya akan berusaha menjadi contoh bagi anak dan istri saya" kata Bang Arial.
"Beri saya waktu, hati dan pikiran saya sedang kacau saat ini" ucap Bang Huda karena keputusan harus di ambil dengan akal sehat sedangkan perasaan dan hatinya sedang berantakan memikirkan Ayu yang entah bagaimana di dalam sana. Istrinya itu sangat sedih karena dirinya tidak sengaja membentaknya karena urusan Syarin.
"Saya juga begitu" pikiran Bang Saka juga terpecah karena Syahila baru saja melahirkan bayi kembar perempuan.
"Siap Abang."
:
"Sayang.. buka pintunya dek..!!" Bang Huda mencoba membuka pintu kamar dan ternyata Ayu sudah tidak mengunci pintunya lagi.
Terlihat si kembar terbangun dan tidak rewel sedangkan Ayu memalingkan badan dan sudah tertidur, samar terdengar suara rintih kecil dari bibir Ayu.
"Ayo sini berdua main sama Papa. Jangan ganggu Mama dulu..!!" bisik Bang Huda.
Bang Huda menyadari keadaan Ayu yang sudah terlanjur kembali berbadan dua. Istrinya itu pasti di landa rasa lelah yang luar biasa. Senyum kecil mengembang, ada rasa syukur dalam hatinya. "Abang sama kakak mau punya dedek?" Bang Huda mencium wajah Galar dan Ghania secara bergantian. "Papa nggak tau harus bilang apa. Maaf ya nak..!!"
***
Jenazah Bang Arnold sudah tiba, sebagai Danki tempat Bang Arnold berdinas, tentu Bang Huda sendiri yang harus turun tangan dalam upacara penyambutan jenazah hingga keberangkatan jenazah untuk di sampaikan ke rumah duka. Ayu pun tak luput dari kesibukan tersebut.
"Baret Abang miring, sini Siska benerin."
"Jangan macam-macam Siska..!!" tegur Bang Huda sembari menjauhkan tangan Siska dari baretnya.
Ayu melihat Bang Huda sedang berbincang dengan Siska, gadis yang selama ini membuat hatinya sangat panas. Ayu menghampiri wanita berpangkat Letda yang terus mengekor pada suaminya.
"Ayu rasa kesalnya Ayu tidak membuat Abang jera?? Apa cukup sulit menghindari kaki seribu ini??" tak tanggung-tanggung suara Ayu sangat kuat menggelegar di ujung ruangan.
"Iya.. iyaa.. Abang minta maaf ya. Jangan teriak di sini sayang. Malu banyak orang..!!" kata Bang Huda mengingatkan.
"Abang diam atau Ayu yang pergi? Abang kira Ayu nggak tau rumor tentang Abang sama Siska??" bentak Ayu.
"Jangan salah paham mbak, kalau saya ajak Abang bercanda itu bukan berarti Siska ada hubungan dengan Abang."
Tak di sangka banyak para tamu yang tau kejadian yang sebenarnya ikut menenangkan Ayu. "Ijin Ibu..!! saya bukan mau membela Danki, tapi Danki sungguh tidak ada hubungan dengan Bu Siska" kata seorang berpangkat Serma. "Mohon ijin ibu Siska untuk menepi saja..!!"
"Lho, saya khan nggak salah. Kenapa saya yang harus pergi? Sebenarnya pantas saja kalau Abang pengen punya teman perempuan. Istrinya rewel begini, hanya Abang masih menghargai perasaan Mbak Ayu sampai chat Siska saja tidak di balas"
"Chat yang tidak pantas?? Chat yang menjurus pada perbuatan tidak baik? Mengajak suami orang pergi berdua dengan alasan kerja???" kata Ayu. "Kamu punya malu atau tidak mengajak suami orang berbuat tidak baik??"
"Ya ampun mbak.. itu hanya bercanda" Siska tertawa mendengar ucapan Ayu yang terdengar emosi.
"Sudah dek, jangan emosi..!!!" Bang Huda mendekap Ayu menenangkan istrinya.
"Mbak Ayu, baru begini saja mbak nggak kuat. Bagaimana kalau Siska benar-benar check in sama Abang sampai hamil, Mungkin mbak bisa stress berat" Siska masih bisa tertawa dan tidak memahami situasi.
Benar saja, kaki Ayu seketika lemas. Ayu memercing meremas perutnya.
"Dek.. Ya Allah" Bang Huda panik ikut memegang perut Ayu.
"Astagfirullah.. Siskaaaa..!!!!!!!!!!" sejak tadi Bang Huda berusaha menekan emosinya tapi kali ini dirinya tidak bisa sabar lagi karena tidak semua orang bisa peka candaan khas ala tentara termasuk Ayu yang sekarang malah menimbulkan masalah besar karena sebuah candaan. "Istri Abang hamil lagi. Kamu jangan buat masalah terus..!!!!" bentak Bang Huda.
"Aduuh Bang, maaf.. Siska nggak tau. Gimana nih" Siska pun ikut panik.
"Bodohnya kamu. Gara-gara kamu.. Abang bisa ribut besar" Bang Huda mengangkat Ayu ke tempat yang lebih lega.
.
.
.
.